
π
π
π
πππ
πππ
Setelah percakapan hari itu Sabrina jarang sekali bisa berbicara dengan sahabatnya,mereka hanya bertukar kabar melalu pesan saja yang entah kapan mereka balas, yang jelas akan di balas oleh mereka jika punya waktu, bukan mereka tidak memprioritaskan sahabat tapi mereka satu sama lain sedang sibuk-sibuknya persiapan ospek, ya sekarang Sabrina sudah di jawa timur, sabrina lulus di salah satu unversitas negeri disana melalu jalur SBMPTN.
Sabrina POV
Jurusan yang sangat bertolak belakang denganku, dan dengan suka hati aku harus menerimanya apa lagi mengingat bahwa Aku orang yang sangat tidak suka bicara banyak, apa lagi aku lebih suka saintek dari pada soshum, walaupun begitu takdir berkata lain, aku lulus pada jurusan hukum.
Walaupun pada kenyataannya aku sangat ingin sekali menjadi ilmuan di bidang kimia.
Tapi aku harus tetap bisa pura-pura ikhlas dengan tetap menerima dengan hati yang masih bergejolak.
walaupun demikian aku harus menjalani dan menekuni jurusan ini supaya tidak ada kekecewaan akibat kelalaian yang disebabkan oleh keegoisan diri melawan takdir Yang ada.
keluargaku sangat mendukungku menekuni serta tenggelam dalam jurusan yang berhubungan dengan hal-hal yang berbau kesehatan.
Entahlah aku tidak mengerti ada apa dengan diriku, ketika yang lain berlomba-lomba serta bersusah payah untuk bisa terjun dalam bidang itu.
aku dengan kebodohanku menolak dengan mentah-mentah tanpa menghiraukan apapun yang orang bicarakan serta banggakan dengan jurusan itu.
Dengan semua konflik yang ada pada diriku aku memutuskan untuk mengambil jurusan yang sangat tidak aku suka, yaitu jurusan hukum.
jurusan yang aku sangat hindari dari dulu, sebab aku sangat tidak suka pelajaran PPKn, sebab dulu nilai yang aku dapatkan hanya sebatas minimal ketuntasan,dan dari hari itu aku sangat menghindari mapel itu, wajar dong dulu yang ada di benakku jika hukum pasti kaitannya erat sekali dengan mapel PPKn.
ketika aku merelakan untuk mengambil jurusan hukum papaku sangat senang, apalagi ketika aku berhasil lulus di jurusan tersebut,
cuma papa orang yang membebaskan aku dalam memilih jurusan, walaupun sedikit dimasukan motivasi serta urgensi tentang bidang hukum, supaya aku mau berminat menekuni bidang yang sama dengannya, karena ya papaku memang bekerjadi pada ruang lingkup kehukuman.
Tak terasa sekarang aku sudah resmi menjadi mahasiswa hukum, hari-hari pun berlalu, tak terasa aku semakin dapat menerimah setiap mata kuliah yang di sajikan oleh jurusanku.
Dari yang awalnya selalu mengeluh dan melawan sekarang pelan-pelan aku dapat menekuni bidangku dengan senang hati.
__ADS_1
Dulu aku menyukai hitung-menghitung dari pada sejarah, tapi ketika aku mencoba berdamai dengan takdir dan mendalami bidang hukum aku mulai tertarik untuk terus belajar tmengenai hukum
apalagi mengenai kenyamanan bermasyarakat, mulai dari bagaimana hukum itu dibuat, asala-muasal hukum, kenapa hukum ditaati, kenapa ada sanksi dan norma dan masih banyak lagi.
Sehingga Secara tidak langsung aku diajarkan bersosial dengan mahluk sosial lainnya.
Waktu terus berlalu, selalu berlari dan meninggalkanku yang mulai berdamai dengan keadaan.
Begitu banyak penyesalan yang menghampiriku, aku marah dengan diriku sendiri kenapa selalu egois kenapa selalu melawan takdir.
Dan sekarang aku menyesal tak terasa, Kini aku telah menjadi mahasiswa semester 4 pada salah satu universitas negeri di jawa timur.
Author POV
Sabrina Mahasiswa semseter 4 yangΒ terkenal dengan ke cuekan, ke tidak pedulinya pada lingkungan, tidak Rama, serta sangat dingin itu, Kini sedang berjalan menujuh kelasnya.
seperti biasa mukanya sangat datar,
Sabrina tidak begitu cantik, tapi entah apa yang Sabrina punya orang-orang seakan-akan terkagum-kagum dengannya.
sabrina bukan orang yang banyak bicara, bukan juga orang yang pandai bicara, Sabrina orang yangΒ pendiam dan orang yang tidak ingin dengan kebisingan.
Dengan langkah cepat Sabrina menujuh kelasnya, bukan karena terlambat tapi Sabrina sedikit risih jika di perhatikan oleh banyak mata.
Sekarang Sabrina sudah berada ruang kelasnya, bukannya menyapa teman-teman yang datang terlebih dahulu Sabrina malah memilih langsung duduk, di kursi paling depan.
teman-teman Sabrina tidak aneh, karena memang sabrina sangat sedikit sekali bicaraΒ dan tersenyum.
soal sapa menyapa itu hal yang tak pernah Sabrina lakukan, dan teman- teman Sabrinapun tak ada satupun yang menyapa sabrina, bukan tidak mau tapi lebih ke tidak memiliki nyali untuk melakukan nya.
Sabrina prov
Ruang kelas yang dilapisi oleh warna putih serta pernak pernik slogan hukum bertaburan pada dinding kelas yang telah berhasil memberikan kenyamanan.
Matahari kini telah berhasil menerobos masuk ke ruangan yang telah diisi beberapa mahasiswa semester 4 yang tengah sibuk dengan tugasnya masing-masing, yang menghasilkan ketenangan di pagi yang hangat pada ruangan tersebut.
Ckelkk...
Suara pintu dibuka, sesaat kemudian ruangan kelas menjadi bergemuru, bukan karena kode alam, tapi karena sahabatku yang bernama Argi sudah datang, seperti biasa wanita yang tidak bisa diam itu sekarang suaranya telah memenuhi ruangan kelas.
"Sabrina" teriak Argi
aku sudah tau siapa yang memanggilku. seperti biasa, aku menoleh tanpa bersuara
__ADS_1
Seakan sudah tau arti dari lirikanku.
Argi langsung berteriak " tugas aku belum, pinjam punyamu ya, ya" dengan senyum yang sudah bisa ku artikan.
Dengan malas aku membuka tasku dan mengambil tugas yang dimaksud oleh Argi, bukan aku tidak ingin berbagi jawaban kepada argi tapi argi selalu begitu, sampai kapan dia seperti ini.
ini bukan tentang berapa sulitnya mencari jawabanya, tapi lebih pada ilmu yang akan dia dapat jika dia mencari jawabanya sendiri.
aku langsung meletakan tugas itu diatas meja Argi tanpa bicara apapun, karena walaupun diingatin dia juga tetap beralasan dan seperti biasanyaΒ Argi hanya tersenyum sambil menerimah tugas tersebut.
Author pov
Setelah Argi berhasil menyalin tugasnya, Argi langsung mengembalikan buku Sabrina.
Dengan senyum yang sudah di persiapkan agar terlihat manis di hadapan Sabrina, Argi melegangkan kaki memutari kursinya untuk mengembalikan buku Sabrina.
Tepat berada di hadapan Sabrina, Argi menekuk kaki supaya sejajar dengan posisi Sabrina yang sedang duduk dan asik memainkan hand phonenya.
Seketika Sabrina mengangkat kepalanya melihat Argi yang tengah tersenyum kearahnya.
seakan sudah tau tujuan Argi menghampirinya, Sabrina langsung mengambil buku yang Argi pegang yang terletak di atas mejanya, dan lansung membalikan badan, serta langsung memasukan buku tersebut kedalam tas.
Argipun berdiri lalu mencolek dagu sabrina..
"Terimah kasih sahabatku" teriak Argi masih dengan senyum yang mengembang.
Tanpa mempedulikan Argi Sabrina kembali fokus dengan hand phone yang di genggamannya.
Argipun berlalu dari hadapan Sabrina, dengan senyum yang masih dipamerkan Argi kembali ke tempat duduknya, tanpa mempedulikan Sabrina yang mengabaikannya.
π
π
π
πππ
πππ
__ADS_1