SEBENING PELANGI

SEBENING PELANGI
Hari H


__ADS_3

BAB 27


Sebelum masuk subuh Eyang sudah membangunkan Pelangi dan Abyseka. Semalam tidur mereka agak malam setelah pengjian di rumah.


"Masih ngantuk Eyang." protes Pelangi.


"Manten kok malesan. Ayo cepet mandi, sholat terus dandan."


Dengan langkah terseok malas, Pelangi masuk ke kamar mandi. Membasuh dirinya dengan shower berair hangat. Dengan masih menggunakan handuk kimono, Pelangi mulai menyantap sarapannya. Masih dengan gerakan malasnya. Bayangkan...sarapan jam empat pagi. Ini mah saur.


Setelah azan subuh berkumandang, Pelangi langsung sholat. Setelah itu, memasrahkan wajahnya pada MUA.


Jam tujuh pagi, wajah Pelangi selesai di poles. Ketika melihat hasil kerja MUA di pantulan cermin, Pelangi merasa ada wajah lain yang di tempel permukaan kulit wajahnya.


"Gimana?" tanya Ulfah, "Cantik kan? Pilihan MUA ku nggak salah deh..."


"Cucu Eyang tambah cantik," komentar Eyang. "Fah...kamu juga harus di dandani. Biar banyak yang tertarik."


"Eyang...kalau Ulfah banyak yang naksir, nanti Eyang yang repot. Mereka pasti minta kencannya di Bukit Pinus...yang sepi...Eyang rugi. Mereka masuknya gratis..."


"Dasar kamunya aja."


"Eyang, lebih baik sarapan dulu. Biar kuat nanti ketemu sama para tamu," kata Mama mengingatkan Eyang.


Eyang mengangguk dan keluar dari kamar menuju meja makan dengan berbagai menu yang sudah terhidang.


Akad nikah di mulai pukul delapan pagi. Berjalan lancar dengan penuh khidmad dan haru namun bahagia. Pendopo rumah Eyang dihiasi dengan berbagai bunga serta hiasan bernuansa putih dan ice blue.


Selesai acara Ijab Kabul, pasangan pengantin, keluarga besar serta tamu Syailendra undangan menikmati hidangan yang bisa di bilang mewah. Sebelum menuju acara resepsi yang tidak bisa di bilang sederhana.


Malam harinya,barulah diadakan resepsi. Konsep resepsi yang di pilih Abyseka dan Pelangi adalah Rainbow Garden. Pohon-pohon Pinus di hiasi dengan lampu warna-warni. Bunga-bunga wangi semerbak bertebaran dan hiasan-hiasan lain yang menambah semarak suasana.


Selesai rangkaian acara Ijab, Pelangi beristirahat di dalam kamar pengantin untuk beristirahat. MUA mengingatkan pelangi untuk mandi jam empat sore dan persiapan untuk di rias lagi setelah Maghrib. Acara resepsi di mulai jam delapan malam.


Pelangi meluruskan kakinya di atas kursi sofa.


"Capek?" tanya Abyseka.


"Pastilah..." Pelangi memasukkan hiasan kepalanya ke dalam kotak. Ulfah dan Mama mbantu melepaskan satu persatu.


"Sehabis ini, istirahatlah. Hapus semua makeup mu dan tidur." kata Mama.


"Iya, nanti sore pasti capek banget. Tamu Eyang dan Papa banyak. Bisa keriput gigi kita karena senyum terus." gerutu Ulfah sambil membantu Pelangi melepas kebayanya.


"Sekali seumur hidup Feh..." seloroh Pelangi.


"Besok kalau aku nikah, yang simpel aja. Ongkos ngirit, nggak ribet, capeknya nggak tingkat dewa!"


"Nikahnya sama anak kodok?" tiba-tiba Eyang sudah muncul di pintu masuk.


"Eyang...kok gitu.." kata Ulfah sambil cemberut.


"Ayo cepetan bantu Pelangi. Terus biarkan mereka istirahat. Kita juga harus istirahat. Ayo..." Eyang keluar dari kamar Pelangi.


"Ok." Ulfah dan Mama segera membereskan beberapa aksesoris yang berserakan dan merapihkannya.


Setelah menutup kamar di belakang Ulfah dan Mama, Abyseka menyusul Pelangi berbaring di tempat tidur yang nyaman dan empuk. Kemudian memeluk Pelangi dan menjadikan tangannya menjadi bantal bagi Pelangi.


"Capek?"tanya Abyseka.


"Iya....tau ribet gini, betul kata Ufeh. Nikah yg biasa aja....nggak kelamaan berdiri. Nggak senyum terus...pipiku rasanya kejang, gigi jadi retak-retak gegara kering....tangan juga pegel salaman mulu."

__ADS_1


Abyseka tertawa gemas, "Makanya sekali seumur hidup. Biar capek dan kerja kerasnya hanya sekali."


"Ada ya orang nikah berkali-kali. Nggak pegel apa?"


"Sini aku pijitin...." Abyseka memijit kedua pipi Pelangi dengan gemas. Kemudian menciumi seluruh bagian wajah Pelangi.


"Iiihh....Kak! Cakepmu nanti nular ke aku."


"Bagus dong...."


"Aku jadi cakep boleh? Bukan cantik?"


"Eh...?Nggak dong... sini ku ciumi lagi biar cantiknya kembali...Hahaha...."


"Modus...! Kita istirahat aja...nanti sore aku harus di dandani lagi. Rasanya mukaku ini nambah kulit berlembar-lembar."


Abyseka mempererat pelukannya dan memposisikan Pelangi senyaman mungkin.


Untuk beberapa saat mereka berdua dapat beristirahat. Mengumpulkan energi lagi untuk menemui tamu-tamu di resepsi malam ini.


Azan ashar berkumandang, Abyseka membangunkan Pelangi yang masih terlihat lelah.


Selesai menunaikan sholat ashar, Pelangi memanggil MUA untuk mulai mendandaninya.


Sedangkan Abyseka mengecek kesiapan anak buahnya dalam menjaga keamanan. Apalagi hampir seluruh keluarganya dan keluarga Pelangi berkumpul. Perlu keamanan ekstra.


Selesai Pelangi di dandani. MUA membimbing Pelangi menuju ruang tunggu. Rencananya Tata dan Ulfah yang akan menemani Pelangi.


Pelangi menunggu kedatangan Ulfah yang masih didandani di kamar ganti. Sedang Tata masih dalam perjalanan. Ia mencicipi makanan berat dan beberapa makanan ringan yang disediakan oleh EO.


Pelangi menunggu kedatangan Anita dengan sedikit gelisah. Rencananya Anitalah yang akan menemaninya di ruang tunggu.


"Ya...anda siapa?" tanya Pelangi.


"Maaf Mbak, saya suruhan Eyang. Tadi Eyang meminta saya untuk mengantar anda menemui beliau."


"Eyang pingin ketemu saya?"


"Ya. Sebelum acara di mulai, menurut Eyang ini hal penting. Soal keluarga besar. Sebaiknya anda mengikuti saya Mbak."


"Di mana? Jauh dari sini?"


"Tidak. Hanya di gedung bagian bawah. Mari..."


Pelangi agak ragu, soalnya dia tau jalan setapak yang di gunakan menuju ke sana menggunakan bebatuan alam. Yang artinya , permukaan batu tidak terlalu rata. Sedangkan dia menggunakan sepatu high heels.


"Ayolah..." Pelangi mengikuti pemuda di hadapannya dan membiarkan pintu ruangan terbuka agar siapapun yang mencarinya tahu bahwa ia tidak ada di dalam.


Baru beberapa meter melangkah, seseorang memanggil Pelangi. Anita.


"Pelangi...tunggu....Mau ke mana?" tanya Anita.


"Eyang mencariku. Beliau ingin bertemu di ruang bawah. Mas-mas itu yang dimintai tolong." Pelangi menunjuk pria rapih beberapa langkah di hadapannya.


"Aku temani... Tunggu sebentar." Anita berlari kecil menuju temannya yang tadi menani. Berbicara sebentar kemudian kembali menemui Pelangi.


"Tadi Eyang hanya meminta menemui Non Pelangi saja." kata pria berbaju rapih itu.


"Tidak apa-apa Aku di temani Anita. Eyang sudah kenal dengannya. Lagipula nanti kalau ini masalah keluarga, Anita bisa menunggu di luar ruangan.


"Terserah..."

__ADS_1


Pelangi dan Anita saling berpandangan...kemudian mereka berdua mengikuti pria berbaju rapih itu. Jalanan agak menurun, dengan hati-hati Anita memegangi Pelangi.


"Aku merasa ini tidak benar..."bisik Anita.


Ayolah nona-nona....lebih cepat sedikit. Eyang Suah tidak sabar."


"Ya...aku agak kesulitan dengan haig heels ini."


Laki-laki di depan menggumam kesal. Entah apa yang di ucapkan ya...Pelangi dan Anita tidak dapat mendengar dengan jelas.


Di jalanan setapak yang lebih menurun dan membelok, Anita menyuruh Pelangi melepas sepatunya. Dan meletakkan sepatu yang berkilauan itu di tepi jalan.


"Yang satunya?" tanya Pelangi.


"Biar kubawa. Untuk petunjuk."


"Ok..."


"Berjalanlah agak terpincang...dan lebih lambat."


"Ya..."


"Kenapa melambat?!" tanya pria berbaju rapih bertanya dengan sedikit menaikkan suaranya."


"Aku terpeleset. Kakiku sakit, sepatu haknya terlalu tinggi."


"Buang saja sepatu seperti itu. Tidak enak di pakai!"


"Sudah kulepas."


Kembali mereka berjalan, dengan jalanan yang semakin menurun. Pelangi masih berusaha berjalan dengan mengangkat rok gaunnya yang besar dan berat. Mereka berdua sengaja memperlambat langkahnya dan membiarkan pria di hadapannya berjalan cepat dan membuat jarak mereka semakin jauh.


"Apakah gedung di bawah sana?" tanya Anita.


"Sepertinya iya."


Apa mungkin Eyang bisa turun ke sana dengan melihat keadaan kak Eyang?"


Pelangi terdiam, "Iya...ya. Baru sadar aku..."


"Sekarang angkat rokmu tinggi-tinggi dan kita berlari kembali. Sekencang mungkin! Aku di belakangmu. Ayo!"


Pelangi segera menggulung roknya sebisanya dan berbalik berlari menaiki jalanan batu dan menanjak. Di belakangnya Anita juga berusaha berlari dengan mengangkat gaun yang dipakainya.


Baru beberapa langkah suara teriakan dari pria berbaju jas rapih.


"Kalian mau ke mana? Kembali! Atau kulaporkan ke Eyang?!" katanya dengan suara kencang.


Pelangi dan Anita tidak peduli. Mereka terus berlari menaiki jalanan satu demi satu.


Dalam keadaan kesulitan berlari, Pelangi merasakan sesuatu mengenai punggungnya. Rasanya sakit sekali.


"Apa itu?" tanya Pelangi di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.


"Batu...!" sahut Anita. "Ayo lebih cepat, dia melempari kita dengan batu..."


"Ahhh....setan!"


Sekilas Pelangi melihat rembesan darah di bahu Anita. Dia terluka. Pelangi berusaha mempercepat larinya. Kasihan Anita yang berusaha menghalangi lemparan batu dari pria itu agar tidak mengenainya.


Di jalanan yang membelok, Pelangi menabrak seseorang dan tubuhnya limbung hendak jatuh.

__ADS_1


__ADS_2