
Bab 24
Pelangi memandangi dirinya di cermin. Gaun panjang berwarna biru tua dengan sedikit bukaan di bagian pundak. Semakin memperjelas lehernya yang jenjang dan kulitnya kuning Langsat.
Rambutnya di biarkan terurai dan hanya diberi hiasan jepit bertabur mutiara. Sederhana tapi semakin menampilkan pesona seorang Pelangi. Abyseka memprotes gaya rambut Pelangi yang di tekuk dan di gulung ke atas. Ia beralasanp tidak ingin setiap tamu yang datang di galadinner malam ini melihat kemulusan pundak Pelangi.
Suara ketukan di pintu kamar membuyarkan lamunan Pelangi.
"Masuk, tidak di kunci kok" kata Pelangi.
Saras membuka pintu dan masuk ke dalam kamar Pelangi.
"Kak, sudah selesai dandannya? Si Abang sudah nggak sabar. Mondar mandir Mulu."
"Sudah...yuk keluar."
"Wwaahhhh...kak Pelangi cantik banget. Kak Abe pasti klepek-klepek."
"Yuk ah. Nanti ngambek lagi, kelamaan nunggu."
Saras dengan riang memeluk lengan Pelangi dan bersama-bersama keluar kamar. Menemui Abyseka yang sedang bersama Mama dan Papa Syailendra di ruang keluarga.
"Taraaa...."teriak Saras, "Aku persembahkan boneka cantik dari manekin."
Mama dan Papa takjub melihat kehadiran Pelangi. Sedang Abyseka langsung terpesona tanpa berkedip memandang Pelangi malam ini.
"Ku cantik sekali sayang," kata Mama.
"Makasih Tantente,"jawab Pelangi.
"Panggil mama dan papa dong."sahut Papa, "sebentar lagi jadi anaknya kok. Cantik banget calon mantu Papa. Tapi...sepertinya ada yang kurang deh."
"Iya nih..."Mama ikut menimpali, "Abe, apa kamu tidak pernah memperhatikan Pelangi? Apa dia tidak jadi prioritas utamamu? Kalo Mama jadi Pelangi, langsung kamu tak tinggal pergi. Laki-laki nggak pengertian!"
"Mah.... maksudnya apa? Pelangi pasti jadi prioritas dong." Abyseka bingung dapat omelan mama.
"Besok...mama ajak Pelangi pergi. Kamu
...nggak boleh ikut!"
"Rasain!" Saras menyela.
"Kamu juga ikut Saras."
"Ogah! Ikut Mama belanja itu endingnya gempor di kaki."
"Rasain!"gantian Abyseka yang menyela.
"Harus ikut! Pelangi sayang, tunggu sebentar." Mama berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Iya Mah..."
Saras duduk di samping Papa sambil cemberut. Ikut Mama belanja bisa seharian kesana kemari. Semua toko bakalan di masukin Mama.
"Pa, besok Saras di pijetin lho..."
"Ok! Perintah Tuan putri pasti Papa kabulkan. Pelangi juga mau papa pijet? Sekalian yg pegang minyak urutnya."
"Pah....! Nggak aneh-aneh dong" protes Abyseka.
Papa dan Saras tertawa bersamaan. "Liat Saras...si Abe mulai posesif. Papa cuma bercanda, tanggapannya serius amat."
"Biasa Pah....tenggelam di lautan bucin."
"Liat nih," Mama kembali ke ruang keluarga dan menunjukkan sesuatu pada Pelangi.
Sekotak perhiasan. Kalung, gelang dan anting dengan batu zamrud dan hiasan berlian kecil-kecil. Berkilauan ditempa lampu ruangan.
"Pake mamah punya dulu. Besok biar Abe yang membelikannya untukmu."
"Tapi Mah, " Pelangi berusaha menolak memakai perhiasan Mama.
"Tidak apa-apa, biar nggak kelihatan polos gitu. Bangusan mana nih, anting atau gelang?"
__ADS_1
"Kalungnya Mah," kata Papa, "Antingnya pake yang kecil aja. Sama gelangnya. Pas kelihatannya."
Mama memakaikan kalung pada Pelangi dan gelangnya juga. Langsung terlihat perbedaan sangat mencolok pada penampilan Pelangi.
"Cantik sekali." puji Mama.
"Ayo kita berangkat." Abyseka menggandeng tangan Pelangi.
Pelangi mengangguk dan berpamitan pada Papa dan Mama. "Pelangi pergi dulu Mah, Pah..." kata pelangi sambil mencium punggung tangan Papa dan Mama.
"Hati-hati ya Lani." kata Mama.
Sepanjang perjalanan menuju hotel di selenggarakannya Galadinner, Abyseka terus menggenggam tangan Pelangi. Matanya selalu melirik ke arah Pelangi, yang terlihat sangat cantik malam ini.
"Sudah dong ngeliatin aku Kak. Risih rasanya."
"Rasanya aku ingin langsung menikahimu malam ini. Kamu cantik sekali."
"Ihh...nepsong itu namanya."
Sesampainya di hotel, petugas parkir langsung mengambil alih mobil mewah milik Aby dan mereka berdua menaiki lift menuju ballroom.
Abyseka melingkarkan tangannya di pinggang pelangi, "Jangan jauh-jauh dariku, "katanya sambil menggelapkan hidungnya di ceruk leher pelangi yang terlihat sexy.
"Ya. Lagipula aku tidak kenal seorangpun di sini."
"Ada Abimanyu dan Almitha, nanti mereka akan menemanimu selama aku pidato. Aku sengaja memesan satu meja dengan mereka. Ada Zaki dan Rizki juga."
"Baik."
Memasuki ballroom, Pelangi serasa masuk dalam cerita dongeng Disneyland. Ruangan yang super luas. Meja-meja bundar bertebaran di seluruh ruangan. Hiasan lampu-lampu kristal, bunga-bunga yang harum mewangi. Gorden yang dipasang tinggi menyentuh langit-langit ruangan dengan warna warni pastel.
"Ruangannya indah sekali," bisik Pelangi pada Abyseka.
"Apa kau mau kamarmu di hiasi seperti ini?"
"Tidak. Repot yang membersihkannya."
Abyseka menyapa seseorang, Pelangi pun ikut tersenyum dan di perkenalkan sebagai tunangan Aby. Merekapun di sapa oleh beberapa orang sebelum duduk di meja yang sudah di beri nama mereka.
"Cantik sekali Pelangi," sapa Almitha.
"Terimakasih Kak. Kak Almitha juga anggun sekali malam ini. Kak Abim pasti klepek-klepek nih."
"Abimanyu sudah klepek-klepek dari dulu. Hahaha..."
"Ayo duduk, atau kamu mau ambil snak dulu?" Abimanyu mempersilahkan Pelangi duduk.
"Kita ambil snak dulu saja. Baru duduk, ayo..." Abimanyu kemudian menggandeng tangan Pelangi.
Di meja panjang yang berisi berbagai macam makanan ringan Pelangi mencoba memilih apa saja yang hendak ia makan. Dan kebanyakan Pelangi samasekali tidak tahu nama deretan makanan di hadapannya.
"Bisa kau pilihkan yang enak untukku? Buatku makanan ini asing semua." kata Pelangi.
Abyseka tersenyum,"Kamu suka yang manis atau yang asin? Buah juga masukan?"
"Semua aku suka. Tolong pilihkan buatku saja."
"Baik."
Abyseka memenuhi piring milik pelangi dengan berbagai macam makanan dan buah-buahan. Tidak lupa pula dengan minuman. Pelangi tidak begitu suka dengan minuman yang beraneka rasa. Abyseka tahu betul, minuman favorit Pelangi adalah teh panas.
Ketika sedang memilih beberapa snak untuk dirinya, seseorang menegur Abyseka.
"Hai Aby, masih ingat akukan?" seorang wanita cantik berdiri di samping Abyseka dengan senyum merekah.
"Ah...Nona Nikita. Apa kabar?"
"Baik. Anda sendirian saja? Bisakan kutemani?"
"Maaf, aku bersama tunanganku. Pelangi." Abyseka melihat ke arah Pelangi embari tersenyum.
Pelangi tersenyum ke arah Nona Nikita, "Halo," sapa Pelangi. Nona Nikita hanya tersenyum sedikit pada Pelangi.
__ADS_1
"Oww..aku kira sendiri saja. Aku permisi dulu Aby"
Abyseka menganguk sekilas dan kembali fokus pada makanan di atas meja.
"Sudah cukup makananmu?" tanya Abyseka pada Pelangi.
"Ya, aku kira cukup. Kita kembali ke meja."
Abyseka mengikuti Pelangi dari belakang. Ketika melewati beberapa meja, Abyseka sengaja fokus memandangi Pelangi. Dan itu membuat gadis-gadis yang duduk di meja, yang sudah tersenyum semanis mungkin, menjadi manyun mendapati kenyataan Abyseka sama sekali tidak melihat ke arah mereka. Abimanyu yang melihat kejadian itu tersenyum geli.
Acarapun berjalan satu demi satu. Zaki dan Rizki juga sudah hadir dan duduk bersama Keluarga Rahardi. Zaki mendapat tugas khusus malam ini, yaitu mengawasi Pelangi. Karena Abyseka harus berada di panggung dan menyampaikan pidatonya di atas podium.
Abyseka merasa tidak tenang apabila Pelangi berkeliling sendiri di sekitar ballroom yang luas. Abimanyu dan Almitha tidak mungkin selalu menemaninya, karena mereka juga harus menyapa beberapa klien dan investor yang hadir.
Ketika acara inti sudah selesai dan akhirnya acara bebas, Pelangi di temani Zaki untuk berkeliling untuk melihat-lihat. Sedangkan Abyseka sedang mengobrol dengan beberapa rekan kerjanya. Entah membahas apa.
Pelangi mendekati beberapa deretan minuman, warna dan bau harum menggelitik hidungnya.
"Apa aku bisa meminum salahsatu dari minuman itu Kak?" tanya Pelangi pada Zaki.
"Tidak, hampir semuanya mengandung alkohol."
"Sayang ya, padahal tampilannya sangat menggiurkan"
"Tidak bisa minum alkohol?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba sudah ada di samping Pelangi.
"Ah...ya. Belum pernah coba."
"Kenalkan, Sevia." wanita itu mengulurkan tangannya pada Pelangi. Pelangi menyambut uluran tangan Sevia.
"Aku dengar bisik-bisik dari para gadis, kamu tunangan Abyseka?"
"Ya. Itu benar."
"Dilihat dari penampilanmu kelihatannya bukan dari kalangan konglomerat ya?"
"Bukan. Saya gadis biasa."
"Pantes! Gayamu keliatan banget nggak pas dengan outfit ini..."Sevia menunjuk ke tubuh Pelangi. Pandangannya seperti meremehkan Pelangi.
Zaki sigap menghalangi pandangan Sevia. Ia berdiri diantara Pelangi dan Sevia.
"Ayo kita cari minuman tanpa alkohol di meja sebelah sana Non." Zaki menunjuk meja lain yang juga berisi minuman.
"Baiklah. Saya permisi Nona Sevia. Silahkan nikmati minuman anda." Pamit Pelangi pada Sevia, kemudian mengikuti petunjuk Zaki untuk mencari minuman tanpa alkohol.
"Anda tidak usah memperdulikan perkataan Nona yang tadi." kata Zaki pada Pelangi.
"Dia siapa Kak?"
"Putri seorang Diplomat. Agak rese orangnya. Dan suka sekali bergosip. Tapi sebenarnya dia baik, hanya mulutnya tidak bisa di rem dengan baik."
"Ow...aku akan menjaga pembicaraan bila kebetulan bertemu dengannya."
"Itu yang seharusnya anda lakukan Nona."
Zaki dan pelangi berkeliling lagi melihat-lihat menu-menu yang di sajikan dengan cara yang sangat menarik. Tertata rapih di atas meja, dan setiap kali berkurang, beberapa petugas denga sigap langsung mengisinya kembali.
Setelah memilih tempat untuk duduk, Pelangi ijin pada Zaki untuk ke toilet. Zaki hanya bisa mengantarnya sampai pintu masuk.
Selesai melakukan panggilan alamnya, Pelangi mencuci tangan dan sedikit merapikan riasannya di depan kaca besar.
"Ohh..ini rupanya tunangan Abysekaku. Sepertinya dia salah selera." seorang wanita cantik berdiri di samping Pelangi. Wajahnya mulus dengan dandanan cantik paripurna dan pakaian yang ketat membalut tubuhnya. Menampilkan pundak dan punggungnya yang putih mulus.
Temannya yang berdandan hampir sama dengannya berdiri di belakang Pelangi.
"Abiseka mungkin sedang mabuk berat ketika mengajaknya bertunangan. Atau...perempuan ini yang menyodorkan dirinya?!"
Pelangi hanya diam berusaha tidak mempedulikan perkataan kedua perempuan yang mencoba membulinya.
"Hei perempuan kampung! Pakai baju mahal dan perhiasan semahal apapun tetap tidak mengurangi aura kampunganmu itu. Jangan merasa bangga dengan bisa menjadi tunangan Abyseka. Siapa kamu? Bisa apa kamu? Punya apa kamu?" perempuan di samping Pelangi mencolek kasar lengan Pelangi.
"Perempuan macam kamu, banyak berserakan di pasar.Dan sudah mengantri panjang menunggu digilir di belakang Abyseka."
__ADS_1
"Yang lebih glowing juga banyak, yang lebih sexy banyak. Kamu? Apa yang dibanggain?...Atau...permainan..."
"Hei! Kalian tidak takut ya?" tiba-tiba Sevia berdiri tak jauh dari mereka.