
hei hei the secret bodyguard up.
yuk baca happy reading!!
🍁🍁🍁
Satu hari berlalu, malam harinya semua peserta study tour sampai di villa keluarga Mahendra.
Terlihat sekali raut bahagia di wajah mereka.
Karena di sini mereka dapat menikmati semua fasilitas yang ada, dari mulai kolam renang, bioskop pribadi dan berbagai fasilitas mewah lainnya yang tentunya sangat sukar di lewatkan.
Tepat di halaman utama vila saat ini mereka berkumpul dan bercanda bersama, menikmati suasana malam di temani cemilan yang mereka bawa.
Sungguh suasana yang indah.
Namun tak yang menyadari bahaya sedang mengintai mereka terutama F4 yang saat ini berada di ruang santai.
Di sana mereka berempat bermain monopoli.
Ya itu memang permainan anak-anak, namun mereka tetap menyukainya.
Bagi keempat nya monopoli dapat melatih otak bisnis mereka.
Di sisi lain, di taman samping dekat gerbang vila Alda berjalan santai menikmati udara malam seraya melepas penat yang di rasanya.
Melihat pemandangan berbagai tanaman yang ada sesekali Alda tersenyum.
Saat akan duduk di kursi taman tiba-tiba ada lelaki tua yang menabrak nya, hingga lelaki tua itu jatuh terduduk.
Melihat itu Spontan Alda membantu berdiri.
"Anda tidak tak pak?" Alda bertanya, namun tak mendapatkan jawaban.
dilihatnya lelaki tua itu masih membersihkannya debu di tubuhnya.
"Pak?" Tanya Alda sekali lagi.
"Eh ngapunten nduk, bapak gak ngerti yen onok wong, bapak mau kesusu. (Eh maaf non, saya tidak tahu kalau ada orang, tadi saya buru buru)" Ucap pria tua itu mengunakan bahasa daerah ini, meminta maaf Dan untungnya Alda mengerti.
"Gak papa pak, oh ya bapak ini siapa?, saya lihat bapak buru buru, ada apa pak?"
"Bapak iki Abdullah nduk pengurus vila iki, bapak lagek ngerti yen den Ryan nek kene makane bapak kesusu merene, wedine yen den Ryan butuh opo opo tapi oro onok wong neng kene. (Bapak ini Abdullah non pengurus vila ini, saya baru tahu den Ryan di sini jadi bergegas datang, takutnya den Ryan perlu apa apa, saat di sini tak ada orang.)"
"Pengurus?" Tanya Alda bingung.
Pasalnya saat mereka sampai di vila, mereka di sambut oleh beberapa laki laki yang mengaku sebagai pengurus vila ini.
" Ngeh nduk bapak pengurus vila iki, yowes nduk nek gak onok opo opo bapak mlebu sek, monggo. (Iya non bapak pengurus vila ini, ya sudah non kalo gak ada apa apa bapak masuk dulu, permisi)" Ujar pak Abdullah kemudian berjalan cepat memasuki vila.
Mata Alda mengikuti langkah Pak Abdullah.
Kemudian beralih menatap pada langit malam yang kini bertabur bintang bintang.
Namun tiba tiba Alda menegakkan kepalanya. Alda teringat pada perkataan pak Abdullah tadi.
'Takutnya den Ryan perlu apa apa, saat di sini tak ada orang.'
Alda berfikir pak Abdullah khawatir Ryan memerlukan sesuatu saat di vila tidak ada orang. Namun setahunya sejak mereka datang mereka selalu beberapa pelayan.
Dan jika pak Abdullah berkata 'saat tidak ada orang' berarti beberapa pelayan itu bukan pengurus villa ini lalu siapa mereka?
Apa yang mereka lakukan di sini?
'Celaka ! Ryan dalam bahaya' Alda. Dia menyadari ada yang tidak benar.
Segera Alda berlari cepat ke vila menuju ruang tempat pelayan berkumpul mendahului pak Abdullah.
Pak Abdullah yang melihatnya berteriak "Non, Non ada apa?"
"Pak cepat masuk dan beritahukan ke semua mahasiswa untuk berkumpul ke ballroom, tetap di sana jangan keluar apapun yang terjadi' Alda menjawab seraya tetap berlari.
" Ta... Tapi nduk?" Tanya pak Abdullah terbata, tapi tak mendapat tanggapan.
Saat sampai di dekat ruang pelayan Alda merubah langkahnya jadi tak bersuara, lalu mengambil Revolver semi otomatis dari balik kemejanya dan menyiagakan pada tangan kirinya.
Kemudian berbisik pada alat pendengarnya.
"Kevin, cepat hubungi tim keamanan ada yang beres di vila ini"
'Baik' balas kevin, dia memang tak ikut ke vila tapi dia tetap berada di sekitar Alda.
Dengan memegang Revolver ditangannya Alda berjalan mengendap endap mendekati pintu, membuka perlahan.
Dan hap...
__ADS_1
Alda Mengacungkan Revolver nya!!
Namun tak mendapati siapapun di dalamnya.
Alda melangkah masuk,seketika pupil nya membesar, tatapannya tertuju pada lembaran foto F4 yang di tusuk pisau berukir DE di dinding.
Sial, mereka lagi..
Dengan langkah cepat Alda berbalik ke ruang santai.
'Kevin, cepat! Bantu aku evakuasi semuanya!!"
'Baik, aku dalam perjalanan bersama tim ku, kau dimana?"
'Ruang Ryan, orang orang berada di ballroom, cepatlah'
Brak!!
Tanpa tunggang langgang Alda mendobrak pintu. Mengagetkan F4 didalamnya.
"Ap.. Ap... Pa? Ada ap... Pa?" Tanya Daniel kaget. Bukan karena kehadiran Alda melainkan kerena Revolver yang dipegang Alda.
"Hei Alda lo kenapa?" Ryan juga bertanya dengan bingung.
Alda diam saja, pandangan mengedar pada seluruh ruangan. Lalu berhenti di pada Ryan tepat pada titik merah di dahinya.
Nafasnya memberat. Matanya mengelap.
Alda Mengangkat Revolver nya.
Dorr..
Pelurunya melesat.
Dia Berjalan cepat ke arah jendela, Dan membukanya.
Bruk..
tiba-tiba Tubuh pria bersimbah darah limbung ke dalam ruang begitu jendela terbuka, Mengagetkan F4. Sejenak mereka linglung.
Terdiam seperti patung, Tak dapat berbicara apapun.
Ini pertama kalinya mereka melihat adegan berdarah secara langsung.
Dengan cepat Alda menyeret ke empatnya, dan mendudukkan mereka di tengah ruangan.
'Tetap di sini, jangan keluar, apapun yang terjadi?" Perintah Alda.
"Apa ini, apa yang kau lakukan!!" Ryan berteriak, tangannya mengacung ke arah Alda.
"DIAM LAH!! JANGAN BANYAK BERTANYA!!" Bentak Alda. Menatap tajam Ryan. Membuat Ryan dan lainnya terdiam.
Jujur mereka takut dengan situasi ini.
'Kau sampai? Bagaimana di luar?' bisik Alda pada kevin.
'Ya, Mereka sudah merencanakan matang ada lebih dari 30 orang. Saat kami masih baku hantam dengan mereka!'
'Baik, berapa yang kau bawa?"
'Ada 20 termasuk aku.'
'Baiklah aku akan keluar."
Klik Alda mematikan sambungan nya
Dor dor dor
terdengar letupan senjata dari luar.
'Sial, mereka di luar'
"Tetap di sini, aku akan keluar?" Ujar Alda pada F4. Lalu mengeluarkan Revolver lain dan mengisinya dengan peluru.
"Tapi, di luar berbahaya?" Tahan Arjun. Menggelengkan kepala tak setuju.
"Akan lebih berbahaya bila aku tetap di sini. Tunggulah 15 menit." Balas Alda lalu melangkah pergi dengan Revolver di kedua tangannya.
Tepat sebelum Alda keluar tiba-tiba...
Dooor!!
Sebuah peluru melesat kearahnya. Mengores lengan kanannya.
"ALDA!!" teriak ke empatnya. Mereka berdiri akan menghampiri Alda.
__ADS_1
"Tetap disana, aku baik baik saja, Argh.... Damn it!!' cegah Alda, seraya meringis.
Tapi kau terluka?' tanya Natan.
Ku bilang aku tak apa?" Mengabaikan rasa sakitnya aku melangkah keluar, mengabaikan F4 yang tengah ketar ketir mengkhawatirkan dirinya.
Door...
Door dor dor door..
Suara letupan senjata saling bersautan.
Sangat memekakkan teringat
Entah apa yang terjadi di luar sana.
15 menit kemudian....
Brak... Suara pintu di dobrak mengagetkan F4.
'Apa? siapa itu? Siapa sana?" Sahut Daniel gemetar ketakutan. Begitupula yang lain.
"Ini aku." Alda melangkah dan berhenti di depan mereka.
Ke empatnya berdiri tak kalah melihat Alda kembali.
Alda. Kau kembali? Kau terluka? " Tanya Ryan dan Arjun bersamaan. Tatapan mereka terpaku pada kemeja putih Alda yang berlumuran darah.
"Tidak" Jawab Alda singkat.
"Lalu apa ini?" Ryan menunjuk pada kemeja Alda.
"Kau tahu ini bukan darahku"
Tapi...?"
Diam, aku di sini bukan untuk berdebat dengan mu. Dengar kan perkataan ku" Sela Alda tak ingin di bantah.
"Dengar... Setelah ini segera tinggalkan vila ini, akan ada yang mengawal kalian, aku minta patuh dan ikut mereka." Perintah Alda.
Tap.... I... "
Ucapan Arjun terputus saat 4 orang berpakaian serba hitam dengan rompi anti peluru memasuki ruangan.
Alda mendekati mereka. Lalu mengeluarkan lencana miliknya. Memperlihatkan pada mereka.
"Mayor Alda divisi investigasi"
"Apa ini?" Sela Ryan bingung.
"Kau tidak perlu tahu!!" Ryan ingin membantah namun di urungkan nya.
"Salam Mayor, kami dari Densus 88 datang dengan perintah untuk mengawal kepulangan mereka."
"Baik silahkan pulangkan mereka, lalu bagaimana situasi dan lainnya?"
"Lokasi telah kondusif, Kami telah mengamankan pelaku, setelah ini akan lakukan interogasi, untuk lainnya kami sudah hubungi keluarga masing-masing, sementara mereka ada di hotel terdekat menunggu jemputan." Jelas salah satu dari mereka.
"Baik, silahkan bawa mereka" Alda mempersiapkan mereka.
"Tapi...?" Natan ingin mengatakan keberatannya.
"Ikutlah dengan mereka, mereka akan mengawal kalian pulang" Ujar Alda meyakinkan.
"Silahkan, ikut kami. " Ucap salah satu dari Densus 88 lalu keluar, diikuti oleh F4 di belakangnya.
Alda menatap kepergian mereka, menghembuskan nafas lega.
"Argh... Sial ini sakit." Alda meringis, dia baru ingat lukanya masih belum terobati.
🍁🍁🍁
noh ikma update loh...
kriting ini rasanya jari ikma. 3 jam nonstop ngetik. di handphone lagi, laptopnya lagi rusak. 😭😭
ya udah itu aja curhatan ikma.
jangan lupa vote like komen dan tentunya di favorit ya..
see you next time.
Bojonegoro, 17 Maret 2020
kak ikma
__ADS_1