
SELAMAT MEMBACA, JADILAH PEMBACA JUJUR!!
----
Malam harinya dalam ruang kerja, di balik meja yang terbuat dari kayu pinus itu Alda bertopang dagu, tatapannya tertuju pada surat resmi berlogo 'CIA' yang tergeletak begitu saja di mejanya selepas dia baca.
Alda menatap pada surat itu lamat-lamat, dan lama-kelamaan ekspresinya berubah suram, dahinya berkerut, dan wajahnya cemberut.
Namun walaupun Alda memasang ekspresi cemberut, itu tidak membuat Alda terlihat jelek, malah entah kenapa, Alda terlihat lebih imut dengan ekspresi itu.
Tok tok tok terdengar suara ketukan pada pintu.
"Masuk," Sahut Alda tanpa mendongakkan kepalanya masih menunduk menatap surat itu.
Pintu terbuka, tak lama terdengar sebuah suara tua menginterupsi.
"Apa ada dengan surat itu? Kenapa kamu terus menatapnya, hingga tak menghiraukan kehadiran ayah."
Mendongakkan kepalanya tatapan Alda bersinobrok dengan tatapan tajam pria tua itu, "Ayah!!" Lantas dia berdiri dari duduknya, dan memberi hormat pada ayahnya.
"Hormat jendral!! Saya siap melaksanakan tugas!!"
"Tak perlu formalitas, ayo duduklah dulu, ada sesuatu yang ayah perlu diskusikan dengan mu."
Mendengarkan itu, Alda menghela nafasnya, lalu kembali duduk di kursinya.
"Ada apa ayah? Apa ini ada kaitan dengan surat yang baru saja ku terima?"
Jendral Priyanto menatap lembut pada anak perempuan kesayangannya itu, lalu menghela nafasnya.
"Ya, benar sekali, ini ada kaitannya dengan surat dari CIA itu, kamu pasti tahu betul ini bukan surat undangan biasa."
Alda menganggukkan kepalanya, "Betul sekali ayah, surat ini di kirim dengan status kerahasiaan tingkat tinggi, ini membuktikan bahwa surat ini membawa misi SSS, namun setelah membacanya aku tahu surat ini tak menjelaskan detail misinya."
"Menang, karena memang di kesatuan ini hanya kepala kemiliteran dan ayah yang mengetahui detail misinya."
Setelah mengatakan itu ekspresi Jendral Priyanto berubah keras, tatapannya menajam.
Menyadari perubahan suasana dari ayahnya Alda lantas bertanya, "Katakanlah ayah."
"Misinya masih berkaitan dengan DE, bukan untuk melindungi suatu negara dari DE, kali ini CIA berencana menghancurkannya, CIA merasa perkembangan dan kekuasaan DE sudah terlalu membahayakan dunia, DE bukan hanya menguasai dunia bawah, bahkan DE juga ikut andil dalam pendanaan pemberontakan ISIS, itulah sebabnya CIA mengirim surat undangan, mereka memintamu agar kamu bergabung ke satuan khusus mereka, ini juga berlaku pada negara-negera kuat lainnya," Kata Jendral Priyanto serius.
"Nak, ayah tahu misi berat dan perlu pertimbangkan yang matang, maka dari itu ayah belum menyetujui pengiriman mu ke CIA lagipula ini adalah misi jangka panjang perlu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun menyelesaikannya, jadi pikiran lah dulu."
Sejenak Alda diam termenung, "aku tahu ayah," ucapnya akhirnya.
"Dan untuk keselamatan putra sulung presiden, jika kamu setuju pergi ke CIA, ayah akan mengatur perwira lain untuk mengantikan mu."
"Aku tak bisa memutuskannya sekarang ayah, berikan aku waktu untuk berfikir."
"Baiklah, hanya itu yang ingin ayah sampaikan, dan satu lagi jangan terlalu mediforsir tubuhmu, istirahatlah," Ucap Jendral Priyanto pada Alda, kemudian berbalik pergi.
Alda tersenyum mendengar itu, dia tahu walaupun ayahnya berwatak keras tapi ayahnya sangat menyayangi dirinya lebih dari apapun, itu sebabnya beliau masih memberinya waktu berfikir untuk misi CIA ini, "Aku akan ayah." Ucapnya dengan senyum simpul terpatri di wajahnya.
Selepas kepergian Jendral Priyanto, Alda meraih handphone yang sedari siang di biarkan tergeletak begitu saja
Di tekannya tombol power pada handphone dan begitu menyala handphone hampir saja meledak, karena notifikasi yang membombardir masuk.
Brak... Tak tahan dengan getaran tak kunjung berhenti, akhirnya handphone itu lepas dari tangannya dan terjatuh kembali dimeja.
Setelah sepuluh menit, akhirnya getaran itu berhenti, di liriknya handphone itu, terlihat ada ratusan notifikasi tertera pada display, total ada tiga ratus tiga puluh delapan pesan masuk, seratus sembilan belas panggilan tak terjawab kebanyakan itu berasal dari Ryan, Daniel, beberapa berasal dari Arjun, Natan, Kevin Dan Citra yang menanyakan kabarnya.
Alda membuka pesan yang berasal dari Ryan dulu yang sangat mencolok.
Tuan Ryan Mahendra
'Hei, ada dimana kamu?'
09.14 ✔✔
__ADS_1
'Alda Jawab aku! Dimana kamu sekarang!'
10.47✔✔
'Apa kamu pergi lokasi ledakan?'
16.15✔✔
'Hei jawab aku!! Dimana kamu?'
16.56✔✔
'Ayolah...jangan bercanda denganku, katakan dimana kamu'
17.39✔✔
'Kamu gila!! Balas pesanku bodoh!!'
18.27✔✔
'Cepat balas pesanku, bodoh!!'
20.53✔✔
'Tidak perlu perlu membombardir ku dengan mengirimkan ratusan pesan tuan mahendra, kamu itu? itu sangat menganggu oke, aku baik-baik saja.'
'Satu lagi, tolong bantu aku meminta izin dosen selama lima hari ke depan.'
21.33✔✔
Baru setelah membalasnya, Alda beralih pada pesan yang lain, lali membalasnya secara singkat.
Namun saat dia akan letakkan nya, benda pipih kembali bergetar menandakan terdapat pesan masuk baru.
'Kamu baik-baik saja kan? Tak terluka?'
'Kenapa meminta izin selama lima hari, kamu sakit, Kamu tahu kan satu minggu lagi kelas kita akan ada pembagian latihan kerja.
21.40✔✔
Membaca isi pesan itu membuat Alda memutar manik hazel nya, jengah akan kelakukan Ryan yang tak pernah berubah.
Namun entah kenapa dia tak merasa marah, malah dia merasa agak geli dengan perhatian yang Ryan berikan kepadanya, karena itu tanpa dia sadari sinar matanya lembut.
Tak perlu banyak tanya, lakukan saja apa yang ku minta.
21.44✔✔
'Oke'
21.45✔✔
Baru setelah itu akhirnya handphone kembali diam, di letakan nya handphone itu, lalu beralih memeriksa berkas-berkas yang sudah menumpuk di mejanya, sejenak suasana menjadi senyap dengan kesibukan Alda.
Tok tok tok... bunyi ketukan kembali terdengar pada pintu ruangan nya, dan di susul sebuah suara setelahnya.
'Lapor Mayor, saya Sersan Lutfi datang melapor!'
"Masuklah," Balas Alda langsung setelah mendengarnya.
Sesaat setelah itu Sersan Lutfi melangkah masuk, di tangannya terdapat tumpukkan kertas putih, "Lapor Mayor, laporan dari kepolisian yang anda minta telah sampai," Kata Sersan Lutfi seraya menyerahkan berkas di tangan nya pada Alda, dan di terima olehnya.
Manik hazel nya menelusuri kata demi kata yang terdapat pada ke kertas putih itu dari lembar satu ke lembar berikutnya tak satupun dia lewatkan.
Di sini nya Sersan Lutfi tetap berdiri dengan sikap sempurna sembari menunggu Alda selesai memeriksa.
Berkas putih dengan berlogo kepolisian itu yang terima Alda adalah laporan berisi rekap kejadian ledakan pagi tadi dari kepolisian dan Alda meminta salinannya secara khusus, memang benar, kasus ini bukanlah wewenangnya untuk dapat ikut campur namun entah kenapa Alda merasa ada yang janggal pada kejadian ini, dari kaca agen profesional seperti nya dia tahu para pelaku terlalu pintar dalam bertindak.
Bukan maksudnya memuji para pelaku kejahatan itu, tapi memang benar dari hasil pengamatannya pelaku bertindak sangat bersih tak meninggalkan jejak apapun yang dapat mereka jadikan petunjuk dalam penyelidikan. Bahkan sampai saat ini pun pihak kepolisian belum mengantongi bukti apapun.
__ADS_1
Menghela nafas lelah, Alda mengarahkan tangannya pada lipatan di antara kedua alisnya, memberi pijatan guna meredakan nyeri yang tiba-tiba menderanya, di rasa cukup Alda mendongak kembali menatap Sersan Lutfi yang masih setia pada posisinya, "Lalu bagaimana hasil autopsi dari korban meninggal dunia?"
"Lapor Mayor, kami belum menerima hasil yang spesifik dari pihak laboratorium karena sampai saat ini proses autopsi masih berlangsung, tapi...."
"Tapi apa? Cepat katakan!" Ucap Alda cepat.
"Tapi kemungkinan besar mereka sudah menemukan suatu zat pada tubuh korban, mereka mengatakan zat ini ber molekul hampir serupa dengan narkoba namun pada saat bersamaan dia berevolusi menjadi pada dengan masanya juga meningkat, pihak laboratorium menduga ini adalah versi kuat narkotika yaitu opium dengan jenis morfin yang dapat seketika melemahkan saraf manusia dan berujung kematian setelah di konsumsi, selain itu pihak laboratorium juga menyimpulkan zat ini berasal dari luar bukan di konsumsi korban secara sengaja."
Sekejap garis redup melintas dalam matanya saat mendengar itu, tekanan auranya meningkat tajam membuat suhu ruangan terasa mencekam.
Perubahan ini cukup untuk menekan Sersan Lutfi, membuatnya berkeringat dingin tak berani mengucapkan sepatah katapun. Jangan kan berbicara bahkan bergerak pun dia tak berani.
Sosok Alda inilah yang sangat di takuti bawahannya bahkan para pasukan khusus yang sudah terlatih pun tak terkecuali. Dia hanya diam tak melakukan apapun, tapi aura gelap miliknya sudah cukup membuat orang bergidik ketakutan.
Bagi mereka Alda yang seperti ini adalah cerminan dari Asura yang telah merangkak dari neraka lapis ke-18 siap untuk menumpahkan darah.
"Opium? Maksudmu ada zat dari bunga papaver somniferum dalam tubuh korban meninggal? Lalu Apakah dalam tubuh lain juga di temukan zat ini?"
Dengan terbata Sersan Lutfi menjawab, "Benar mayor."
"Baiklah, kamu boleh pergi, informasikan pada laboratorium besok saya akan datang." Ucapnya pelan, namun bagi sersan Lutfi itu seperti mendapatkan amnesti dari hukuman mati, dia segera menganggukkan kepala, "Baik mayor, saya akan," dan secepatnya melangkah keluar.
Setelah kembali sendirian Alda jatuh pada kondisi termenung, di otaknya tengah terjadi pertengkaran hebat dengan berbagai informasi yang terasa tumpang tindih.
Opium atau dengan nama lain di sebut poppy adalah getah yang berasal dari tamanan Papaver Somniferum yang di hanya bisa di tumbuh di daerah pengunungan subtropis.
Tamanan ini di kenal sebagai 'si cantik namun mematikan', dalam golongan narkotika poppy di berada di tingkat teratas karena mempunyai kandungan alkaloid tertinggi.
Bangsa Sumeria (3400 SM) menyebutkan poppy sendiri gui hul atau tanaman kegembiraan karena dia berkerja langsung pada pusat saraf melemahkan rasa sakit.
Pada abad pertengahan opium sering di jadikan tananam hias karena keindahannya, mahkota bunga nya berwarna ungu dan putih, namun di balik keindahan itu tersembunyi bahaya yang sesungguhnya.
Lalu pada masa ini opium telah di olah menjadi berbagai macam produk narkotika lain, seperti lates, morfin, dan sebagai nya.
Dan kemungkinan zat morfin inilah yang di temukan pada tubuh korban ledakan. Karena dari jenis nya morfin berbentuk bubuk lembut, apabila terhirup akan langsung bercampur dengan jaringan darah.
'Mungkinkan ada bubuk morfin dalam bom itu?'
Sepintas kalimat itu muncul dalam otak Alda, saat dia tengah berfikir bagaimana mungkin ditubuh semua korban meninggal tiba-tiba terdapat zat narkotika padahal mereka tak mengkonsumsi nya.
Apalagi sudah di konfirmasi bahwa zat itu berasal dari luar. Jadi hanya ada satu kemungkinan zat itu tercampur pada bom ataupun bisa dikatakan tercampur pada bahan peledak nya.
'Zat ini tak akan ada efeknya pada orang yang sudah meninggal jadi tak mungkin hanya seperti ini, kecuali tujuan mereka melakukan pengeboman bukanlah untuk membunuh, melainkan meracuni.'
Begitu Alda memikirkan kembali kesimpulan yang didapatnya, seketika matanya berkontraksi menjadi lebih menakutkan, ekspresinya keruh, juga aura gelapnya terasa semakin tajam bak mata pisau yang membuat bergidik ketakutan.
Untungnya ada siapapun selain Alda di ruangan ini, bila tidak? Tak yakin apa yang akan terjadi pada orang itu.
Alda Menekan tombol kecil di alat hubung yang di terletak lipatan kerahnya, dan memberikan perintah, "Sersan Lutfi, segera kirimkan sempel serpihan bom yang kita miliki pada laboratorium kimia, biarkan mereka melakukan uji coba pada serpihan itu agar di ketahui zat apa saja yang terkandung di dalamnya, lalu minta para dokter melakukan tes darah pada para korban yang terluka."
'Siap laksanakan mayor,' jawab Sersan Lutfi dari sebrang, dia tak pernah mempertanyakan apapun keputusan yang di ambil Alda, karena Lutfi sendiri tahu apapun itu pastinya sudah alda di pertimbangan masak-masak.
🍁🍁🍁
Asura dalam mitologi Hindu disebut sebagai pengusaha suatu alam yang mempunyai sifat haus darah, suka berperang, dan memusuhi para Deva (Dewa), mesti pun memuja Trimurti (tiga dewa agung).
Definisi berasal dari website terpercaya.
🍁🍁🍁
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA
1809 KATA IKMA
Bojonegoro, 20 Agustus 2020
Kak Ikma
🍁🍁🍁
__ADS_1
MAMPIR JUGA KE CERITA YANG LAIN!!
Bukan Pernikahan Kontrak & Eternal Love: Two life Two World.