
💞
💞
💞
🍀🍀🍀
🍃🍃🍃
Hari-hari pun berlalu, beranjak pergi dan meninggalkan bekas luka...
Sabrina kini termenung menatap dinding kosan yang kini menjadi awal baru dalam hidupnya untuk bisa belajar mandiri
Ruangan yang didominasi warna hijau ini telah menjadi teman baru Sabrina dan awal untuk Sabrina menjadi mandiri dan tangguh, kosan ini juga yang akan menjadi saksi bisu tentang asam manis kehidupan Sabrina kelak...
Kejadian yang lalu ....
insiden antara Sabrina dengan bibiknya masih menghatui pikiran Sabrina, Sabrina masih diterpa rasa penasaran mengapa bibiknya begitu marah, apa yang sebenarnya mejadi kesalahan Sabrina, Sabrina masih tidak mengetahui ya...
Sabrina menarik napas dalam-dalam, sambil merebahkan diri diatas kasur, pikirannya berkelana, tak terasa pipi sabrina telah di basai oleh air mata, lagi-lagi air mata Sabrina turun dengan tak terkendali ...
Dan sekarang Sabrina merasa diasingkan oleh bumi, tak ada yang bisa diajak bicara, Argi yang senang menemaninya kini telah meninggalkannya...
Argi telah pergi keluar negeri, dan melanjutkan study-nya disana.
Sabrina benar-benar merasa sendiri.
meratapi semua yang terjadi dalam hidupnya, Sabrinapun merasa lelah dan tertidur. Sudah cukup lama Sabrina tertidur, tak terasa sore telah menyapa dan perut Sabrina kini merasa lapar.
untuk mengurangi rasa laparnya Sabrina melihat persediaan bahan makanan yang Sabrina miliki, ternyata Sabrina tak memiliki apa-apa di kosannya, dengan berat hati Sabrina harus keluar kosan untuk mencari makanan yang bisa menghilangkan rasa laparnya.
Sabrina beranjak dari tidurnya, dan mulai berjalan keluar, tepat didepan pintu, Sabrina berhenti, melihat belakang dan Sabrina bermonolok
“sendiri, semoga aku bisa” ucap sabrina menatap kosan yang tak ada orang hanya dirinya dan ruangan tersebut hanya diisi barang-barang Sabrina saja.
Cklek.....
Pintu dibuka, seketika memperlihatkan seseorang yang sedang asik menatap layar televisi.
“hai, mbak”sapa Sabrina melihat orang tersebut setelahnya Sabrina langsung menunduk, dan mengunci pintu kosannya
Setelah pindah kekosan, sabrina dipaksa untuk lebih bisa menyapa kawan sesama kosannya, lebih tepatnya sih Sabrina dipaksa untuk berinteraksi dengan orang luar, jangan terpurul dalam kesedihan dan menarik diri dalam kehidupan sosial
“hai, kenalin nama ku Shopiah, kamu penghuni baru yaa?” tanya Shopiah dengan antusia ketika melihat Sabrina
__ADS_1
Sabrina hanya tersenyum dan menggangguk
“mau kemana?” tanya Shopiah dengan ramahnya
“mau kedepan” jawab Sabrina singkat sambil mencoba menampilkan senyum
“tunggu” teriak Shopiah dan langsung berlari
Sabrina hanya menggangkat satu alis dan kebingungan dengan tingkah Shopiah, tanpa di rencanakan Sabrina memberhentikan langkanya untuk berjalan keluar
dengan cekatan Shopiah mengambil jilbab dan lansung berlari kearah Sabrina
“mau cari makankan" tanya Shopiah dengan nafas yang memburu
“iya” jawab Sabrina singkat sambil mempertahankan senyum keterpaksaan itu
"ayo" ajak Shopiah dan Mereka berjalan menujuh keluar pagar kosan mereka
“oh iya, by the way, nama kamu siapa” tanya Shopiah masih dengan keramahannya
“nama ku Sabrina” jawab Sabrina
“oh Sabrina, Sabrina kapan pinda kekosan ini” tanya shopia tetap dengan keramahannya
“udah lama ” jawab Sabrina singkat
“haaaa?, serius udah lama pindah kekosan ini?” tanya Shopiah kaget mendengar jawaban dari Sabrina
“iya” jawab Sabrina singkat sambil tersenyum terpaksa dan menggerutkan dahinya
“kok aku ngak tau yaa, kok aku baru lihat kamu hari ini?” tanya Shopiah k
“etttsss... jangan panggil mbak dong, emangnya kamu semester berapa dan jurusan apa?” tanya Shopiah yang sedikit sewot
“aku semester 4, jurusan hukum, kamu?” tanya sabrina singkat
“oh yaaah, kok aku ngak perna lihat kamu ?, dan ya, kamu ngak perlu panggil aku mbak, panggil aja Shopiah, aku juga semester 4 dan jurusan hukum juga” jawab Shopiah dengan senyumnya
“oh iya?” tanya Sabrina penasaran
“iya aku anak hukum, kelas C, kamu pasti kelas internasionalkan?” balas Shopiah
“hehehe... iya aku anak kelas internasional, kok kamu tau ?” tanya Sabrina yang sudah mulai bisa menyesuaikan dengan diri dengan Shopiah, karena karakter Shopiah tidak begitu jauh berbeda dengan karakter Argi, sahabat Sabrina
“iya tau lah, kamu pasti anak internasional, soalnya yaa, kalo anak b, C, D, E, aku pasti sudah tau, tapi kalo anak internasional aku hanya beberapa yang tau. karena ya, anak internasionalkan sangat jarang ngumpul sama kawan-kawan satu angkatan, mungkin karena kesibukkan dan kekhususannya” jawab Shopiah sambil menyeringgai
“kamu bisa aja, kami ngak sibuk kok, dan ingat yaa kami bukan internasional tapi inter-lokal” jawabku sambil tersenyum
“hahaha, kamu bisa aja, ngak usah merendah untuk meninggi deh” jawab Shopiah dan berusaha menyudahi tawanya
“ ngak merendah kok, emang rendah, tapi ngak rendahan yaa” jawab sabrina sambil tertawa juga
“hahaha... bisa aja” jawab Shopiah sambil terus tertawa
“iy loh, kita tu sama ya, antara satu lokal sama satu lokal yang lain, kita sama-sama anak hukum” ucap Sabrina
“iya sih, tapikan kamu kelas internasional, taulah aku gimana anak-anak internasional, anak-anak yang aduhhh... jangan ditanya lagi betapa pintarnya” jawab Shopiah menjelaskan
“ngak kok sama aja” jawab Sabrina sambil tersenyum
__ADS_1
“beda yaa kalo orang pintar merendah terus bawakanya. lah kalo aku di puji pintar, terimah kasih banget akunya hahaha” jawab Shopiah antusias dan dengan gelak tawanya
Sabrina hanya tersenyum melihat tingkah Shopiah
Seminngu ini atau lebih tepatnya, ketika Sabrina ngekos, Sabrina mulai sedikit berubah, lebih mau berinteraksi antar sesama, walaupun belum bisa seutuhnya berbawur
'kenapa orang ini, tidak meras terganggu dengan sikapku, kok malahan terus-menerus mengajakku berbicara' rutuk ku dalam hati
Shopia masih saja menghapus canggung diantara kami
Dia masih setia dengan pertanyaan-pertanya, walaupun hanyaku jawab singkat
Tanpa butuh waktu lama, Sabrina bisa menyesuaikan diri dengan shopia yang karakternya tidak jauh beda dengan Argi
Ini lah aku yang sekarang, aku sudah sedikit berubah puji Sabrina dalam hati
Karena tekanan dan semua persolannya, Sabrina tak mengenal sosial, ruang lingkup yang selalu dibatasi membuat Sabrina selalu menolak pertemuan apa lagi mengikuti organisasi, Sabrina mejadi orang yang dinggin, pulang tak boleh lebih dari jam 16.00 paling lambat jam 16.30 membuat Sabrina menutup diri
Sabrina yang selalu menolak untuk kumpul dan datang di hari weekend membuat orang menjauhinya, Sabrina tak peduli, yang penting ialah Sabrina bisa pulang tepat waktu dan tak bermasalah dengan bibiknya.
Semua yang sabrina alami tak perna Sabrina ceritakan termasuk kepada orang tuanya, semua sesak, sedih, rapuh, kehancuran hati Sabrina, Sabrina pendam sendiri, anggap saja pendewasaan diri, pikirnya.
Tapi Sabrina salah, karena semua itu Sabrina menari dirirnya di lingkungan sosial, tak peduli dengan kehidupan sekitar membuatnya seolah-olah bukan manusia, apalagi untuk bisa memanusiakan manusia.
Semua beban , sesak dan sakit sudah Sabrina lepas, Sabrina sudah bebas..
sabrina sudah bisa tersenyum dan menatap kedepan ketika berjalan..
happy reading ....
menerimah saran dan kritik, silahakan berkomentar, jangan sungkan-sungkan
jangan lupa like vote and commen yaa ....
💞
💞
💞
🍀🍀🍀
🍃🍃🍃
__ADS_1