SEBENING PELANGI

SEBENING PELANGI
Bahagia dan lelah


__ADS_3

BAB 26


Menjelang hari pernikahan Pelangi di sibukkan dengan berbagai macam persiapan. Dari tamu di pihaknya dan baju-baju yang akan di pakai oleh keluarga besar.


Belum lagi ia masih harus belajar memimpin sebuah restoran yang ternyata cukup besar. Setiap hari ia harus membaca beberapa file soal menegemen, buku-buku tentang menjadi manager restoran, mempelajari pembukuan, perputaran bahan baku yang cukup cepat.


Pelangi merasa waktu dua puluh empat jam sehari sangat kurang. Ada banyak hal yang harus di pelajarinya. Selain persiapan pernikahan tentunya.


Abyseka melihat Pelangi terlalu serius menghadapi pekerjaan barunya. Ia jadi merasa Pelangi melupakannya.


Abyseka mengetuk pintu kamar Pelangi.


"Masuk," kata Pelangi. Ia sedang duduk di kursi kerjanya. Meja di hadapannya berserakan beberapa file dan beberapa buku yang tersusun rapih.


"Kau tidak keluar kamar sejak sore tadi,"kata Abyseka menghampiri Pelangi.


"Bahkan makan malam pun minta di antar ke kamar. Tidak cape?"


"Tidak Kak. Aku harus mempelajari semuanya kan?"


"Tapi tidak ngoyo seperti ini. Aku merasa tidak ada dalam pikiranmu. Padahal sebentar lagi kita akan menikah."


Pelangi tersenyum,"Aku hanya mengejar waktu yang tertinggal untukku. Bayangkan, bila aku sudah benar-benar bekerja di restoran itu tanpa ada Mama yang membimbingku. Bisa-bisa para karyawan menertawakan ku."


"Tau kamu akan mengabaikan ku seperti ini...sama sekali tidak kuijinkan kau untuk bekerja."


"Iihh...ngambek."


Pelangi menghampiri Abyseka yang duduk merajuk di sofa dekat meja kerjanya. Kemudian memeluk lengan Abyseka dengan manja.


"Aku harus memantaskan diriku untuk bersanding dengan Tuan Abyseka yang hebat!"


"Aku tidak butuh kamu yang hebat, aku tidak butuh kamu yang semoh. Aku hanya butuh kamu ada di dekatku. Dan hatimu hanya melihatku, tidak ada yang lain. Titik!"


"Bagaimana dengan pandangan orang lain?"


"Acuhkan!"


Pelangi bersandar pada bahu Abyseka


Apakah kau tahu Kak? Pandangan mengejek dan merendahkan ku oleh orang-orang di luar sana sangat melukaiku. Aku tidak bisa membalas mereka.


"Sudah kau habiskan makan malammu?"


"Sudah. Tuh piring kotornya belum sempat kukeluarkan." Pelangi menunjuk piring kotor di samping meja sofa.


"Kalau aku keluar kamar, apa kau akan melanjutkan pekerjaanmu?"


"Tentu saja. Masih banyak yang harus kukerjakan."


Abyseka menarik nafas dan menghembuskan ya dengan kasar. Seminggu sebelum hari H, kita ke kota C. Semua berkas kerajaanmu wajib di tinggal!"


"Ya Pak Boss."


Abyseka pun keluar dari kamar Pelangi dengan wajah masam. Saras yang melihat langsung tersenyum nakal dan hendak berdiri dari sofa di ruang tengah. Namun langsung di cegah Mama.

__ADS_1


"Jangan berpikiran nakal! Kakakmu sedang kesal, biarkan dia."


"Tapi ini kesempatan emas Ma...Selama ini belum ada orang yang bisa membuat Kakak berkabut gelap seperti itu...."


"Saras!"


"Kalau kamu ngeyel, Papa potong dana


bulananmu sampai separonya."


"Wah, kejam nian....Momen langka seperti ini seharusnya nggak di sia-siakan...." Saras kembali duduk dengan wajah cemberut.


######


Seminggu sebelum hari pernikahan Pelangi dan Abyseka, mereka datang ke kota Y tempat kelahiran Pelangi.


Papa dan Ulfah yang menjemput mereka di bandara. Wajah sumringah jelas terlihat di wajah Ulfah ketika bertemu kakaknya. Di peluknya erat-erat orang terkasihnya itu.


"Kakak pergi terlalu lama...lain kali tidak kuijinkan pergi lagi!" kata Ulfah merajuk.


"Ya. Asal kau bisa merayu Kak Aby, aku boleh tinggal di sini atau tidak."


Ulfah mencibir sambil melirik Abyseka, "Kalo urusannya sama Kak Aby sih, rumit jadinya."


Abyseka tertawa sambil mengacak rambut Ulfah. Spontan Ulfah berlari menjauh sambil berteriak kesal.


"Ayo...ayo...kita sudah di tunggu Eyang. Langsung ke Bukit Pinus kan?" tanya Papa.


"Ya. Kita langsung ke sana Pa." kata Abyseka.


Untuk beberapa saat mobil penuh dengan suara celotehan Ulfah. Namun makin lama suaranya melemah dan hilang samasekali.


Abyseka melihat ke kursi belakang dan tersenyum. Si burung kutilang sudah tidur, kelelahan berkicau kelihatannya. Ulfah bersandar manja di bahu Pelangi. Sejak kecil Ulfah memang selalu manja pada Pelangi. Terlebih lagi usia mereka yang berjarak cukup jauh. Pelangi sudah seperti ibu kedua buat Ulfah.


Sesampainya di rumah Eyang, mereka di sambut dengan pelukan hangat dari Eyang dan semeja penuh masakan berbagai menu.


Yang paling senang adalah Pelangi. Ia sudah sangat kangen dengan makanan dan suasana kediaman Eyang. Sedang Abyseka lebih pada penasaran. Tentang kenalnya Om Hendra dengan Eyang. Apa yang sebenarnya terjadi di masa mereka muda?


Semua orang makan malam di selingi dengan canda tawa. Selesai acara makan bersama Eyang mempersilahkan tamunya untuk beristirahat.


"Eyang....saya masih pingin cerita-cerita sama Eyang." protes Pelangi ketika Eyang menyuruhnya istirahat ke kamar.


"Nanti saja kalau sudah santai jadwalmu. Eyang bisa cerita panjang lebar....Termasuk menjawab semua pemasaranmu Aby."


"Eyang tahu saja." jawab Aby.


"Besok ada lulur buat calon manten."


"Apa itu Eyang?" tanya Ulfah penasaran.


"Calon penganten harus di lulur. Di asepin ratus, di pijet sama di suruh berendam."


"Besok banyak tamu Eyang?"


"Nggak, cuma yang mau mijet sama nglulur. Kamu mau di lulur?" tanya Eyang ke Ulfah. "Nanti jadi wangi badanmu...dan nggak butek burik seperti ini."

__ADS_1


"Ihhh...Eyang..."


"Sekarang istirahat sana..."


Sebelum masuk ke dalam kamar, Pelangi dan Abyseka di minta Mama ke halaman samping rumah.


"Duduklah kalian berdua." kata Ma pada Pelangi dan Abyseka. Kudian mengeluarkan sebuah kotak kayu yang cukup besar di pangkuannnya.


Mama mengambil sebuah cincin emas berbentuk laba-laba kecil dengan hiasan batu permata berwarna merah. Kemudian di serahkan kepada Pelangi.


"Ambil ini..." Mama memasukkan cincin bermata merah ke jemari Pelangi.


"Punya siapa ini Mah?" Punya Nenek buyutnya Mama. Itu dulu juga dipakai Eyang sewaktu baru menikah."


"Mama juga pake?"


Mama mengeluarkan kalung dari balik bajunya dengan liontin yang berbentuk sama.


"Ini lambang keluarga. Kamu juga bisaengubahnya jadi liontin seperti ini. Cincin seperti ini di berikan pada anggota keluarga baru."


"Kak Aby juga dapat?"


"Tentu saja. Ini sudah dibuatkan. Eyang yang memesannya." Mama memberikan sebuah gelang silver berbandul laba-laba dan berhias permata merah.


"Terimakasih Mah." ucap Abyseka. "Apa arti laba-laba ini Mah?"


Mama tersenyum, "Menurut Eyang, dulu keluarga besarnya memiliki usaha kain sutra.Sulam kain sutra. Setelah pabrik kain dan hasil sulam besar, bahkan bisa mengirim hampir keseluruh dunia. Suami buyut mama, meninggal. Dan Nenek buyut selalu mengenakan pakaian hitam, tanda ia selalu berduka. Dari situlah asal lambang blackwidow itu. Jaringan yang luas dan di pimpin oleh seorang janda yang selalu berpakaian hitam."


"Apa pakaian hitam itu wajib buat janda-janda di keluarga kita Mah?"


"Tentu saja tidak. Lihat Eyang...apa selalu pakai baju warna hitam? Tidakkan...bahkan lebih senang pakai baju berwarna-warni dengan bunga-bunga besar. Mama kadang sampe risih diliatin orang ..."


"Itu tandanya orang yang selalu optimis..."tiba-tiba Eyang muncul dari balik pintu, "Selalu ceria, dinamis. Tidak seperti kamu, diem melulu kaya batu kali!"


"Eyang..." sapa Pelangi.


"Hitam memang selalu identik dengan duka, tapi hitam bisa juga diartikan berwibawa. Betul?"


"Iya...iya...Eyang selalu benar." kata Mama.


"Ayo..pada tidur sana. Besok kita mulai sibuk. Besok aku mau luluran pake pelembut kulit. Biar tambah mulus."


"Iya...iya. Ayo kita tidur." Mama menggandeng tangan Eyang dan mengantarnya ke kamar.


Yang lainnya ikut bubar ke kamar masing-masing.


Pagi harinya rumah sudah di hebohkan dengan kedatangan beberapa tamu yang diundang Eyang. Ternyata para ahli lulur. Mereka sengaja di undang Eyang untuk memijat sekaligus melulur calon penganten dan keluarga.


"Aku kira kita akan pergi ke SPA dan luluran di sana." kata Abyseka pada Pelangi, "Ternyata tretmennya di rumah."


"Sudah kuduga sih. Eyang lebih cenderung melakukan segalanya di rumah. Lebih aman dan higenis katanya."


"Ayo...calon manten mandi dan sarapan sana. Terus mulai lulurannya." perintah Eyang.


"Ya...." kata Pelangi dan Abyseka bersamaan.

__ADS_1


__ADS_2