SEBENING PELANGI

SEBENING PELANGI
Terawasi


__ADS_3

Pelangi di temani Abyseka sedang menunggu hasil pemeriksaan, ketika riba-tiba saja Saras menerobos masuk ke bilik tempat Pelangi berbaring, dengan nafas yang terengah-engah dan wajah yang penuh kekhawatiran. Saras masih mengenakan baju seragam operasinya yang berwarna hijau polos dengan penutup kepala berwarna senada.


Abyseka langsung berdiri dan merentangkan tangannya menghalangi Saras mendekati Pelangi.


"Habis operasi? Sudah steril badanmu?" tanya Abyseka. Saras mengangguk kuat, meyakinkan kakaknya.


"Bagaimana keadaan Kak Lani? Tadi begitu keluar dari RO, Riri langsung memberitahuku Kak Lani di IGD."


"Tulang panggulnya sedikit bergeser karena terjatuh. Untungnya dia bisa sedikit beladiri jadi bisa mengatasi cara jatuh dan cederanya tidak terlalu parah."


"Orang yang menyerang Kakak?"


"Sudah aku atasi, sedang di selidiki."


Seorang dokter jaga masuk untuk memeriksa Pelangi, dan menyapa Saras ketika dilihatnya Saras juga ada di ruang pemeriksaan.


"Dokter Saras...." sapa dokter jaga.


"Dokter Yudi," Saras membalas sapaan koleganya." Bagaimana keadaan Kak Pelangi.


"Oh, Ibu Pelangi saudara anda?  Silahkan lihat laporan ini saja." Dokter Yudi menyerahkan map berwarna kuning pada Saras.


"Ibu Pelangi sudah dapat kamar ya, perawatan di lanjutkan di kamar, silahkan Pak Aby menyelesaikan beberapa dokumen. Mari ikut saya."


Abyseka mengikuti Dokter Yudi keluar kamar dan memberi kode pada Saras untuk menunggu di dalam kamar dan menemani Pelangi. Saras mengngguk dan menyerahkan map kuning pada Dokter Yudi.


"Kak....masih terasa sakit?" tanya Saras.


"Sudah tidak seperti tadi. Obatnya sudah bekerja."


"Aku yakin sekali sehabis kejadian ini, Kak Aby pasti langsung menempatkan seorang bodyguard buat Kak Pelangi."


"Saras, tolong telfon Kak Zaki."


"Buat apa? Kakak butuh sesuatu?"


"Katakan pada Kak Zaki untuk tidak terlalu kasar pada pemuda yang menyerang ku. Aku yakin mereka hanya orang suruhan dan butuh uang."


Saras memandang Pelangi dengan takjub. Betapa empatinya Pelangi pada sesama. Padahal para pemuda itu sudah menyerangnya. Tapi ia masih memikirkan keselamatan mereka. Pasti Pelangi sedikit banyak mengetahui sepak terjang Kak Aby dan Kak Zaki.


"Nanti aku sampaikan pada Kak Zaki."


"Sekarang saja....sebelum ia menyiksa mereka terlalu berat."

__ADS_1


"Baiklah....aku tinggal sebentar. Dilarang telfon dalan ruang IGD."


"Ya...."


Saras keluar ruangan dan memulai panggilannya pada Zaki. Setelah tersambung, Saras menyampaikan apa yang diinginkan Pelangi pada Zaki.


"Aku tidak bisa menjaminnya Sar," kata Zaki di telefon. " Kau tahu sendirikan sikap Aby pada seseorang yang berusaha merusak miliknya. Apalagi ini Pelangi. Betapa berartinya Pelangi bagi hidup Aby. Dia akan mencari tahu sampai ke akar-akarnya dan mengobrak-abrik semuanya. Kelihatannya Pelangi sadar akan hal itu"


"Ya. Aku mengerti. Siapa yang bisa menghentikan kemarahan Kak Aby." Saras diam sejenak, "Baiklah, aku tutup telefonnya. Hati-hati saja Kak dalam menyelidiki. Bye..." Saras kembali menemui Pelangi.


 Abyseka  sedang mengikuti suster yang membawa Pelangi menuju kamar. Segera Saras menyusul dan menjajari langkah Abyseka.


"Kak," kata Saras agak berbisik, "Sudah dapat titik terang soal penyerangan ini?"


"Sedikit. Zaki sedang menyelidiki. Kenapa?'


"Tadi Kak Pelangi meminta  aku untuk menelefon Kak Zaki agar lebih lembut pada pemuda yang menyerangnya." Saras melihat rahang Abyseka mengeras. Itu tandanya bahwa Abyseka sedang tidak mau di ganggu dengan berbagai macam pertanyaan dan kegiatan.  Emosinya sedang berada di ubun-ubun. Otomatis Saras langsung menutup bibirnya rapat-rapat.


"Aku kembali ke ruanganku dulu," pamit Saras pada Abyseka, " Nanti aku kembali."


Abyseka mengangguk dan terus mengikuti kemana Pelangi di bawa, sedang Saras berbelok di koridor menuju ruang dokter untuk mengganti pakaiannya.


Abyseka membenahi selimut yang menutupi tubuh Pelangi ketika dilihatnya gadis itu sudah nyaman di tempat tidurnya.


"Ini bukan kamarku, menurutmu aku harus nyaman? Apalagi pinggul ini sedikit mengganggu."


"Kalau aku bergerak....." Pelangi berusaha bangkit dari tidurnya dan memutar tubuhnya.


"Woo....wooo....! Jangan bergerak dulu." Abyseka menahan pundak Pelangi.


"Rasanya sedikit nye....ri..."


"Tenanglah dulu. Jangan membuat kejutan lain lagi kali ini. Sudah cukup jantungku berpacu hari ini. Berikan kejutan padaku lain hari. Ok?!"


Pelangi tersenyum tipis, dan kembali merilekskan tubuhnya di atas tempat tidur Rumahsakit. Ia melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar.


Pelangi merasa takjub, ada ruang rawat di Rumahsakit semewah ini. Dalam ruangan ada lagi ruangan tidur lain yang lebih kecil dan penataan ruang rawatnya juga sangat mewah. Selain area perawatan ada area ruang makan dengan meja makan bundar berukir dan area dapur dengan kitcenset yang tidak kalah indah dan peralatan yang serba otomatis. Pelangi menebak pasti kamar mandinya juga sangat mewah. Pelangi sendiri bingung bagaimana menggambarkan kemewahan itu di kepalanya. Hanya untuk buang hajat saja, yang lebih banyak bau tidak sedapnya mengapa harus di buat semewah itu. Bukankah seharusnya secepat mungkin berada di ruang kamarmandi, alih-alih berlama-lama di dalam sana menikmati kemewahannya.


Andai saja biaya kemewahan ini bisa sedikit di bagikan kepada mereka yang lebih membutuhkan perawatan. Berapa banyak yang akan tertolong nyawa dan meringankan beban hidup mereka.


"Istirahatlah. Berusaha untuk tidur, jangan banyak berpikir yang tidak penting." kata Abyseka, "Biar aku yang menyelesaikan semuanya." Abyseka membelai rambut Pelangi.


"Aku hanya takut Kak Aby melakukan hal yang tidak baik. Cukuplah itu menjadi bagian dari masalalu Kak."

__ADS_1


Abyseka tersenyum, "Baiklah kalau itu keinginanmu. Dengan syarat...."


"Apa itu?"


"Kau harus menuruti keinginanku dengan menempatkan seorang bodyguard di sampingmu."


Pelangi tersenyum, "Apa Kakak tidak marah aku diikuti Kak Zaki setiap saat?"


"Bukan Zaki dong.....harus seorang perempuan juga."


"Apa itu tidak berlebihan Kak?"


"Kau pikir mengkhawatirkanmu setiap saat itu berlebihan? Aku yang cemas, aku yang ketakutan, dan aku......"


"Ok....ok....terserah Kakak saja....aku ikut....."


"Bagus.....itu namanya gadis manis."


"Apa Mama dan Saras juga memiliki seorang bodyguard?"


"Tentu saja.....bahkan Papa juga ada."


"Riri?"


"Itu yang menjaga Saras."


Pelangi mengerucutkan dahinya, "Aku pikir Riri bestinya Saras. Ternyata....Kalau Mama?"


"Kau juga sudah mengenalnya. Sekarang tidurlah....jangan banyak bertanya," Abyseka menaikkan selimut Pelangi sampai menutupi dadanya.


"Kakak kembali ke kantor kalau aku tidur?"


Abyseka menyentuh pipi Pelangi, "Kau takut kutinggal? Atau kau memang menginginkan aku pergi?"


"Tidak. Aku tidak takut, aku juga tidak ingin Kakak pergi. Tapi kalau ada hal yang penting yang harus di lakukan, pergilah. Aku tidak apa-apa."


"Mana tega Aku meninggalkamu. Aku akan di sini menemanimu. Tidak ada yang lebih penting selain dirimu."


"Gombal..... Darimana Kakak belajar kalimat gombalan seperti itu?"


Abyseka melempar senyuman jahil, "Ada aja!"


Untuk beberapa saat mereka masih bercakap-cakap ringan sebelum Pelangi benar-benar tertidur.

__ADS_1


Abyseka membenahi selimut Pelangi, sebelum merebahkan dirinya di sofa dekat tempat tidur Pelangi.


__ADS_2