
"Kehadiranmu memporak-porandakan hidupku yang teratur, kamu menyusup lalu menetap di sana."
Alda Setiara Dewi
๐๐๐
Selamat Membaca
Abis membaca wajib tekan vote, kenapa? Anggap aja itu upah ku (โงโโฆ)/
๐๐๐
Pagi hari.
Di ruang kelas, Alda tengah duduk seorang diri dengan mengutak-atik handphonenya, suasana di sekitarnya masih hening.
Kerena memang baru beberapa mahasiswa yang datang dan kebanyakan dari mereka lebih memilih duduk duduk di depan kelas.
Alda memang sengaja datang lebih awal, tepatnya pada tiga puluh menit sebelum lonceng masuk di bunyikan.
Kalian tanya alasan?
Tentu saja karena kejadian kemarin, dimana Ryan tiba-tiba saja mengungkap kan perasaannya.
Memang di permukaan Alda tampak tenang tak terlihat terpengaruh sama sekali dengan ungkapan Ryan, namun di balik ketenangannya itu, nyatanya Alda menyembunyikan hatinya yang mulai goyah.
Seraya menunggu waktu berlalu, Alda mengambil earphone, memakainya, dan mendengarkan musik ballad favoritnya. Dengan bertopang dagu, kelopak matanya terpejam ikut menikmati alunan nada yang di dengarnya.
Tak terasa waktu berlalu, teman sekelasnya mulai berdatangan.
Bruk..
Suara hempasan itu mengusik Alda, membuat nya membuka kelopaknya, dan menoleh pada objek sumber suara.
"Bisakah kamu sedikit tenang?" tanya Alda pada sang empu suara.
Bukannya menjawab sangat empu malah bertanya balik, "Apa aku menganggu mu?" Dengan di akhiri senyum manis khas Ryan.
"Tak," balas Alda singkat padat jelas yang jelas menohok Ryan.
"Oooh...." Ucap Ryan mendudukkan dirinya, lalu menggeser tempat duduknya, mendekat pada Alda, "Oh ya, bagaimana jawabannya?"
Menaikan sebelas alisnya Alda bertanya, "Jawaban apa?"
"Jawaban yang kemarin."
Deg!
Alda melotot menatap Ryan, jantungnya mulai berdebar.
'Apa aku mengalami sakit jantung? , sepertinya sejak kejadian kemarin jantung ku semakin berdebar,' tanya Alda dalam batinnya.
"Baru satu hari dan sekarang kamu sudah bertanya jawaban ku?"
"Iya, siapa tahu kamu sudah memikirkannya," Ucap Ryan tersenyum simpul.
"Aku belum memikirkannya," Balas Alda, bukan belum memikirkannya tapi memang karena dia berusaha tak memikirkannya.
"Baiklah, aku masih punya waktu enam hari ke depan," Putus Ryan tak menyerah.
Ting!
Sebuah notifikasi e-mail muncul di layar handphone Alda, di lihatnya isi notifikasi itu.
Seketika bola matanya membesar.
Ryan yang melihat perubahan pada raut wajah Alda bertanya, "Apa? Kenapa terkejut begitu?"
Tak menjawab pertanyaan Ryan, Alda bergegas meracuti barangnya, dan beranjak dari duduknya, namun sebelum itu dia berkata pada Ryan, "izinkan aku pada semua dosen hari ini," Lalu dengan langkah tergesa keluar dari kelas.
Bertepatan dengan Daniel dan Natan yang juga baru memasuki kelas, "Hei alda, mau kemana?" tanya Daniel.
Namun tak di jawab Alda, dia tetep berjalan tanpa menoleh lagi.
"Kenapa dengan dia?" Tanya Daniel pada Ryan yang masih menatap kepergian Alda.
"Entahlah," Jawab Ryan dengan menaikan pundaknya.
๐๐๐
Berpacu dengan waktu Alda melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata. Tak tangung-tangung dia membawa motornya dengan kecepatan seratus tiga puluh kilometer per jam.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali dia melanggar rambu lalu lintas, namun bukan itu yang perlu Alda pikiran sekarang. Prioritas nya saat ini adalah sesegera mungkin sampai pada lokasi.
'Bagaimana keadaan di lokasi?' dengan tetap fokus mengendarai motornya.
'Lapor mayor, keadaan luar sekarang kondusif, kami sudah mengevakuasi semua orang, kami menemukan tiga meninggal dunia, dua puluh orang terluka akibat serpihan kaca dan masih ada beberapa orang terjebak di lantai tiga, kami memperkirakan ada sekitar tujuh orang, selebihnya kami sudah mengamankan lokasi agar tidak ada yang mendekat.'
"Lalu bagaimana dengan pelaku?"
'Menjawab mayor, sejauh ini kami belum menemukan petunjuk mengenai pelaku, kami curiga cctv sudah di manipulasi karena saat memeriksa tak ada rekaman pada jam kejadian.'
"Baiklah, saya akan segera sampai, tetap waspada laporkan apabila terjadi perubahan situasi."
'Siap mayor!'
Klik sambungan terputus....
Alda menambah kecepatannya... Brum... motor itu membelah jalanan kota.
๐๐๐
Sampai pada pada tempat yang di tuju, di sebuah mall tiga lantai, suasana di sana terasa mencekam dengan wajah-wajah pias bercampur panik milik para pengunjung yang berhasil di amankan, begitu pula dengan reporter yang
Sungguh mereka sangat ketakutan, pasalnya tak satupun ada yang menduga saat mereka tengah asik berbelanja tiba-tiba ada dentuman keras yang sangat menakutkan.
Area di luar pintu masuk telah di beri garis pengaman polisi, tidak ada yang di perkenalkan masuk kecuali pihak yang sudah mendapatkan ijin khusus.
Alda dengan serampangan memarkirkan motornya lalu tergesa menuju area di mana para perwira polisi berjaga.
"Dimana Sersan Lutfi?" tanya alda pada salah satu anggota kepolisian muda yang tengah berjaga.
Belum sempat polisi muda itu menjawab, terdengar suara memanggil Alda, "Mayor!!" dengan Sersan Lutfi sendiri menghampiri Alda, dan berhenti di hadapannya dengan sikap hormat.
"Bagaimana situasi di dalam?"
"Menjawab Mayor, untuk saat sementara situasi kondusif, namun baru beberapa menit lalu kami mendeteksi keberadaan bom lain di dalam lokasi."
"Bom lain? Lalu apa ini? Apa yang kalian lakukan, dan satu lagi dimana tim gegana, kenapa belum datang!!" Ucap Alda menahan amarahnya.
"Menjawab mayor, kami sudah menghubungi tim gegana dari sepuluh menit yang lalu namun sampai sekarang mereka belum sampai, dan peninggi kepolisian yang berada di lokasi saat ini tengah berdiskusi langkah apa yang akan mereka ambil."
Setelah mendengar itu, seketika garis garis hitam muncul di wajah Alda, ekspresinya menjadi keruh, "Di saat genting seperti ini, saat nyawa warga negara sedang dipertaruhkan, mereka masih sempat untuk berdiskusi, di mana mereka meletakkan otaknya hah!!"
Nafas Alda memberat, menatap tajam Sersan Lutfi, membuatnya hanya dapat menundukkan kepalanya.
"Pimpin jalan pada mereka," Perintah Alda dingin. Setelah sejenak menenangkan diri.
"Baik mayor."
Mengikuti di belakang Sersan Lutfi, Alda memindai situasi sekitarnya, tampak olehnya pecahan kaca berserak kan, menunjukkan betapa keras ledakan itu terjadi. Mendongakkan kepala tatapannya tertuju pada lantai tiga mall yang sebagian besar bangunannya hancur dan meninggalkan puing-puing besi beton penyangga yang nampak rapuh.
Tak lama keduanya sampai pada ruang tujuan mereka. Dapat di lihat oleh Alda ada empat orang tengah berdiskusi di ruangan itu, dan empatnya adalah polisi berpangkat Brigjen.
Menyadari ada yang datang ke empat polisi mendongak ke arah pintu masuk, dan menatap pada Sersan Lutfi dan Alda yang baru saja memasuki ruangan.
"Sersan Lutfi, anda kembali?" Tanya salah satu dari empat nya, dan di angguki Sersan Lutfi, lalu tatapannya beralih menatap Alda penasaran.
Menyadari arti tatapan itu, Sersan Lutfi segera memperkenalkan Alda, "Perkenalkan beliau adalah Mayor dari Tentara AD."
"Mayor?" Tanya mereka mengerutkan kening.
Wajar bila mereka tak mengenali Alda, karena Alda sendiri datang mengunakan pakaian santai, sehingga membuat dia terlihat seperti remaja pada umumnya. Lagipula walaupun Alda mengunakan seragam resminya mereka juga tidak akan mengenalinya, karena memang hanya beberapa petinggi yang mengenali dirinya, itupun mereka harus memiliki akses khusus.
Di kemiliteran itupun keberadaan Alda sangat misterius. Namun karena prestasinya dia terkenal di kalangan perwira-perwira lain, hanya saja sedikit yang tahu bagaimana wajahnya.
Menerogoh saku nya Alda mengeluarkan lencana kemiliteran nya, dan menunjukan pada mereka, "Mayor Alda Tentara AD."
Sontak pupil ke empat nya melebar, menatap syok lencana kemiliteran itu.
'Mayor Alda!! bukankah itu nama perwira paling misterius di kemiliteran negara ini?'
'Dia Mayor Alda? Benarkah itu?'
Menghembuskan nafas lelah, Alda menatap bosan raut syok ke empat nya, "Singkirkan raut syok kalian, saya tidak membutuhkannya. Sekarang beritahu saya apa saja yang sudah di kalian temukan."
"Iy... Ya," Jawab ke empat nya, lalu menjelaskan apa saja yang ketahui.
Terdengar beberapa langkah kaki mendekat ke arah mereka, terlihat itu adalah tim gegana yang baru tiba, berjumlah sepuluh orang, mereka telah mengenakan pakaian perlindungan serba hitam.
Salah seorang yang kita bisa kira adalah kapten mereka mendekat pada Alda, lalu menundukkan sekilas.
"Hormat mayor, kami siap melaksanakan tugas, namun sebelum itu tolong beritahu kami situasi terbaru saat ini?"
__ADS_1
"Seperti yang Anda lihat, lantai tiga bangunan ini sisi kanan depan rusak parah. Dan kami mendeteksi bahwa ada bom lain yang masih terpasang lantai atas. Namun yang menjadi masalahnya, ada sekitar tujuh orang yang terjebak di sana."
"Baiklah, kami akan naik dan berusaha menjinakkannya."
"Saya akan naik juga, saya akan mengamankan orang yang terjebak, kalian lalukan tugas kalian," ucap Alda, lalu mengalihkan tatapannya, "sedangkan kalian berempat bersama dengan Sersan Lutfi, pastikan area sekitar aman, reporter tidak dikenakan mengambil gambar melebihi garis polisi yang terpasang, satu lagi segera hubungi kepolisian pusat."
"Siap."
Dan setelah itu Alda berlalu mengikuti tim gegana naik ke lantai atas dan menyiapkan revolver nya.
Sampai di lantai tiga semuanya menyebar memindai semua tempat yang memungkinkan tempat bom lain berada.
Alda mendekat pada bagian bangunan yang sudah tinggal puing-puing, meringkuk di sudut tujuh orang yang terjebak, diantara mereka ada empat orang yang terluka serpihan kaca.
Dapat di lihat oleh Alda wajah pucat, dengan tubuh gemetar mereka, di mata mereka tercermin keputusasaan akan nasib hidup mereka, seolah-olah mereka sudah pasrah bila hari ini mereka akan mati.
Tiba di hadapan mereka, Alda berjongkok, "Tenanglah kalian semua aman, sebisa mungkin saya akan berusaha mengeluarkan kalian dari sini," ucap Alda mencoba menenangkan.
Mendengar perkataan Alda, mereka seolah mendapatkan semangat hidup kembali.
Namun semangat itu redup lagi, saat salah seorang anggota tim gegana tiba-tiba berteriak lantang.
"LAPOR KAPTEN!! SAYA MENEMUKAN SEBUAH BOM RAKITAN DISINI!!"
Segera sebagian anggota tim gegana merapat ke sudut sebuah toko di tempat di mana bom rakitan yang terbungkus kain hitam itu berada, berpacu dengan waktu mereka bergegas menjinakkannya.
"Dengarkan semuanya, segera temukan bom yang lain, kita tidak bisa menunggu terlalu lama."
"Siap!!"
"Mayor Alda, saya mohon agar anda membawa mereka turun lebih dahulu, saya sebisa mungkin akan aku melaksanakan tugas saya," pinta kapten nando.
"Baiklah saya percaya dengan anda, hati-hati dan tetap waspada," balas Alda.
"Kalian semua dengarkan saya, atur nafas kalian.
bila kalian takut pejamkan mata kalian, anggap saja di sini tak ada apapun, rileks tenang."
"Sekarang pegang tangan masing-masing, kita keluar dari sini. Tidak perlu takut, saya di sini bersama kalian." Instruksi Alda lembut, seraya memegang tangan salah satu dari mereka. Memberi contoh.
"Ayo," Ujarnya lagi, menuntun mereka turun untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
๐๐๐
Di waktu yang sama namum dengan tempat berbeda.
Di dalam kelasnya F4 sibuk dengan diri masing-masing setelah mata kuliah pertama mereka usai, dan kebetulan mata kuliah kedua kosong.
"Eh hei lo bertiga!!Ryan Arjun Natan cepat ayo sini!!" Teriak Daniel tiba-tiba memecah situasi hening di antara mereka.
"Apa?" tanya Ryan ogah.
"Gawat, genting ini, kesini, cepetan!!"
"Iya, tapi apa dulu?" Kali ini Arjun yang bertanya.
"Ini tentang Alda, kalo pengen tau buruan kesini."
Mendengar bahwa itu tentang Alda, seketika ketiganya segara beranjak, begitu ketiganya merapat Daniel langsung menyodorkan handphone nya yang menampilkan sebuah berita Breaking News.
"Pemirsa siang ini telah terjadi ledakan besar pada sebuah pusat perbelanjaan, ledakan ini terjadi pada sekitar pukul 11.14 wib, dan dari tempat kejadian kami memperoleh informasi bahwa ledakan itu merenggut tiga korban jiwa, lebih tiga puluh orang luka-luka dan ada sekitar tujuh orang di lantai tiga."
"Yang lebih mengejutkan ternyata pada tempat kejadian di temukan dua bom yang lain yang masih aktif. Bersamaan dengan pemberitaan ini, dari tempat kejadian tujuh orang yang terjebak berhasil diselamatkan, sementara itu tim gegana tengah berusaha menjinakkan dua bom tersebut."
Menyimak berita itu, mata ke empat nya melotot. Seketika kekhawatiran menyelimuti mereka.
'Jadi karena ini, Alda tiba-tiba menghilang.'
๐๐๐
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA!!
1847 kata (โงโโฆ)/
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK!!
๐๐๐
Bojonegoro, 18 Agustus 2020
Kak ikma
__ADS_1
-Hai pembaca kalian dimana? Aku kesepian sendiri an disini!! โง๏นโฆ-