
Chapter 23
Reza membaringkan nasya pada Kasur rumah sakit dan kemudian didorong oleh para suster lainnya untuk diperiksa kedalam rungan khusus pasien
Reza diikuti maya dibelakangnya, bergegas mengikuti suster yang sedang mebawa maya, namun sayangnya, sebelum hendak masuk keruangan itu, keduanya dihentikan oleh seoranag suster yang mengharus keduanya untuk tetsp tinggal diluar rungan." Selama ini sebenarnya apa yang terjadi sama nasya" Tanya rozer meremas rambutnya kuat
`Gue juga nggak tau zer, gue nggak pernah ngelihat nasya kaya gini sbelumnya, gue khawatir banget sama dia, gue harap dia baik-baik aja," keluh maya ikut cemas dengan keadaan yang ada.
"Gue curiga, jangan-jangan ada sangkut pautnya sama suaminya nasya, si Br@eng#sek itu pasti ngelakuin sesuatu sama nasya, gue nggak bakal tinggal diam kalo sahabat gue di apa-apain sama dia."
"Zer, kalo ini benar-benar kelakuan suaminya , kita harus pastiin maslah ini harus di bawa kerena hukum, biar nasya bisa bebas dari si bias** itu."
"May, gue juga bakal lakuin hal yang sama kaya lu, tapi kita gak punya bukti buat ngenuduh dia."
"Tenang aja, gue bakal cari tau masalah nasya, gue bakal selidiki ini semua, lu satusatunya teman kita yang punya poin penting tentang hukum , kita harsu kerja sama buat ngelesaiin maslah ini sama-sama, gue nggak bingin ngelihat nasya menderita lagi kaya gini."
__ADS_1
"Gue juga may, gue juga... "
Pintu terbuka, seorang lelaki berjas putih terlihat di mulut pintu.
"Maaf, apa kelian berdua adalah wali pasiennya?" tanya seorang lelaki yang merupakan dokter di rumah sakit itu
'Ya, kami adalah walinya," ucap reza pelan
"Baiklah. Dari pemeriksaan, pasien hanya pingsan karena kelelahan, sebaiknya pasien jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja, dan harus banyak beristirahat, jangan biarkan pasien stress itu akan membuat keadaannya semakin memburuk," jelas sang dokter memberi saran
"Baik saya permisi."
Setelah sang dokter pergi dari hadapan rozer dan maya, kedua nya masuk menuju ruangan tempat nasya diperiksa
"Nasya .. " ucap maya dengan nada yang lembut.
__ADS_1
"Ah maya, rozer, lo berdua ko ada disini, ah apa lo berdua yang bawa gue kesini?" tanya nasya yang sudah sadar dari pingsannya
"Sebenarnya apa yang terjadi sama lo sya, gue kaget saat ngelihat lo pingsan didepan pitu, apa yang selama ini terjadi sama lo, kenapa nggak mau cerita sama kita, lu nggak
Biasa nya nyembunyiin sesuatu sama kita, gue sama teman-teman lo yang lain cemas mikirin lo sya, itu sebabnya kita berdua datang ngujungin lo di rumah suami lo, tapi yang kita lihat cuman lo yang lagi pingsan," jelas rozer dengan wajah cemasnya
"Sebenarnya apa yang terjadi sama lo sya?" lanjut maya lagi mengikuti pembicaraan rozer
Nasya terdiam, ia memalingkan pandangan nya dengan pelan, wajahnya cemas sekaligus sedih, ia mngerti keadaannya saat ini sangat sulit dijelaskan, apalagi menyangkut sahabat lamanya jas, ia takut masalah ini akan membuat teman-temannya bertengkar, terutama menyangkut jay yang masih belum memalingkan perasaanya pada nasya.
"Gue nggak apa-apa ko, mungkin karena gue pengantin baru, jadi pekerjaan rumah tangga cukup berat bagi gue, jadi nggak perlu khawatir, ini cuman masalah sepele ko? jelas nasya, mencoba mengarang cerita
"Sya .., lu nggak bohong kan sama kita, kita berdua cemas banget sama lo, kalo lo emang punya masalah cerita aja, gue sama rozer bakal mendengar masalah dari lo ko"
"Iya sya .. cerita aja kalo lo punya masalah, kita bakal siap ngedengerin apapun itu," rozer mengelus kepala nasya lembut
__ADS_1
"Maya, rozer, gue ngerti kalo lo berdua cemas sama gue, gue seneng banget karena lo berdua masih cemas sama keadaan gue, tapi gue beneran nggak apa-apa, gue cuman kecapean aja ko, nggak perlu khawatir."