
Pelangi duduk di atas sofa sambil meluruskan kakinya.Hari yang luar biasa.Belum Pernah Pelangi kecapean hanya karena belanja.Keuali pas menjelang Lebaran, nemani Eyang ke pasar.Itupun bukan karena belanjanya, tapi karena berdesak-desakkan.Belum lagi seabreg kantong plastik yang harus di tentengnya.
Pelangi melihat banyak kantong di dekat kakinya.Banyak betul belanjaan Mama Karina.Apakah semua barang itu diperlukan atau tidak?
“Capek?”Tegur Mama.
"Iya Mah...Nggak nyangka sepegel ini kaki rasanya."
"Mudah-mudahan kamu nggak kapok seperti Saras. Tobat dia kalo suruh nemenin Mama belanja...Hehehe..."
"Mudah-mudahan nggak Mah. Ada cara lain nemenin Mama belanja tanpa bercape-capek ria."
"Oh ya?Bagaimana caranya?"tanya Mama antusias.
"Nanti aja Mah, tunggu tanggal mainnya. Pelangi ke kamar dulu ya Mah. Pegel nih."kata Pelangi sambil menenteng kantong yang ia yakini miliknya.
"Eeehh....tunggu-tunggu....bawa juga barangmu ke kamar."
'Lha ini Mah...sudah." Pelangi mengangkat kantong kertas miliknya.
'Ihh...kamu ini.Nih, ini...ini,ini....eng...ini, ini juga.Sama yang ini...ini...ini..." Mama Karin mengeluarkan kantong- kantong ke dekat Pelangi Mau tidak mau Pelangi melebarkan matanya melihat hampir sebagian belanjaaan Mama Karin di sodorkan padaya.
"Mah...ini...ini banyak betul. Bener nggak? Punya Saras kali Mah."
"Ehhh....Saras sudah banyak Mama belikan. Sampe dia bosen. Sekarang tinggal kamu yang akan Mama belanjain. Sampe bosen...Hahaha..."
Pelangi hanya memandang Mama dengan pasrah....jadi deh dia sasaran limpahan hobi Mama shopeholic.Dengan tergopoh-gopoh Pelangi membawa kantong-kantong belanjaan ke kamarnya.Apa kata Abyseka nanti?Apakah dia nanti di tuduh memanfaatkan hobi Mama Karin ya?
Pelangi merebahkan dirinya di atas kasur empuk.Sepoi udara sejuk dari pendingin ruangan membuatnya terlena dan akhirnya terlelap pulas sambil memeluk guling.
Katakan berapa lama Pelangi tertidur, sampai terbangun karena mendengar dengkuran perlahan di sampingnya.
Ketika Pelangi hendak turun ke lantai dasar dan melewati kamar Saras, kebetulan sekali Saras baru saja keluar kamar.Segera Pelangi mencegatnya.
"Ada apa Kak?"
"Saras, tadi Mama membelikanku beberapa barang. Aku pikir ada sebagian milikmu. Nanti lihat dan ambil di kamarku ya."
'Tidak Kak.Itu barang-barang memang buat Kak Pelangi."
"Tapi itu banyak sekali, pasti ada yang untukmu."
__ADS_1
"Percaya deh, itu semua buat Kak Pelangi. Aku tahu persis Kak"
"Yakin?"
"Iya....lihat" Saras membuka pintu kamarnya dan memperlihatkan isi kamarnya.Menurut Pelangi kamar Saras penuh dengan berbagai macam hiasan dan pajangan yang sangat indah.Beberapa kristal juga berjajar manis di lemari kaca yang tinggi menjulang memenuhi bagian permukaan dinding kamar.
"Ini semua Mama yang belikan. LIhat...ini...ini dan masih banyak lagi. Semuanya bukan yang aku butuhkan."kata Saras sambil menunjuk sebuah tempat bedak yang terbuat dari kristal berbentuk malaikat berwarna pastel. Dan beberapa botol parfum.
"Semua barang ini, sebenarnya tidak begitu saya butuhkan Kak. Tapi.....Mama terus saja membelikanku. Aku sudah pernah menolaknya. Tapi...."
"Sia-sia...." balas Pelangi.
"Begitulah...."
“Menurutmu, Kakak harus bagaimana agar kamar tidak diisi belanjaan Mama dan menggunung seperti ini?”
"Semua pernak-pernik di pajang berjejer di bufet, Semuanya...tanpa kecuali. Jangan di simpan hanya karena ingin terlihat rapi dan lega. Beritahu itu pada Kak Aby juga. Pasti selamat...Percaya deh."kata Saras sambil melangkah meninggalkan Pelangi.
"Mau kemana?"
"Biasa....banyak anak-anak yang menungguku."
Sepeninggal Sara, Pelangi menuju dapur, dan membuat segelas teh panas.
"Ini semua belanjaanmu?"tanya Aby.
"Bukan....ini semua Mama yang belikan. Padahal aku tidak...."
"Tidak apa apa."sela Abyseka, "Aku tau persis kebiasaan Mama." kata Abyseka langsung menjelaskan agar Pelangi tidak merasa bersalah.
"Tadi aku bertemu Saras, menurutnya aku harus memajang semua pernak-pernik hiasan di seluruh kamar. Jangan di simpan hanya karena ingin terlihat rapi dan tidak berdebu. Bila terlihat banyak hiasan, maka Mama tidak akan memaksakan membeli barang-barang. Bahkan berhenti membelikan. "
Abyseka tersenyum, "Kita beli lemari kaca untuk pajangan pada seluruh permukaan dinding. Dan tugasmu untuk menata hiasannya."
"Oke..... Mama punya hobi yang bikin iri banyak perempuan."kata Pelangi sambil membereskan belanjaan yang sedari siang di abaikannya.
"Saya juga tidak akan keberatan bila Anda punya hobi belanja."Abyseka menyapu anak-anak rambut Pelangi.
"Sayang sekali, hobiku ada di tempat lain."
"Oh ya, tadi udah liat galery milik Mama? Bagaimana? Ada ide atau pandangan?"
__ADS_1
Pelangi diam, sambil berpikir sebentar, "Saya ingin memamerkan hasil desain saya di sana. Tidak butuh tempat yang luas, hanya pas pajangannya dekat pintu masuk dan jendela kaca."
"Mulai pintar pemasaran nih..."
"Saya juga sudah membuat beberapa sketsa desain perhiasan mutiara."Pelangi bangkit dan mengambil sebuah buku sketsa kemudian di serahkan pada Abyseka.
Satu demi satu Abyseka memperhatikan sketsa yang dibuat Pelangi.
"Desigannya unik, aku belum pernah lihat bentuk yang seperti ini. Dari mana kau dapat idenya?"
"Aku mengambilnya dari daun-daun pakis yang masih muda, Bias cahaya waktu pagi dan butiran padi yang masih menggantung di pohonnya."
Abyseka mengacungkan jempolnya dan tersenyum lebar, "Simpan baik-baik buku sketsa ini, Jangan sampai ada yang menjiplaknya."
"Baik....."
"Saya akan mengambil gambarnya terlebih dahulu, biar kuperlihatkan pada pengrajin perhiasan langganan."
"Aku belum bisa menentukan harga jualnya. Aku juga belum bisa menentukan berapa banyak logam mulia yang digunakan untuk mendesainku."
"Tenang nanti kuajari. Yang penting selesaikan dulu gambarmu. Jangan hanya coret-coret gini."
"Yap!....Siap Bos."
###################
Pelangi dan Abyseka sedang serius memandangi perhiasan mutiara yang dipadukan dengan emas dan perak di hadapan mereka.Dua pasang set perhiasan dan satu gelang emas bertaburan mutiara.
"Seperti ini jadinya perhiasan yang kau buat. Sudah puas?"tanya Abyseka pada Pelangi.
"Aku ingin, perhiasan ini dominan mutiara, bukan emasnya....Apa aku buat dari mutiara plastik dulu ya supaya pengrajinnya lebih mengerti dengan kemauanku."
"Begitu juga lebih baik."
Pelangi mengambil sebuah kotak dari laci meja di sampingnya, dan mengeluarkan sebuah gelang mutiara dan menyerahkannya pada Abyseka.
"Saya membuat gelang ini dari mutiara imitasi. Bagaimana?"
"Astaga...!."Abyseka memperhatikan gelang hiasan mutiara di tangannya, " Gelang imitasi ini lebih bagus dan halus pengerjaannya dibandingkan yang asli. Bagaimana cara melakukannya?"
"Ya....aku buat saja seperti yang kumau. Pecahnya hasilnya. Sedangkan yang satu set perhiasan belum kubuat, soalnya aku kehabisan kawat."
__ADS_1
"Buatlah secepatnya. Biar kutunjukkan pada pengrajinnya dan perhiasan ini bisa kita pamerkan di Butik Mama."
"Ok...sapa takut. Ayo....berkarya...biar dapat cuan...."