
Langit cerah berganti dengan sang malam, suasana terlihat hening karena memang sudah memasuki jam malam, dan kebanyakan penghuni Asrama sudah terlelap namun tidak dengan penghuni kamar ini, Arjun sibuk dengan lamunannya tentang teka-teki siapa jati diri yang misterius Alda, dia merasa ada yang terlewat olehnya dan dugaannya semakin menguat tak kala melihat perubahan sikap Daniel yang mendadak menjadi menghormati Alda. Dia melemparkan pandangan menyelidik kearah Daniel yang saat ini tengah tiduran dan sibuk chating dengan kekasih barunya.
Bruk!!
Arjun menjatuhkan diri diatas ranjang empuknya seraya menghela nafas lelah.
"Kenapa? tumben loyo banget?" tanya Daniel melihat Ajun yang sudah berbaring dengan tampang lelahnya.
"Gak, males aja." Arjun menjawab singkat, namun tak sampai satu menit dia bangkit dari posisi rebahannya dan duduk menghadap Daniel.
"Iyel"
"Hm."
"Iyel, lo dengar gue gak sih?."
"Apa?"
"Lo sahabat gue kan?"
"Lah kalo gue bukan sahabat lo terus apaan? musuh lo gitu? dasar ****' lo jun, kita berempat tumbuh besar bareng elo, gue, Ryan dan Natan dan lo masih ngeraguin gue, otak lo kayaknya lagi konslet deh." Sahut Daniel kesal.
"Bagus kalo gitu, gue mau tanya, dan lo pokoknya harus jawab."
"Ya ya ya, langsung aja dech, gak usah muter-muter, lo tahu gue lagi sibuk chating-an sama kekasih gue." Daniel memutar bola matanya jengah.
"Apa lo merahasiakan sesuatu?"
"Tentu aja enggak ****', lo ngerti gue luar dalam, bahkan motif sama ukuran pakaian dalam gue saja lo tahu 'kan, oh gue tahu, apa jangan-jangan lo yang merahasiakan sesuatu?" Daniel memicing mata.
"Ah oh emm, bagaimana ya ... Ya ada satu hal yang kurahasiankan." aku Arjun yang sebenarnya itu hanyalah umpan karena dia masih menaruh curiga kuat pada Daniel.
"Apa, apa yang lo sembunyikan?"
"Lo tahu kan, tadi gue janjian sama kak Aldo."
"Ya gue tahu."
"Disana kak Aldo menceritakan sesuatu yang menurut gue itu aneh dan gue juga sama sekali tidak ngerti kemana arah pembicaraannya, karena kak Aldo hanya bercerita tanpa memberitahu siapa orang yang diceritakannya." cerita Arjun.
"Lalu saat gue dan kak Aldo kembali ingin menemui kalian, dan aku dikejutkan oleh kenyataan yang sangat sulit diterima akal sehat,ย seseorang disekitar kita ternyata bukanlah orang biasa, lo tahu yel gue sangat shock tadi, lo pernah gak syok seperti gue tadi, ah gue rasa lo gak pernah kan?" pancing Arjun, dengan matanya setia menatap kearah Daniel.
"Enggak lo salah jun, gue juga pernah ngerasain." Jawab Daniel, tatapan menerawang mengenang kejadian yang dialaminya saat mengetahui identitas asli Alda, mendengar itu Arjun tersenyum licik.
Yes ikan memakan umpan saatnya menarik kail.
"Tapi apa yang membuat orang itu melakukannya, apa lo tahu yel?"
"Tentu aja gue tahu, Dia menyamar untuk menjalankan misi khusus yang diberikan negara untuk melindungi seseorang, dan lo tahu jun, tepat saat itu juga gue mendeklarasikan diri sebagai penggermarnya" jawab Daniel semangat dengan matanya berbinar cerah, dia tanpa sadar dia menceritakan rahasia Alda.
''Itu tentang Alda atau lebih tepatnya Mayor Alda kan?"
"Iya"
"Jadi benar Alda itu intelegen negara." Arjun berbisik lirih.
"Hah, apa?" sahut Daniel setelah kembali pada kesadarannya.
"Enggak, gue cuma bertanya tentang Alda yang ternyata adalah seorang itelegen negara yang sedang menyamar." terang sungyeol kembali.
"Arjun, lo ... lo?" tanya Daniel gagap dengan matanya yang terbelalak kaget.
"Apa." Sahut Arjun enteng dengan tampang watados seolah tak terjadi apapun.
"Dari mana lo tahu?"
"Kan gue tadi udah bilang dari Kak Aldo, dia tak sengaja membahasnya."
"Jun, dengarkan gue, apapun yang lo ketahui, gue mohon rahasia itu, gue udah janji sama Alda, gur rela menjadi budak lo sebulan daripada harus kehilangan kepercayaannya Alda." mohon woohyun
"Baiklah-baiklah ... Akan gue rahasiakan, lo puas?"
__ADS_1
"Puas banget hehe."
"Tapi syaratnya, lo harus jadi budak gue selama sebulan." Tukas Arjun menyeringai.
"Apa? Nggak akan!"
"Tidak ada penolakan, seperti kata lo tadi 'gue rela menjadi budak lo sebulan daripada harus kehilangan kepercayaannya' Alda." Ujar Arjun seraya menirukan ucapan Daniel.
"Oke oke lo menang." Jawab Daniel ketus dengan raut sebal.
"Hehe gitu dong adek manis." Arjun menimpali seraya menaik-turunkan sebelah alisnya sedang tangannya menoel-noel dagu Daniel mengodanya namun justru membuat Daniel murka.
"ARJUN!!!"
"Hahahaha, udah udah tidur sana Hus Hus"
"Ya elah jam segini tidur main PSP yuk, boring nih".
"Main? Eh emang PR lo sudah selesai?".
"Hah ada PR ya? Hehe ... kan ada kau jun." jawab Daniel sambil menunjukkan cengirannya.
"Ogah, Kerjakan sana."
"Yah jun kok gitu sih ... kau sudah selesai kan, aku nyontek ya, please ...." rayu Daniel, dengan menampilkan ekspresi imut mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya dan tersenyum manis.
"Enggak, dan cepat singkirkan ekspresi menjijikkan itu." jijik Arjun menampol wajah Daniel dengan bantal, dia ngeri dengan ekspresi yang ditunjukkan Daniel.
"Hahahaha"
๐๐๐
Taman belakang asrama.
Sepi, hening, dan menenangkan bebas dari kebisingan suasana seperti inilah yang Alda setelah perseteruannya dengan Ryan tadi pagi, ditambah lagi dengan langit gelap yang memuntahkan rintik hujan tidak membuatnya beranjak untuk berteduh, namun Alda tetap berada ditempatnya sembari mendongakkan kepala kearah langit seraya memejamkan mata menikmati rintik hujan membasahi wajah cantiknya, sampai saat kedatangan seseorang menganggu ketenangannya.
"Kenapa masih disini ... Bukannya berteduh?" tanya pria itu mengambil posisi duduk disamping Alda.
"Tidak, aku hanya penasaran apa yang lakukan?"
"Tidak ada hanya duduk dan menikmati rintik hujan, hujan itu menenangkan dia membantu menyamarkan emosi manusia, aku suka itu. Dan kau kenapa berada disini?"
"Entahlah hanya ingin saja, Apa kau menyukai hujan?"
"Iya" Jawab Alda datar.
"Alasannya?"
"Jika ada alasan untuk menyukai sesuatu, dan suatu saat bila alasan itu hilang, maka rasa suka itupun akan ikut hilang."
"Kalau begitu kita sama."
"Apa?"
"Kita sama, aku menyukaimu tanpa alasan."
"Maksudmu?" Tanya Alda seraya menatap kearah Arjun, nada bicaranya berubah dingin.
"Seperti yang kamu dengar aku menyukaimu." aku Arjun, dia memberanikan diri menggenggam tangan Alda.
"maaf, aku tak bisa." tolak Alda.
"Kenapa, Apa karena Ryan? Dia menjadikanmu budaknya untuk menaklukkanmu dia tidak pernah menyukaimu , apa yang kau harapkan darinya? "
"Tidak kau salah, dan juga jangan ikut campur urusanku," tukas Alda lalu beranjak pergi meninggalkan Arjun.
tanpa disadari keduanya sepasang mata melihat kejadian itu, tatapannya menajam dengan kedua tangannya mengepalkan erat, kemudian berlalu pergi dengan menahan amarah yang membuncah.
๐๐๐
Pagi tadi tepat saat akan bel tanda masuk berdering Alda beranjak mmenghampiri Ryan yang mengobrol bersama ketiga sahabatnya, untuk memberikan Hardisk miliknya.
__ADS_1
"Ryan, ini tugasmu udah ku selesaikan, semuanya ada di sana," kata Alda mengulurkan hardisk ditangannya, menatap Alda entah kenapa hari ini Ryan merasa sangat kesal dan tak lama Ryan menerimanya.
"Ikut aku," perintah Ryan pada Alda, dia beranjak mendekat kearah jendela, berhenti sejenak menatap Alda lalu dengan segaja menjatuhkan Hardisk ditangannya.
kejadian itu tentu saja mengejutkan Alda, bahkan ketiga kawannya pun yang sedari awal hanya menonton melotot kaget dengan tingkah Ryan.
"Ambil!!" perintah Ryan
"Kau ... apa maksudmu? ... kenapa melakukan itu?" tanya Alda dengan sedikit menaikan intonasi suaranya dengan tangan kirinya mencengkram kerah kemeja Ryan.
"Apa? kamu marah? ingin mencekik ku, ayo lakukan," tantang Ryan.
"Kamu!!" Alda mengeram dia menatap Ryan bengis, namun tak lama ekspresinya kembali normal dan perlahan melonggarkan cengkramannya.
"Aku bilang ambil!! Ingat Alda, kamu adalah budak ku dan kamu tidak berhak untuk mempertanyakan perintahku," perintah Ryan lagi dan karena perkataan itu, hampir saja Alda kelepasan menodongkan Rovelver miliknya yang selalu dibawa bersamanya pada Ryan untuk melubangi kepalanya.
Bagaimana Alda tidak tersulut emosi?
Bayangkan saja Ryan dengan seenak jidatnya Ryan memerintahkan Alda mengambil Hardisk yang dijatuhkan dari gedung lantai 4 tempat kelas mereka berada, dan masalahnya adalah tepat dibawah jendela ditumbuhi semak belukar yangmenjulang tinggi jadi harus bagaimana cara Alda harus mencari Hardisk itu.
"Oke tunggulah." Alda mengalah kemudian berlangkah pergi.
"Yan kanapa lo memperlakukan Alda seperti itu? Yang gue tahu lo gak kaya gini,''ย tanya Arjun, sungguh dia sangat kesal dengan kelakuan Ryan.
"Ini gak ada hubungannya dengan lo, gue ingatkan Alda itu budak gue jadi terserah gue mau memperlakukan dia kaya gimana, atau lo suka dia?" tukas Ryan kesal walaupun didalam hatinya dia menyesal telah memperlakukan Alda seperti itu, dia sendiri bingung ada dengannya hari ini.
"Iya, gue suka dia kenapa?"
"Arjun!! Ingat dia budak gue, milik gue dan akan tetap jadi milik gue ingat itu!!" kata Ryan dengan suara naik satu oktaf.
"Terserah lo," Arjun mengakhiri perdebatannya dengan Ryan dan berlalu pergi dari ruang kelas dengan diikuti Deniel yang sebelumnya sudah memberi kode pada Natan untuk tetap disana menenangkan Ryam yang diliputi amarah.
Luar ruang kelas.
"Hahaha gila lo jun, ide lo cemerlang banget tadi buat ngerjain Ryan, lo dapat inspirasi darimana?" ucap Daniel girang, dia menepuk-nepuk pundak Arjun, tapi Arjun hanya diam tak membalas pertanyaan Daniel.
Tak mendengar jawaban dari Arjun, Daniel akhirnya menyadari ada sesuatu yang tak Beres dan tak diketahuinya.
" Lo? Apa loe beneran suka sama Alda?"
"Hmn iya dan aku akan segera mengungkapkannya."
"Ya Ampun Arjuun!!" histeris Daniel, dia merasa gemas dengan kedua sehabatnya, entah bersyukur atau menangisi keduanya. Satu menyukai dan mulai menumbuhkan sikap posesif namun tak menyadari perasaannya dan yang satu lagi untuk pertama kalinya jatuh cinta dan ingin segera mengungkapkannya.
"Lo kenapa?"
"Tidak, gue cuma kasian sama Alda, kenapa dia dikelilingi 2 pria tidak waras seperti kalian, Oh Tuhan aku mohon tolong kuatkanlahย Alda!!" Mohon Daniel seolah-olah dia sedang meratapi nasib buruk Alda.
Pletak!!...
"***** sakit tahu, kenapa menjitakku hah?". Protes Daniel
"Maksud lo apa? Lo ngatain gue gak waras gitu!!"
"Kenyataan kan," jawab Daniel enteng dengan cengirannya dan melengangย pergi.
"Awas ya lo!!"
๐๐๐
Nb: untuk bahasa gaul hanya digunakan anggota F4 dan saat bersama Alda berbicara jadi mengunakan bahasa baku (aku-kamu)
๐๐๐
Hai Hai maaf ikma baru up.
Nih langsung ikma post mohon diteliti bila menemukan typo langsung ingatkan ikma, karena ikma tadi males revisi
Bojonegoro, 09 November 2019
Kak_ikma
__ADS_1