
BAB 21
Tibalah hari kedatangan Keluarga Rahardi dinkota C. Mereka menempati Apartemen Langit Biru. Menempati dua apartemen, yang satu yang dipakai Abyseka dan satunya yang dipakai Pelangi. Keluarga Pelangi memilih lamaran dilaksanakan di rumah Eyang Putri. Selain lebih luas lingkungannya juga asri dan sejuk. Sekalian memberi liburan pada keluarga Rahardi.
Eyang sudah membooking sebuah villa yang mewah di objek wisata bukit bambu. Keluarga Rahardi bisa menempati villa itu selama seminggu.
Sebelum menempati villa. Seluruh keluarga berkumpul di Apartemen Langit Biru. Keesokkan harinya barulah bersama-sama menuju villa yang disediakan oleh Keluarga Pelangi.
Mama dan Papa Rahardi tak henti-hentinya mengagumi keindahan alam selama perjalanan menuju villa. Abyseka juga sempat menunjukkan tempat dimana ia kecelakaan dan di tolong oleh Pelangi.
Pukul sebelas siang, Keluarga besar Rahardi sampai di villa Bukit Pinus. Mereka di sambut beberapa pelayan dan penjaga villa. Dan langsung membantu mengangkat beberapa koper dan barang bawaan Keluarga Rahardi. Tak lupa mempersilahkan mereka untuk mencicipi hidangan dan camilan yang sudah di sediakan.
"Mama rasanya tidak sabar pingin ketemu keluarganya Pelangi," kata Mama. "Dulu waktu menjemputmu sehabis kecelakaan, Mama kurang memperhatikan bagaimana keadaan mereka. Wajah merekapun mama tidak begitu hafal."
"Waktu itu kita terlalu panik melihat keadaan Aby, Mam" sela Papa.
"Iya betul. Mama hanya sempat mengucapkan terimakasih sambil menangis. Mama sempat bertemu dengan Eyangnya Pelangi, tapi hanya salaman sebentar. Yang paling hafal adalah wajah Pelangi. Karena dia yang menerangkan semua keadaanmu sampai sedetail-detailnya."
"Sekarang kita istirahat dulu. Biar nanti malam fress saat lamaran." kata Om Hendra.
"Saras...jangan keluyuran dulu." kata Mama.
"Aah...Mamah. Sayangkan sudah datang ke tepat sebagus ini nggak kemana-mana."
"Besok masih ada waktu. Kita di kasih waktu seminggu ada di villa ini. Kamu biasanya terus terlambat dan bikin heboh nggak jelas!"
Sandra yang memahami kekhawatiran tantenya langsung merangkul tangan Saras dan membawanya ke kamar yang sudah disediakan untuk mereka. Saraspun mengikuti langkah Sandra dengan wajah bersungut-sungut.
"Kak Sandra kok nggak pernah sih protes sama Mama. Di suruh ini...itu...itu...nggak boleh gini. Harus itu...huh!"
"Kalau aku pikir, Tante nyuruhnya memang bertujuan baik deh. Lagian aku lebih suka di perlakukan seperti itu sama Tante. Aku nggak punya mama yang bisa nyuruh-nyuruh atau melarang aku Sar....Aku, belum puas kena omel mama Sar..." mata Sandra sedikit berkaca-kaca.
Saras langsung merangkul pundak Sandra.
"Mama aku boleh jadi mama kamu juga kok. Makanya, akukan sering nyuruh kamu tinggal di penthouseku aja. Biar gantian kamu yang kena omel mama terus. Bukan aku...."
"Papa gimana dong..."
"Ikut pindah juga dong...tinggal pilih mau kamar yang mana."
Malam harinya sekitar pukul delapan malam Keluarga Rahardi sampai di rumah Eyang. Selain keluarga inti dari Pelangi, hadir juga dua Adik Papa Bima dan kebetulan satu-satunya adik Mama Yuwanti sedang berada di Jepang. Jadi tidak bisa hadir.
Semua keluarga Rahardi hadir kecuali Om Hendra yang tiba-tiba merasakan sakit perut. Beliau tadi berjanji akan menyusul. Acara lamaranpun berjalan dengan lancar. Om Hendra yang di daulat sebagai penyampai lamaran harus di ganti oleh Om Heru. Tapi untung semua bisa teratasi.
Setelah masuk acara yang di tunggu-tunggu yaitu menyematan cincin pertunangan, di lanjutkan acara makan malam bersama. Om Hendra baru bisa datang setelah menyelesaikan urusannya di toilet.
"Maaf, saya datangnya terlambat." kata Om Hendra pada Papa Bima.
"Santai aja, tadi Aby sudah cerita anda sakit perut. Kalau memang tidak bisa hadir, sebenarnya tidak apa-apa. Daripada di paksa malah tambah parah."
__ADS_1
"Seharusnya saya yang mewakili keluarga. Karen saya anak tertua."
"Tidak apa-apa, mari saya kenalkan dengan Ibu mertua saya. Belum pernah ketemukan? Kalau istri dan anggota keluarga lain, kelihatannya sudah pernah bertemu."
Papa Bima mengajak Om Hendra bertemu dengan Eyang. Yang selama acara hanya duduk di tempat yang khusus buat Eyang. Karena sudah tidak kuat lagi berjalan berkeliling menemui tamu-tamunya.
"Eyang, perkenalkan ini kakak tertua dari Papanya Aby. Tuan Hendra Rahardi. Papa Bima memperkenalkan Om Hendra pada Eyang. Dengan senyum khasnya yang terlihat ramah, Eyang langsung mengulurkan tangannya. Tapi Om Hendra bukannya menyambut tangan Eyang, ia langsung memeluk Eyang dengan erat.
"Bibi Feng!!" kata Om Hendra dengan suara bergetar. Semua yang berada di sekitar merasa terkejut. Ada apa gerangan?
Bibi Feng? Mengapa Eyang di panggil Bibi Feng oleh Om Hendra?
Eyang tidak langsung melepas pelukan Om Hendra, tapi malah menepuk-nepuk punggungnya sambil tersenyum.
"Nak...coba di lihat lagi. Salah mengenali orang tidak?"
Om Hendra melepas pelukannya, "Saya tidak salah. Tahilalat di pipi dan wajah yang masih saya hafal. Ini saya Bibi, si rambut ijuk. Saya putra pertama Ivone, nyonya Belanda kesasar. Bibi masih ingat?"
Eyang menutup mulutnya terkejut, matanya langsung berkaca-kaca, "Satu-satunya anak Si Belanda kesasar adalah si rambut ijuk! Syailendra...."
"Itu saya Bibi...saya..." Om Hendra memeluk Eyang lagi. "Bertahun-tahun saya mencari Bibi Feng ...sampai saya dewasa."
"Sini...kulihat wajah jekekmu." Eyang menangkupkan kedua tangannya yang keriput di kedua pipi Om Hendra. Setelah yakin, Eyang terlihat terhuyung hendak jatuh. Dengan sigap Papa Bima langsung menangkap tubuh Eyang dan bersama Om Hendra membantu Eyang untuk duduk.
"Mana rambut jabrikmu? Mengapa kau sudah terlihat setua ini? Kau masih suka lollipop rasa nanas?"
Om Hendra tergelak, " Umurku tidak muda lagi Bi. Rambut sudah rontok semua, dan kulitku mengendur di sana sini... dan Dokter sudah melarangku makan yang manis-manis."
"Ayo, ke kamarku. Ceritakan semuanya. Sejak aku menghilang."
"Ayo...Bibi juga harus menceritakan apa yang terjadi."
Eyang tersenyum dan langsung menggandeng tangan Om Hendra menuju kamarnya.
"Eyang....aduh...masa mau ngajak cowok ke kamar..."protes Papa Bima. Di ikuti tawa beberapa orang.
"Eh, kamu anak kecil. Nanti aku ceritakan ada apa sebenarnya."
"Yah .. lagi-lagi di anggap anak kecil. Anak kecil yang sebentar lagi punya cucu..."
Eyang sengaja mengajak Om Hendra ke kamarnya, karena tidak ingin semua tamu mengetahui bagaiman hubungan dirinya dengan Om Hendra di masa lalu.
Papa Rahardi menepuk-nepuk pundak Papa Bima, "Biar yang tua-tua pada reuni kita ngobrol lagi aja."
"Ayo..."
Sebenarnya Abyseka sangat penasaran. Bagaimana sebenarnya hubungan antara Eyang dan Om Hendra. Apalagi tadi Om Hendra memanggil Eyang dengan Bibi Feng.
Abyseka mendekati Papa Bima yang sedang mengobrol dengan Papa.
__ADS_1
"Pah, Aby mau minta ijin..." kata Abyseka
"Papah yang mana?" tanya Papa Rahardi dan Papa Bima.
Abyseka menatap kedua Papa di hadapannya. Betul juga, keduanya di panggil Papa oleh dirinya.
"Papa Bima..."
"Oh...ke Papa to. Ijin mau minta apa nak?"
"Aby minta ijin membawa Pelangi ke Ibukota sebelum acara pernikahan. Aby mau memperkenalkan Pelangi pada keluarga lain di kota B"
"Papa tidak keberatan. Tapi ada syaratnya....Taukan apa itu?"
"Tau Pah...pasti Aby akan menjaga Pelangi. Jangan khawatir."
"Mereka berdua ada dalam pengawasanku....jangan khawatir. Kalau Aby berani menyakiti Pelangi. Kakinya kupotong buat tumbal. Karena kakinya lah yang telah mempertemukan dia dengan Pelangi."
"Wah...tidak ekstrim seperti itu dong. Ngeri saya..." kedua Papa tertawa bersamaan.
"Aby permisi dulu. Mau minta ijin sama Mama dulu."
"Mama yang mana?" tiba-tiba kedua Mama sudah berada di belakang Abyseka.
"Nah...tuh. Dua Mama sudah ada di sini." kata Papa Bima.
"Aby mau ijin ke kedua Mama... mau ngajak Pelangi ke Ibukota sebelum acara pernikahan. Nanti acara nikahnya biar Abim yang ngurus."
"Boleh..."kata kedua Mama.
"Jaga Pelangi dengan baik ya." Kaka Mama Yuwanti, "Dia berlian buat kami."
"Aku juga akan mengawasi si Aby ini. Tenang aja...."
Para orangtua pun kembali tenggelam dalam obrolan mereka. Sedang Abyseka mencari Pelangi. Kebiasaan Pelangi bila diantara kerumunan orang banyak ia pasti merasa tidak nyaman dan menghilang. Lebih tepatnya menyembunyikan diri.
Abyseka menemukan Pelangi sedang duduk di halaman samping sambil menggenggam gelas berwarna putih.
"Di sini rupanya..." kata Abyseka sambil mencium puncak kepala Pelangi.
"Capek berdiri terus....jadi di sini dulu saja sambil minum teh panas."
"Pulang dari sini langsung siapkan beberapa bajumu. Kita berangkat ke Ibukota dua hari lagi."
"Ke Ibukota? Kita? Aku juga?"
"Ya. tadi aku sudah ijin Papa dan Mama. Mereka mengijinkan. Aku ingin mengenalkanmu pada keluarga yang lain."
"Apakah penting? Aku agak tidak yakin."
__ADS_1
"Buat aku, kau yang paling penting. Karena itu penting buatku semua orang tau siapa dirimu buatku."