
BAB 29
Dua hari setelah pesta pernikahan, Abyseka dan Pelangi merencanakan pergi berbulan madu. Rencananya Abyseka akan mengajak Pelangi ke Jepang. Namun Pelangi menolak. Ia lebih memilih keliling negara sendiri. Katanya lebih suka mengenal destinasi di negara sendiri barulah mengunjungi negara lain. Menurut pelangi banyak tempat yang lebih indah dibandingkan negara-negara lain. Kecuali musim salju tentunya.
Pelangi sedang paking baju dan beberapa keperluan lain ketika pintu kamarnya di ketuk.
"Masuk..."kata Pelangi. Setelah pintu dibuka muncul sebuah kepala dari balik pintu itu. Ulfah.
"kamar ini bau shampo. Kalian ngabisin shampo berapa botol? Samapi baunya nyengat gini."
"Ada apa?" tanya Abyseka datar.
"Ishhh....nggak pake galak Kak. Ubanan merata di kepala nanti..."
"Ufeh..."
"Ok..ok...Eyang mau ketemu tuh. Berdua di suruh ke kamarnya."
"Ada apa?" tanya Pelangi sambil berdiri dan merapikan celana panjangnya.
"Nggak tau...suruh orang kaku itu pergi ngkale...megegeg...persis gopala. Nakitin anak kecil!"
"Ufah!"
Ulfah nyengir sambil mengeluarkan lidahnya. Kemudian dengan cepat menghilang dari balik pintu.
"Anak itu...lama-lama tak jewer telinganya."
"Biarkan saja. Dia hanya cemburu orang terdekatnya harus berbagi dengan yang lain." jawab Abyseka. "Ayo kita ke kamar Eyang."
Kamar Eyang terletak di samping ruang keluarga. Jadi ketika hendak ke kamar Eyang pasti melewati ruang keluarga dimana Ulfah sedang asik noonton TV.
Begitu melihat Aby dan Pelangi melintas, ide usilnya kumat lagi. Ia pindah duduk ke dekat yang akan mereka berdua lewati. Ketika Pelangi dan Abyseka lewat Ulfah nyeletuk.
"Wah Kak Lani, jalanmu kok aneh keliatannya? Agak kebuka gitu ya...? Habis split Kak?"
Spontan Pelangi langsung mencubit pipi Ulfah. "Anak usil. Hm..rasain biar pipimu tambah blewer."
"Aduh Kak! Tega amat! Sakit tau!"
"Rasain!"
"Sudah! Kalian di tunggu Eyang." kata Papa. "Biar pentol goreng ini Papa yang urus..." Papa pura-pura menggulung lengan bajunya dan mendekati ULfah. Kemudian memeluk Ulfah dan menyembunyikannya di bawah ketiak. Membuat Ulfah berteriak-teriak protes.
Pelangi dan Aby mengetuk kamar Eyang yang terbuat dari jati ukiran Jepara dengan di bingkai dengan ukiran yang megah pula.
'Masuk.."kata Eyang dari balik pintu. Pelangi dan Aby masuk dan duduk di sofa dekat tempat tidur. Eyang sendiri sedang duduk santai di tepi tempat tidurnya yang full ukiran gaya Jawa kuno.
"Ada apa Eyang memanggil kami?" tanya Pelangi.
"Eyang mau bercerita soal bagaimana Eyang mengenal Pamanmu Hendra."
"Iya Eyang."
"Dulu, Papanya Eyang berteman baik dengan keluarga Rahardi. Terutama dengan Din Rahardi. Hanya itu yang Eyang ingat."
"Mahadin Rahardi, itu nama kakek."
__ADS_1
"Mereka berdua berteman bukan dalam hal usaha ataupun kegiatan lainnya. Kami keluarga Morgan selain memiliki usaha yang legal kami juga memiliki usaha terselubung. Seperti mafia gitulah. Tuan Din juga tahu. Tapi beliau tahu bahwa itu warisan keluarga."
"Warisan?" tanya Pelangi, " Dari kakek buyut?"
"Ya. Beliau dari Jerman. Lalu memiliki seorang anak perempuan. Anaknya itu menikah dengan bangsawan Inggris. Usaha dan semua kekayaan di limpahkan pada anaknya. Dibawah kepemimpinan anak dan menantunyalah usaha dan kelpmpok Black Morgan maju pesat. Hampir menguasai seluruh dunia. Dan akhirnya di wariskan pada Papanya Eyang. Mamanya Eyang keturunan china dan INdonesia. Karena ingin hidup lebih tenang, mereka memutuskan untuk tinggal di Indonesia ini. Kemudian bersahabat dengan Tuan Din."
"Lalu...apa yang terjadi?" tanya Pelangi ketika dilihatnya Eyang diam.
Eyang menarik nafas panjang. "Tuan Din waktu itu baru memiliki seorang anak. Syaihendra. Jarak usia Eyang dan Hendra cukup jauh. Jadi dia memanggilku Bibi Feng dan Eyang Jo."
"Eyang Jo?."
"Nama Papanya Eyang adalah Jusuf. Tapi kebanyakan orang memanggilnya Jo."
"Nama mamanya Eyang siapa?"
"Shinta."
"Rupanya Rama dan Shinta tidak berlaku di dunia nyata. Hanya ada di dunia pewayangan."
Eyang tertawa mendengar seletukan Pelangi, " Sampai sesuatu terjadi...Eyang sendiri tidak tahu persis kejadiannya. Hanya saja itu membahayakan orang-orang di sekitan kami. Dan papa memutuskan untuk pergi dan menghilang untuk sementara waktu. Meninggalkan semua kemewahan dan dunia hitam. Kami hidup sederhana di perkampungan ini. Hanya. menjadi petani biasa dan usaha perdagangan kecil-kecilan. Papa juga membuka penginapan sederhana untuk para backpaker. Dan bekerjasama dengan para tetangga untuk membuka objekwisata hutan bambu ini. Sampai sekarang."
"jiwa pengusahanya tidak pernah mati ya...: kata Abyseka.
'Ya. Apa saja bisa jadi sumber penghasilan."
Apa Eyang tahu sebuah kelompok Elang Hitam?" tanya Abyseka.
'Ya Eyang tahu soal mereka. Setelah bertahun-tahun menghilang. Akhirnya salahsatu anakbuah Eyang yang paling trampil akhirnya bisa menemukan dimana Eyang berada. Dia juga meminta ijin untuk membentuk kelompok Elang Hitam."
"Eyang mengijinkan?"
"Eyang tahu sepak terjang mereka?"
"Tidak. Sudah bukan ranah Eyang lagi ngurusi hal itu."
"Mereka masih sering menghubungi Eyang?"
"Ya. Mereka tidak bisa melepaskan Eyang begitu saja. Rasa loyalitas mereka yang tinggi terhadap Keluarga Morgan....Eyang tidak bisa melarang itu."
"Oh begitu. Paling tidak pasti ada salahsatu dari mereka yang selalu di dekat Eyang untuk menjaga. Meskipun dia tidak terlihat oleh Eyang."
Eyang diam sejenak dan tersenyum, "Kau tahu betul prosedurnya Arjun."
"Iya Eyang."
"Karena itu Eyang memintamu memimpin mereka. Buka...bukan Elang Hitam. Tapi...orang-orang yang selalu ada di sekitar keluarga Morgan saja. Tidak banyak....sekitar limapuluh orang saja. Tapi mereka orang-orang terbaik yang pernah dibawah pimpinan Papa Jo."
"Tapi Eyang..."
"Eyang sudah melihat latar belakangmu sebelum bertemu Pelangi. Ini yang namanya takdir. Setelah bulanmadumu selesai....kita bicara lagi...Tolong terima saja semuanya. Eyang berharap semuanya baik-baik saja. Apalagi ada kejadian usaha penculikkan Pelangi sebelum resepsi kemaren itu."
"Baik...tapi, ada beberapa syarat yang Arjun akan ajukkan."
"Silahkan....asal tidak mempersulit dan menolak. Akan Eyang pertimbangkan dan setujui. Bagaimanapun kamu punya pendapat sendiri."
"Ya Eyang."
__ADS_1
"Eyang kira cukup ya ceritanya. Kalian sudah selesai beres-beres barang yang mau dibawa?"
"Sudah.."jawab Pelangi. "Kami keluar dulu Eyang. Silahkan lanjutkan istirahatnya."
"Yahhh....akhir-akhir ini pinggang Eyang tidak bisa di ajak kompromi. Maunya rebahan terus...Hahhh..."
"kami keluar dulu..."
Sebelum keluar kamar, Pelangi membantu Eyang merebahkan tubuh rentanya di tempat tidur. Kemudian mereka keluar kamar dan menutup pintu besar kamar di belakang mereka. Ulfah langsung menyerbu...
"Apa kata Eyang Kak?" tanya Ulfah pada Pelangi.
"Anak kecil....Mau tau aja!"
"huh Kakak! Nggak asik sekarang....Keracunan cagak listrik."
"Ayo kita siap-aiap." kata Abyseka, "Langsung ke bandara. Tuh...Zaki sudah nunggu."
Tanpa mempedulikan Ulfah yang manyun, Pelangi dan Abyseka kembali ke kamar mereka untuk mengemasi koper. Beberapa menit kemudian mereka sudah memasukkan dua koper besar ke dalam mobil yang akan mengantar mereka ke bandara.
Setelah berpamitan pada Papa Bima dan Mama Yuwanti, tidak ketinggalan Eyang dan Ulfah dengan sederetan daftar oleh-oleh yang dimintanya. Setengah jam sebelum menuju Labuhan Bali, Pelangi dan Abyseka sudah berada di bandara dan menunggu di ruang tunggu VVIP.
Satusetengah jam kemudian mereka sampai di Bali dan langsung menuju villa super mewah yang berada persis di tepi pantai.
Memasuki villa Pelangi terperengah dengan penampilan interiornya yang menawan.Belum lagi kolam renang pribadi yang menghadap langsung ke pantai dengan pasir putih.
"Uwwaahhh....indah sekali villa ini Kak....Baru pertama kali Lani ke tempat seperti ini." senyum ceria menghisai wajahnya. Pelangi berjalan berkeliling melihat-lihat apa saja yang ada di vila super indah ini. Kamarnya yang luas, dengan hiasan ornamen yang modern dan tradisional berpadu serasi. Ada ruang kelurga yang chozi dan hangat. Juga dapur yang dilengkapi dengan meja-meja marmer, piring-piring yang berhias keemasan dan gelas-gelas kristal. Begitupula dengan peralatan masak yang cantik-cantik. Kalau Mama yang memiliki barang-barang itu, sudah pasti akan jadi barang pajangan.
Abyseka terswnyum melihat istrinya perkeliling dengan selalu mengeluarkan suara kagum.
"Suka?"
"Pake bangeeeett... Bisa nggak ya kita punya rumah seindah villa ini?"
"Ini emang punya kamu."
"Hah? Yang bener? teriak Pelangi. "Eh...tunggu...dari siapa? Kak Arjun yang beli?"
"Bukan..."Abyseka merangkul pinggang Pelangi dan membimbingnya duduk di pangkuannya di atas sofa empuk.
"Terus siapa? Ini punya keluarga Rahardi?"
'Bukan juga..."
"Terus?"
"Ini hadiah dari Papa Rahardi buat kita....buat pernikahan kita. Tapi villa ini atas namamu." kata Abyseka mendekatkan wajahnya pada wajah Pelangi.
"Hah??"
Belum lagi Pelangi hilang dari keterkejutannya, Aby sudah mengulum bibirnya yang sedari tadi sudah menggoda matanya. Dari ciuman yang yang biasa, menjelajah setiap permukaan bibir sampai yang mengulum keseluruhan. Tangan Aby harus menahan tengkuk Pelanagi karena Pelangi berusaha mundur dan melepas pagutannya.
Namun akhirnya Pelangi ikut larut dalam permainan Aby. sudra decahan dari kedua bibr dan helaan nafas yang tertahan memenuhi rungan. Tangan nakal Abypun mulai menjelajah tubuh Pelangi. Dari meraba punggungnya yang mulus, menyelinap masuk dalam kemeja Pelangi dan meremas gemas benda kenyal milik Pelangi. Sebuah erangan nikmat lolos dari bibir Pelangi
"Mulai menikmati?" goda Aby.
"kakak...iihhh...." Pelangi tersipu, "Jangan berhenti..."
__ADS_1
"ok..."