SEDUNYA

SEDUNYA
TENGERAN 11 : THE TWIN


__ADS_3

"Apa tidak bisa pelan sedikit mendorong nya? Bisa-bisa yang ada nanti aku jatuh dari kursi roda ini!" Aku berseru pada Talon. Tanganku mencengkram erat pegangan di sisi kanan dan kiri ku. Talon hanya diam—mendengarkan dan berlari sambil terus mendorongku menyusuri lorong yang minim pencahayaan ini.


Hampir semua lampu sudah dimatikan saat malam, hanya menyisakan sekitar empat sampai lima saja di sepanjang lorong. Kami hampir sampai di penghujung lorong. "Sial, mereka juga menjaga disana." Talon kaget, langsung menukik ke kanan setelah melihat beberapa penjaga sedang berdiri—menjaga pintu yang sepertinya adalah pintu keluar.


Kenapa malah berbelok? Aku heran, lalu berseru menanyainya, "Hei, kita sebenarnya mau kemana?"


Talon membentak, "Duduk dan tutup mulutmu saja nak. Aku akan membawa mu ke tempat aman!" Aku mengangkat alis, terdengar aneh. Jika memang tujuannya untuk membawa ku ke tempat aman, mengapa tidak meneruskan jalur yang tadi saja hingga bertemu para penjaga itu lalu menyuruh para penjaga tadi untuk menjaga ku dan semua selesai, tidak perlu berlari-lari seperti ini.


"Tidak ada yang bisa dipercaya untuk sekarang ini. Buang saja semua kepercayaan mu itu, dia bisa menjadi siapa saja," jelas Talon. Tunggu, siapa yang bisa menjadi siapa saja?


"Seseorang yang menerobos pertahanan kerajaan. Dia bisa menjadi siapa saja nak," jelas Talon.


Aku malah semakin heran. "Lalu bagaimana jika kamu sekarang yang mendorong ku adalah dia. Karena kamu menuduh para penjaga yang jelas malah sedang menjaga dan mengamankan kerajaan, tidak seperti yang kamu lakukan, seakan malah membawaku ke luar penjagaan. Dia bisa saja dengan mudah menembakmu mungkin, dan lalu menculik—"


"DIAAAAAM!! Tutup mulutmu, atau malah kubungkam!" Talon membentak. Aku tidak mengira itu akan terjadi. Baiklah lebih baik aku menurut saja.


Kami bergerak dan berbelok beberapa kali, tapi Talon tidak terlihat lelah sedikit pun walau sudah berlari mendorong kursi rodaku dari kamar hingga sekarang. "Sedikit lagi kita akan sampai. Semoga jalur ini aman dan lancar untuk dilewati." Derap kaki Talon bergerak kencang memecah sepinya lorong.


Aku sudah bisa melihat nya. Sebuah pintu kayu berwarna hitam. "Apakah itu jalan yang akan kita tuju?" tanyaku. Talon membenarkan. Dia langsung membuka pintunya. Dan ternyata kosong, tidak ada siapa-siapa di dalam sini.


Ruangan ini tidak terlalu besar, terlihat hanya seperti sebuah gudang penyimpanan. "Iya betul sekali tebakanmu nak. Disini tempat mereka menyimpan semua jalur ke semua pulau," Talon memberitahu ku. Tangannya menarik sebuah tuas, lalu seluruh ruangan menjadi terang, tapi bukan karena cahaya lampu. Sebuah portal berbentuk lingkaran berjejeran rapi—melingkar memutari ruangan penuh. Portal-portal Portal-portal itu nyala satu persatu.


Talon mendekat ke arahku—membungkuk, menjelaskan jika aku harus pergi ke salah satunya. Aku harus memilih sendiri, karena jika terjadi apa-apa, Talon tidak mau bertanggung jawab.


"Tapi kan kamu yang membawa ku kesini? Secara tidak langsung tentu saja kamu memiliki tanggung jawab atas keselamatan ku Talon, dan sudah jadi kewajibanmu untuk menjagaku!" aku mendengus kesal mendengar kalimatnya tadi.


Talon kembali berdiri. Dia menjelaskan, "Itu berbeda, kalau yang tadi memang kewajibanku, dan itu sudah tunai nak. Kamu sampai kesini tanpa lecet sedikitpun. Maka selanjutnya itu urusanmu!"


Talon meraih pegangan kursi rodaku. "Baik nak. Kamu terlalu lama memutuskan, aku pilihkan saja Pulau terbaik dan yang aman menurutku."


"Astaga, tunggu. Jangan lempar aku ke dalam sana!" Aku memegangi tangannya yang memegang kursi rodaku, memohon untuk tidak membuangku ke dalam portal.


Dia menunduk sebentar, dan berkata, "Maaf nak." Lalu tersenyum kepadaku, tangannya mendorong kursi rodaku ke arah portal.


Aku langsung berteriak, "Dasar sialan kamu Talon! Tunggu sampai waktu nya tiba!" Talon yang ada di luar portal tidak mendengarkan, berbalik badan meninggalkan ku yang sudah masuk—terjun ke dalam portal.


Aku tidak tahu bagaimana reaksi Ayah setelah tahu anaknya sudah tidak ada di atas tempat tidurnya malam ini, dan bagaimana dengan Miko setelah tahu kakaknya menghilang?


Otakku berhenti bertanya saat aku melihat sebuah ujung portal yang mulai mendekat ke arahku. Ternyata portal yang aku masuki tidak sama buruknya dengan portal yang ku gunakan sebelum ini.

__ADS_1


ZLUM! ZLUM! ZLUM! PLOP. Kursi rodaku mendarat sempurna di atas tanah dengan aman, aku suka dengan portal tadi. Mungkin aku akan menyukai berpergian ke pulau-pulau yang lain menggunakan itu.


Aku tiba di dekat sebuah bangunan menyerupai Gor. Ramai orang berlalu-lalang, wajah mereka penuh cat warna-warni dan ada beberapa yang memakai syal. Aku belum tahu pasti dimana aku sekarang. Yang jelas, aku sedang berada di dekat sebuah Gor.


"Ladies and gentleman welcome to the League of War Tar-Kam." Aku langsung menoleh ke atas. Ada sebuah layar besar menempel di sebuah besi, sedang menampilkan suatu acara yang sedang berlangsung di dalam Gor.


Seorang komentator kembali berbicara, "Let me introduce, on the right side, he call himself 'The Monster from Valhalla'. He is Dem-Dem-Dem-Demaaaa!" Demi mendengar apa yang komentator itu katakan aku tidak berkedip—fokus menontonnya dengan serius, memastikan jika yang aku dengar tidak salah.


Aku sangat terkejut. Apa ini sungguh-sungguh terjadi? Dema yang selama ini berada satu tubuh denganku, sedang berdiri di dalam Gor. Dan aku yang paling membuat ku takjub adalah wajah Dema, wajahnya sama sekali tidak ada bedanya sedikitpun dengan ku. Bagai pinang dibelah dua.


Seorang wanita berseragam datang dari belakang, mengejutkanku. "Excuse me sir. What are you doing in here? And why are you sitting in a wheelchair now? You must be in the arena right now. Or you will be disqualified." Aku sudah lebih dulu di dorong masuk oleh wanita itu sebelum sempat menjelaskan.


Aku di dorong memasuki gedung Gor. Wanita itu mendorong ku melewati kerumunan massa. Tidak lama kami sudah sampai di depan sebuah pintu dengan penjaga berbadan besar tengah berdiri menghalangi pintu itu.


Wanita itu mendekati penjaga itu, berbicara sebentar dengannya beberapa kalimat, dan penjaga balas mengangguk lalu menepi—memberi jalan kepada kami berdua.


Aku kembali di dorong memasuki ruangan di depanku. Wanita itu berhenti mendorong—berbicara padaku, "You stay here. Don't go anywhere!" Aku hanya mengangguk padahal tidak mengerti apa yang dia katakan. Dia balik badan—keluar ruangan dan meninggalkan ku.


Wanita itu meninggalkan ku di sebuah ruangan yang bisa kupastikan adalah sebuah ruangan pribadi. Terdapat kaca menempel di tengah-tengah dinding ruangan, dan ada beberapa foto yang sengaja ditata berjajar di dinding sebelah kanan ruangan. Ada lemari kaca di sudut kanan yang berisikan piala dan berbagai penghargaan lainnya.


Aku bergerak mendekati foto-foto itu. Penasaran apakah ada Dema disana.


Aku menutup mulut, hampir saja aku tertawa lepas. Foto Dema ternyata ada di antara foto-foto itu. Dia berfoto dengan kain yang dijadikan penutup mata, dan dengan hanya bercelana ketat panjang tanpa memakai atasan.


"Excuse me sir. Can i help you?" Terdengar suara yang amat aku kenal. Aku langsung memutar kursi rodaku—menghadapnya. Astaga orang yang aku cari dari pertama kali datang. Aku memanggil nya, "Dema! Kamu kemana saja selama ini? Aku membutuhkan mu kawan." Aku mengusap air mata yang tiba-tiba menetes.


"Amed? Itu kamu Med? Are you sure I'm not dreaming right now?" Dengan tubuh kekarnya, Dema berjalan ke arahku. Aku tidak sabaran menyuruhnya, "Sini kemari kawan. Sehari kemarin rasanya seperti setahun tanpa mu Dema."


Dema sudah berdiri di depanku. Aku meraih kedua tangannya. "Dema, aku ada di bawah sini kawan. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" Tangannya bergerak meraba-raba wajahku—tersenyum bahagia.


Dema langsung membuka kain penutup mata nya. Memberitahu ku jika dia tidak bisa lagi melihat apapun sejak waktu datang ke dunia ini.


"Lantas bagaimana kamu bisa bertahan sejauh ini?" tanyaku.


Dema menjelaskan, "Aing dibantu oleh seseorang dengan hati mulia Med. Dia membuatkan aing sebuah alat yang bisa membantu dan memudahkan aing dalam bertahan hidup di sini. Then, aing accidentally hear this league, and just signed up."


Aku mendengus. "Dema, jangan mengatakan sesuatu yang tidak aku mengerti. Apa yang kamu katakan barusan? Jelaskan menggunakan bahasa biasa saja agar aku mengerti."


Dema tertawa, dirinya lupa jika aku tidak mengerti. Lalu dia menjelaskan padaku menggunakan bahasa Indonesia. Kami mengobrol santai di dalam ruangan itu. "Amed, aing ingin bertanya sesuatu."

__ADS_1


Aku menjawab, "Iya silahkan. Tanyakan apa saja Dema."


Dema melanjutkan, "Apakah kamu semakin pendek? Atau memang kamu sependek ini dari dulu?" Aku terkekeh mendengar pertanyaannya. Aku memberitahu jika aku sudah tidak bisa berjalan seperti dulu. Dema ber-hah cukup kencang. "Bagaimana bisa? Apa yang terjadi padamu Med?" tanyanya.


Aku menyuruhnya duduk lebih dulu agar lebih enak untuk membicarakan nya. "Baiklah baiklah sebentar, dimana kursinya.... Nah ketemu. Baik ceritakan semuanya Med."


Aku menarik nafas panjang, menjelaskan dari awal waktu aku masuk dan melihat seseorang yang juga ikut masuk ke portal tapi mengambil jalur lain. "Kira-kira siapa itu Med?" Dema memotong.


Aku mengangkat bahu. "Aku sampai sekarang tidak tahu siapa orangnya Dem," kataku. Aku lanjut menjelaskan jika setelah itu aku merasakan sakitnya. "Tapi semua itu tidak sebanding dengan apa yang aku temui Dem," jelasku. Aku tersenyum lebar, walaupun Dema tidak bisa melihat ku.


Dema membungkuk—mencondongkan wajahnya, penasaran dengan kelanjutan penjelasan ku. "Aku bertemu Ayah dan Miko."


Dema bertanya padaku, "Lalu bagaimana dengan keadaan mereka berdua Med? Apakah baik-baik saja? Dimana mereka sekarang?"


Aku menjawab lugas, "Sangat lebih daripada aman. Ayah sekarang adalah seorang raja di Pulau Singgede, dan Miko sekarang memiliki kekuatan super. Asal kamu tahu Dem..." Aku memegang pundaknya. "Jangan pernah mengajak Miko untuk balapan lari."


Dema mengangkat alis. "Memangnya kenapa Med? Apa susahnya mengalahkan lari seorang anak yang umurnya lebih mudah dari kita berdua?"


"Yaaah kamu mah belum tahu. Nanti saat kembali kamu akan melihatnya sendiri," terangku.


Dema tidak sabaran, menanyakan padaku bagaimana caranya untuk kembali kesana. "Nah aku juga tidak tahu." Aku terkekeh pelan, menggaruk kepalaku yang tidak gatal.


Dema berdiri. "Aing ingat! aing tahu seseorang yang mungkin bisa membantu kita Med."


"Hah serius? Siapa orangnya?" tanyaku


Dema memberitahu, "Vi... Dia yang membantu aing, dan sepertinya dia juga akan bisa membantu kita berdua pergi ke Pulau Singgede menemui Ayah dan Miko." Aku mengangguk. Menyuruh Dema mendorongku untuk segera bertemu Vi. "Baik, sebentar. Aing mau izin berlibur ke manager, agar jadwal pertandingan tidak berantakan." Dema balik badan pergi keluar ruangan.


...***...


Kami berjalan menyusuri sebuah hutan di pulau ini. Pohon-pohon berjajar dengan hiasan-hiasan lampu melingkar pada batangnya, membuat hutan menjadi lebih terang saat sore begini.


Aku dan Dema tertawa saling berbagi cerita sejak kami terpisah beberapa jam yang lalu. "Dan asal kamu tahu Med. Hidungnya seketika berdarah setelah aing pukul, dan dia langsung terkapar tidak berdaya." Dema tertawa lepas menceritakan lawannya yang terlihat sangar tapi cepat dan mudah dikalahkan oleh Dema.


Aku bertanya bagaimana dirinya bisa bergabung dan mengerti bahasa mereka. Dema berhenti mendorongku—berdiri di depanku menunjukkan alat bantunya. "Dengan ini aing juga bisa mengerti apa yang mereka bicarakan Med. Sangat membantu sekali alat ini." Dema kembali ke belakang, lanjut mendorong ku.


"Tapi gaya bicara mu sudah seperti mereka Dem," jelasku, kagum dengan Dema yang hampir terlihat seperti fasih menggunakan bahasa pulau ini.


Dema memberitahu, "Itu karena aing juga belajar berbicara dan membaca buku yang mereka buat." Aku ber-oh, cepat juga Dema dalam beradaptasi disini.

__ADS_1


Aku lanjut bertanya, "Kalau boleh tau.... Dari mana kamu mendapatkan nya Dem?" Aku berdusta jika bilang tidak ingin memilikinya juga. Alat seperti itu akan menguntungkan bagiku, walaupun hanya aku gunakan agar mengerti bahasa mereka saja.


Dema memberitahu singkat, "Kita mau sampai. Nanti kamu aing kenalkan ke yang membuatnya, kamu minta sendiri saja." Dema lanjut mendorongku.


__ADS_2