Sebatas Status

Sebatas Status
Chapter 19


__ADS_3

Chapter 19


Dengan raut wajah cemas. keduanya masuk menemui nasya yang masih terbaring tak sadarkan diri dikasur rumah sakit.


"Bu sebaiknya kita mengabari pa arga dan juga suapi non nasya," bisik pa yuda


"Iya pak, biar yang lain tau keadaan non nasya dirumah sakit, saya takut suami non nasya belum tau nona ada dirumah sakit sekarang."


"jangan bi... jangan ngabarin sama papa dan suami ku kalo saya ada disini bi... " ucap nasya yang mulai sadar dari tidurnya


"Non, nona sudah sadar, jangan banyak gerak dulu non, istirahat saja, " jelas bu elisa melihat nasya mencoba bangun dari baringan ya


"Bi.. jangan telfon suami saya ya, jangan bilang kalo saya ada disini, biarkan saja dia tidak tau apa-apa, dan papa juga jangan sampai tau bi kalo saya ada disini," ucap nasya dengan nada yang pelan


"Kenapa non saya tidak boleh mengabari suami nona, kalo tidak dikabari suami nona pasi akan mencari nona," jelas sang bibi dengan wajah cemasnya


"Tidak bi... dia nggak bakal nyariin saya, nanyain kabar saya juga apalagi bi, jangan beritahu kabar apapun sama dia ya bi, saya mohon," keluh nasya lagi mencoba memberi pengertian pada bu elisa


`Ya sudah, saya tidak akan beritahu kabar ini sama suami nona, tapi kenapa non? Apa hubungan rumahtangga nona sedang tidak baik?" tanya bu elisa pelan


"Nanti saya jelaskan ya bi, tapi tolong kabari sahabat saya maya, untuk menjenguk saya dirumah sakit bi, bibi masih simpan nomor telfon maya kan bi?"


"Iya masih non, saya telfon dulu ya non. "

__ADS_1


Bu elisa mengambil ponsel tombol nya disaku, dengan cepat ia mencari nomor maya sahabat nasya yang ia simpan sejak dulu. Bunyi telfonnya berdering.


"Halo."


"Ini non, sudah diangkat," bu elisa mengarahkan kan ponselnya pada nasya namun di tolak nya dengan bisikan


"Biar bibi aja yang bicara. "


Bu elisa mengangguk dan kemudian memberi kabar pada maya bahwa saat ini nasya berada dirumah sakit, walau ponsel bibi yang terlihat jadul namun suaranya mampu terdengar oleh orang-orang disekelilingnya, apa lagi mendengar teriakan kaget maya dari arah ponsel saat tau nasya sedang berada dirumah sakit.


Ponsel nya dimatikan oleh bu elisa, percakapan antar maya dan bu elis sudah berakhir dengan teriakan terkejut maya yang bergerutu


"Bu tolong pindah kan saya di ruangan VIP bu, " ucap nasya meminta tolong pada bu elisa


"Apa nona tidak nyaman di ruangan ini?" tanya bu elisa


"Baik non, saya permisi dulu," jawab pak yuda kemudian pergi menuju tempat pengurus ruang inap pasien


"Nona istirahat saja, saya dan pa yuda akan menemani nona disini."


"Terimakasih bi."


****

__ADS_1


"Mas... "


"Hmm... " gumam noval tampa melirik istrinya yang duduk diseberang meja. Kedua matanya masih fokus membaca berkas-berkas yang ada di tanganya.


Bukan pemandangan asing, hampir setiap hari sampai 1 tahun pernikahan, noval seperti ini.


"Aku mau ngomong sama kamu mas."


"Ngomong aja," jawabnya lagi tampa menatap istrinya


Nasya menghela napas


"Aku mau ngomong penting, mas. Bisa nggak luangkan waktu lima menit."


"Sepenting apa sih, langsung ngomong kan bisa. "


"Aku mau cerai mas, " nasya tersenyum diakhir


Seketika itu gerakan tangan noval yang sedang membuka lembar demi lembar berkas kantornya terhenti sesaat. Pikirannya blank, otaknya terlalu syok mencerna kalimat nasya. Kalimat yang tak pernah noval pikirkan akan diucapkan oleh istrinya.


"Kenapa?" hanya kata itu yang keluar dari mulut noval, saking tak percayanya nasya meminta cerai dengan wajah tanpa kesedihan.


"Kamu tanya kenapa? Kamu kan udah tau jawabannya mas?"

__ADS_1


"Aku nggak tau," ucap noval tanpa rasa bersalah dengan apa yang hari-hari iya lakukan pada nasya " AKU LELAH"


" Aku tak pernah menyuruh mu bekerja, mengapa kau merasa lelah, aku juga tak pernah menyuruh mu untuk memasakkan makanan untuk ku, mengapa kau merasa lelah?""


__ADS_2