SEBENING PELANGI

SEBENING PELANGI
Batu Sandungan


__ADS_3

BAB 33


Selama seminggu penuh Pelangi bolak-balik mengunjungi butik milik Mama Kirana. Ia ingin memajang hasil kreasi perhiasan mutiaranya di Butik milik Mama Kirana, namun tetap tidak mengganggu dan mengurangi layout tampilan yang sudah sangat manis menurut Pelangi.


Ia memajang beberapa set perhiasan dan beberapa lainnya berdampingan dengan karya butik milik Mama.Terutama di kaca jendela yang menghadap ke jalan.Sehingga banyak pelanggan Mama yang melihat hasil karyanya dan tertarik untuk membeli.


Pelangi sudah membuat beberapa macam perhiasan kalung, anting dan gelang.Bahkan ia sudah membuat beberapa set perhiasan.Tidak lupa pelangi membuat seketsa rancangan buatannya dengan baik, seperti saran Abyseka.


"Bagaimana tanggapan para pelanggan butik Mama?"tanya Abysea ketika melihat Pelangi masih saja sibuk dengan sketsa dan kertas-kertas.Padahal hari sudah menjelang tengah malam.


"Baik," kata pelangi sambil tetap menunduk menatap seketsa di hadapannya, "Sudah ada beberapa orang yang membeli. Meskipun bukan satu set perhiasan. Hanya liontin, beberapa anting dan cincin."


Abyseka berdiri dan memeluk istrinya dari belakang, "Ini sudah malam, tidak mau istirahat?"


Pelangi menggeliat, "Nanggung....sebentar lagi juga selesai."


Abyseka semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Pelangi dan mempermainkan.


Pelangi terkikik geli, "Kak...sebentar lagi."


"Suamimu minta perhatian, berarti setop semua kegiatanmu. Nanggung kek, selesai atau belum kek. See....top!"Abyseka semakin erat memeluk Pelangi, dan dengan entengnya mengangkat tubuh Pelangi dan menaruhnya perlahan di atas tempat tidur.Mau tidak mau Pelangi menuruti keinginan Abyseka. Membalikkan tubuhnya menghadap ke arah suami dan membalas pelukkan Abyseka.


Merasa mendapat balasan dari Pelangi\, Abyseka semakin gencar menghujani Pelangi dengan ci***n lembutnya. Dan sudah pasti akan seperti apa akhirnya.Aww...aww....aww...


Paginya Pelangi terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat menempel di lehernya.Abyseka.


"Hmm.....Kak. Pagi sekali sudah bangun."


"Hari ini aku akan membuatkanmu web untuk mendesain perhiasanmu. Kau harus melihatnya dan mencantumkan kata sandinya."


"Saya terserah Kakak saja paswordnya apa. Toh nanti kalau webnya bermasalah aku juga akan meminta tolong Kakak untuk memperbaikinya."


"Jangan seenaknya, sudah kubuatkan. Masih cari enaknya . Kapan bisanya nanti?"


"Kan ada Kak Aby, my Huby. Nggak ada yang susah di tangan Kak Aby."


"Jangan coba-coba merayu, aku terkam lagi seperti semalam. Mau."


"Ehhh," Pelangi langsung berdiri menjauh, "Jangan Kak. Aku masih banyak pekerjaan. Lagian semalam sudah dua kali apa masih belum puas?"

__ADS_1


Abyseka tersenyum nakal, "Limakalipun rasanya masih belum puas..."


"Iihh.....maniak itu namanya." kata Pelangi yang langsung melesat ke kamarmandi sebelum Abyseka benar-benar menerkamnya.


Setelah Abyseka dan Pelangi selesai bersiap-siap dan sarapan, merekapun berangkat ke kantor Abyseka. Di sana sudah menunggu Zaki dengan laptop canggihnya yang langsung di sodorkan kehadapan Pelangi.


"Anda bisa mempelajarinya sekarang Nyonya. Perlahan saja, tidak usah tergesa-gesa." kata Zaki sembari memencet beberapa tuts di hadapan Pelangi yang duduk dengan tegang.


Seketika Pelangi merasakan kursi empuk yang didudukinya serasa memanas.


"kau membuatku gemeteran Kak Zaki."


"Jangan takut, aku akan membimbing anda Nyonya." kata Zaki sambil tersenyum. Dan manis pastinya.


"Sebutan itu juga salah satu yang membuatku gugup."


"Kalau menyebut anda Nona seperti biasanya rasanya juga tidak pantas. Anda sudah menjadi NYonya Abyseka sekarang ini."


"Apakah tidak ada sebutan lain Kak?"


"Pelangi...."panggil Abyseka yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, "Jangan membuat Zaki jadi salah tingkah. Biarkan saja dia memanggilmu dengan yang sekarang. Kalau ada sebuatan lain, bisa-bisa kurobek mulutnya yang selalu senyum itu."


Dengan penuh kesabaran, Zaki mengajari pelangi. Sekali dua kali Zaki masih harus mengulang dari awal. Tapi Pelangi bukan perempuan dengan otak kosong. Ia langsung bisa mempraktekkan apa yang Zaki ajarkan. Dan dengan mudah mengulanginya dari awal. Dan itu membuat Zaki tersenyum puas, karena tidak usah berlama-lama dekat dengan Pelangi. Gerah rasanya, apalagi ditambah pandangan panas dari Abyseka.


"Ternyata Nyonya orangnya cerdas, jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengajari dan membuat Nyonya paham semuanya," puji Zaki.


Abyseka bediri dari kursi kebesarannya, "Ok,...sekarang kita ke Butik Mama dan Rentorannya. Kita lihat apa saja yang bisa kau lakukan di Resto itu."


"Baik...." sahut Pelangi bersemangat.


"Pak...." Zaki menyela, "Limabelas menit lagi ada rapat dengan mitra dari Korea."


"Betul juga. Lupa aku. Lani, yang menemanimu ke Resto Zaki saja ya?!"


"Ok. Tidak apa-apa. Kita nanti mampir dulu ke toko roti. Aku mau bawa cemilan buat pegawai butik dan resto."


"Terserah kamu saja," Abyseka hendak ke ruang rapat dan mrncium kening Pelangi sebelum keluar dari ruang kerjanya.


Di depan lift Abyseka memencet pintu lift menuju lantai dasar untuk Pelangi dan lantai sepuluh untuk dirinya. Pintu lift untuk Pelangi terbuka dan keluar seorang gadis yang langsung menyapa dan nemplok di lengan Abyseka.

__ADS_1


"apakabar Aby?" sapanya manja. Spontan Abyseka langsung mengibaskan lengannya.


"Tolong...jangan menyentuh saya!" spontan Abyseka berseru. Pelangi dengan santai melangkah masuk ke dalam lift diikuti oleh Zaki. Ia melambaikan tangan pada Abyseka sembari tersenyum kecil. Dilihatnya Abyseka menunjukkan wajah marah pada gadis yang tadi langsung mendekatinya.


"Anda jangan khawatir Nyonya." kata Zaki, "Anda percaya saja pada Tuan Aby."


"Aku percaya Kak. Kak Aby tidak akan melakukan hal-hal yang tidak baik. Hanya saja, perempuan-perempuan di luaran sana sangat agresif, aku takut Aby lepas kendali dan menyakiti mereka."


"Kita berharap itu tidak akan terjadi. Apakah Tuan pernah melakukan hal seperti itu?"


Pelangi menarik nafas panjang, "Dulu, waktu masih amnesia. Kak Aby pernah mendorong kasar seorang wanita sampai terjatuh, karena tiba-tiba wanita itu memegang lengannya."


Zaki mengerutkan alisnya, "Mengapa perempuan itu memegang Tuan? Perempuan itu terluka?"


"Dia suka pada Kak Aby dan cara mendekatinya juga agresif. Kak Aby tidak suka dan tidak nyaman dengan itu. Perempuan itu tidak sampai patah tulang, hanya lecet di bagian kaki dan lengannya."


"Dia menuntut secara hukum?"


"Tidak, hanya saja orangtuanya meminta gantirugi pada Papa untuk pengobatan ke Rumahsakit. Sudah kuingatkan kalau mau mendekati Kak Aby harus pelan-pelan. Jangan grasa-grusu. Tapi dia mengabaikan."


"Anda tidak cemburu Nyonya?" Zaki mengamati Pelangi.


"Cemburu. Hanya saja tidak kubuat terlalu berlebihan. Hanya buat ngeres di hati dan di pikiran. Kalau Kak Aby memang jodohku dan mencintaiku, maka tidak ada wanita lain yang mampu memalingkan pandangannya."


Zaki terdiam mendengar jawaban Pelangi. Pintu lift terbuka, Zaki langsung mempersilahkan Pelangi melangkah lebih dulu melewati ruang lobi kantor yang luas menuju mobil yang sudah menunggu di depan pintu keluar.


Pelangi sempat tersenyum dan menyapa beberapa resepsionis dan officeboy yang menunduk hormat padanya. Pelangi tidak hanya tersenyum , ia bahkan melambaikan tangannya dan menyebut nama mereka. Bu Boss yang humbel, pikir Zaki.


Zaki membawa mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia tidak ingin Pelangi ketakutan karena kecepatan berkendaranya.


"Kita sudah sampai di toko roti Nyonya. Saya parkir dulu."


"Ok. Kak Zaki tidak ikut masuk?"


"Tidak Nyonya, saya meunggu di luar saja," Zaki membuka pintu mobil dan melihat sekeliling parkir untuk mencari tempat yang teduh. Agar dirinya bisa merokok dengan bebas. Sebenarnya Zaki sedikit curiga dengan beberapa pemuda yang ada di depan parkir toko roti yang cukup luas. Mengapa mereka bergerombol di tempat yang panas dan dekat dengan pintu keluar toko. Bukannya berteduh di bawah pohon di parkiran. Memang agak sedikit jauh dari pintu keluar masuk toko.


Untuk beberapa menit Zaki dudk dan merokok di bawah pohon sambil bercerita dengan bebrapa supir lainnya dan juru parkir yang sama-sama sedang menunggu Tuan mereka berbelanja. Beberapa kali Zaki melihat pemuda yang bergerombol berjalan melintas di depan pintu keluar toko roti sambil melihat kedalam toko.


Zaki mengira mereka akan mencopet orang yang akan keluar dari toko. Tapi sudah beberapa orang yang keluar dari toko, tapi tidak ada tindakan apapun dari pemuda-pemuda itu. Apa yang mereka cari....atau incar?

__ADS_1


Dari kejauhan Zaki melihat Pelangi sudah selesai belanja dan berjalan menuju pintu keluar. Iapun berpamitan pada beberapa orang yang sama-sama berteduh dan mendekati Pelangi, bukan mobil yang terparkir. Dilihatnya seorang pemuda juga mendekati pintu keluar toko roti. Zaki mempercepat langkahnya.


__ADS_2