
BAB 25
Dua perempuan yang merundung Pelangi terkejut dengan kehadiran Sevia. Langsung sedikit menjauh dari Pelangi.
"Kalian berdua tidak takut membully tunangan Abyseka?Atau merasa sudah sekuat superwomen?"
"Nggak ada urusannya dengan kamu!"
"Iyasih....tapi kalo dengan papparazi, kalian kebal? Jadi berita besar, perundungan oleh anak konglomerat?"
"Huh! Perempuan rese!" kata salahsatu perempuan yang tadi mencela Pelangi. Kemudian mereka pergi meninggalkan Pelangi dan Sevia.
"Tadikan sudah kuingatkan untuk hati-hati. Mana pengawalmu tadi?"
"Terimakasih sudah membelaku. Aku seperti terkunci, tidak bisa berkata-kata."
"Lupakan, mulai hari ini persiapkan dirimu say. Fisik dan terutama mental. Aku akan menjadikanmu berita besar. Taukan? Aku ratu gosip...Apapun kugibahi...."
Pelangi hanya bisa mengangguk tanda mengerti, kemudian keluar dari ruang khusus wanita menemui Zaki.
"Ada apa? Mengapa Nona lama sekali?" tanya Zaki setelah melihat Pelangi keluar dari toilet.
"Dia di bully dua ulat sexy. Apa menjaga nona mu ini pekerjaan berat? Sampai harus lalai seperti ini?" hardik Sevia yang sudah berdiri di belakang Pelangi, "Tidak apa...bisa kubuat bahan gosip! Hahaha...."Sevia melenggang meninggalkan Zaki yang terlihat marah.
"Non, ada apa sebenarnya?"
"Tidak ada yang terjadi Kak. Hanya Cewek-cewek cantik yang kepo soal hubunganku dengan Kak Aby. Ayo...kita cari Kak Abyseka."
Zaki melangkah di belakang Pelangi. Ia sangat yakin sesuatu terjadi tadi di dalam toilet. Hanya saja Nonanya ini tidak mau menceritakan apa yang terjadi. Yang pasti bukan hal baik. Abyseka sedang mencari-cari sosok Pelangi, ketika dilihatnya yang dicari sedang berjalan menuju ke arahnya diikuti oleh Zaki.
"Darimana saja kamu?" tanya Abyseka.
"Tadi pilih-pilih minuman dan baru saja keluar dari toilet."
"Sudah kenyang? Semua menu sudah kamu cicipi?"
"Kenyang. Tapi tidak makan semua menu kali. Bodong namanya. Tadikan sudah makan, pas di meja. Barusan icip-icip snak lagi."
Abyseka tersenyum mendengar jawaban Pelangi. "Aku kenalkan dengan beberapa rekan bisnisku."
Ketika Abyseka hendak menggandeng Pelangi, Zaki menyentuh pundak Abyseka.
"Tuan, sebaiknya kita pulang. Kelihatannya Nona sudah lelah." Zaki memberi kode pada Abyseka dengan mengangguk dan menatap meyakinkan Abyseka.
Sesaat Abyseka menatap Zaki dengan tatapan bertanya, namun kemudian mengerti dengan tindakan Zaki.
"Baiklah, kita pulang saja? Sudah hampir jam duabelas malam." Abyseka merangkul pinggang Pelangi dan membimbingnya menuju pintu keluar.
"Saya akan menelpon Tuan Abimanyu." kata Zaki.
Sesampainya di pintu utama hotel mereka menunggu mobil yang sedang di ambilkan di tempat parkir hotel. Tidak berapa lama kemudian mobil sudah di hadapan mereka.
"Naiklah... Abyseka membukakan pintu untuk Perlangi.
Sepanjang perjalanan pulang, Abyseka merasa Pelangi lebih pendiam dan lebih banyak melihat keluar jendela dibandingkan bercerita atau sekedar mengomentari pesta tadi.
__ADS_1
"Ada apa?" Abyseka menyentuh pipi Pelangi. Yang di sentuh menoleh dan tersenyum.
"Tidak. Hanya rasanya kok lelah sekali. Apa karena belum terbiasa tidur sampai selarut ini ya?"
"Sampai rumah langsung tidur ya. Tidak perlu mengobrol dengan si Sar."
"Ya"
Sespainya di penthouse, Abyseka membimbing Pelangi ke kamarnya. Ketika Saras mendekati mereka sambil tertawa sumringah, Abyseka dengan cepat mengibaskan tangannya memberi kode pada Saras untuk menjauh. Dengan wajah cemberut, Saras menjauh.
Setelah merasa yakin Pelangi beristirahat dengan benar, Abyseka menuju ruang tamu yang besar dengan hiasan-hiasan keramik antik milik mama untuk menemui Zaki.
"Kita ke ruang kerjaku saja." ajak Abyseka pada Zaki.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi?" tanya Abyseka sesampainya di ruang kerjanya.
"Ada Nona Sevia yang mencoba memprovokasi Nona Pelangi. Dan menurut saya, di dalam toilet ada beberapa gadis-gadis yang juga sempat merundung Nona Pelangi. Lebih tepatnya kita harus tanya Nona Sevia, karena dia yang mengetahui persis apa yang terjadi."
"Kenapa begitu?"
"Nona Sevia yang membawa Nona Pelangi keluar toilet dan mengatakan saya tidak berguna sebagai pengawal. Karena tidak bisa melindungi Nona sampai ke manapun."
Abyseka diam sejenak, "Apa kita juga harus menaruh seorang wanita di dekat Pelangi?"
"Kelihatannya butuh juga Tuan, seperti Tina yang menjaga Nona Saras. Saya tadi sengaja mempersilahkan Non Pelangi ke toilet karena saya melihat ada seseorang yang selalu mengikuti kami. Ketika Non Pelangi masuk toilet,saya mencoba mendekati orang itu. Tapi dia melarikan diri dan saya tidak bisa tertangkap. Terlalu berisiko di keramaian pesta."
"Coba seleksi siapa yang pantas pengawal Pelangi."
"Baik Tuan. Saya permisi dulu bila tidak ada perintah lain."
"Ya. Aku hubungi kalau ada sesuatu."
"Malam."
Setelah Zaki pulang, Abyseka bermaksud ke kamarnya ketika Saras mencegatnya.
"Pelangi kenapa? Kakak memarahinya?"
"Sembarangan kamu."
"Terus? Pelangi kenapa?"
"Ada yang membullynya. Dan terjadi di luar pengawasanku dan Zaki."
"Memang ada tempat yang Kakak tidak bisa jangkau? Mustahil..."
"Toilet Bang Sar..."
"Oh...iya ya. Kakak masuk ke sana, bisa di lemparin pembalut..."
"Sar!"
Saras tertawa girang sambil berlari menjauh. Hatinya girang sekali bisa mengganggu kakaknya yang terkenal mbeku seperti es di kulkas.
####
__ADS_1
Sepeninggal Abyseka, Pelangi duduk termenung di kepala tempat tidurnya yang berukuran king size. Kepalanya dipenuhi berbagai macam pertanyaan dan perkiraan-perkiraan apa yang akan terjadi dengan hubungannya dengan Abyseka.
Bisakah aku menjadi pantas, bersanding dengan Kak Aby? Batin Pelangi. Apakah nantinya aku bisa menahan badai dan menyingkirkan badai? Sekarang saja, belum resmi menjadi pendampingnya, ombak sudah datang menerjang. Apa aku mundur saja? Mampukah rasa sakit ini bisa kutahan?
Hingga larut malam, Pelangi masih terjaga memikirkan jalan terbaik untuk dirinya dan Abyseka. Sampai ia tak bisa menahan rasa kantuknya. Dan akhirnya tertidur karena kelelahan.
Keesokan paginya Pelangi bangun agak terlambat, sampai Abyseka mengetuk kamarnya berkali-kali.
Beberapa menit kemudian Pelangi keluar kamar sudah bersih dan wangi. Hanya saja, Abyseka menangkap mata Pelangi yang berbayang agak kehitaman.
"Tidurmu nyenyak?" tanya Abyseka di sela-sela kegiatan makannya.
"Lumayan," jawab Pelangi. "Hanya agak terlambat saja."
Abyseka tidak bertanya lebih lanjut. Hanya matanya tak henti-hentinya mengamati gerak-gerik Pelangi.
"Kak Abe, Kak Pelangi tidak akan pergi ke mana-mana. Jadi...jangan di pelototi seperti itu." kata Saras dengan gaya menggodanya pada Abyseka.
"Brisik...jawab Abyseka.
Pelangi menemui Abyseka di ruang kerjanya di lantai satu,sebelum pria itu berangkat kerja.
"Ada yang ingin kusampaian sebelum kita menikah" kata Pelangi.
"Apa itu? Soal semalam?"
"Tidak. Bukan itu....Aku ingin tetap bekerja meskipun kita sudah menikah."
Abyseka terdiam sejenak, "Kenapa? Apa ada alasan tertentu? Bukankah uang yang kuberikan sudah lebih dari cukup? Atau kau masih merasa kurang?Mau kuberi lebih?"
"Bukan masalah uang. Hanya saja aku sudah terbiasa bekerja. Rasanya aneh saja, biasa sibuk terus harus berdiam diri di rumah. Aku merasa menjadi orang tidak berguna."
Abyseka berusaha mencerna perkataan Pelangi. "Baiklah, aku akan membukakan sebuah usaha untukmu. Apa kira-kira usaha yang ingin kau buat?"
"Aku belum memikirkannya. Apakah aku bisa menjalankan sebuah usaha? Aku pikir Kakak akan tetap mengijinkan ku bekerja di perusahaan."
"Begitu? Bukankah kau selalu merasa risih bekerja padaku? Atau begini saja. Mama punya usaha kuliner. Kamu jadi manager di sana saja. Bisakan?"
"Aku belum pernah bekerja di usaha kuliner. Tapi...aku pasti bisa mempelajarinya."
"Ok. Daripada menganggurkan?"
"Ta...tapi, apakah aku tidak menggeser tempat seseorang di sana?"
Abyseka tertawa,"Satu-satunya yang kamu singkirkan adalah Mama. Toko baju muslim mama ada di samping toko kuliner itu. Jadi Mama adalah manager kedua toko itu."
"Baiklah..."
"Kita bicara lagi sepulang aku dari kantor. Ok?!" Abyseka mencium kening Pelangi sambil berbisik mesra. "Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku yang akan menyelesaikan semua masalah. Percayalah."
Pelangi mengangguk dan tersenyum.
"Tidurlah lagi, lihat matamu seperti panda."
Pelangi membelalakkan matanya, "Aku..."
__ADS_1
"Aku tau kamu tidak tidur nyenyak semalam. Istirahatlah, jangan banyak berpikir."
Sepeninggal Abyseka ke kantor, Pelangi kembali ke kamarnya. Tadinya ia ingin bertanya pada Mama tentang tawaran Abyseka,tapi Mama sudah pergi ke toko bajunya.