
Siang tadi tidak terjadi hal di luar harapan ku, hanya berjalan seperti hari-hari biasa, makan siang, menonton TV, dan berbincang santai dengan Mama dan Kak Reza.
"Kamu kurang berapa bulan kuliah nya Reza?" Kami sedang makan malam di ruang makan. Mama memaksa memasak untuk hari ini. Mama membantah jika dibilang belum pulih.
Kak Reza menjawab, "Insyaallah kalau kata dosen, Reza bakal sidang di Bulan April Ma." Kak Reza melanjutkan makannya.
Perkuliahan Kak Reza selalu dipertanyakan oleh Ayah dan Mama, karena sudah lumayan lama dia berkuliah tapi belum selesai sampai sekarang ini. Kalau kata Kak Reza, dia sudah masuk ke semester ke-14, tahun ini.
Mama bertanya, "Masalah biaya kuliahnya aman?" Kak Reza mengangguk. Mama kembali bertanya, dan Kak Reza menjawab. Sampai kira-kira dua pertanyaan yang Mama tanyakan.
Mama tiba-tiba menghela nafas. "Kira-kira, sekarang Ayah dimana ya? Lagi apa ya, Ayah? Kangen kita juga gak ya?" Mama langsung merubah topik tanpa aba-aba.
"Ayah pasti aman Ma. Dan sudah jelas Ayah kangen kita. Mama sekarang jangan khawatir, nanti Reza bantu cari informasi Ma." Kak Reza meyakinkan Mama yang hampir putus asa.
Mama mengangguk. "Amed mau ngapain buat nyari Ayah?"
Eh.... Mama tiba-tiba menanyaiku?
Aku menjawab, "Amed bisa ngebantu apa Ma selain berdoa?" Mama berdiri—berjalan ke arahku. "Amed selalu nemenin Mama aja udah cukup, sayang. Kalian berdua harta berharga nya Mama, cuma tinggal kalian." Mama merangkul ku dan Kak Reza, menciumi kening kami.
Mama kembali duduk melanjutkan makannya, begitu juga dengan kami. Perbincangan di atas meja masih terus berlanjut.
Setelah beberapa percakapan, mama menyelesaikan makannya. Kami lalu membereskan piring dan gelas yang habis dipakai.
"Mama langsung istirahat aja, biar semua ini aku sama Amed yang ngerjain," Kak Reza memaksa Mama untuk langsung istirahat. Mama menjawab, "Iya Reza, Mama istirahat duluan ya ke kamar. Maafin Mama gak bisa ngebantuin kalian berdua." Mama tersenyum lalu balik badan berjalan ke arah kamar.
Aku dan Kak Reza langsung membereskan semua nya, piring, gelas, sendok dan beberapa mangkuk. Kami buru-buru agar bisa segera istirahat di kamar, siapa yang tidak suka tidur? Semua orang menyukainya.
Setelah semua selesai, kami berdua naik ke lantai dua. Menuju ke kamar masing-masing. Aku senang—berlari, dan langsung menghempaskan badan ke tempat tidur. Aku meraih selimut menutupi wajahku dan tidur.
"Hei..."
Aku langsung beranjak duduk mendengar suara bisikan itu. Aku melihat ke arah pintu. Ternyata tidak ada siapa-siapa.
Aku berdiri—berjalan ke arah bingkai pintu. Memperhatikan sekeliling, aku memanggil Mama dan Kak Reza.
Tapi tidak ada yang menyahut panggilan ku.
Lalu suara siapa tadi?
Aku kembali masuk. Aku menutup pintu kamar, agar jika ada seseorang yang datang akan mudah untuk mengetahui nya.
"Halo." Baru beberapa langkah dari pintu, suara itu kembali terdengar. Tapi kali ini suaranya terdengar lebih lantang, tidak berbisik seperti sebelumnya.
Aku kembali ke arah pintu—membukanya, menengok ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa di depan, kanan, kiri kamar ku. Kembali aku menutup pintu. Aku mencoba untuk langsung pergi tidur. Aku berlari—langsung melompat ke atas tempat tidur.
Aku langsung memejamkan mata. Tapi suara itu berbisik lagi memanggil ku. "Amed, apakah kamu mendengar ku?"
Aku berseru pelan, "SIAPA KAMU?!"
"Jangan galak-galak atuh Med." Aku terkejut, mendengarnya membuat ku langsung beranjak bangun. Aku heran, suara tadi ternyata mampu merespon ku.
"Ya aing lagi ngomong sama kamu soalnya Med. Kan aing bisa lihat kamu. Kamu kira aing hantu?"
__ADS_1
Aku bertanya ke suara itu, "Kamu bisa melihat ku lewat mana?" Aku membuka selimut, memperhatikan sekeliling, mencari suatu benda yang mungkin seseorang gunakan untuk memata-matai ku.
"Kesini, Lihat ke arah cermin Med."
Aku menoleh, memperhatikan cermin kamar. "Apakah kamu melihat aing?"
Hah....
Bayangan ku berbicara padaku? Dan sekarang dia melambaikan tangan ke arahku. Aku mencubit tanganku. Aku harap ini hanya mimpi buruk. Ayo Amed bangun.
Aku melihat ke arah cermin lagi, untuk memastikan kalau aku hanya bermimpi sejak tadi.
Ah sial. Dia kembali melambaikan tangan sambil tersenyum ke arahku.
"Siapa kamu? Kenapa kamu menjadi aku?"
"Aing itu kamu Med. Dan kamu itu aing." Aku menepuk dahi. Dari cara bicara saja berbeda, bagaimana bisa dia menyebut dirinya sebagai aku.
Aku menggeleng tegas. "Aku bukan kamu wahai aku yang dicermin. Kamu siapa? Jangan menjadi aku. Jadilah dirimu sendiri. Kamu hantu kan?" Aku tidak bisa menerima nya jika dia adalah benar aku.
"Gimana ya cara aing ngejelasin nya?" Bayangan ku sekarang berdiri di dalam cermin.
"Jika itu terlalu susah. Maka lupakan saja, aku ingin tidur sekarang. Dan aku berharap di bangunku esok hari, aku tidak melihatmu, Amin."
"Tunggu.... kamu baru saja berdoa Med?" Aku tidak menghiraukan pertanyaan nya. Aku menarik selimut, aku paksa memejamkan mataku agar cepat tidur.
Segera tidur Amed. Lupakan semua hal tentang hari ini dan kemarin.
"Kamu juga mau melupakan aing Med?"
Dia terkekeh melihat ku kebingungan "Ya karena aing itu kamu." Aku sudah tidak mau menghiraukan nya lagi. Aku harus cepat tidur.
Bayanganku kembali menyahut, "Okelah aing juga tidur." Mendengar nya membuat ku penasaran. Aku mengintip dari balik selimut, melihat ke arah cermin. Apa yang bayanganku sekarang lakukan?
Semua sudah aman ternyata. Aku hanya melihat diriku sendiri, dan tiap gerakan yang bayanganku lakukan sama seperti yang aku lakukan. Sudah tidak se-aneh sebelumnya. Berarti benar, yang tadi hanya halusinasiku karena sudah mengantuk. Aku langsung menutup kembali wajahku dan pergi tidur
...***...
"AAAAAHHHHH!"
Demi mendengar nya aku panik—beranjak turun ke lantai satu.
Aku melihat Mama berdiri dengan nafas tersengal. "Ada apa Ma?"
"KECOAAAAK." Mama berlari keluar dari dapur.
Aku berjalan ke arah lemari kecil di sebelah TV di ruang tamu. Mengambil semprotan hama. Berjalan kembali ke dapur.
Aku menyemprotkan ke sembarang celah yang ada di dapur. Aku juga tidak tahu pasti dimana kecoak itu berada sekarang. Setelah aku menyemprotnya, sekitar lima atau sepuluh menit lagi kecoak nya seharusnya sudah terbalik dan mati.
Aku memberitahu Mama jika sudah tidak ada kecoak di dapur. Mama menggeleng tegas. "Nanti... nanti baru Mama pastikan, sekarang masih terlalu cepat. Dia pasti masih berkeliling karena menghirup obatnya."
Baiklah, terserah apa kata Mama. Aku kembali naik. Jam berapa sekarang?
__ADS_1
Astaga... kenapa aku masih sangat mengantuk. Padahal aku kemarin tidur tidak terlalu larut, tapi rasanya seperti tidur, tepat tengah malam.
Aku kembali merebahkan diri di atas tempat tidur. Aku tidur telentang, sambil menatap arah jam lamat-lamat.
DEBUUUMM!!
Eh... barusan tadi apa astaga? Apa lagi yang terjadi di kotaku. Aku menghela nafas kesal—menuruni tangga. Aku langsung menyalakan TV di ruang tamu, mencari siaran berita.
"AMEEED! Barusan tadi apa?"
Aku menoleh datar ke arah Mama. Mama terkekeh karena mengira aku masih di kamar—meminta maaf karena berteriak pagi-pagi begini. Mama berjalan, duduk di sebelah ku ikut memperhatikan aku yang masih memencet tombol—mengganti ganti siaran TV.
"Stop Med."
"Eh..Kenapa nyuruh stop Ma?" Aku menoleh heran.
"Siapa yang nyuruh Amed stop? Kamu cari aja terus sayang. Mama dari tadi diem aja liat TV." Aku menggaruk kepala. Lalu siapa yang berbicara barusan? Apakah dia lagi....
"Iya Amed. Ini aing, Dema."
"Ah.... kamu meniru ku ya? Kamu memakai namaku untuk namamu. Itu jelas sekali. Kamu hanya membaliknya, kamu jelas tidak hebat dalam mencari nama, Dema."
"Amed ngomong sama siapa?" Aku heran demi mendengar Mama. "Mama bisa dengar Amed ngomong?"
"Kamu dari tadi ngomong lewat mulut Med," jelas Dema.
"Eh maaf Ma. Amed harus belajar lagi cara untuk bicara dalam hati." Aku menggaruk kepalaku.
"Amed.. kan Mama pernah ngajarin buat ga boleh mengumpat ke orang lain, apalagi sama anggota keluarga sendiri. Amed sekarang—"
Aku memotong teguran Mama demi menjelaskan alasanku. "Eh... maksud Amed bukan mengumpat Ma, cuma Amed tadi lagi ngobrol." Aku mengaduh pelan, sekarang malah aku membuat nya makin berantakan.
"Med sini tukeran sama aing. Gaperlu khawatir, Mama gak akan salah paham lagi."
Tuker? Tukeran apa? Di saat genting, Dema malah menyuruh ku melakukan sesuatu.
"Pejamin aja mata kamu Med. Bayangin, kamu lagi tidur." Aku mengikuti perintah Dema, aku tidak berkomentar langsung memejamkan mataku.
Apa aku sudah boleh membuka mata?
Sebelum Dema menyahut aku sudah sempurna membuka mata. Astaga, aku sudah kembali ke kamar. Bagaimana bisa?
Hanya selang beberapa detik, dan lalu keadaan seperti lebih tenang.
Aku langsung melihat ke arah cermin. Aku menanyainya, "Dema apa yang kamu lakukan barusan?"
Dema menepuk-nepuk tangannya, seperti selesai mengerjakan tugas berat. "Aing hanya mengendalikan situasi yang tidak bisa kamu kendalikan Med."
Aku paham sekarang. Ini jelas sama seperti yang ada di film superhero favorit ku. Dia superhero yang memiliki kepribadian ganda.
Apakah dengan begitu, Dema.... Alter egoku?
Dema mengangguk, dia bisa membaca apa yang aku pikirkan. Dema menjelaskan sedikit tentang dirinya. Tentang keberadaan dirinya yang ditujukan untuk melengkapi kekurangan ku.
__ADS_1
"Jadi Med, aing itu adalah kamu. Sekarang paham? Kita saling melengkapi oke?"
"Selama kamu tidak merugikan dan membawa keuntungan bagiku, kenapa tidak?" Aku terkekeh, melakukan tos tinju ke arah cermin.