
SELAMAT MEMBACA!
JADILAH PEMBACA JUJUR!!
🍁🍁🍁
Dalam kamar asramanya Alda tengah berkutat dengan segala bentuk dan hal yang berkaitan dengan DE mulai dari file hard disk sampai file soft disk.
Jika ini adalah dua bulan lalu maka Alda tidak terlalu akan ambil pusing, karena pada saat itu dia sudah menarik diri dari tugas ini, sebagai bodyguard Ryan.
Dan sangking sibuknya dengan apa yang dia kerjaan Alda sampai tidak sempat memantau keamanan ruang Ryan, ceroboh? Ya Kalian boleh mengatakannya ceroboh.
Namun mau bagaimana lagi selain harus menjaga keselamatan Ryan, Alda juga harus menyelesaikan pokok masalahnya.
Dan pokok permasalahan dalam misinya kali ini adalah DE.
Masih ingat dengan DE? Ya, DE atau bisa di sebut Devil Emperor, jaringan mafia internasional yang telah lama menjadi bulan bulanan polisi internasional, itu karena banyaknya kekacauan yang mereka buat, salah satunya adalah melakukan pendanaan pada gerakan terorisme internasional ISIS, dan tentunya itu membuat geram sebagian besar negara negara di dunia.
Dengan fokus penuh Alda mempelajari file di tangannya, di dalam file itu tertulis Devil Emperor yang pertama kali memperkenalkan dirinya di Sidney Australia pada tahun 2015, berada di bawah kendali bos besar bernama Mr. Jon.
Tak ada yang tahun seperti apa wajah bos besar itu karena setiap kali muncul, dia selalu mengenakan topeng perak dengan pola ukiran lili spider merah, namun satu yang jelas dia seorang dengan kepribadian yang luar biasa.
Sejak saat itu dari tahun ke tahun pengaruh DE di bawah kepemimpinan Mr. Jon semakin meningkat, daerah kekuasaan mereka juga semakin meluas dari daerah Sidney ke sekitar Australia bahkan sekarang hampir seluruh benua Australia telah mereka kendalikan.
Memang di permukaan benua Australia tampak tentram dengan negara-negara yang berdiri dalamnya.
Namun itu hanya di permukaannya, karena sebenarnya pengendali di belakang layar benua Australia adalah DE, mereka mengendalikan politik dan poros peredaran uang hampir di seluruh benua.
Membaca kata kata itu membuat Alda berperang dengan pikirannya, mencerna informasi yang di dapatnya.
Dan karena kesibukannya itu, Alda tak memperhatikan keadaan sekitar, terutama pada laptop yang menampilkan area kamar Ryan saat ini tengah kosong, tak terlihat penghuni nya.
Entah apa yang sedang di lakukan nya.
"Jika terus begini, sepertinya masalah ini tidak akan ada selesai." Ujar Alda menghela nafas, mendongak menatap langit langit kamar.
"Mau tidak mau harus turun tangan sendiri.... " Lanjut nya.
Ditatapnya lembaran kertas yang berserakan itu, sungguh rasanya Alda ingin berteriak!!
Beranjak dari ranjangnya, Alda beralih pada laptopnya, di tatapnya benda kotak di hadapannya itu.
Bolak balik Alda mengalikan tatapan nya pada beberapa layar kecil yang tersaji di display laptopnya, membandingkan satu sama lain.
"Dimana Ryan, kenapa tak satu pun kamera mikro menangkap gambar nya," Ucap Alda mengutik-atik keyboard laptopnya.
Plak... menepuk jidatnya sendiri, Alda merutuki kebodohannya.
"Ah lupa, aku memasang GPS padanya, semoga saja Ryan belum menyadarinya," Alda bergegas menyambar handphone nya yang tergeletak sembarang di atas ranjang.
Namun belum sempat dinyalakan, layar handphone di tangannya sudah lebih dulu menyala.
Tertera sebuah notifikasi pesan WhatsApp berasal dari nomor yang sangat di kenal Alda, siapa lagi kalau bukan Ryan.
'Tak perlu membalas pesan ini, cukup datanglah ke rotrof asrama dalam lima menit.'
Alda menaikkan sebelah alisnya tak kalah membaca isi pesan itu.
'Kenapa dia?, tumben mengunakan pesan teks biasanya selalu mengunakan voice note sebagai perintah, kenapa sekarang seperti ini?'
Klunting... Notifikasi pesan kembali muncul.
'Cepatlah... Waktumu hanya lima menit.'
"Dasar tukang perintah." Alda berdecak kesal dan memutar bola matanya, namun tak pelak pada akhirnya dia tetap menyambar jaket lalu beranjak untuk menemui Ryan.
---
__ADS_1
Di rotrof asrama Ryan duduk di tepi pagar ditemani semilir angin yang menerbangkan anak rambutnya, pandangan menatap lurus pada kumpul awan hitam yang mulai berjajar, entah apa yang di pikirkan nya.
"Kamu sudah datang?" Tanya Ryan saat merasakan kehadiran orang lain di belakangnya.
"Hm..."
"Duduklah.." Pinta Ryan menoleh memandang wajah cantik itu, tak bisa di pungkiri dia sungguh terpesona dengan wajah cantik Alda.
"Kenapa memanggilku kemari?" Tanya Alda menolak untuk duduk.
"Duduklah dulu baru ku beri tahu."
Menuruti permintaan Ryan, Alda mendudukkan dirinya tepat di samping Ryan, ikut memandangi kumpulan awan hitam, dengan sesekali merapat jaket menghalau hawa dingin yang menghinggapinya.
Hampir sepuluh menit berlalu namun keduanya tetap bungkam, tak ada yang ingin bersuara lebih dulu.
"Jadi?" Alda akhirnya bersuara, tak tahan dengan kebisuan yang mencekam, di tatapnya wajah tenang Ryan yang tenang tak seperti biasanya.
"Lepaskan jaket mu," Perintah Ryan dengan wajah serius.
Spontan Alda berdiri, tatapan menyorot tajam pada Ryan. Tak habis pikir dengan ucapan Ryan.
"APA!! APA-APAAN!!"
"Kenapa memelototi ku seperti itu? Aku hanya memintamu melepas jaket mu." Balas Ryan tenang.
"Jangan melewati batas Ryan!!" Ucap Alda, nafasnya mulai berat menandakan saat ini dia tengah menahan emosinya.
Ryan beranjak dari duduknya, perlahan melangkah mendekati Alda, di tatapnya Alda lekat.
Tangannya terulur lalu--
Kreek!!
Di robeknya jaket itu, hingga bahu membuat bahu Alda terlihat.
plak!
Dilayangkan tamparan keras pada Ryan dan sebisa mungkin dia merapat jaket nya. Sungguh dia merasa terhina dengan kelakuan Ryan.
"Kamu menamparku? Aku hanya ingin melihat bekas tembak di bahu mu." Ryan berucap lirih.
"Tapi bukan seperti ini caranya."
"Lalu akankah kamu mau memperlihatkan jika aku meminta?" Tanya Ryan.
Alda terdiam mendengarnya, dan membuat Ryan tersenyum tipis "Tidak kan?"
Menatap tepat pada matanya Alda berkata, "Lalu setelah melihatnya kamu akan apa? Ini urusan ku, kamu tidak berhak ikut campur."
"AKU PUNYA HAK!!"
"ATAS DASAR APA KAMU BERHAK TERHADAPKU!!"
"ATAS DASAR AKU MENCINTAIMU!!"
Aku Ryan langsung, lega di rasanya karena akhirnya dia dapat mengungkapkan perasaan membuat gelisah selama ini.
"Apa katamu? Kamu bercanda dengan ku?" Alda linglung, wajahnya pias, dia sama sekali tak percaya dengan yang didengar nya.
Ryan meraih kedua tangan Alda, lalu di genggamnya erat erat.
"Aku mencintaimu, will you be girlfriend?"
"Cinta? Tidak, pekerjaanku tak memperkenankan aku untuk memiliki hubungan seperti ini." Aku Alda, dia sangat sadar akan konsekuensi dari pekerjaannya, hari ini mungkin dia masih hidup tapi bagaimana dengan esok.
"Juga aku tak paham dengan itu, maafkan aku." lanjut Alda menatap wajah tampan dihadapannya dan perlahan mengurai genggaman Ryan.
__ADS_1
"Aku tahu kamu akan seperti ini, namun tak apa, aku akan berusaha, kamu bisa memikirkannya, baru setelah itu berikanlah aku jawabanmu," Balas Ryan tersenyum tipis memaklumi jawaban Alda, mungkin jika gadis lain yang berada di posisi ini, mereka akan langsung pingsan.
"Aku tak bisa, maaf, " balas Alda cepat.
"Kenapa? Apa yang kamu takutkan, apa karena para pengemar ku? Aku bisa mengusir mereka semua." Ryan tetap kekeh tak ingin menyerah, juga dia sungguh tak habis pikir, kenapa Alda sangat keras kepala menolak nya, apa yang kurang dari dirinya.
Senyum mengejek timbul di bibir Alda saat mendengar serangkaian pertanyaan Ryan, lalu berkata dengan nada sarkas, "Bukankan sudah ku bilang pekerjaanku tak mengizinkan aku untuk memiliki hubungan semacam itu, dan kamu masih bertanya kenapa? Itu karena aku tak pernah tahu sampai kapan aku akan hidup, hari ini mungkin aku masih hidup tapi esok? bisa saja aku mati."
"Kalau begitu tinggalkan pekerjaanmu, mudah kan? dengan status ku saat ini, aku bisa melindungi mu!!"
"Mudah sekali kamu bicara? Kamu tahu, kamu yang sekarang ini sangat egois, sudahlah tak perlu ku perjelas lagi, aku juga tak ingin membahas ini." Setelah mengatakan itu Alda berbalik akan pergi.
Baru saat Alda akan mengambil langkahnya, Ryan bertanya sarat akan frustasi, "Lalu aku harus bagaimana!!"
Alda terdiam sejenak, tetap pada posisinya tak berbalik, lalu menjawab, "Jadilah seperti aku, mengabdi pada negara, dan kamu akan tahu apa yang aku rasakan!!"
"Baik, aku akan!!" putus Ryan yakin.
Senyum Alda mengembang tanpa dia sadari saat mendengar itu, lalu melangkah pergi.
Tepat saat Alda mencapai pintu Ryan menahannya dengan menggenggam tangannya, "Tunggu."
"Apa?" Alda menaikkan sebelas alisnya, ekspresi datar dengan tatapan tertuju pada genggaman Ryan, merasa Alda tak nyaman dengan genggaman nya, Ryan perlahan melepaskannya.
Dengan wajah yang terasa panas, Ryan menyodorkan sebuah cup kecil pada Alda.
"Ini, gunakan pada bekas lukamu, seorang gadis tidak baik mempunyai bekas luka."
Alda menerima cup itu, "terimakasih." ucapnya pelan, dan di anguki Ryan, segera setelahnya Alda berbalik tanpa menoleh lagi lalu menghilang di balik pintu, dan, -
Bruk!!
Tubuh Ryan melemah seketika selepas kepentingan Alda.
"Akhirnya... Akhirnya aku bisa mengatakan perasaanku," Lirih Ryan, dengan jantung yang berdebar kencang, dan nafas tak beraturan.
Jangan tanya mengapa? Itu karena sedari awal Ryan sudah sebisa mungkin mengendalikan dirinya, dan setelah Alda pergi, saat itu pula kendalinya hilang.
Dan tanpa sepengetahuan Ryan dibalik pintu itu, Alda jatuh terduduk, dan mencakup kan kedua tangannya di wajah yang bersemu merah.
Jika kamu bertanya, apakah pengakuan Ryan tak membuat Alda berdebar?
Bodoh! Jika Alda menjawab tidak.
Buktinya saat ini Alda tengah berusaha keras menenangkan debaran jantungnya sendiri yang bak sehabis lari maraton.
Mau bagaimana pun Alda adalah perempuan, dan ada kalanya saat dia merasa lebah seperti sekarang.
Bahkan rasa berdebar saat ini lebih besar dari saat dia pertama kali membobol kode rahasia markas besar militer Amerika Serikat yang akhirnya saat itu mengguncang dunia.
🍁🍁🍁
Yuhuu... Ikma update dong..
Gimana kangen gak?
Love love buat kamu kamu yang menantikan cerita ini update 😘
Thanks For Reading
Jangan lupa vote dan komen
"Satu Vote dari kalian sangat membangun semangat aku"
Bojonegoro, 17 Agustus 2020
Kak ikma
__ADS_1