
Bab 28
Melihat Pelangi limbung, sigap Anita menahan tubuh Pelangi.Seseorang yang menabrak Pelangi pun segera menangkap tubuh yang di tabraknya.Abyseka.Zaki yang berada di dekat Aby pun segera menahan tubuh Anita yang juga hampir terjungkal.
"Kak Aby..." kata Pelangi.
"Ada apa sebenarnya?"tanya Abyseka.
"Orang itu..." Anita langsung menunjuk pria yang mengejar mereka.
Setelah memastikan Anita berdiri dengan benar, Zaki langsung turun mengikuti beberapa orang yang bersama mereka.Sontak pria yang mengejar Pelangi dan Anita berbalik lari menjauh.
Abyseka membantu Pelangi berjalan menuju ruang istirahat.Sedang Anita juga membantu seorang pengawal perempuan berjalan menuju ruang yang sama dengan Pelangi.Berdua harus segera di obati luka-luka mereka karena lemparan batu tadi.
Dalam ruangan tunggu sudah ada seluruh keluarga.Begitu mendengar sesuatu terjadi dengan Pelangi mereka langsung berkumpul.Abyseka melarang mereka ikut mengejar, tidak efisien katanya.Lebih baik orang-orang yang mumpuni yang menangani.
"Maaf..beri kami ruang..." kata Abyseka melihat keluarga langsung mengerubungi Pelangi dan Anita.Perlahan mereka mundur memberi ruang pada Pelangi dan Anita untuk diperiksa.Seorang dokter dan beberapa suster langsung memeriksa Pelangi dan Anita.LUka di punggung dan kaki Pelangi langsung di obati.Begitupula dengan luka di kepala dan beberapa di punggung Anita, karena lemparan batu dan entah apa lagi.
Selesai paramedis membalut luka Pelangi dan Anita, mereka mundur dan keluargapun penasaran ingin mendengar apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku tadi diberitahu oleh I'i adik Anita kalau Pelangi di panggil Eyang ke ruang bawah. Dan aku diminta secepatnya untuk menyususl. Bahaya! Begitu katanga. Siapa yang menyuruhmu I'i?"
"Aku menyuruh Kak Anita. Panggil Kak Aby dan suruh menyusul Kak Pelangi dalam bahaya," jawab I'i.
"Anita, bagaimana kau bisa tahu Pelangi dalam bahaya?"tanya Abyseka.
"Saya baru saja melihat Eyang sedang bersama dengan keluarga lain di tempat resepsi. Mengapa memanggil Pelangi ke tempat yang jauh? Lagipula tidak mungkin Eyang ke sana tanpa bantuan siapa pun yang melihat kondisi kaki Eyang."
"Pemikiran yang cerdas..."kata Abyseka.
"Bagaimana orang yang mencelakai mereka tanya Papa Rahardy.
"Tadi sudah di tangani oleh Zaki. Mereka ternyata ada tiga orang. Satu untuk memancing Pelangi datang yang dua ada di gedung bawah untuk membawanya pergi."
"Kemana?"
"Untuk sementara baru itu yang kami bisa."
Eyang berdiri, "Kita biarkan Pelangi dan Anita istirahat. Aby, pangil MUA dan pembuat gaun pengantin untuk memperbaiki make up dan baju Pelangi. Anita juga. Aku akan mengumumkan pada para tamu untuk menunggu beberapa saat lagi karena hal yang tidak terduga. Mereka pasti akan mengerti."
Mereka semua kesulitan dan mulai beranjak keluar ruangan.Papa membelai rambut Pelangi yang berbaring di sofa sebelum keluar ruangan.
"Aku tidak akan jauh dari pintu Kak," kata Ulfah, "Siapatahu kau butuh sesuatu. Teriak saja, aku pasti langsung datang."
"Oke..."
"Tidak usah," kata Abyseka, "Akukan di sini. Bergabung saja dengan keluarga. Bantu aku mengawasi Papa Mama dan Eyang. Aku tidak mau ada kejadian tidak terduga seperti ini lagi. Cari tahu dimana Zaki berada, jadi kalau ada sesuatu bisa langsung teriak memanggilnya."
"Oh...begitu ya. Baiklah. Tapi Kakak harus benar-benar menjaga Kak Lani. Kalau tidak aku akan meminta Papa meminta kembali Pelangi kami!"
__ADS_1
"Lho...tidak bisa begitu!"sela Mama dan Saras bersamaan.
"Mah..Saras...tolong dong. Ufeh..."
"Ok! Aku hanya bercanda..." Ulfah dengan santai keluar ruangan dan masih sempat menggamit lengan Saras untuk keluar ruangan."Manusia kaku! Koyo cagak gendero....!"
Pelangi hanya tersenyum mendengar gerutuan Ulfah.Anak itu memang paling berguna di antara semua anggota keluarga besar.
"Jangan di ambil hati. Ufeh memang begitu," kata Pelangi.
AByseka tersenyum kecut, "Aku tidak mau sampai itu benar-benar terjadi. Bagaimana hidup tanpamu..."
"Bukankah selama ini juuga kau hidup tanpakukan? Tegar, sendiri, pengusaha hebat, ilmuwan hebat juga. Darimananya tidak bisa apa-apa?"
"Tapi seperti robot berjalan. Tanpa perasaan...kosong."
"Ngeles..."
Terdengar ketukan di pintu.Kemudian masuklah Zaki dan bebera orang paramedis yang langsung mengangkat Anita hendak dibawa ke Rumahsakit karena luka di punggungnya cukup lebar.
Pelangi memandangi kepergian Anita dengan pandangan nanar, sebelum tubuhnya dibawa oleh petugas menghilang di balik pintu.
"Jangan khawatir, saya akan meminta dokter terbaik untuk merawatnya."kata Abyseka ketika melihat kesedihan di mata istrinya.
"Tidak banyak yang tahu bagaimana hubungan kami," kata Pelangi, :Kami hanya teman sekelas waktu SD, Bukan teman baik, kami juga berteman di dojo yang sama.Tidak banyak bicara, tidak pernah saling curhat.Hanya beberapa kali hangout, itu pun dengan reuni teman-teman.Tapi...setiap kali ada masalah, tanpa banyak kata kami langsung bisa manyelesaikan.Kayaknya cuma saling bertatapan saja semua jalan keluar langsung tergambar di kepalaku."
"Kemistri yang sangat baik. Mudah-mudahan kitapun bisa bekerjasama dalam membereskan semua persoalan hanya saling bertatapan juga."
"Hei....itu beda ceritanya..."
Para MUA datang dan mulai memperbaiki makaup di wajah Pelangi.Satu jam berlalu, akhirnya Pelangi siap.Bahkan baju pengantinnya pun di ganti denga yang baru.Karena kakinya yang lecet, Pelangi meminta sepatu yang ia pakai tidak lagi menggunakan hak yang tinggi.Cukup memakai yang lima sentimeter saja.Namun tetap tidak mengurangi keanggunan dan innerbeauty yang di miliki Pelangi.
Acara resepsi pun akhirnya dimulai. Para tamu undangan yang tadinya berwajah penuh tanda tanya akhirnya dapat berwajah lega karena semua penyebab penundaan dapat teratasi. Kolega dan klien kerja, terutama keluarga besar sangat menikmati acara demi acara. Dan menikmati hidangan yang disediakan tuanrumah.
Pukul sebelas malam acara Resepsi baru selesai. Tamu terakhir baru saja pamit dan masih meninggalkan senyum di wajah Eyang. Pelangi melorot duduk di pelaminan, rasanya kaki tangan dan wajahnya terasa berat. Sekian ratus tamu harus disalami dan di lempar senyum.
"Capek?" tanya Abysek.
"Pastinya...pipiku rasanya jadi kaku senyum terus. Begini ya rasanya jadi Joker? Nyengir terus ampe gigi kering ...pipi mengkerut ke atas."
Abyseka tersenyum senyum dan memijit pipi Pelangi dengan gemas.
"Kak....belepotan nanti makeupku."
"Katanya pipinya kaku...kubantu melemaskan...."
"Modus..."
Sebelum meninggalkan tempat resepsi, Abyseka dan Pelangi menemui keluarga yang masih enggan meninggalkan suasana akrab antar keluarga. Karena sangat jarang sekali bisa berkumpul, bercerita dan bersendagurau seperti saat ini. Melihat dari kesibukkan masing-masing.
__ADS_1
Perlahan keluargapun berpamitan satu demi satu. Eyangpun sudah kelihatan sangat lelah. Namun terpancar kebahagiaan di wajahnya.
"kita istirahat sekarang,"Kata Eyang, "Eyang sudah memberikan Pelangi Padamu Arjun. Kau harus merawatnya dengan baik . Bahkan lebih baik dari kami orangtuanya. Kalau tidak..."
"Ku ambil Kak Pelangi dengan paksa!" samber Ulfah.
"Hus..."Eyang mengibaskan tangannya di hadapan Ulfah. "Ngawur....bukan gitu! Pertanggungjawabannya berat. DI hadapan Allah..."
"Iya Eyang Arjuna mengerti. Kalaupun sesuatu terjadi, Arjun tidak akan menyakiti Pelangi."
"Dengar Lani?"
"Iya Eyang..."
"Ayo...ke kamar masing-masing. Istirahat. Besok Eyang mau tidur sampe siang terus pijetan. Rasanya pinggang ini mau misah sama kaki. Jadi harus di sambung lagi."
pecahlah tawa keluarga mendengar komentar Eyang. Ulfah langsung menggandeng tangan Pelangi dan menuntun menuju ke kamarnya.
"Hei..istriku mau di bawa kemana?" seloroh Abyseka.
"Tidur dong...istirahat. Aww!!"
Sebuah cubitan mendarat di lengan Ulfah. Eyang menatapnya dengan tanjam
"Kamu tidur di kamar Eyang malam ini. Mijetin sampe Eyang tidur. Hukuman selalu menggoda kakakamu!"
"Tapi Yang..." belum lagi Ulfah melempar protes, tangannya sudah di tarik oleh Papa. "Aaahh.....Papa curang nih! Biasanyakan papa yang mijetin Eyang."
"Sekarang jadi tugasmu..."
Abyseka dan Pelangi tertawa melihat kelakuan Ulfah. Berdua kemudian memasuki kamar yang sudah di sediakan. Abyseka membantu Pelangi melepas gaun pengantennya yang terlihat berat dan sedikit ribet.
"Apa semua gaun menganten begini rumit?" tanya Abyseka di sela-sela kesibukannya membantu Pelangi melepas kerudung Pelangi yang penuh dengan jarum pentul.
"Begitulah..."
"Dan masih aja ada yang mau sampai berkali-kali. Repot amat..."
Selesai menyingkirkan pernak-pernik di tubuh Pelangi, Abyseka masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Sementara Pelangi meletakkan Gaun pengantin di tempat yang sudah disediakan. Seperti gantungan baju dengan bentuk mengikuti bentuk gaunnya. Dan membereskan pernak-pernik perhiasan di kotak penyimpanan.
Setelah Abyseka keluar dari kamarmandi, Gantian Pelangi masuk dan membersihkan semua makeup yang melekat di wajahnya serta seluruh tubuhnya dengan air hangat.
Selesai mandi, Pelangi melihat Abyseka sudah berbaring di atas tempat tidur yang king size. Segera ia menyusul berbaring di samping Abyseka. Dan menyembunyikan wajahnya di pelukan Abyseka.
"Sekarang? Kau tidak lelah?" tanya Abyseka. Pelangi mencubut kecil perut Abyseka.
"Ssstt...banyak yang baca..."
"sensor ya? Ok...lanjut bab berikutnya aja ya.....Bye!"
__ADS_1