
----
SELAMAT MEMBACA, DAN JUGA SEMOGA SUKA!!
----
Empat hari berlalu, dan hari ini adalah hari dimana Alda harus kembali ke universitas, setelah absen selama lima hari.
Dan empat hari belakangan ini, Alda gunakan untuk menyelesaikan semua pekerjaan utamanya yang menumpuk, mulai dari pelatihan anggota baru, penyelidikan, mata-mata, sampai interogasi silver wolf, dan sisanya dia serahkan pada sersan Lutfi.
Dan kembalinya dia hari ini bertepatan dengan diumumkannya pembagian tempat KKN (kuliah kerja nyata) dan pengumumannya sudah tertempel mading fakultas. Dan dapat dilihatnya kerumunan mahasiswa di sekitar mading.
Sebenarnya tanpa melihat pun Alda tahu kalau tempat KKN nya pasti akan sama dengan Ryan, itu tak perlu di ragukan lagi. Karena ini juga masih berkaitan dengan tugasnya sebagai penjaganya.
Dan benarkan dugaannya?
Tepat ketika Alda sampai dan melangkah masuk, dia melihat banyak teman-teman sekelasnya berdiskusi tentang KKN masing-masing, dan ketika dia hendak duduk sebuah tangan menghentikannya, dengan tangan lain mengambil tas ransel nya lalu meletakkan nya di meja secara sembarangan dan menatap tajam Alda.
Alda memutar manik hazel nya, dia sudah tak terkejut lagi akan kelakuan Ryan yang absurd itu atau lebih tepatnya Alda sudah terbiasa akan itu. Maka dari itu Alda memilih diam tak berontak dan menuruti kemauan Ryan.
Tak merasakan pemberontakan Alda, membuat Ryan di tenangkan begitu saja, dia perlahan menarik tatapan tajamnya dan melonggarkan cengkeramannya, lalu ke menuntun Alda untuk duduk dengan Ryan mengikuti di sebelahnya.
"Kemana kamu lima hari ini, kenapa tak memberi kabar apapun?" tanya Ryan langsung, matanya menelisik lekat-lekat Alda tak meninggalkan satu inci pun. Dan entah mengapa Alda merasa sedikit salah tingkah akan itu.
Menampik salah tingkah yang di rasakan nya, Alda lalu menjawab dengan dingin, "menjalankan tugas."
"Setidaknya berikan aku kabar, kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkan mu," balas Ryan tak mau kalah. Mendengar itu, Alda menghela nafas dan menjawab dengan perlahan, "baiklah tuan mahendra, aku minta maaf karena tak memberikan kabar, lain kalian aku tak akan melakukan itu."
"Aku serius!" Ryan menaikan nada suaranya , matanya memicing, jelas dia merasakan Alda hanya bermain-main saat menjawabnya.
"Aku juga serius Ryan, dan tolong jangan ikut campur terlalu dalam, aku memang punya tugas untuk penjaga mu tapi bukan karena itu kamu jadi punya hak untuk iku campur dalam misi ku yang lain," jawab Alda serius, ekspresinya berubah tajam. Itu membuat Ryan sejenak terdiam tak tahu harus menjawab apa, tepat sebelum dia akan menjawab, sebuah suara mendahuluinya.
"Wait wait ada apa ini, masih pagi sudah adu mulut," sela Daniel yang tiba-tiba duduk di depan keduanya dan dengan ringan memakan snack, seolah-olah dia sedang menonton pertunjukan yang menarik.
"Diam, bukan urusanmu," tukas Ryan tajam, namun tak di hiraukan Daniel, dia justru dengan sengaja melengos dan beralih bertanya pada Alda, "oh... Begitu oke, oh Alda nanti malam datang kan ke pembekalan KKN tahun ini?"
"Hm...." Alda menganggukkan kepalanya, tak bersuara lagi.
Merasa di abaikan, Ryan melototi Daniel, dia dengan sengaja menginjak kaki Daniel keras, membuat Daniel berjengit kaget, "aduh! lo ini apa apaan sih, sakit tahu... Aduh..." keluhnya seraya mengelus-elus kakinya yang terasa nyut-nyutan.
Dengan matanya yang melotot Ryan menatap tajam Daniel, menggertak kan giginya geram, dia memberi isyarat pada Daniel, 'pergi lo, jangan ganggu gue!'
Seolah mengerti Daniel tersenyum jenaka dan mengedipkan mata kirinya jahil, lalu beranjak pergi dengan sesekali bersiul dan bergabung dengan Arjun yang sedari awal juga tak melepaskan tatapan pada Alda.
"Baiklah aku minta maaf, tapi kamu baik-baik saja kan?" ucap Ryan pelan, sungguh sangat sulit baginya untuk mengucapkan maaf, seumur-umur baru kali ini dia mengucapkan kata itu.
"Seperti yang kamu lihat, aku baik," balas Alda cuek. Tapi walaupun begitu, itu sudah cukup bagi Ryan untuk meredakan kekhawatirannya, sontak tatapan berubah berbinar, dan bertanya kembali, "lalu, nanti malam mau datang bersamaku?"
"Tidak."
"Kenapa?" tanya ryan cepat, dia bahkan langsung menegak kan saat mendengar penolakan Alda secara langsung.
"Karena aku tak ingin menjadi bulan bulanan fans fanatik mu," cibir Alda menatap Ryan lekat.
----
Malam hari, pukul 19.10.
Dalam kamar asrama singel room nya Alda selesai bersiap dengan memakai setelan kemeja putih, celana serta pensil ketat lalu dipadukan dengan almamater universitas, dan tentunya dengan berbagai alat komunikasi dan keamanan yang tersembunyi rapi dibalik pakaiannya.
Sembari menunggu Daniel menjemputnya, Alda memilih bersantai dengan duduk di depan laptopnya mengawasi situasi kampus saat ini. Jangan lupa Alda sudah memasang banyak kamera super mini.
Dengan menekan klik dua kali pada sisi kanan mouse semua sudut pandang dari berbagai area kampus tersebut di hadapannya. Bahkan Daniel yang saat ini tengah berjalan menuju kamarnya pun tak luput dari pantauannya.
Dari perkiraannya dua puluh detik cukup untuk Daniel sampai. Jadi sebelum Daniel sampai Alda segera menutup laptopnya. Namun sebelum itu dia telah mengirim salinan rekaman yang di anggap penting ke ponselnya.
Dan tepat seperti perkiraan, setelah dua puluh detik suara ketukan terdengar dapat dia pastikan setelah ini Daniel pasti akan memanggilnya.
"Alda... Lo udah siap belum? berangkat yuk!" teriak Daniel terdengar dari balik pintu.
Tanpa menjawab, Alda langsung keluar, dan begitu keluar, dia langsung menutup pintu tak memberi kesempatan Daniel untuk mengintip kamarnya, "Ayo berangkat."
Seketika senyum manis terpatri di bibir Daniel saat melihat Alda, tampaknya dia tahu kalau akal bulusnya sudah terbaca.
Tak ingin ambil pusing, Alda lalu mengambil langkah tak memperdulikan Daniel lagi, lain dengan Daniel yang merasa terabaikan, dia bergegas menyusul lalu menyamai langkah Alda yang sudah beberapa langkah di depan.
Dan begitu keduanya sampai hampir seluruh tempat telah terisi.
Lantas Alda menelusuri seluruh ruangan untuk mencari keberadaan Ryan, karena Alda yakin Ryan pasti telah menyiapkan tempat untuknya juga Daniel.
Namun tak sampai sepuluh detik tiba-tiba seseorang memanggilnya, itu adalah Kevin, dia berjalan menghampiri Alda.
__ADS_1
"Mencari Ryan, dia ada di barisan ke dua," ucapnya di tujukan pada Daniel, kemudian beralih pada Alda, sebelum akhirnya berkata dengan pelan hampir seperti berbisik, "bisa kita keluar sebentar? ada yang perlu aku bicarakan."
Tanpa menjawab Alda menaikan alisnya, manik hazel nya menatap Kevin seolah bertanya, 'apa?'
Di sisi lain Daniel menatap keduanya curiga dalam benaknya bertanya-tanya, 'apa hubungan keduanya, kenapa tampak sangat akrab.'
"Misi," bisik Kevin, tepat di telinga Alda, mendengarnya Alda mengangguk, lantas dia menatap Daniel yang sejak awal Alda abaikan, "pergilah dulu, masih ada urusan yang perlu ku tangani, satu lagi katakan pada Ryan jangan sembarangan keluar masuk jika tidak ada yang menemani."
"Eh tapi...."
"Tidak ada tapi tapian," tandas Alda, "ayo," lalu melangkah keluar di ikuti Kevin di belakangnya.
Daniel menatap keduanya, sambil menggosok dagu dia makin bertanya-tanya dalam benaknya, 'apa aku melewatkan sesuatu? sejak kapan Alda dekat dengan pak Kevin, hmm.... ini mencurigakan.'
Di luar, Alda membawa Kevin ke sudut luar, yang sebelumnya sudah dia pastikan tidak ada orang disekitarnya.
"Apa?" tanya Alda.
"Aku baru saja mendapatkan e-mail dari kemiliteran, pagi ini badan imigrasi melacak beberapa pendatang ilegal di pelabuhan, mereka masuk mengunakan kapal nelayan lokal, saat petugas imigrasi mengecek cctv hanya ada rekaman saat berlabuh dan setelah nya kosong tak ada rekaman apapun lagi, dan saat di telusuri lagi-lagi tak ada jejak tersisa seolah-olah semua telah terhapus."
"Lalu?"
"Karena mengalami kebuntuan, pihak imigrasi akhirnya melaporkannya ke kemiliteran mereka meminta penyelidikan lebih lanjut, namun tepat sore tadi kemiliteran menemukan mereka ada sangkut paut nya dengan DE, karena itu kemiliteran meminta kita waspada, mungkin saja tujuan kedatangan mereka adalah keluarga kepresidenan."
"Aku mengerti," Alda mengangguk, "dan karena itu kamu tetaplah diluar, lakukan pengawasan seketat mungkin, jika ada yang mencurigakan segera beritahu aku."
"Baik," balas Kevin lalu segera berbalik pergi.
Sama Kevin, setelah itu Alda juga berbalik masuk, menuju tempat duduknya. Dan begitu duduk dia langsung disambut dengan pertanyaan Ryan, "dari mana?"
"Menanggani satu urusan."
"Dengan pak kevin?" tanyanya lagi.
"Iya," jawab Alda singkat.
Setelahnya Ryan diam, dia tak bertanya lagi, namun terlihat jelas wajahnya berubah keruh. tak bisa dipungkiri dia saat ini tengah cemburu.
"Ptf!" sontak Daniel, Arjun serta Natan mengencangkan bibir masing-masing, bibir ketiganya bergetar berusaha menahan tawa.
Jika saja saat ini mereka tidak di acara resmi pasti mereka sudah tertawa keras. Pasalnya sangat jarang untuk bisa melihat Ryan berekspresi seperti itu.
Merasa ditertawakan sontak Ryan melemparkan tatapan tajam, dan dari tatapannya seolah mengandung, 'teruslah tertawa dan mulai besok kalian tidak akan melihat matahari terbit,'
Segera ketiganya tutup mulut, dan mengalihkan pandangan, tapi dalam hati masing-masing berkata, 'Dasar tukang ancam!'
Tak ambil pusing dengan F4, Alda memilih mendengarkan dosen yang tengah menyampaikan sambutan. Yah walaupun tak mendengarkan secara seksama.
Setengah jam kemudian, wakil rektor naik ke podium, beliau yang akan memberikan pembekalan malam ini.
Namun baru beberapa menit tiba-tiba alat komunikasinya berdengung, jam tangannya juga berkedip. Tanpa sadar Alda mengalihkan pandangannya kearah Citra, melalui pesan singkat dia bertanya, 'Ada yang tak beres, aku akan keluar melihat situasi, kau tetap di sini.'
Dan di balas Citra dengan anggukan.
"Aku ke toilet sebentar," ucap Alda, lalu beranjak keluar.
Di luar, Klik.
"Ada apa? Jamku menangkap signal aneh."
'Gawat!! ada penyusup lebih dari 30 orang, kita terkepung, sepertinya sistem ku sempat diretas.'
"Apa!! ada banyak orang sekarang, cepat hubungi bantuan,"
'Aku sudah menghubungi kemiliteran, butuh lima menit untuk sampai.'
"Baik, dalam lima menit sebisa mungkin kita tahan mereka, aku akan minta Citra mengamankan orang-orang."
'Oke.' lantas Alda beralih sambungan, "Citra, aku tak punya waktu, saat ini kita dalam situasi genting, cepat amankan semuanya minta agar tak ada satupun yang keluar dari auditorium," perintahnya, lalu mengeluarkan Revolver dari balik kemejanya dan segera berlari keluar.
Bersamaan dengan itu di Auditorium, Citra tiba-tiba naik ke podium, lalu dengan cepat meraih microphone wakil rektor, "maaf Pak, ini situasi darurat."
Sontak tindakannya itu membuat semuanya berkasak-kusuk.
"Apa yang di lakukan bu Citra?"
"Apa ini? kenapa dengan bu Citra?" dan lain sebagainya.
"Semua diam!!" tapi bukannya diam, suasana disekitar malah semakin tak terkendali.
Hingga, Dor!! suara tembakkan mengagetkan mereka, "Agen Citra, Densus 88," Citra mengeluarkan lencana nya.
__ADS_1
Seketika suasana berubah hening, tak ada yang berani bersuara.
"Ini bukan simulasi, saat ini situasi darurat, ada kelompok penyusup bersenjata dalam area kampus, saya mohon dengan sangat tetap di sini, jangan ada yang melangkah keluar."
"Apa!!" serentak ruangan kembali berisik, tangisan dimana-mana, bahkan ada beberapa yang pingsan.
Dor!! peluru revolver nya melesat melubangi kepala pria serba hitam di pintu.
"Aaaaa....."
-----
Di lain tempat Alda berjalan mengendap-endap, di tangannya kini siap siaga pistol P229 dan sudah dipasang peredam suara, dengan kacamata night mode dia dengan lincah menghindari penyusup melangkah dari satu koridor ke koridor lainnya , matanya memicing memindai sekitar, dengan pelan Alda "tiga orang didepan jarak lima meter, satu di kanan sepuluh meter, dan dua di kiri tujuh meter."
"Kevin, dua orang di kiri ku serahkan padamu."
'Baik.'
Setelahnya tubuh Alda melesat maju mendekati penyusup, pekatnya malam seolah mendukungnya dalam menyamarkan diri hingga ketiga penyusup itu tak menyadari kehadirannya.
Bruk!! tanpa tunggang langgang dia menembak mati salah satunya, mengagetkan yang lain. Melihat itu Alda mengukir senyum miring, "tak perlu kaget, karena beberapa detik lagi itu giliran kalian."
Dan Clak, tanpa berkedip dia mematahkan leher keduanya, percikan darah menghiasi bajunya. Selesai dengan itu Alda berlalu, dia melangkahi mayat itu begitu saja, dan terus melangkah.
Dan setiap kali dia mendeteksi penyusup pasti langsung dibunuhnya entah dengan menembak mati ataupun mematahkan leher, sama sekali tak ada belas kasihan hanya haus darah mirip gambaran asura, Alda yang seperti ini tampak sangat menyeramkan,
"dua belas," ucapnya menatap dingin mayat didepannya.
'Klik, Al bantuan tiba, situasi sudah terkendali.'
"Baik," balas Alda lalu berbalik, langkahnya cepat tapi tidak tergesa.
Alda memasuki auditorium, dikedua tangannya terdapat revolver, berhenti, dia menelisik seluruh ruang hingga akhirnya tatapannya jatuh di F4, sejenak nafasnya ringan setelah melihat bahwa mereka aman.
Tapi kedatangannya justru membuat mereka merasa lebih takut, terlebih dengan baju berlumuran darah serta auranya yang dingin.
Mengerti keadaan mereka, Alda lantas mengeluarkan lencana nya, "Mayor Alda, pasukan khusus kemiliteran angkatan darat."
"Saat ini situasi telah terkendali, mohon tetap mematuhi instruksi, dan untuk meninggalkan tempat, kami dari kemiliteran akan mengawal kalian.
Selepas mengucapkan itu serangkaian suara terdengar mendekat, itu adalah Kevin dan beberapa pria berseragam militer dengan senjata lengkap, Kevin keluar dari barisan lalu mendekati Alda, "Alda, kami sudah meringkus semua, delapan hidup dan sembilan mati, total 34, kami membawa mereka di sini."
Pria itu kemudian menyeret satu pria yang sudah babak belur. namun sebelum ditanya pria itu sudah lebih dulu berbicara, "percuma bertanya padaku karena aku tak pernah menjawabnya, cuh!" dan meludah.
Alda menaikan alisnya, wajahnya dingin, "begitu kah, kalau begitu kamu tidak berguna, bawa mereka!!"
"Baik!" jawab mereka serentak, lalu menyerat para sandera keluar.
"Hahahaha...." tiba-tiba tawa terdengar dari salah satu satu sandera. "walaupun misi malam ini gagal, tapi aku akan membawa kegagalan ini mati bersamaku hahaha."
Dor!! Dor!! peluru melesat menembus dada Alda.
"ALDA!!" teriakan keras menggema.
Alda yang belum sadar, menunduk menatap luka berdarah di dadanya. Bruk! seketika tubuhnya luruh dan terjatuh.
Dor!! Kevin yang tersadar langsung menembak mati pria itu, kemudian melesat menuju Alda. Begitupun dengan Citra.
Tapi didahului Ryan, dia segara menangkap tubuh berdarah Alda, memangku nya lalu memeluknya erat-erat tak ingin melepaskan. "bangun, Alda...kumohon," bisik Ryan menetaskan air mata. Dia dengan kalap meletakkan tangan di dada Alda berusaha sebisa mungkin menahan darah yang keluar.
Mungkin karena mendengar bisikan ryan, Alda perlahan membuka matanya, "Ryan...."
"Alda... kau bangun, aku tahu kamu kuat...ku mohon bertahanlah...." Ryan tersenyum lega, tangannya masih menahan darah yang keluar, tapi kemudian dia sadar usahanya sia-sia. Lantas dia berteriak, "Rumah sakit... cepat hubungi rumah sakit!! cepat!! aku bertahanlah, jangan tutup matamu."
"Uhuk, tak perlu uhuk huh huh untuk menghubungi rumah uhuk sakit aku uhuk tahu keadaan ku sendiri," lirih Alda, seteguk darah mengalir dari mulutnya.
"Tidak, kau akan selamat, cepat hubungi rumah sakit!!" teriaknya lagi.
"Cukup, uhuk jangan berteriak, mendekat lah" Ryan segera mendekat, dan menunduk, "uhuk jalani hidupmu, aku mencintai... mu," Alda perlahan memejamkan matanya.
Dan Bruk!! tangannya terjatuh.
"TIDAK....!!" segera Ryan meraup tubuh Alda, "kumohon, buka matamu, jangan tinggalkan aku...." bisik nya, tapi tak ada respon.
"tidak, hiks... kumohon bangun...."
-----
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA, JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!!
----
__ADS_1
Bojonegoro, 25 Agustus 2020
Kak ikma