
BAB 21
Abyseka menyuruh masuk seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dengan brutal. Siapa lagi kalau bukan si Sar, anggota abang-abang pengkolan.
"Kak...aku punya info penting nih...."
Abyseka menoleh pada Saras dengan dingin, "Apa?"
"Yang antusias dong Kak!....nggak asik banget sih!"
"Mau cerita nggak?" Abyseka berbalik menuju meja kerjanya, "kalo nggak, balik kamarmu sana,"
"Ish...!" Saraswati menghentak-hentakkan kakinya sambil berjalan menuju tempat tidur Aby.
"Ada apa?" tanya Abyseka setelah beberapa saat tidak di dengarnya Saras berbicara. Sambil tangannya sibuk menulis.
"Tadi siang...dua orang murid yang lagi mulung melihat Ratry." masih dengan nada kesal.
"Di mana?"
"Di depan Hotel S yang bintang lima itu. Dia bersama sesorang, Om-om lebih tepatnya. Mereka masuk dan baru keluar setelah lima jam mereka cek in."
"Om...om..?"
"Ya...mereka tidak tahu siapa. Kalau aku pikir itu Om Heru. Ketika kutanya ciri-cirinya, sama persis dengan milik Om Heru."
"Memang apa ciri-cirinya?"
"Rambut putih semua. Seperti di cat putih. Kurus, dan pake cincin batu di hampir semua jarinya. Satu lagi, hanya Om Heru yang pake sepatu pantofel dengan hiasan bling-bling di seluruh permukaannya."
Abyseka terdiam sejenak, "Beritahu pada anak-anak itu wajah Ratry , Om Heru dan orang-orang yang ada di sekitar Om Heru. Ingatkan juga untuk tidak melakukan apapun. Mereka hanya perlu melihat dan melaporkan. Kalau perlu memotret mereka."
"Ok. Aku akan memberitahu mereka."
"Ingat! Jangan melakukan apapun! Cukup mengamati...sebar mereka di sekitar tempat-tempat elite."
"Sip! Anak-anak ini paling suka diajak main detektif-detektifan. Mereka antusias sekali."
"Aku kadang kasihan memanfaatkan mereka untuk hal-hal yang seharusnya mereka tidak terlibat."
"Tapi bila mereka tidak dilibatkan, mereka juga agak protes. Seperti proses pencarianmu pasca kecelakaan itu."
"Alhasil aku lama tidak di temukan. Dan, berkah bisa ketemu Pelangi."
"Hmmm...arah-arahnya jadi ke sana. Sudah telpon Kak Pelangi belum, hari ini?"
"Belum, sana ke kamarmu! Aku mau telpon Pelangi."
"Cieee...yang tiba-tiba kangen...Kapan Kak Pelangi di ajak ke sini?"
"Dalam waktu dekat, Kakak mau mendiskusikannya dulu dengan Papa dan Mama."
"Halahhh! Langsung aja suruh datang. Minta di lamarkan....beres!Kebanyakan basa basi..... lama-lama basiii."
"Emang kamu, main nyosor aja."
"Eh...tapi langsung. Nggak kelamaan."
"Jangan-jangan kamu ke Aditya gitu ya?"
"He...yah...he...he...gitu deh. Aku ke kamarku dulu!" Saraswati langsung kabur ke kamarnya.
Abyseka hanya bisa geleng-geleng kepala.
Aditya adalah kekasih Saraswati. Entah bagaimana cowok super pendiam dan culun seperti Aditya bisa terjerat cinta Saraswati. Yang lumayan urakan. Hati memang sulit di tebak.
__ADS_1
Abyseka meraih ponselnya dan menekan no milik Pelangi.
…Halo....Kak…
"Hai...sudah mandi?"
…Sudah dong, Baru selesai. Tadi pulang kantor langsung mandi. Gerah sekali"…
"Sudah makan?"
"Belum. Ada, nasi uduk frozzen, dua hari lalu pesan online. Ini baru mau nyoba. Banyak yang bilang enak, nanti pembuktian."
"Aku rencananya mau ijin mama Papa buat melamar."
…Ngelamar? Ke mana? Keluar negri? Mau kerja di mana?…
"Ya ampun....ngadepin si Sar sudah bikin migren. Ini tambah kamu lagi"
…Maksudnya? Si Sar?...siapa itu Kak?…
"Si Sar... Saras.."
…Ya ampun Kak...Adek sendiri di namain kayak abang-abang penjual bakso keliling.... Namanya kan bagus. Saraswati...Pelangi sekali ketemu waktu dia jemput Kakak, habis kecelakaan waktu itu. Cantik-cantik di katain yang aneh-aneh…
l
"Terserahlah! Oh ya... nanti malam aku akan meminta Papa dan mama datang ke kota C dan melamarmu."
…Apa? Ja....jadi yang Kakak maksud ngelamar itu...Aku?…
"Iya..."
…Tapi...apa tidak terlalu cepat Kak? Hubungan kita...masih...…
…Bukan seperti itu…
"Aku tidak menerima penolakkanmu. Aku tutup dulu telfonnya."
…Kak Aby …
"Malam sayang..."
……
Abyseka menarik nafas berat setelah menutup teleponnya. Ia sangat mengerti atas keberatan Pelangi. Tapi, pernikahannya harus sesegera mungkin. Abyseka tidak ingin memberi kelonggaran pada perhatian dan keamanannya pada Pelangi.
Abyseka sudah kembali pada ingatannya dan dunianya yang dulu. Itu berarti ia harus ekstra waspada. Terlebih ada Pelangi dan keluarganya.
Perjalanan hidupnya di masa lalu yang hitam.
Membuat dirinya harus berhati-hati, terutama pada orang-orang yang menjadi musuhnya. Abyseka dulu adalah 'Pemburu'. Siapapun atau apapun yang jadi targetnya, pembunuhan , kecelakaan ataupun pengerusakan, keberhasilannya hampir mencapai 99%.
Ia dulu di juluki ' the darkness'. Sang kegelapan yang membawa petaka bagi siapapun yang menjadi targetnya.
Abyseka menjalani hidupnya dengan sukacita. Karena kehidupan yang ia jalani adalah pilihannya. Ia menyukai dan sangat menikmati setiap momennya.
Ia berhenti melakukan hal-hal yang tidak baik setelah kematian Om Kendra. Om Kendra mengalami penculikan, penyiksaan dan di beritakan meninggal karena kecelakaan.
Om Kendra adalah salah satu anggota keluarga Rahardi yang paling kecil. Sekaligus anggota senior Elang Hitam yang paling cerdas, dan di segani bukan hanya sesama anggota Elang Hitam, tapi juga kalangan dunia hitam.
Dari semua anggota keluarga Rahardi, hanya Abyseka yang mengetahui sepak terjang Om Kendra. Itupun setelah sekian tahun menjadi anggota EH dan di anggap senior. Sejak itulah Om Kendra menjadi idola sekaligus panutan bagi dirinya.
Abyseka mulai kecewa dan menjauhi dunia hitam, ketika Pamannya gagal dalam menjalankan misi. Karena di khianati oleh partnernya sendiri. Selain gagal dalam misi, Om Kendra di culik dan di siksa sampai berhari-hari.
Keluarga dan kelompok Elang Hitam berusaha menemukan Om Kendra. Namun gagal. Dua Minggu setelah menghilang, barulah Om Kendra ditemukan di daerah puncak. Kendaraannya masuk ke jurang dan dinyatakan meninggal karena kecelakaan.
__ADS_1
Namun Abyseka tidak percaya begitu saja. Melihat kejanggalan dari luka-luka di tubuh Om Kendra, Abyseka merasa ada yang tidak beres.
Setelah menyelidiki selama hampir lima bulan, barulah Abyseka menemukan dalang penyebab kematian Om Kendra. Iapun menyusun rencana untuk membalas atas semua perbuatan partner Om Kendra.
Setelah semua terbayarkan, Abyseka mulai ragu akan pekerjaannya. Terlebih melihat kenyataan akhir dari hidup Om Kendra. Yang seharusnya bisa saling mengandalkan keselamatan dan keberhasilan dengan partner kerja. Ini bahkan sebaliknya.
Dalam bekerja Abyseka memang selalu sendiri, tidak pernah menyetujui bila Elang Hitam mengusulkan seorang partner untuknya. Abyseka lebih nyaman menyelesaikan tugas sendiri dan sedikit bantuan dari asisten yang sangat di percaya olehnya.
Abyseka turun dari kamarnya menuju meja makan. Mama sudah mulai gelisah menunggunya untuk makan malam.
"Di tungguin juga...lama amat!" protes Saras.
"Maaf...tadi lagi telpon Pelangi."
"Sudah...ayo makan. Nanti sop cremnya keburu dingin." kata Mama.
Abyseka meletakkan sendoknya di tengah-tengah mereka sedang makan malam.
"Ada apa?"tanya Papa, "Ada sesuatu yang mau kamu sampaikan?" Papa hafal betul kebiasaan Aby bila hendak menyampaikan sesuatu.
"Ya..."
"Hmm...dah ketebak deh. Mau ngomong apa..."
"Saras....biarkan kakakmu bicara dulu." tegur Papa.
"Pa...Ma, Aby berniat melamar Pelangi. Sesegera mungkin. Papa dan Mama bisakan datang ke kota C? Buat melamar Pelangi?"
"Tanpa basa-basi. Langsung permintaan," Mama tersenyum sumringah.
"Saras yang ngajarin. Harus langsung, tepat sasaran."
"Eh...kok saranku? Tapi ...langsung lebih enakkan? Cuss...tanpa basa-basi."
"Kapan kamu berniat melamar Pelangi ? Apa sudah yakin dia pilihan terbaikmu?" tanya Papa.
"Pelangi mungkin bukan orang terbaik. Tapi hanya dia yang bisa kuterima. Dia lemeted editions. Baik tidaknya, lancar tidaknya kehidupan kami nantinya. Tergantung bagaimana kami menghadapi dan menjalankannya. Menghadapi dan menyelesaikan masalah."
Papa dan Mama tersenyum puas dengan jawaban Abyseka.
"Kapan Mama mulai belanja keperluan lamaran?"
"Aby rencananya Minggu depan melamar Pelangi. Malam ini Aby langsung menelepon Orangtua Pelangi."
"Minggu depan? Wah! Besok Mama harus mulai belanja cincin pertunangan, buat hantaran, baju seragam, dan bekal kita sesampai di sana." Mama mulai kelihatan panik.
"Santai aja Mah...." kata Saras.
"Keluarga Pelangi adalah keluarga yang sederhana Mah. Jadi tidak perlu terlalu heboh." kata Abyseka.
Selesai makan malam Abyseka langsung menelepon Papa Juanda dan Mama Yuwanti Orangtua Pelangi. Mereka langsung mengerti karena sebelum ke Ibukota Abyseka pernah mengutarakan niatnya meminang Pelangi.
Ketika Abyseka menelpon Pelangi dan memberitahukan rencananya, Pelangi tak banyak protes. Karena ia tau, Abyseka tidak akan menoleransi ketidaksetujuannya.
Paginya Mama Aby sudah sibuk memerintah koki penthous Rahardi untuk menyiapkan beberapa menu yang akan di bawa ke kota C Minggu depan. Jenis masakan apa saja dan penampilan penyajiannya. Pada kepala pelayan juga menyuruh mempersiapkan keperluan yang akan mereka bawa.
Mama juga langsung pergi ke pusat perbelanjaan untuk mempersiapkan hantaran dan seragam keluarga. Mama juga sempat menelpon Pelangi meminta ukuran baju seluruh keluarganya untuk sekalian di buatkan.
"Ini baru lamaran, belum pernikahan. Betapa hebohnya Mama kita," kata Saras sambil melipat tangannya melihat kehebohan mamanya.
"Kamu...jangan protes aja. Ayo ikut Mama, beli cincin pertunangan. Sekalian beli buat kamu, Mama dan Sandra."
"Ma, Saras sudah cukup cantik tanpa yang bling-bling kayak gitu Mah. Berat lagi, nanti Saras jalannya terbungkuk-bungkuk."
"Alasan!" Mama langsung menarik tangan Saras dan masuk dalam mobil yang akan membawa mereka ke Toko berlian langganannya. Di ikuti oleh Abyseka. Sang pemeran utama.
__ADS_1