
BAB 31
Pelangi sedang melayani Abyseka dengan mengambilkan nasi dan lauk, Mama KIrana dan Papa Rahardi ikut bergabung dengan mereka di meja makan.
"Baru kemaren datang, sudah mau berangkat ke kantor?" tanya Papa.
"Ya Pa, terlalu lama liburan bukan contoh yang baik buat karyawan."jawab Abyseka.
"Pelangi juga mulai bekerja?" tanya mama.
"Belum Ma, Aby masih akan menyusun beberapa planing buat Pelangi. Dia sih maunya tetap kerja, tapi Aby masih ragu."
"Kenapa kerja, di rumah aja Pelangi. Sesekali bantu mama di butik sama Beauty spa."
"Pelangi pingin tetap bekerja Ma. Supaya tidak terlalu memalukan bila bersama Aby."
"Tidak ada yang memalukan darimu menurutku Lani," Aby menimpali.
"Setidaknya aku punya percaya diri dengan bekerja."
"Di atur ajalah kalian berdua," kata Papa, "Kita orang tua akan selalu mendukung. Pelangi jangan terlalu cape saja, nanti papa bakalan lama untuk menimang cucu."
"Setuju...!" seru Saras yang tiba-tiba muncul.
"Main nyosor aja." kata Mama. "Besok Pelangi ikut Mama aja dulu. Liat-liat ke Spa dan butik. Siapa tau ada ide."
"Atau ikut Aby lagi ke pabrik. Bisa kerja dan tetap dekat-dekat suami. Memenuhi kebucinan Kak Aby"
"Itu yang aku mau. Nanti liat bagaimana baik dan nyamannya buat Pelangi. Hari ini istirahat di rumah aja dulu."
"Temanin mama belanja yuk..."
Saras langsung menggerakkan tangannya,"Jangan mau! Bakalan lebih capek dari berlibur."
"Saras!"
"Betul kata si Sar Mah," Abyseka menimpali, "Belanja boleh, tapi nggak lama-lama. Aku rugi...nanti malam ditinggal tidur."
"Kalian emang kompak ya menghalangi hobi Mama. Iya deh....nanti nggak lama-lama belanjanya."
__ADS_1
Jadilah hari ini Pelangi menemani Mama Kirana berbelanja. Setelah mengantar Abyseka sampai depan pintu rumah yang sangat besar, Pelangi kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Outfit hari ini yang di pakai Pelangi cukup sederhana. Ia hanya menggunakan celana jeans berwarna gelap dengan hem berkerah rendah dengan hiasan kerut di bagian depannya. Makeupnya pun sederhana saja, tidak menempelkan berbagai warna ke wajahnya. Dengan dandan sederhana saja sebenarnya sudah menampilkan kecantikan Pelangi yang alami. Dengan hidung mancung, kulit kuning langsatnya menambah nilai plus kecantikan wajahnya.
"Aduh-aduh....mantu Mama glowing abis," puji Mama, "Ayo kita berangkat."
"Aku ikut Mah...." kata Saras berlari-lari kecil menyusul Mama dan Pelangi.
"Tumben mau ikut."
"Sampe halte bus trans aja. Kalo ikut belanja takutnya tambah kurus akunya."
"Mau main sama teman-teman premanmu lagi?"
"Mah...mereka relawan Mah. Bukan preman."
"Dandanan mereka sama.....preman sama relawan nggak ada bedanya."
"Makanya mamah belikan mereka baju, biar kelihatan keren...."
"Sama aja....tetep kayak gitu juga gayanya."
Mama mengajak Pelangi ke sebuah toko tas yang terkenal seantero dunia. Dan meminta Pelangi melihat-lihat tas mana yang menurutnya sangat bagus. Dengan patuh Pelangi berkeliling melihat deretan tas-tas yang di display dalam rak-rak kaca yang terlihat sangat mewah.
Ada yang besar, sedang dan kecil. Bahkan sangat kecil menurut Pelangi. Warnanya juga sangat beragam. Ada yang perpaduan dua warna kontras, perpaduan warna gelap dan terang. Ada juga deretan tas berwarna gelap dengan hiasan keemasan yang sangat indah.
Mata Pelangi tertuju pada sebuah tas yang berukuran sedang. Berwarna hitam dengan hiasan perak yang tidak terlalu dominan. Pelangi yakin tas itu terbuat dari kulit, tapi tidak yakin kulit apa itu.
"Mah..." Pelangi menggamit lengan Mama Kirana, "Liat itu, tas kulit yang warna hitam dengan hisan perak itu. Itu kelihatannya bagus."
Mama melihat ke arah tas yang di maksud Pelangi, "Oh...iya...kelihatan elegan ya...Mas...coba lihat yang hitam di atas itu." Mama meminta seorang pramuniaga yang mengenakan jas hitan dan bersarungtangan putih mengambilkan tas yang di maksud oleh Pelangi. Dengan hati-hati, pramuniaga itu mengambil tas dan menyodorkannya pada Mama Kirana.
"Ini tas yang di buat hanya beberapa pieces. Ini terbuat dari kulit buaya yang di semak dengan hati-hati dan spesial. Jadi tidak kasar dan sangat soft dan tidak akan melukai tangan penggunanya." terang sang pramuniaga.
"Buaya?" tanya Pelangi sedikit terkejut.
"Jangan khawatir. Kulit yang digunakan adalah buaya yang sudah tua dan tidak produktif lagi. Jadi sama sekali tidak menyakiti maupun membunuh buaya di alam liar. Ini kulit buaya di penangkaran."
"Anak mam memang jeli sekali matanya." Mama mengangkat tas hitam mewah di hadapannya, "Hiasannya juga indah, tidak norak. Ada berapa pices tas yang seperti ini?"
__ADS_1
"Toko kami hanya menjual empat pieces. Hitam dan biru muda yang masih tersisa."
"Warna lainnya?"
"Ada warna maroon dan putih. Tapi sudah sold out."
"Wah....mama suka yang maroon."
"Yang model lain saja. Ada juga yang berwarna maroon."
"Tidak....tidak....mantu saya suka yang model ini. Saya ambil dua yang tersisa."
"Mah...kalu Mama suka yang maroon biar Pelangi carikan yang lain."
"Tidak usah....ini aja. Tolong bugkus ya Mas."
"Dua-duanya?"
"Ya....pasti"
"Ma, nggak tanya harganya dulu?" bisik Pelangi.
"Nggak usah." Mama Kirana menyodorkan kartu hitam pada pelayan toko dan mengajak Pelangi duduk untuk menunggu pelayan rapih tadi menyelesaikan transaksi.
Selesai memborong dua tas mahal, Mama Kirana mengajak Pelangi masuk ke toko tas lagi dengan merek lain yang tidak kalah terkenal. Masih penasaran dengan tas berwarna merah maroon yang memang sangat elegan.
Setelah mendapatkan tas buruannya Mama mengajak Pelangi ke area supermaket dan belanja beberapa makanan ringan, roti, jely dan bahan makanan mentah, buah-buahan. Tidak ketinggalan berbagai m
jenis minuman botol dan kaleng pesanan Saras.
"ini semua pesanan Saras tadi Mah?" tanya pelangi.
"Iya, minuman, makanan ringan buat di rumah dan pesenan Saras. Mama juga mau belikan beberapa macam susu kemasan. Teman-teman didikan Saras banyak yang kurang gizi. mama kadang nggak tega ngeliatnya. Kita beli beberapa karton."
Pelangi tersenyum senang melihat Mama Kirana yang sedang memilih-milih susu kemasan yang hendak di belinya. Di balik sikapnya yang pura-pura judes pada Saras, rupanya Mama juga sangat memperhatikan anak didik Saras. Pelangipun ikut bersemangat memilih-milih makanan ringan yang hendak mereka borong.
Setelah memborong banyak bahan makanan dan meminta pihak ekspedisi yang di sediakan pihak mall untuk mengirim makanan ke tempat pos relawan dimana Saras biasa membimbing anak-anak terlantar. Mama dan Pelangi melanjutkan acara jalan-jalannya menuju butik milik Mama.
Mama Kirana dan Pelangi hanya beberapa menit saja melihat oprasional Butik yang dikelola oleh Mama Kirana. Mereka hanya berbincang dengan Suri, manager sekaligus tangan kanan Mama Kirana.
__ADS_1
Setelah berbicaraa dan mengenalkan Pelangi pada Suri, merekapun akhirnya pulang. Pelangi merasa kakinya seperti terpisah dari badannya, saking pegelnya. Pelangi duduk di atas sofa sambil memijit-mijit kakinya. Dilihatnya banyak kantong belanjaan yang tergeletak di dekat kakinya. Ini tidak akan pejadi dalam keluarganya. Papa dan Mamanya pasti akan sangat memperhitungkan apa yang harus mereka beli. Perlukah atau tidak. Sangat di butuhkan atau tidak. Mereka akan menghapus belanja barang-barang yang tidak penting atau tidak berfungsi maksimal. Berbeda banget dengan keluarga Abyseka, apa yang mereka mau bisa dengan sangat mudah mereka beli. Sebuah kehidupan dan dunia yang sangat berbeda dengan kehidupan Pelangi sebelumnya