Secuil Harapan Yang Baru

Secuil Harapan Yang Baru
keseharian sabrina


__ADS_3

 


💞


💞


💞


🍀🍀🍀


 


🍃🍃🍃


 


 


Hari-hari terus beganti, menyapa pagi memberi ucapan selamat pada malam dan terus begitu.


kini Sabrina sedang duduk di gazebo rumah pamannya.


yaa inilah sebenarnya alasan Sabrina memilih di Jawa timur yaitu agar ada orang yang bisa menjaganya, melindunginya, disaaat dirinya kehilangan kendali, itu yang Sabrina pikirkan dulu.


kini Sabrina Memandang langit sambil mengayun-ayunkan kaki, sabrina berdialog dengan otak dan hati.


inilah yang bisa ku lakukan ketika tak ada satu orangpun yang aku percaya untuk berbagi cerita.


....


"kenapa kau masih bertahan, Bukannya capek, hidupmu bukan seperti ini, kau bisa berbicara dengan orang tuamu, dia akan mengerti ayo beranikan dirimu sabrina" pikiran Sabrina mengeluarkan keluhnya.


"kau kuat Sabrina, semuakan berlalu, bersabarlah, semua akan ada hasilnya tersenyum lah" jawab hati Sabrina meyakinkannya


Sabrina bukan anak yang biasa dengan pekerjaan rumah, mamanya selalu melarangnya melakukan itu, tugas Sabrina hanya sekolah, belajar dan membanggakan orang tua.


Dan sekarang Sabrina dengan semua bebannya, mengurus pekerjaan rumah, disini sabrina dituntut untuk melakukannya semuanya sendiri.


"aahhh aku dianggap pembantu disini" pikir Sabrina sambil tetap menap langit


"bukan-bukan! bibikku tak sejahat itu" jawab Sabrina untuk menguatkan diri


"tapi sama saja, apa bedanya? bangun pagi, melakukan semuanya, menjaga anak-anaknya" gerutuk Sabrina


"aahhs" Sabrina mengusab wajahnya dengan gusar


"Aku sudah tak tahan lagi" Sabrina bermonolog dalam hatinya sambil mengigit bibir bawah dan menahan air mata yang sebentar lagi akan meledak.


Dengan sedikit berlari Sabrina menujuh kamarnya, agar tak ada orang yang tau dia sedang bersedih


....


kamar sabrian diisi dengan 75% adalah barang keponakannya, wajar saja Sabrina disini hanya menumpang


"Aku tak berhak marah, aku paham posisiku" itu lah yang Sabrina ucapkan ketika hatinya hancur akan semuanya


Dengan pelan Sabrina menutup pintu dan langsung menguncinya.


Sabrina takut ada orang yang melihatnya menangis, dia tak tau akan mengatakan apa jika ditanya nanti.


Inilah sabrina, yang hampir setiap malam meluapkan kekesalan dan kekecewaan nya dengan menangis.


Sabrina menangis bukan karena kekasih atau kedua orang tuanya, tapi tentang perlakuan dan beban yang Sabrina emban, dirumah paman dan bibiknya.


sabrina tak ada masalah dengan perkulihannya, apalagi teman-temannya


Sabrina bermasalah dengan hati dan otaknya yang salalu saja bergejolak melihat keadaannya yang sangat-sangat melelahkan


Dengan tergesa-gesa sabrina masuk ke bawah kolong kasur, dan dengan cepat mengambil bantal, menutup muka dan mebekap mulutnya agar tak mengeluarkan suara

__ADS_1


air mata sabrina sudah tak terbendung lagi, ditumpakannya di kegelapan malam yang tak seorangpun tau, begitulah cara Sabrina


Memang aneh, tapi cuma dengan cara ini sabrina bisa menangis, meluapkan kekesalan dan kekecewaannya


tidur di bawah kolong kasur, menutup muka dengan bantal agar tak ada yang tau selalu jadi rutinitas yang Sabrina jalani


sabrina rapu, lelah, sedih dan menangis.


Setelah merasa cukup, air matanya sabrina hapus dengan kasar.


"kenapa aku ini lemah sekali, kenapa cuma karena ini aku menangis" sambil menguatkan hati dan menyudahi tangisannya


"aku kuat kok, I'am fine" kata Sabrina sambil mengeluarkan tubuhnya dari persembunyian.


"Anak kecil sekali aku ini" lirih sabrina yang hampir tak terdengar, lagi-lagi sabrina menahan air mata yang ingin sekali jatuh, dengan mengigit bibir bawahnya dengan kuat, Sabrina harap air matanya tak akan jatuh dari penampungan


" Aku baik-baik saja" ucap Sabrina sambil mecari udara dan menenangkan diri dengan mengelus dadanyam


Sabrina merebahkan dirinya di atas kasur.


di dalam kamar yang di dominasi oleh warna ungu ini perabotannya selalu menjadi saksi betapa tersiksa dan rapunya Sabrina disana


sabrina menarik selimut dan membukus tubuhnya layaknya kepompong, hingga Tampa dia sadari Sabrina sudah di alam mimpi.


....


Pagi kembali menyapa...


Matahari dengan egoisnya membagi cahayanya yang begitu terik.


Sabrina kini tengah duduk di samping rumah, sembari mengistirahatkan diri.


keringatnya tengah asik-asiknya meluncur hebat di seluruh permukaan kulit Sabrina.


Sabrina meremas-remas tangannya yang terasa kebas dan merah, akibat mencabut rumput-rumput disepanjang rumah.


sedari tadi Sabrina belum mengistirahatkan tubuhnya Sabrina sudah mulai beraktivitas dari jam 04.00 subuh tadi.


Beginilah Sabrina jika weekend menyapa bukanya mengistirahatkan diri, Tapi malah sibuk mengurus urusan rumah yang seolah tak perna berakhir.


Perut Sabrina sudah berkali-kali mengeluarkan suara protesnya, lapar yang dia rasa sudah sangat menghantuinnya, Tapi pekerjaan Sabrina blm berakhir.


masih ada banyak yang harus dikerjakan oleh sabrina


kini Sabrina benar-benar lelah, ingin istirahat dan tidur sejenak.


"Sabrina" suara itu menggema dari dalam rumah


"Iya bik" jawab Sabrina


"Jika sudah merumput ya, tolong siram bunga ya" cerca bibik Sabrina


Belum sempat Sabrina menjawab


"Jangan lupa cuci piring dan jemur pakaian ya" sambung bibik Sabrina


"Iya bik" jawab Sabrina


Sabrina sudah sangat-sangat lelah, dia sudah kehilangan tenanga dari tak ada istirahat yang bisa Sabrina lakukan


"Aku capek" ucap Sabrina dengan sedikit gemetar tanpa di dengar oleh siapapun


"Sampai kapan aku akan seperti ini" kata Sabrina frustrasi


Tanpa bernegosiasi air mata Sabrina jatuh, membasahi pipi mulusnya


"Ngak boleh nangis, ngak boleh nangis" ucap Sabrina sambil menggeleng kepala dan menghapus kasar air matanya


"Aku kuat, aku pasti kuat" kata Sabrina menguatkan dirinya

__ADS_1


"Ini akan segera berakhir, cuma sampai lulus" air mata Sabrina tak bisa di kontrol lagi


" Yang kuat Sabrina, ini sudah semester 4, tinggal berapa semester lagi, pasti bisa" Sabrina menguatkan dirinya


Dengan cepat Sabrina menujuh keran yang ada disamping rumah


Sabrina langsung memutar keran dan langsung mecuci mukanya, agar tidak ada yang melihatnya menangis.


***


Cklingg ....


Notif dari hand phone Sabrina..


Sabrina hanya melirik hand phone yang berada diatas kasur berwarna tosca.


tanpa berkeinginan untuk melihatnya.


Sabrina menyandarkan tubuhku di kepala ranjang kasurnya


sabrina menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya dengan perlahan


"Ahhhh, sial kenapa aku merasa begitu letih" keluh sabrina


"Tugasku belum ada yang ku kerjakan, besok sudah deadline" ocehnya lagi


Dengan melawan rasa letih dan berperang dengan rasa malas sabrina menyelesaikan tugas kuliahnya


Dan Sabrina masih tak berniat sedikitpun untuk melihat hand phone miliknya


Waktu semakin larut ...


Jam  menunjukkan ke angkah 12.23 menit


Rasa kantuk menyerang Sabrina tanpa permisi...


dengan senang hati sabrian berteman dengan rasa kantuk itu..


tak begitu lama...


sabirnapun tertidur pulas di lantai tanpa alas, bantal apa lagi selimut.


Labtop dan alat tulis dengan setia menemani tidur Sabrina


tanpa berniat merapikan terlebih dahulu mereka yang sudah Sabrina suruh menari-nari, tak terasa Sabrina sudah lelap ke alam mimpi


al-hasil mereka berserakan di kamar yang didominasi oleh warna ungu itu.


 


💞


💞


💞


 


🍀🍀🍀


 


🍃🍃🍃


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2