
BAB 23
Pelangi menginap di penthouse milik keluarga Rahardi. Hanya Pelangi dan Abyseka yang kembali ke Ibukota. Sedang yang lain masih menikmati liburan di vila Bukit bambu.
Abyseka memiliki pertemuan dengan para pengusaha besar, dan tidak dapat diwakilkan. Karena Abyseka di pilih sebagai pembicara utama di forum para pengusaha itu.
"Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanya Abyseka ketika sarapan bersama Pelangi.
"Tidak terlalu nyenyak. Biasakan, tempat baru, suasana baru, bau yang baru lagi."
"Takut? Nanti malam aku temani ya, biar bisa tidur nyenyak."
"Jangan bercanda ah!"
"Waktu aku sakit, kau sering menemaniku tidur. Tidak masalahkan?"
"Itu...Karena malam-malam biasanya kau wa mas yg di tempat lain, kutemanai."
jadi
"Ish....alasan! Hari ini langsung masuk kerja?"
"Tidak. Kita pergi ambil jas pesananku dan cari gaun untukmu."
"Gaun? Buat apa? Bukannya aku sudah membawa beberapa?"
"Well...ikut saja. Kamu akan membutuhkan banyak gawn. Ada banyak acara gala yang harus kita hadiri."
Pelangi menarik nafas, "Baiklah, seperti perintahmu Tuan Abyseka. Hamba menurut."
Abyseka tersenyum lebar merasa puas segaligus lucu atas jawaban Pelangi.
5Selesai sarapan, mereka bersiap untuk pergi. Tempat pertama yang di tuju Abyseka adalah butik baju pengantin.
"Kapan kita akan menikah? waktunya masih panjangkan? Kita pesan yang sudah jadi atau costum?"
"Kita menikah bulan depan."
"Apa...? Ya ampun.Aku kira hanya bercanda."
"Soal kita, aku tidak pernah bercanda. Kita butuh dua atau tiga gawn."
"Dua saja, biar tidak boros. Saat ijab dan resepsi."
"Kalau begitu kita beli empat."
"Kak..."
Abyseka sedikit tersenyum sambil membukakan pintu boutique buat Pelangi. Begitu pintu kaca terbuka, mereka berdua di sambut oleh dua pegawai boutique.
"Selamat datang Tuan, Nona."
"Kami sudah ada janji dengan Nona Scarlett." jawab Abyseka.
"Silahkan ikut saya Tuan." kata salahsatu pegawai.
Merekapun mengikuti karyawan boutique yang berseragam warna lilac menuju ruang VIP. Di dalam ruang private sudah menunggu Nona Scarlett, yang menurut Pelangi, sangat cantik bak boneka Barbie.
"Apa kabar Tuan Rahardi...silahkan masuk." sapa Nona Scarlett. Ia mempersilahkan Abyseka dan Pelangi duduk di deretan sofa yang empuk. Di dekat sofa sudah berderet beberap gaun penganten yang sangat cantik dan mewah.
"Saya sudah menyiapkan beberapa gaun yang anda minta beberapa hari yang lalu. Silahkan di pilih."
Abyseka menyentuh tangan Pelangi memberinya kode untuk memilih. Sementara Pelangi masih membeku melihat keindahan gaun-gaun yang berderet rapi di hadapannya.
"Semuanya luar biasa! Aku...aku tidak tahu mana yang haruskupilih..."
"Apa kita harus membeli semua? Kalau kau menyukainya dan akan bersedia mengenakannya."
"Kakak..."
Abyseka membunyikan tertawanya.
"Warna apa yang kira-kira Nona suka?" tanya Scarlett.
"Pelangi...."jawab Abyseka.
"Pelangi?"
"Ya...aku paling suka pelangi di atas langit biru." jawab Pelangi.
__ADS_1
"Apakah perlu saya buatkan baju dengan warna pelangi?" tanya Scarlett.
Pelangi memandangi Nona Scarlett dengan mata tanpa berkedip.
"Bisakah? Tapi...aku tidak ingin dengan warna yang mencolok."
Nona Scarlett beranjak dari duduknya sambil tersenyum ramah dan masuk ke dalam ruangan lain. Beberapa saat kemudian Ia keluar sambil mendorong sebuah manekin yang di tutupi kain berwarna hitam. Dibantu oleh seorang karyawannya.
"Tuan Rahardi meminta saya membuat sebuah gaun, tapi ini baru contoh. Belum jadi seutuhnya. Hanya rancangan kasar. Silahkan di lihat dulu."
Nona Scarlett menurunkan kain hitam penutup manekin dan terpampang lah sebuah gaun pengantin dengan warna dasar putih dengan hiasan renda dari payet berwarna warni di padu dengan butiran-butiran batu Swarovski yang sangat cantik.
Pelangi sampai berdiri dan membelalakkan matanya demi melihat keindahan gaun yang baru saja di tunjukkan padanya.
"Suka?" tanya Abyseka.
Pelangi melangkah mendekati gaun yang menurutnya luar biasa. Gaun lain menurutnya sangat indah dengan hiasan mutiara dan batu Swarovski. Namun menurutnya yang satu ini lebih indah dengan bordir Payet berwarna-warni.
"Tadi anda bilang suka warna pelang di langit biru. Bajunya bisa kita ganti dengan warna biru sesuai keinginan Anda."
Pelangi memperhatikan gaun di hadapannya untuk beberapa saat. Imajinasinya mengembara membayangkan warna-warni yang bertebaran di tubuhnya.
"Bagaimana kalau..." Pelangi ragu mengutarakan pendapatnya.
"Bagaimana? Utarakan saja, supaya saya dan team bisa mencoba membuatnya," kata Nona Scarlett dengan penuh senyum.
"Begini...keseluruhan gaun di buat berwarna biru. Tapi biru yg sangat muda. Bisa?"
"Bisa. Biru seperti apa? Ice blue?"
"Ya...ya...terus warna pelanginya jangan terlalu dominan, tapi terlihat jelas dengan aksen bling-bling."
"Gaunnya bertekatur?"
"Ya. Dengan warna senada dan bergliter."
"Baik. Itu untuk resepsinya. Untuk acara ijabnya?"
"Biasanya putihkan?"
"Dengan tekstur dan pelangi?"
"Bagaimana dengan mutiara? Dibuat berderet seperti aksen atau bordir."
"Gimana Kak?"Pelangi melihat ke arah Abyseka.
"Mutiara lebih baik,"jawab Abyseka. "Di buat seperti itu..." Abyseka menunjuk sebuah kebaya moderen dengan renda bagian leher sampai ke bawah kebaya, lengan dan sekeliling bagian bawah kebaya."
"Bisa. Tapi apa tidak terlalu berat?"
"Mutiaranya jangan yang besar-besar. Yang kecil-kecil saja. Jadi tidak terlalu berat dan terlihat manis." kata Pelangi.
"Ya. Itu saja? Ada kebaya lain yang mungkin bisanya saya siapkan?"
"Kita pesan dua lagi kebaya modern." kata Abyseka.
"Dua lagi? Buat apa Kak?"
"Mama yang minta. Sebenarnya banyak, tapi nanti itu urusan Mama. Mama sudah menghubungi Nona Scarlett kan?"
"Aahh...ya saya sudah siapkan. Sekarang untuk pengantinnya dulu."
Setelah memilih Kabaya lain, Abyseka dan Pelangi menuju mall terbesar dan terkemuka di Ibukota. Abyseka langsung mengajak Pelangi menuju mall terbesar dan paling bergengsi di Ibukota.
Abyseka langsung menuju toko berlian untuk mengambil pesanan cincin kawin dan beberapa pasang perhiasan yang sudah di pesan mamanya. Kemudian menuju toko sepatu dan tas. Pelangi hanya mengekor di belakang Abyseka. Ia hanya mengiyakan pilihan Abyseka, asalkan modelnya sederhana
toko khusus skincare sekaligus klinik kecantikan. Abyseka memilihkan seri perawatan w ajah dan tubuh untuk Pelangi. Karena Pelangi sendiri tidak paham apa saja yang di butuhkan, dan bagaimana mengaplikasikannya.
Selesai berbelanja, Abyseka menggiring Pelangi keklinik kecantikan.
"Tadi kita sudah ke sini Kak."
"Ikut aja. Kita perawatan dulu"
Pelangi mengikuti saja kemauan Abyseka untuk perawatan, dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Hampir tiga jam Pelangi pasrah tubuhnya di jelajahi oleh massage girl. Pelangi hanya tahu istilah creambath, menicure dan padicure. Selebihnya apa yang di beritahukan padanya Pelangi sama sekali tidak tahu.
Malam harinya Abyseka mengajak makan malam di sebuah restoran mewah, sekalian mengenalkan Pelangi pada beberapa rekan bisnisnya dan investor.
__ADS_1
Paginya, Pelangi di ajak ke Perusahaan YT Group. Pusat dari semua bisnis keluarga Rahardi. Berdiri di atas tanah yang luas dan gedung bertingkat yang megah.
Pelangi di perkenalkan pada beberapa Direktur , manager, bahkan resepsionis di front office. Agar bila Pelangi. datang tidak akan di halangi, bahkan akan langsung di antar ke lift khusus para pejabat perusahaan.
Abyseka menunjukkan ruangan kerjanya yang super luas, menurut Pelangi. Dengan karpet lembut di seluruh ruangan, dan pastinya ada ruang khusus untuk beristirahat. Karena Abyseka lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor daripada di rumah.
"Selamat datang calon kakak ipar," kata Abimanyu yang masuk tanpa mengetuk pintu.
Wah Kak Abim, di sini juga." sapa Pelangi ramah.
"Iya dong. Aku penasaran dengan calon pengantin."
"Kak Almitha juga di sini?"
"Pasti...mana bisa aku pisah dengan boneka India itu."
"Lebai..."gerutu Abyseka.
"Hei! Dilarang mengumpat. Kau sendiri mengapa membawa Pelangi ke Ibukota? Bisakan mengurus pernikahanmu sendiri?"
"Aku mengajaknya untuk mengenalkan pada partner dan investor."
"Alasan!"
"Galadinner dua hari lagi gimana?"
"Wah...pengalihan pembicaraan. Yang pasti sudah beres. Pidatomu nanti kukirim. Oh ya...baju buat Pelangi sudah kau pilihkan? Kalau belum biar nanti Pelangi di antar Mitha untuk membelinya."
"Tidak. Bila dengan Almitha pasti baju kekurangan bahan semua. Aku sudah membelikannya untuk Pelangi."
"Mulai obsesif nih...Di boutique Scarlett ?"
"Ya...bawalah Mitha ke sana. Scarlett sudah menyiapkan beberapa gaun. Dia sengaja membuat beberapa karena tahu keluarga kita akan ada acara besar. Pasti memborong beberapa baju."
"Pasti...boneka indiaku pasti akan terlihat cantik sekali." Abimanyu berkata sembari mengangkat kedua tangannya seolah-olah Almitha ada di hadapannya.
"Terserah...!"
Pelangi tersenyum geli melihat kedua saudara ini saling mengolok-olok. Seperti dirinya dengan Ulfah, si bontot yang manja.
"Aku pulang dulu. Mau belanja..." kata Abimanyu.
"Kau di bayar bukan untuk berfoya-foya."
"Daerah kekuasaanku di kota C. Di Ibukota ini berarti aku piknik dan belanja. Keluarga besar Rahardi tau semua. Kecuali kau, makanya protes! Aku bay...." Abimanyu langsung meninggalkan ruangan.
"Kurang jelas!"
"Kak Aby, sewaktu acara lamaran. Mengapa Orangtua kak Abim tidak datang?"
Abyseka menatap Pelangi sejenak, "Masih ingat aku masih memiliki satu Om lain yang bernama Kendra?"
"Ya..."
"Beberapa Minggu setelah kematian Om Kendra kami kedatangan seorang wanita muda, dengan anaknya yang berusia lima belas tahun. Namanya Tante Lusi. Abim masih sekolah. Mereka datang dari daerah yang agak terpencil. Tante Lusi memperkenalkan diri sebagai istri siri Om Kendra."
"Kalian yakin?"
"Ya. Beliau menunjukkan beberapa bukti. Bahkan akte kelahiran Abim, foto-foto, surat dari Om Kendra, dan rekaman suara."
"Mengapa mereka muncul setelah sekian lama?"
"Katanya ini demi keselamatan mereka. Sebelumnya Om Kendra selain pengusaha, beliau juga bekerja di dunia hitam. Dunia mafia yang gelap."
"Lalu?"
"Om Kendra ingin, kami keluarganya melindungi dan jadi wali dari anaknya. Abimanyu. Om Kendra merasa, ada ancaman buat istri dan anaknya, karena itu ia menyembunyikan mereka."
"Bagaimana dengan Om dan Tante Rahardi?"
"Mereka tadinya tidak percaya, terus Tante Lusi menawarkan tes DNA. Dan hasilnya Abim adalah anak Om Kendra dan Tante Lusi."
"Mulai saat itu Papa dan Mama jadi wali Abim. Dan Tante Lusi meminta dirinya di rahasiakan saja. Tante Lusi meninggal karena kanker saat Abim masih kuliah."
"Kalian dekat sejak saat itu?"
"Tidak juga, kami sering berinteraksi karena tugasku antar jemput Abim dan Saras ke sekolah. Karena itu keadaan memaksa kami jadi dekat."
"Aku lihat, Abim sangat menyayangimu dan Saras."
__ADS_1
"Harus itu. Kami satu-satunya keluarga Abim."