
Chapter 20
"Bukan pekerjaan atau pun hal lain yang membuat ku lelah mas, kamu yang membuat ku lelah."
"Aku?" noval berdehem bingung.
"Apa yang aku lakukan sampai membuat kamu lelah, aku membebas kan kamu melakukan apapun yang kamu inginkan, mau jadi ibu rumah tangga silakan, mau mencari pekerjaan silakan, bahkan aku membiarkan mu bermain bersama teman-teman perkuliahanmu, aku nggak pernah melarang kamu ini dan itu, aku nggak pernah negur kamu, kamu bebas."
Demi apapun nasya ingin sekali menyiram wajah suaminya dengan air keras.
"Iya mas, kamu memang nggak pernah ngelarang apapun sama aku, bahkan aku boleh ngelakuin apa aja tampa minta ijin kekamu, tapi pernah kamu mikirin aku dirumah ini, aku sakit kamu nggak tau, aku ada dirumah sakit, kamu nggak jengukin, bahkan kamu nggak nyari tau kemana aku seharian ini nggak ada dirumah, kamu selalu bilang kalo aku ini selingkuh tiap ngelihat sahabat ku nolongin aku, yang jadi pertanyaan nya, aku yang selingkuh, atau kamu yang selingkuh mas."
"Kamu pikir aku selingkuh," noval mengelak dengan kasar "Mas... mas... sampai kapan kamu mau bohong terus mas, mau sampaikapan kamu nyembunyiin hal sebesar ini sama aku, aku cape mas, tiap hari ngeladenin kamu yang cuman acuh tak acuh sama aku gitu, tiap hari cuma mapirnya kerumah selingkuhan mu ketimbang rumah istrimu, nggak apa-apa ko, lajutin aja percintaan mu sama kekasih gelap mu mas, lagian kita mau ceraikan mas, jadi kamu bebas tidur sama siapapun itu selain ISTRI SAH MU?" Nasya menekan kata terakhir
Nasya bangun dan mencoba berlari menuju kamarya, namun sebelum itu terjadi noval dengan cepat menahan tangan nya dengan kuat.
"Lihat aku," noval mengarahkan wajah nasya agar menatapnya. Dia tersentak saat melihat air mata istrinya, selama setahun pernikahan, sekalipun noval tak pernah mendengar nasya menangis. "Kamu menangis."
"Kenapa? Kamu nggak pernah kan ngelihat aku nangis sebelumnya, yakin kamu cuman sibuk sama pacar mu di kantor, mana tau susah sedih nya aku dirumah," hati noval mencolok.
Selama setahun lebih pernikahan nasya terlihat baik-baik saja dimata noval, ia bakan terlihat baik dan peduli pada noval.
Setiap bangun nasya aselalu membuat kan noval sarapan pagi, walau terkadang sarapan itu nasya yang harus menghabiskannya, memijatnya saat pulang kantor,
menyambut nya dengan hangat walau waktu pulang kantor sudah cukup larut dari waktu biasanya, dia tak pernah mengeluh ataupun protes.
Apakah nasya selama ini hanya bersandiwara? Dia pura baik-baik saja.
"Kenapa kau tak pernah mengatakan semua hal itu, kenapa kau tak pernah mengomeli ku saat kau tau tak adil bagi ku memperlakukan mu seperti itu."
__ADS_1
"Karena aku tau, sejak awal kau tak pernah mencintaiku," Noval terdiam.
"Kamu cinta kan sama dia, aku sadar ko mas, aku yang cuman mengenal kamu saaat acara pertunangan mana bisa kamu mecinta aku dalam sekali pertemuan, kamu yang udah kenal dia sejak lama, mana ngerti perasaan cinta aku ke kamu, selama satu tahun kita menikah, kamu nggak pernah nyentuh aku, sampai aku bertanya-tanya, apa yang salah dengan aku? Apa aku kurang seksi?, apa aku kurang cantic?, apa aku kurang menarik dimata kamu?, aku sampai mau gila sendiri tanpa tau jawabannya."
"Dan satu hal lagi yang aku yakini, saat malam pertama kamu juga nggak pernah nyentuh aku sedikit pun kan mas," Noval lagi-lagi terdiam dengan ungkapan keras dari nasya yang sudah mengetahui semua hal yang terjadi selama ini.
"kamu nggak perlu jawab apa-apa mas, aku sudah tau jawabannya, aku akan urus surat perceraian kita. Setelah itu kamu aku bebas ngelakuin apapun sama SELINGKUHAN GELAP MU ITU! "
Tanpa menunggu jawaban suaminya, nasya langsung meninggalkan ruang kerja suaminya. Semua ini nggak mudah untuk nasya, berpisah dengan lelaki pilihan sang papa dan mending ibu nya, sekaligus orang yang ia cintai, rasanya sakit sekali, tetapi jauh lebih sakit tinggal seatap bersama lelaki yang ia cintai namun mencintai wanita lainya.
Nasya kembali kekamar, membanting tubuhnya dikasur, menarik selimut dan menutup nya hingga kepala
.
"Aku benci kamu mas hiks... aku benci... " Nasya terisak sambil memukul bantal seolah sedang memukul suaminya.
Terdengar suara pintu terbuka.
Noval duduk ditepi Kasur, tepat disamping istrinya.
"Nasya..."
"Pergi, aku mau tidur."
"Kita harus bicara."
"Aku sibuk," jawab nasya seperti hari-hari suaminya lakukan padanya.
"Sibuk apa, kamu cuman rebahan disitu."
__ADS_1
"Ya sibuk rebahan apa lagi, ini kerjaan ku hari-hari."
Noval berdecak dan menarik paksa selimut yang menutupi seluruh wajah istrinya, sontak saja nasya melotot tak terima.
"Jangan ganggu aku, aku mau tidur! Aku nggak mau bicara lagi sama kamu, keputusan ku sudah bulat, aku bakal cerai sama kamu mas."
"Duduk dulu."
"Gak!"
Pergi dari sini! Aku tak ingin pelihat wajah mu!" nasya berteriak dengan keras hingga membuat noval sontak kaget.
Belum pernah sekalipun la melihat nasya berteriak kepadanya sekeras ini, hingga akhirnya ia mengingat masa lalu nasya sebelum ia menikahinya.
Nasya gadis tomboy yang dulu pernah ia lihat, berbeda dengan yang sekarang menjadi istrinya, bperbedaan ini memang jelas terlihat namun sepertinya, sikap tomboynya hanya muncul ketika ia sedang marah seperti saat ini.
"Kau tak ingin pergi, baiklah, aku yang pergi saja dari sini."
Nasya beranjak bangun dan pergi meninggalkan noval sendiri di ranjangnya.
"Apa yang harus aku lakukan."
****
Pagi harinya.
Nasya berada disebuah restoran bersama keempat sahabatnya, yaitu maya, rozer, syela dan juga jay, melihat jay yang juga hadir tampaknya hubungan mereka sudah membaik.
"Gimana sya, udah selesai maslah lu sama suami lu? " tanya maya ingin tahu.
__ADS_1
"Sudah may, gue udah uangkapin amaraah gue sama dia, gue juga udah bilang kalo gue bakal ngurusin surat cerai buat kita berdua, semua ini salah gue, gue terlalau gegabah buat nikah muda, padahal gue baru ketemu ama dia sekali tapi gue dengan bodohnya nerima lamaran dia gitu aja, sorry ya guys, gue nggak percaya sama omongan kalian, maafin gue, dan makasih juga udah selalu ada untuk gue?
"Nggak apa-apa sya, gue ngerti ko perasan lu gimana, semua orang punya kesalahan masing-masing, begitupun kita sebagai teman lu, udah salah nggak ngejaga lu."