SEBENING PELANGI

SEBENING PELANGI
Bodyguard


__ADS_3

BAB  34


Zaki mempercepat langkahnya mencoba menghampiri Pelangi yang sedang membuka pintu keluar toko. Dilihatnya Pelangi Keluar dari toko, dan tanpa di duganya seorang pemuda menarik tas milik Pelangi.


Dengan sigap Pelangi menarik tasnya secara naluriah mempertahan hak miliknya. Alhasil Pelangi goyah karena tenaganya kalah jauh dengan pemuda yang hendak mengambil tasnya. Tas dan barang bawaanya berserakan di lantai dan dirinya juga ikut terjerembab ke atas lantai.


Begitu melihat Pelangi terjatuh, Zaki langsung berlari secepat mungkin mendekati Pelangi. Masih sempat di lihatnya pemuda  lain ikut mendekati Pelangi. Sebuah injakan di perut Pelangi sempat ia lakukan. Sebelum tendangan kedua si pemuda itu mengenai Pelangi, Zaki sudah menendang keras tubuh pemuda berandalan itu.


Begitu melihat ada yang menolong Pelangi, para pemuda itu spontan berlarian ke arah jalan raya dan berbelok di gang samping toko roti. Zaki berusaha mengejar mereka, ia sangat ingin menangkap dan menghajar orang-orang yang sudah menyakiti Nyonyanya.


Baru beberapa meter Zaki mengejar\, tiba-tiba ia berhenti karena mengingat sesuatu. Bang***! Mengapa aku bisa lalai? Mudah-mudahan ini bukan pancingan agar aku menjauhi Pelangi. batin Zaki. Ia langsung berlari kembali ke tempat Pelangi tadi.


Benar saja, dilihatnaya dua pemuda sedang mendorong-dorong tubuh Pelangi yang berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Belum sempat tubuh itu kembali terjatuh, Zaki sudah memegangi tubuh Pelangi. Dan melayangkan sebuah tendangan sangat keras ke salahsatu bagian tubuh pemuda yang berusaha mencelakai Pelangi.


Setelah yakin tubuh Pelangi tidak lagi limbung, Zaki menghampiri pemuda yang tadi terkena tendangannya. Ia tergeletak lemas akibat tendangan Zaki. Beberapa orang dan juru parkir toko roti mulai berdatangan. Ada yang membantu Pelangi mengumpulkan belanjaannya ada juga yang mengmbilkan tas milik Pelangi yang tidak sempat di bawa kabur tadi.


Beberapa orang berdatangan mengerumuni pemuda yang berusaha mencelakai Pelangi, ada yang berteriak sambil bertanya, ada yang membentak-bentak. Ada pula yang memukul pemuda itu. Sigap Zaki langsung melerai mereka.


"Jangan main hakim sendiri Bapak-bapak," kata Zaki, "Saya bawa pemuda ini ke poisi, jadi kita semua tahu apa motifasinya. Kalaupun ada yang menyuruh, nanti akan mengaku juga."


Kemudian Zaki menghubungi seorang anakbuahnya, dan menyuruhnya membawa pemuda yang tadi berusaha menyakiti Pelangi. Dihampirinya Pelangi yang duduk di tepi trotoar dan sedang merapihkan bajunya yang agak kusut.


"Anda baik-baik saja?" tanya Zaki pada pelangi.


"Ya, tidak apa-apa. Hanya sedikit deg-degan saja."


"Saya antar kedalam mobil," Zaki mengulurkan tangannya hendak membantu Pelangi berdiri. Segera Pelangi menyambut uluran tangan Zaki,dan mengikuti Zaki menuju mobil mereka.


Zaki membukakan pintu untuk pelangi, dan memastikkan Pelangi duduk dengan nyaman.


"Minumlah dulu untuk menenangkan diri. Saya akan kembali lagi beberapa saat."


"Baiklah. Kak tolong jangan terlalu kasar pada pemuda itu. Aku yakin ada yang menyuruhnya."


"Tenang saja, aku akan membereskan semuanya dan saya juga pingin tahu apa yang Nyonya dengar dari percakapan mereka. Sekarang tenangkan diri anda dulu."

__ADS_1


Zaki menutup pintu mobil setelah Pelangi mengengguk. Kemudian Zaki embali menemui anakbuahnya yang sedng menahan pemuda badung dalam mobil yang lain.


"Enaknya di apakan ini anak Boss?" tanya salah seorang anakbuah Zaki yang berbadan ceking.


"Jangan di siksa sampai lembek. Secukupnya, kita butuh keterangannya. Bawa langsung ke gudang merah.Biar aku nanti yang beritahu Boss Besar."


"Baik....!"


Zaki kembali ke mobil dimana Pelangi berada, dan membawa istri Bosnya menuju Butik.


"kak Zaki akan memberitahu Kak Aby soal kejadian hari ini?" tanya Pelangi pada Zaki yang sedang serius menyupir mobil.


"Pastinya Nyonya, kalau tidak diberithu pasti saya di salahkan."


Pelangi mengerutkan bibirnya, "Habis ini pasti aku akan sulit untuk bepergian ataupun bekerja di luar rumah." sungut Pelangi.


"Sebagai suami itu wajar Nyonya."


Pelangi melempar pandangannya keluar jendela,memandang sekilas gedung dan bangunan yang dilewatinya. Seakan berlarian menyusul dirinya yang melaju di dalam mobil. Zaki melihat kegusaran dan kekecewaan Pelangi yang tergambar jelas di wajahnya. Ia paham betul apa yang dirasakan pelangi. Wanita yang mandiri pasti tidak suka di kekang. Bukan berarti mandiri harus tomboy juga, tapi tau pasti apa yang diinginkan dirinya dan bagaimana caranya untuk bisa mencapai itu.


Sesampainya di butik Zaki segera membukakan pintu untuk Pelangi, dan membantunya membawakan beberapa snak yang tadi di belinya.


"Saya tunggu di luar saja Nyonya, anda masuk saja langsung ke  kantor. Tuan Abyseka sudah datang dan menunggu Anda."


"Baiklah," jawab Pelangi. Setelah menyapa beberapa karyawan butik Pelangi langsung menuju kantor dan mengetuk pintunya. Begitu pintu di bukanya Pelangi sedikit terkejut karena tiba-tiba saja Abyseka memeluknya dengan erat.


"kamu tidak apa-apa Sayang?" tanya Abyseka dengan suara bergetar, "Ada yang terluka? Sakit sekali? Perlu kita ke rumahsakit?" berondongnya dengan sederetan pertanyaan.


"Aby....biarkan Pelangi duduk dulu," kata Papa Rahardi yang ternyata datang juga bersama Mama.


Abyseka langsung menggandeng Pelangi untuk duduk, Mama juga langsung menyodorkan segelas air putih pada Pelangi.


"Minum dulu Sayang, kamu pasti ketakutan tadi. Sini Mama bantu." Mama membantu memegangi gelas yang hendak diminum Pelangi. Setelah beberapa teguk, Pelangi meletakkan gelasnya di atas meja. Sedang Abyseka yang duduk di sampingnya terus memperhatikan dan mengelus-elus rambut Pelangi.


"Aku tidak apa-apa Kak, Ma, Pa," kata Pelangi mencoba menenangkan orang-orang yang memandangnya dengan pandangan khawatir.

__ADS_1


Abyseka langsung mengangkat tangan Pelangi dan menunjukkan siku serta telapak tangan Pelangi yang terluka.


"Ini kamu sebut tidak apa-apa? Coba lihat lututmu luka tidak? Belum lagi bagian badanmu yang lain. Nanti aku periksa..." nada Abyseka meninggi sedikit karena kesal. Atau khawatir?


"Hanya lecet Kak, tidak ada luka yang lebih parah. ini wajarkan....."


"Tidak ada yang wajar dalam keadaan seperti itu Nak. Kita akan melakukan penyeledikkan lebih lanjut. Aby, kamu pastikkan Pelangi baik-baik saja," kata Papa Rahardi dengan suara tegas, "Aby, nanti pastikkan tidak ada luka yang tersembunyi yang tidak terlihat pada Pelangi. Papa tidak mau dengar ternyata ada luka dalam, pendarahan di dalam atau retak tulang yang tidak terlihat dari luar. Itu akan membawa efek di masa yang akan datang."


"Baik Pah...Aby akan pastikan itu."


"Semua jadwalmu hari ini di batalkan semua."


"Sudah Pah, tadi Zaki sudah kusuruh untuk mengurusnya."


"Sekarang bawa Pelangi pulang, Papa mau melihat hasil penyelidikkan dan langsung ke kantor lagi. Mama mau ke mana sekarang?"


"Mama membereskan yang di butik dulu terus langsung Pulang. Tidak lama, takut Pelangi membutuhkan sesuatu."


"Mah...Pah...Pelangi baik-baik saja. Percaya deh....jangan terlalu khawatir." sela Pelangi.


"Ikuti saja perintah Papa. Aby ayo bawa Pelangi pulang."


"Baik..." Aby dengan sigap memegangi Pelangi dan merangkul pinggangnya dengan hati-hati. Dan tanpa sengaja malah menyentuh pinggul Pelangi yang memar karena terbentur ke teras toko roti tadi. Tak ayal Pelangi langsung terpekik meringis merasakan nyeri di pinggulnya. Dan itu membuat semua oarang di ruangan itu spontan mendekatinya.


"Sayang...sakit sekali?" tanya Abyseka.


"Langsung ke Rumahsakit!" perintah Papa.


"Pah tolong telpon Zaki."


"Ok..."


Abyseka langsung menggendong Pelangi ala bridalsyle dan berjalan cepat menuju mobil. Pelangi sendiri merasa heran bagaimana sakit di pinggulnya tidak terasa sama sekali tadi. Dan sekarang ia harus menahan sakit yang kuat dari pinggulnya itu.


"Zaki...mobilnya," Abyseka sedikit berteriak. Spontan Zaki langsung membukkan pintu mobil. Tadi Papa Rahardi sudah menelponnya untuk segera menyiapkan mobil.

__ADS_1


Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di Rumahsakit dan Pelangi langsung di bawa ke UGD untuk mendapat perawatan. Beruntung siang itu tidak terlalu ramai sehingga Pelangi tidak perlu mengantri lama untuk mendapat perawatan.


__ADS_2