SEDUNYA

SEDUNYA
TENGERAN 1 : ADALAH HAL BARU


__ADS_3

Sekitar dua sampai empat pesawat tempur Golden Eagle terbang di langit malam alun-alun Kota. Pesawat-pesawat tempur itu sedang mengejar dan menembaki benda asing yang berbentuk bulat pipih yang di pinggirannya terdapat lampu yang mengelilingi, terlihat mirip seperti pesawat alien—sedang terbang meliuk-liuk di antara gedung-gedung di Kota.


Dalam hitungan detik, kegaduhan di sekitar ku mulai muncul. Teriakan terdengar dari berbagai arah dari tempat ku berdiri. Aku menoleh ke segala arah, tapi anehnya tidak ada seorangpun yang terlihat oleh mataku. Dan untuk ke sekian kalinya, suara kegaduhan dan teriakan minta tolong semua orang masih terdengar jelas.


Pesawat-pesawat alien itu mengeluarkan bunyi desing yang memekakkan telinga sampai memecah kesibukan ku memperhatikan sekitar. Aku tidak sadar, salah satu benda asing tadi sudah berada tepat di atasku entah sejak kapan. Mengambang di udara sambil mengeluarkan cahaya terang yang menyilaukan ke arahku.


"Hei Med, lu gapapa?" Tiba-tiba muncul suara yang amat Aku kenal. Aku membuka mata pelan, suara yang aku kenal—memanggil ku dan menyuruh ku bangun untuk kedua kali. Kakakku, Kak Reza—berdiri di depanku sambil memegang senter yang nyala lampu nya sangat menyilaukan mataku.


"Silau Kak Rez, senternya bisa di mati in nggak?" kataku sambil mencoba menghalangi cahaya senter yang menyorot langsung ke wajahku. "Eh iya sorry, lupa-lupa." Kak Reza reflek menurunkan dan mematikannya.


"Ngapain masuk ke kamar ku? Bawa senter segala?" Aku menyeka sehelai rambut yang mengenai mataku.


"Gw tadi habis dari loteng, disuruh Mama nyari koper buat dibawa liburan hari Minggu besok," ujar Kak Reza. "Terus, Gw denger dari luar ada suara kenceng banget dari dalem sini. Akhirnya gw masuk buat ngecek langsung."


"Emangnya tadi denger suara apa dari kamarku?" Aku duduk—menyilangkan kaki, penasaran dengan apa yang Kak Reza dengar.


"Kaya ada yang nyetel Genset dari dalem kamar lo tadi itu," jelasnya, "Tapi anehnya, suaranya langsung lenyap gitu aja pas waktu gw buka pintu kamar lo."


Mungkin suara barusan dari tetangga sebelah yang lagi 'Duwe Gawe', begitulah sebutan dari Mama untuk tetangga atau kerabat yang sedang punya acara atau kesibukan yang amat penting.


Kak Reza protes, "Lu mana pernah percaya sama apa yang gw omongin Med." Kak Reza menaruh senter di atas meja, mendekat dan duduk di depanku, "Liat ni baju lo Med, ga sehat lo. Masa tidur bisa ngebuat baju lo jadi gini?" tegur Kak Reza.


Aku melihat ke bawah, ke arahku bajuku. Aku sangat kaget melihatnya yang sudah basah seperti tersiram air setimba. Aku menepuk jidat—heran dengan diriku sendiri, bagaimana bisa aku tetap tenang dan merasa tidak ada apa-apa sejak tadi.


Aku beranjak dari tempat tidur, menuju lemari—mengambil pakaian ganti dan sekalian juga aku pergi mandi, karena terlihat dari jendela langit sudah mulai gelap.

__ADS_1


"Med...." Aku menoleh ke arah Kak Reza yang tiduran di kasurku, "jujur aja sih, gw takut ama kejadian pas lu tidur tadi. Ngebuat gw inget kejadian 3 tahun yang lalu," ungkap Kak Reza yang sudah duduk dengan wajahnya yang mulai pucat berkeringat.


"Hiii... aku juga takut banget sih kak," ejekku.


Melihat wajah Kak Reza yang memucat sangat menghibur ku. "Lo selalu gitu, gw serius Med." Kak Reza mendengus makin kesal. Tetapi, Kak Reza tetap Kak Reza. Dia kemudian masih melanjutkan berbicara panjang lebar tentang kecemasannya lagi dan lagi.


Aku berdiri menghadap Kak Reza, "Sudah? Aku mau mandi Kak. Gausah berlebihan, semuanya bakal aman."


"I hope so Med. Semoga yang gw takutin ga jadi kenyataan." Kak Reza merebahkan dirinya mencoba lebih tenang melawan pikiran buruknya sendiri, sepertinya.


...***...


Senin, 11 Desember di tahun 2016. Aku mengalami mimpi buruk yang belum pernah aku alami dalam tidurku selama ini.


Teriakan dan rintihan anak-anak itu terdengar jelas, tapi anehnya aku sama sekali tidak bisa melihat sosok mereka, satupun tidak ada yang terlihat.


Dari semua tangisan itu, aku mendengar dengan jelas suara Miko juga ada di antara suara suara teriakan dan tangisan itu.


"Tolong.... siapapun disana," rengek Miko dari kejauhan. Aku memasang telinga ku dengan benar, tidak mungkin yang aku dengar salah. Ini benar suara adik laki-laki ku. Suaranya jelas sekali dan aku yakin suaranya tidak jauh dari tempat ku berdiri.


"Mama tolongin Miko. Disini gelap Mama, Adek gabisa lihat." Miko menangis terisak, memanggil manggil Mama. Aku tidak sabaran—hendak menyahut dan membalas panggilan nya, sialnya mulutku sama sekali tidak bisa berbicara—seperti ada yang membungkamnya dan menyuruh ku untuk tetap diam.


Beruntungnya, kaki yang kumiliki masih bisa di gunakan untuk mencari Miko, bergerak kesana-kemari dan mendekati sumber suaranya. Aku harus bisa menemukan Miko sebelum—


BUUUMMMM!!

__ADS_1


Ledakan itu muncul tiba-tiba, benar-benar diluar dugaan—terdengar sangat kencang. Disusul dengan jalanan yang berguncang, hampir membuat ku hilang keseimbangan untuk berdiri.


Bebatuan kerikil terdengar berjatuhan. Debu debu mengepul bagai awan hitam yang sangat gelap, menghalangi ku untuk melihat ke sekitar.


Tapi terlambat sudah. Apa yang baru saja aku lakukan. Tidak melakukan apapun, hanya berlari tanpa arah. Membuang waktu hingga akhirnya tiba. Diriku sempurna mematung, tidak mau bergerak atau tidak bisa digerakkan lebih tepatnya.


Teriakan-teriakan semua orang sempurna hilang bersama perginya kepulan asap hitam. Hanya suara hembusan angin dan gemeletuk api yang tersisa.


Aku membuka mata terperjap-perjap. Barusan ternyata hanya mimpi, dan sangat nyata rasanya. Aku beranjak segera ke kamar mandi, hal tadi Aku anggap hal biasa terjadi. Aku hanya perlu pergi mandi untuk menenangkan diri setelah tadi berlarian di mimpi.


Ruang makan lantai 1 terdengar ramai dari lantai 2. Aku menuruni anak tangga, semua sudah lengkap mengisi setiap kursi meja makan. Ayah, Mama, Kak Reza dan... tatapan ku terhenti di Miko, dia balik menatap dan tersenyum lebar kepadaku—melambai kan tangan.


"Kenapa kak?" ujar Miko setelah melihat tatapan kosong ku. "Gak apa-apa Miko. Kakak baru bangun tidur, enak aja ngelamun," tegurku. Aku bergabung duduk bersama Ayah, Mama, Kak Reza dan Miko tentu saja.


"Lombanya Adek gimana?" Papa membuka obrolan di meja makan. Kepalaku terangkat. Miko mengikuti lomba dalam Minggu ini? Dan kenapa baru ini Ayah membahasnya?


Miko memang siswa yang aktif di sekolah nya sejak dari dulu. Seperti ada yang salah, aku sudah tertinggal berita apa saja sejauh ini?.


"Miko ikut lomba apa Pa?" Semua pandangan kini terarah padaku. "Loh Kakak belum tau kalau Adeknya ikut lomba tari di Monumen Pahlawan?" Wah ini benar-benar ada yang salah, aku jelas tidak tau, atau aku sebenarnya tidak dengar? Tapi aku tidak pernah absen jadwal makan bersama keluarga, dan percakapan penting hanya dibicarakan di waktu seperti ini saja.


Aku menggeleng dan tersenyum kecut. "Kakak besok ikut nonton Miko ya kak." Miko tersenyum, wajahnya terangkat—menoleh ke arahku. Aku balas tersenyum, "iya Miko, sudah pasti."


"Nanti kita bantu Miko, supaya semangat dan bisa ngasih yang terbaik." Ayah memegang tangan Mama—menoleh ke arah kami sambil tersenyum manis. Kami serentak mengangguk. "Makasih semuanya," lontar Miko—membuat suasana makan malam tambah ramai.


Aku langsung kembali menuju ke kamar setelah makan malam selesai. Kegiatan paling seru setelah makan malam hanya satu, main game. Tapi percuma, semua orang tidak pernah mengajakku. Daripada harus bermain sendiri dan bertemu orang random, malah lebih baik aku pergi tidur.

__ADS_1


__ADS_2