Secret Bodyguard

Secret Bodyguard
Chapter 17


__ADS_3

🍁🍁🍁


SELAMAT MEMBACA!!


JADILAH PEMBACA JUJUR!!


🍁🍁🍁


Lapangan tembak kemiliteran.


Dengan memakai alat pelindung diri lengkap, dari topi, kacamata pelindung, hingga rompi anti peluru, Alda memposisikan senjata api laras panjang tipe M16 buatan Amerika Serikat di tangannya, senjata tipe itu mempunyai kecepatan 944,88 meter/detik dan dapat membuat kerusakan parah pada setiap tembakannya.


Alda membidik papan sasaran sejauh dua ratus meter di depannya dengan tatapan tajam, seolah yang dia bidik bukanlah papan sasaran melainkan seorang terpidana mati.


Dor dor dor dor suara rentetan tembakkan terdengar.


Tak kurang dari tiga puluh peluru melesat keluar membidik papan sasaran dengan kecepatan gila dan semuanya berakhir di bulatan merah tepat di intinya, Alda tak mengambil jeda satu detik pun saat menarik pelatuknya. Ini menunjukkan seberapa profesional dirinya dalam hal ini.


Meletakkan senapan laras panjang nya Alda beralih pada revolver semi otomatis tipe 92F, ini adalah senjata yang sering di gunakan agen rahasia. Sebenarnya untuk Alda sendiri dia mempunyai versi penyempurnaan dari 92F yaitu P226.


Itu adalah versi lebih tinggi dan lebih Fleksibel untuk di gunakan, sayangnya Alda tidak membawanya sekarang, dan meninggalkan di kamar asrama.


Dengan mudah Alda merakit setiap bagian dari revolver, merangkai bagian-bagian yang terpisah menjadi senjata sempurna yang siap di gunakan dan terakhir dia memasang peredam suara.


Setelahnya Alda mengaktifkan program mode hologram pada sasarannya. Sasarannya kini bukan lah papan mati yang hanya berdiam diri, melainkan papan besar dan tinggi, di atasnya terdapat beberapa hologram berbentuk manusia yang bergerak cepat, sangat sulit untuk membedakan.


Alda mengambil posisi, menarik pelatuknya dan mulai membidik.


Dor dor dor dor dor...


Setiap bidikannya tepat tak meleset sedikitpun,Β adapun manusia hologram itu? semuanya menghilang satu persatu sedetik setelah tertembak, hingga tak tersisa satupun.


Menghela nafasnya, Alda meletakkan revolver di meja dan mulai melepas atribut kelengkapan, menyisakan pakaian hitam santai yang kenakan nya, Begitu kacamatanya terlepas wajahnya yang kuyu terpapar, terlihat di sekitar matanya terdapat mata panda yang sangat gelap.


Membuktikan bahwa Alda melewati malam sebelumnya dengan tanpa tidur.


Melihat Alda telah selesai, Sersan Lutfi yang sedari awal berada di dekat melangkah mendekat, menyerahkan berkas yang di bawanya pada Alda, "Lapor Mayor, laporan hasil uji coba ada disini." "Dan dalam hardΒ  ini terdapat salinan cctv, kepolisian meminta anda memeriksanya." lanjut Sersan Lutfi menyerahkan hard disk.


"Baiklah akan ku mempelajari, sementara itu gantikan aku mengawasi meraka, dan laporkan padaku hasilnya," perintah Alda mengacu pada tentara baru yang saat ini tengah latihan.


"Siap Mayor!!" Mendengar kesanggupannya, lantasΒ  Alda berbalik dan pergi, dia membawa berkas yang baru di terima dan tas ransel bersamanya.


🍁🍁🍁


Di sisi lain di waktu yang sama, dalam kamar asrama Ryan, di ranjang empuk berukuran 2x2 meter, Daniel berbaring memainkan ponselnya, senyum gila senantiasa terpatri di bibirnya.


Di sela-sela memainkan ponselnya, Daniel sesekali melirik sang empu kamar yang tengah duduk merenung. Siapa lagi kalo bukan Ryan.


Diaduduk di sofa belajar, wajah terlihat resah, pandangan terfokus pada layar ponsel di tangannya yang menampilkan nama Alda. Dia ingin memulai panggilan, tapi pada akhirnya selalu dia urungkan, dan itu terjadi berulang kali, membuat Daniel yang melihatnya merasa jengah.


"Kalo kangen telfon aja, gak usah sok jaim. Mau nunggu Alda yang nelpon duluan, sampai lumutan juga gak akan terjadi," cibir Daniel, Jleb menohok Ryan.


Menjepit ruang di antara alisnya, Ekspresi Ryan berubah keruh, garis siku-siku muncul di dahinya, matanya melototi Daniel garang.


Tapi bukannya takut, Daniel malah kegirangan melihat wajah keruh Ryan, dia dengan ringan berseloroh, "Apa? Mau marah? Sok silahkan, toh yang gue bilang itu kenyataannya."


Ryan mengambil acak sebuah buku tebal dan melempar kearah Daniel.


Dan Plak!! -

__ADS_1


Lemparan itu sukses mengenai Daniel, membuatnya jatuh terjungkal, untung saja dia masih di atas ranjang, kalau tidak entah apa akan yang akan terjadi.


"Akh... Aa... Sakit ****'...." desis Daniel mengusap-usap dahinya yang terasa penggang, dan terus menggerutu, "kalo mau lempar sesuatu bilang dong!, kan gue bisa antisipasi."


Ryan hanya memutar matanya mendengar itu, tak menghiraukan lagi. Dia kembali fokus pada ponselnya. Mengetik lalu menghapus, mengetik lagi menghapus lagi, dan begitu seterusnya, dan "Arrrgh!!.... " teriak Ryan Frustasi. Membuat Daniel melotot berjengkit kaget.


"Nah kan, nah kan... mulai bucin deh," cibir Daniel menggeleng-gelengkan kepala kasihan akan Ryan.


"Eh... Jadi lo beneran suka sama dia?"


Memelototi Daniel, Ryan mendesis, auranya menjadi menjadi gelap, "Menurut lo!!"


Melihat situasi berbahaya sedang mengintai, Daniel mencoba segala cara untuk lepas, akhir dengan tersenyum canggung, dia berseloroh ringan, "Haha kelihatan kok." tetap tersenyum.


Dan di detik selanjutnya, rautnya menjadi kaget, lantas dia buru-buru berdiri, "Eh... gue pergi dulu, tadi Arjun manggil, bye," berbalik dan bergegas kabur.


'Hahaha gue selamat!!' 'serigala itu, gak bisa nangkap gue, hahaha gue jenius!!'


🍁🍁🍁


Keluar dari rumah sakit tempat para korban di rawat, Alda sudah mengantongi hasil tes darah setiap korban, setelah dia menemui Prof. Dr Zakir, kepada dokter di rumah sakit ini.


Walaupun sebelumnya Alda sudah mempunyai gambaran akan hasil tes, tapi tak pernah berharap dugaannya akan menjadi kenyataan. Dan itu cukup membuatnya ingin membunuh orang.


Sebelum saat mendengarkan penjelasan rinci dari Dr. Zakir, Alda masih dapat menahan diri karena dia menghormati Dr. Zakir yang sahabat ayahnya. Tapi tak lagi, begitu keluar dia melepas semua segelnya dan membiarkan auranya keluar begitu saja, membuat orang-orang di sekitarnya bergidik takut dan tak berani yang mengusiknya.


Sampai di parkiran Alda memasuki mobilnya, dan segara meninggalkan area.


Jika terlihat dari luar, memang itu seperti mobil audi pada umumnya, tapi tidak di dalamnya, karena Alda sudah merubah semua programmer nya .


Begitu Alda duduk mobil secara otomatis menempatkan dirinya dengan benar, dan mengaktifkan mode auto pilot yang memungkinkan mobil untuk melaju sendiri tanpa harus di kemudikan, Alda hanya tinggal memasuki Alamat dan mobil akan segera mengantarkan. Kali ini tujuan adalah mall tempat ledakan.


Di dalam mobilnya, sedari menunggu sampai pada tujuan Alda membuka laptop, memasang hard disk yang di berikan sersan Lutfi dan mulai menjelajahi isinya yang salinan cctv dari mall.Β 


Sampai di lokasi, mobil memarkir secara otomatis, Alda sendiri tidak turun dia tetap di dalam, dan dari balik kaca film mobil Alda mengamati situasi di sekitar mall itu, dapat dilihat garis polisi masih terpasang di tempatnya.


Dan walaupun di sekitar mall ada banyak orang lalu lalang namun sangat terlihat bahwa mereka sebagian besar menghindari atau bahkan memilih jalan memutar dari pada melewati area itu.


Menarik pandangan dari situasi di luar Alda beralih fokus pada laptop, dia membuka sebuah halaman web dan mulai memasukkan rumus-rumus rumit secara cepat, jari-jarinya bergerak seperti terbang di atas keyboard, karena sangking cepatnya.


Senyum simpul terpatri di bibirnya, tak kalah Alda mendapatkan yang di carinya. Yup dia meretas semua kamera cctv di lokasi ini hingga radius satu kilometer. "Tak ada yang bisa menghentikan, jika aku sudah bertindak."


"Jika memang cctv tidak mempunyai rekaman sebelum ledakan terjadi, maka ada rekaman sesudahnya, karena sang pelaku pasti akan kembali untuk memastikan pekerjaannya."


Benar saja, dari cctv yang Alda retas dia mendapatkan apa yang dia cari. Itu adalah sang pelaku, dan mungkin tidak ada yang pernah menduga tentang pelaku ini.


Pasalnya di hadapan semua orang pelaku ini adalah orang yang pertama kali menghubungi polisi sesaat setelah ledakan terjadi. Jadi sama sekali tak ada yang menduga, jika sang manajer mall sendiri lah sang pelaku sekaligus dalang dari kejadian itu. Sungguh miris, mereka telah di tipu secara langsung tanpa mengetahui apapun.


"Kamu mungkin licik, tapi aku lebih licik, kamuΒ salah besar dengan memainkan trik murahan ini di depanku," Ucap Alda dengan pandangan lurus.


"Perintah kepolisian membuat surat perintah penangkapan pelaku pengeboman," perintah Alda pada sersan Lutfi lewat ponselnya.


'Tapi mayor, bagaimana dengan pelakunya?'


"Sudah di temukan, kamu hanya perlu membuat perintah penangkapan, akan ku beritahu detailnya setelah ini."


'Laksanakan mayor.'


Menyelesaikan panggilan itu, Senyum kejam hadir kembali di bibir nya, "permainan yang sesungguhnya di mulai."

__ADS_1


🍁🍁🍁


Malam harinya, di kantor kepolisian, di hadapan beberapa petinggi kepolisian Alda yang di temani sersan Lutfi menunjukkan semua bukti yang di dapatnya.


Dia memutar kembali video cctv yang di dapat dan memperlihatkan itu kepada mereka. Tampak sangat terlihat mereka bahwa terkejut dengan apa yang Alda tunjukkan.


Melihat itu, Alda menyinggung kan senyum tipis sangat tipis hingga tidak semua orang dapat melihatnya, "seperti anda semua tahu, kadang orang yang paling tidak mencurigakan, adalah yang paling berbahaya. Dan terbukti kan? Manajer Dani adalah orang pertama yang menghubungi polisi setelah ledakan ternyata dia sang pelaku utama."


Menganggukkan kepadanya, salah seorang petinggi angkat suara, "Anda benar mayor, kami sangat teledor kali ini, dengan bukti yang anda bawa bukanlah kita bisa melakukan penangkapan, lalu kenapa kali ini anda memerintahkan elit khusus kepolisian yang melakukan penangkapan?"


"Brigjen Zaki benar, kenapa kali ini harus memobilisasi elit khusus, semua yang ada di sini tahu, elit khusus di gunakan hanya di gunakan pada saat-saat genting."


Mendengar itu Alda menyandarkan diri, dan menggeleng-geleng kan kepalanya, "wah wah... tampaknya anda sangat meremehkan lawan, jadi perwira nando apakah anda tahu siapa lawan kita sekarang?"


"Bukankah itu manajer Dani? Dia hanya warga sipil biasa"


Menghela nafas lelah, Alda mengurut daerah di antara alisnya, tiba-tiba kepalanya terasa nyeri melihat respon mereka, "huft... Lutfi berikan berkas itu pada mereka dan biarkan mereka membacanya."


Mendengar itu, Sersan Lutfi mendekat lalu menyerahkan tumpukan berkas di tangannya.


Itu adalah berkas data diri terperinci dari pribadi dari manajer Dani, di lengkapi juga dengan foto- foto nya. Di sana tertulis dengan pengalaman hidupnya sebelum menjadi manajer.


"Silver wolf? Nama lainnya adalah silver wolf, bukankah dia adalah tangan kanan Mr. Jon DE, si elit bertangan kidal, bagaimana ini mungkin?" Ucap salah satu petinggi matanya terbelalak kaget.


"Sekarang mengerti kan? Cukup dengan identitasnya sebagai silver wolf, kita tahu seberapa bahayanya dia. Jika kalian masih berkeras, ckck... itu bukan penangkapan melainkan bunuh diri."


Hampir dari mereka semua mengangguk, sesaat setelah mendengar suara sarkas Alda. Memang jika di lihat sekilas, itu tampak seperti Alda yang mendikte mereka, namun tidak demikian.


Karena mereka tahu, sejak awal rapat Alda sudah memperingatkan mereka. Mereka saja yang tidak tahu.


"Baiklah tugas saya selesai, sisanya terserah, Lutfi ayo pergi," Alda beranjak berdiri dan berbalik pergi, di ikuti Sersan Lutfi.


Namun baru saja Alda akan mengambil langkah, suara Brigjen Zaki menahannya, "Anda tidak ikut serta Mayor?"


Menaikan alisnya Alda menengok menatap Laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun itu, dia lalu berkata, "tentu saja tidak, saat ini saya masih bertugas menjaga keamanan putra presiden, dan tentunya saya tidak bisa memperlihatkan diri sembarangan, baiklah saya pergi," Setelah mengatakan itu Alda melangkah pergi.


🍁🍁🍁


Di luar kantor kepolisian Alda dan Lutfi berjalan beriringan, tak ada yang bersuara. Sesekali Sersan Lutfi melirik pada Alda, dia ingin berbicara tapi di urungkan.


Alda sangat sadar akan tingkah Lutfi, jadi dia dengan ringan berucap, "Bicaralah, jangan di tahan."


Tertangkap basah, ekspresi wajah Sersan Lutfi kaku, sedetik kemudian daun telinganya memerah. "Emm, maaf Mayor, saya hanya ingin tahu, kenapa anda tidak ingin ikut serta dalam penangkapan silver wolf, apa benar kerena alasan itu."


"Pertanyaan yang bagus. Sebagian besar memang karena itu, tapi tidak juga. Alasan utamanya adalah saya tak ingin DE mewaspadai diriku," kata Alda pelan namun nadanya sangat keras.


Mendengar itu, Lutfi Mengangguk tanda mengerti. Setalah itu suasana hening kembali sampai saat keduanya meninggalkan kantor kepolisian.


🍁🍁🍁


TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!!


1877 KATA (β‰§βˆ‡β‰¦)/


JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!


Satu tanda, sangat berarti bagiku ❀


🍁🍁🍁

__ADS_1


Bojonegoro, 21 Agustus 2020


Kak Ikma


__ADS_2