
Alda berjalan tergesa menuju kamar Ryan, dia rasanya sangat ingin meluapkan amarahnya pada Ryan.
dua bulan telah berlalu, dan selama dua bulan itu pula hari hari Alda tak pernah tenang.
Ryan selalu saja membuat ulah yang memusingkan Alda, di mulai dengan Ryan bilang dia selalu merasa diawasi sehingga selalu merasa takut, ada pula saat Ryan mengaku bahwa seseorang telah menabrak nya padahal Alda tahu Ryan saat itu hanya terserempet mobil dan tak terluka serius.
juga ada saat Ryan mengaku dirinya sudah diracuni, padahal itu adalah obat pencahar yang sengaja di campurkan oleh Ryan sendiri.
Dan hari ini adalah puncaknya, Ryan mengatakan bahwa tadi malam ada yang mencoba membunuhnya, pelakunya masuk dengan menerobos kamarnya dan memecah kaca jendelanya,
lalu pagi ini Ryan melapor pada atasan militeran bahwa bodyguard nya tak ada yang kompeten.
Ryan meminta agar Alda kembali ditugaskan menjadi bodyguard nya.
Braak!!
tanpa tunggang langgang Alda menendang pintu kamar Ryan, reflek semua menoleh saat saat Alda.
"Alda!!!" seru semuanya. terutama Ryan, dia sungguh terkejut, namun juga senang dengan kedatangan Alda, itu berarti rencananya tak sia sia.
saat itu suasana kamar sedang ramai, karena F4 tentunya, mereka duduk di samping ranjang Ryan, dengan Ryan berbaring di ranjang nya, kepadanya juga di perban.
"keluar!!“ ucap Alda tatapannya tertuju pada Ryan.
"apa, ada apa Alda?" Daniel bertanya kebingungan.
"KELUAR!!" tukas Alda lagi, kali ini dengan suara naik satu oktaf, auranya juga menakutkan.
ketiga anggota F4 itu merasakan kedinginan dari diri Alda, karena itu mereka memutuskan keluar dari kamar Ryan, dan meningkatkan Alda berdua dengan Ryan.
"bangun, tak perlu berpura pura." tandas Alda.
"tak bisa, aku harus banyak istirahat" ujar Ryan pelan, berpura pura lemah.
"aku bilang bangun!! aku tahu kamu tak terluka sedikitpun." Alda berdiri di seberapa Ryan, Alda dengan kasar menarik selimut Ryan.
mau tak mau akhirnya Ryan bangun dari tiduran nya, lalu bersandar pada kepala ranjang.
"Dari mana kamu tahu? bahkan F4 yang lain pun tak tahu." tanya Ryan, menatap lekat Alda.
"kamu tanya aku tahu dari mana?" bukannya menjawab Alda malah bertanya balik.
Tatapan Alda beralih pada ke sekeliling kamar Ryan, lalu kembali menatap Ryan, Alda tersenyum simpul.
"kamu tahu Ryan, mataku ada dimana mana termasuk di sini."
Ryan mengerutkan kening nya, mencerna perkataan Alda.
"Oo... aku mengerti sekarang, jadi kamu memata-matai ku selama ini, apa aku benar Alda?" senyum Ryan mengembang.
Alda duduk di ranjang Ryan tepat di sampingnya.
"Ya, bahkan aku tahu, semua ulah mu selama ini. melapor ada penyusup dan melukai mu padahal hanya terkatuk ujung meja."
"dan ini? hanya untuk membuat ku kembali, kamu melukai dirimu sendiri." Alda mengulurkan tangannya pada perban di kepala Ryan dan mengelus nya.
"Argh" ringgis Ryan kesakitan.
"sakit?"
__ADS_1
"iya" Ryan menganggukkan kepala memelas, dia sungguh senang dengan perhatian Alda, jarang Alda seperti ini.
plaak!!!
bak di terbang kan tinggi lalu di hempas kan, itulah yang dirasakan Ryan. saat Alda dengan tega memukul lukanya.
"rasain, itu balasan yang kamu dapatkan bila membohongi orang lain. bangun jangan berlagak lemah lagi." Alda menarik tangan Ryan, memaksanya duduk tegak.
Ryan memanyunkan bibirnya, dan menuruti Alda dengan ogah ogah an.
❤❤❤
kriet... Alda keluar dan menutup pintu.
begitu berbalik, Alda di kejut kan depan kehadiran Daniel yang menatapnya lekat.
"ada apa? apa yang kamu lihat" tanya Alda menyilang kan tangannya.
"apa ini benar benar dirimu Alda?" tanya Daniel masih tak percaya.
"apa aku transparan?"
"tidak." jawab Daniel polos, kadang Daniel juga bisa se polos ini.
"berarti aku nyata, mudah kan." tukas Alda, lalu berbalik pergi, dan menteng ranselnya.
Daniel segera mengikutinya.
"eh eh kamu mau kemana?“
" mau membunuh orang, kamu mau ikut?" Alda menoleh pada Daniel.
jika iya maka dia akan ikut melakukan tindak kriminal, dan jika tidak dia yang akan di bunuh Alda.
"bodoh, tentu saja aku akan menata kamar asrama ku, dua bulan tak berpenghuni pasti sangat berdebu." setelah mengatakan nya, Alda menerogoh saku jaketnya dan mengeluarkan kunci.
menoleh pada Daniel, Alda memperlihatkan kuncinya, membuka pintu lalu masuk.
"masuk."
"aku?" Daniel menunjuk dirinya sendiri.
"apa ada orang lain di sini? dan bukannya kamu berniat membantuku." tanya Alda menatap Daniel tajam, tatapan nya seolah mengatakan.
'Kamu di sini jadi kamu harus membantuku, kalau tidak, mati kamu!!"
Di otak Daniel muncul bayangan Alda yang memegang Revolver dan membidik jantung nya.
"oke oke."
"nah gitu kan mudah" Alda tersenyum simpul yang jarang terlihat pada sosoknya.
❤❤❤
paginya...
F4 berjalan menyusuri koridor fakultas seperti biasa, mereka berjalan beriringan dan tentunya dengan Alda di belakang mereka, masih membawakan barang Ryan, ingat masa perbudakan Alda belum berakhir.
sedangkan Ryan, dia masing melanjutkan aktingnya, dengan berpura-pura lemah, dan tentunya itu membuat para pengemar simpati.
__ADS_1
maka dari itu dalam sekejap, Alda yang awalnya hanya membawa barang Ryan kini bertambah membawa barang barang pemberian pengemar Ryan.
sampai ruang kelas.
Bruk!!
Alda menaruh barang barang di meja Ryan serampangan.
Ryan yang baru saja duduk mendongak menatap pada Alda.
"kamu kenapa?"
"kamu tanya aka kenapa? nih!!!" Alda melempar sebungkus kodo pada Ryan. Alda tengah kesal saat ini.
"iya, terus kenapa?" tanya Ryan biasa, dia bertingkah seolah tak tahu dengan kemarahan Alda.
"Tuan Ryan yang terhormat, aku memang budak mu, tapi dalam kesepakatan itu, aku hanya perlu membawa kan barang barang, BUKAN BARANG BARANG SEPERTI INI!!!" ujar Alda mengeram, dan Melotot pada Ryan.
"ini juga barang barang ku jadi kamu membawanya, dan Alda bukankan kamu bodyguard ku? bagaimana jika aku melapor pada atasan militer tentang ketidak disiplinanmu ini?"
Alda mengeluarkan revolvernya secara tersembunyi, lalu menodongkan nya di perut Ryan.
"Ingin melaporkan ku? silahkan, Aku juga bisa melakukan ini" Alda tersenyum miring, dan menarik pelatuknya.
Ryan menelan air liur sendiri, seketika dia merasa kerongkongan nya kering.
busss....!!
hanya angin yang keluar dari revolver itu.
"bagaimana? ini mungkin revolver kosong, tapi bisa saja nanti aku menodong mu dengan yang berpeluru.“
Ryan menoleh pada Alda dan tersenyum kaku, sungguh barusan Ryan telah merasakan apa yang namanya spot jantung, dan itu menakutkan. oke.
"Turunkan, please? aku tidak melapor oke." ucap Ryan memelas. tangannya menjauhkan revolver Alda dari perutnya.
"apa? masih ingin melapor?" tantang Alda.
"Gak, gak jadi kok, gak jadi" balas Ryan, dia reflek menggelengkan kepala.
"Hehe good boy" Alda tertawa kecil lalu menepuk nepuk kepala Ryan, seolah Ryan adalah anak anjing kecil, dengan Ryan yang hanya memanyunkan bibirnya.
Dan untungnya tak ada yang melihat kelakuan absurd keduanya itu, jika tidak entah bagaimana malunya mereka.
❤❤❤
Hai Hai ikma cantik update loh.
maaf lama, otaknya lagi trouble.
like, vote, coment gaes. kritik bila menemui kesalahan atau typo pada tulisan ikma.
juga favorit kan ya gaes supaya kalian gak ketinggalan saat ikma update, pokoknya dukung ikma untuk terus berkarya. 😍😍
Bojonegoro, 12 April 2020.
salam cinta
ikma cantik ❤
__ADS_1