
Sabrina pulang kekosan dengan setumpuk kertas-kertas yang Ardian berikan kepadanya untuk bekal menjadi asistennya pada praktikum pradilan semu oleh fakultasnya besok
"sab, sab" teriak teman Sabrina sambil menggedor-gedor pintu kosan Sabrina
"iya ada apa?" tanya Sabrina dengan wajah yang kesal tanpa membuka pintu kosnya
"ihh, buka dulu dong pintunya, kalo dia ajak bicara" jawab orang depan pintu kosan Sabrina dengan sedikit meninggikan suara dan suara yang kesal
"ada apa?" tanya Sabrina sambil membuka pintu kosnya sambil menampilkan wajah cuek dan tidak bersahabat
"ngapain sih didalem, mending sini ngumpul sama kita sambil nonton" ajak teman satu kosan Sabrina
"lagi belajar" jawab Sabrina singkat
"sok pintar, masa belajar terus" bisik-bisik teman Sabrina yang masih bisa di dengar oleh Sabrina
"iya, kayanya bukan belajar deh dia itu" jawab teman kosan Sabrina yang lain sambil berbisik-bisik juga, tapi tetap masih bisa didengar oleh Sabrina
"ohh, ya udah kalo kamu mau belajar sab, belajar yang rajin sab" ucap teman Sabrina yang tadi mengetuk pintu kamar Sabrina
"iya" jawab Sabrina sambil menutup pintu ketika temannya itu pergi dari depan kamarnya
"hmmm" dehem Sabrina setelah pintu kamarnya ditutup
"kenapa sih orang-orang pada sibuk ngurusin hidup orang, mau akunya belajar, atau ngapain itukan urusan aku, bukanya aku ngak mau gabung tapikan emang aku lagi sibuk banget, kapan sih orang-orang bisa ngerti kalo kesibukkan orang beda-beda, ngak bisa di sama-samain" ucap Sabrina mengeluarkan rasa kesalnya agar dia lega
orang-orang hanya melihat satu sisi dari kehidupan orang lain, dan orang-orang ngak bisa melihat keseluruhan hidup seseorang, bisa jadi apa yang kita lihat hanya satu sisi orang tersebut, terlihat baik-baik saja padahal sedang menanggung sedih, sedang tidak sibuk padahal sibuk sekali, seperti tidak ada tugas, padahal tugasnya menumpuk, dan semua tugas harus diselesaikan, hargailah kesibukan orang lain, berpikirlah positif jangan menduga yang tidak-tidak, karena karena dugaan itu bisa jadi memutuskan hubungan yang sudah renggang dan menjauhkan hubungan yang dekat, kita semua punya kesibukan yang tak perlu orang tau, cukup hargai kesibukannya dan keputusannya
Sabrina terus berkutat dengan dengan kertas-kertas dan terus merapalkan isi-isinya serta memahaminya.
Kepala sabrina sudah mulai nyut-nyutan, perut sabrina sudah beremuru hebat dan tubuh sabrina sudah mulai lemas. Pasalnya sekarang sudah pukul 01.30 dini hari tapi sabrina belum juga makan dan tidur.
__ADS_1
Sabrina terus fokus memahami isi kertas-kertas tersebut dan tepat jam 02.00 dini hari sabrina selesai memahaminya dan beranjak tidur dengan perut lapar.
Menurut sabrina tidur dalam keadaan lapar lebih nyeyak tidurnya ketimbang di keadaan kenyang, ketika kenyang sabrina tidak bisa tidur tapi ketika lapar sabrina sangat mudah sekali tertidur, beda sekali dengan orang kebanyakan yang tertidur ketika sudah kenyang dan tak bisa tidur jika lapar. Ayo disini ada ngak yang satu frekuensi sama sabrina, jika ada tenang kita sama, kamu ngak sendiri.
Suara adzan subuh mengalun indah menyapa ruang gendang telingga Sabrina
“drrttt. Drrrrt. Drttttt.” Suara alaram handphone sabrina yang beriringan dengan adzan subuh yang berkumandang
“sudah subuh” ucap Sabrina sambil mengambil hand phone dan mematikan alaramnya.
Karena masih ngantuk Sabrina kembali tidur, setelah lima menit sabrina bangun lagi, tapi kantuknya masih benar-benar tak mau pergi, maka Sabrina tidur lagi, limat menit setelahnya sabrina bangun lagi.
“sholat sekarang dari pada kebablasan” sambil mengecek matanya
Dengan kantuk dan pusing yang menyerang Sabrina pergi kekamar mandi lalu mengosok gigi dan mencuci muka, lalu mengambil wudhu dan sholat. Setelah sholat Sabrina kembali tidur karena dia masih mengantuk, tapi sayang matanya tak bisa lagi terpejam dan akhirnya Sabrina hanya tidur-tiduran saja sambil melihat hand phonenya.
Sabrina pagi ini tidak ada mata kuliah, tapi dia harus kekampus untuk menjadi asisten Ardian di pradilan semu fakultas, dam Sabrina telah selesai mandi, itu hal yang sangat mengagumkan, biasanya 30 menit sebelum perkulihan dimulai Sabrina baru mandi, Sabrina tak perna menggunakan make up lengkap, paling hanya powder dan lip care, jadi tak memakan waktu lama, jika tak ada perkulihan seperti hari ini Sabrina mandi jika adzan sholat dzuhur telah berkumandang.
Sabrina sudah dikampus dan sekarang sedang mendengarkan pembicaraan antara Ardian dan Raka, Sabrina terus dan mengamati pembicaraan Ardian dan Raka.
“aku sama sekali tak terkesima dengan wajahmu, tapi aku sangat terkesima dari caramu”ucap Sabrina dalam hati sambil terus mengamati Ardian dan mendengarkan percakapan ardian Raka
“Sabrina” ucap ardian memecahkan lamunan Sabrina
“ehh, iya pak” jawab Sabrina kelabakan
“ayok, ngapain kamu disitu” ucap Ardian yang sudah berjalan lumayan jauh dari tempat Sabrina duduk
“ ehh, iya pak’ jawab sabrina dan bergegas berjalan mengikuti Ardian dan Raka.
Praktik pradilan semu dimulai, dan berkali-kali sabrina disalahkan oleh Ardian, Sabrina sudah kehilangan semangat, tapi Sabrina sudah berusaha semampu dia.
__ADS_1
“aku boleh bertanya pa? mengapa aku selalu slah dimatamu? Apakah aku tak perna dihatimu sebagai manusia” lirih Sabrina didalam hati karena sudah dari tadi Sabrina disalahkan melulu.
Praktik pradilan semu-pun berakhir dan Sabrina masih bersedih dengan apa yang Ardian lakukan
“udah ngak usah sedih” ucap Raka menenangkan Sabrina
“Ardian memang begitu” lanjut raka sambil berjalan beriringan dengan Sabrina
“iya pak” jawab Sabrina yang masih bersedih
“Ardian baik orangnya, dia mau memberitahumu hal yang baru dan mengajarkanmu, tapi kadang caranya yang salah, maklumi aja” ucap Raka sambil terus berjalan mengikuti Ardian dan beriringan dengan Sabrina
“iya pak, tapi kok bapak mau sih pak temanan sama pak ardian yang miskin banget perasaan, anti sosial dan arogan?” tanya Sabrina kepada rzaka yang berada disampingnya
“hahaha, kamu ini ngomongin orang anti sosial kayak kamu senang aja bersosialisasi” jawab Raka sambil tertawa mendengar pertanyaan Sabrina
“tapikan aku ngak segitunya pak” belah Sabrina didepan Raka
“iya, karena kita selalu ngak ngerti kita gimana ke orang lain, kita akan selalu merasa diri kita baik dari pada orang lain dan memperlakukan orang lain dengan baik, tapi kita ngak perna sadar gimana perasaan orang lain ketika kita perlakukan” jelas Raka sambil terus berjalan keluar dari fakultas beriringan dengan Sabrina
“dan kamu sama ardian itu sama, sama-sama ngak suka diusik oleh orang lain, anti sosial dan punya cara sendiri untuk mengekspresikan sesuatu, jangan berpikir negatif, cobalah untuk berpikiran positif, dan lihatlah dari sisi kebaikan jangan lihat dari sisi keburukannya, ardian ngak mau marahin kamu, tapi cuma dengan cara itu kamu bisa menambah wawasan” lanjut raka menenangkan Sabrina dan memberikan pemahaman untuknya
“tapi emang harus disalahkan terus pak?. sayakan masih baru, belum perna belajar sebelumnya, lagian inikan pembelajaran kakak tingkat, wajar dong pak kalo saya ngak tau?” tanya Sabrina yang masih kesal kepada Raka
“yakin aja, ardian pasti ingin yang terbaik untukmu, bukan untuk membuatmu terpuruk tapi membuatmu untuk berpikir lebih maju” jawab Raka sambil meninggalkan Sabrina dan berjalan menghampiri Ardian.
Setelah semua penjelasan telah Sabrina dengar dari raka, sabrina mencoba untuk berpikir positif dan menghilangkan rasa kesalnya kepada Ardian dan berjalan menghabiskan sisa koridor fakultas yang membuatnya meninggalkan fakultasnya.
“mau kemana?” tanya Ardian kepada Sabrina ketika melewati mobilnya...
......
__ADS_1
....
.....