
Mandi adalah hal paling indah kedua setelah membaca sebuah buku—menurutku. Aku masuk kamar, menutup gorden jendela karena sudah malam. Tidak ada PR yang biasanya menumpuk di meja—yang menunggu untuk di kerjakan. Aku mengecek ponselku sambil tiduran di tempat tidur, ingin memastikan dan mencari tahu, kapan sekolah akan dimulai lagi.
"Amed..." Seseorang berbisik memanggil ku. Aku menoleh, melihat Kak Reza sudah berdiri di sela-sela pintu yang sedikit terbuka—entah sejak kapan, aku tidak sadar.
"Apa Kak?" Aku mematikan ponselku karena sudah tidak ada perlu untuk memainkannya. "Masih khawatir masalah yang tadi?" Aku bertanya sambil mengangkat alis.
"Bukan masalah itu lagi," jelas Kak Reza sambil berjalan masuk ke kamar. "Sekarang gw mau lo turun. Udah ditunggu Mama, buat makan malam." Tangannya menunjuk ke arah pintu, menyuruhku segera makan malam bersama.
Kami berdua bergantian menuruni anak tangga. Mama sudah duduk rapi di depan meja makan. Mama menghidangkan makanan yang spesial untuk malam ini, ada Nasi goreng masakan Mama. Makanan favorit ku yang sudah hampir sebulan Mama tidak membuat nya.
"Sini anak-anak duduk." Tangan Mama mengambil piring, menuangkan nasi dan lauk untuk kami berdua. Aku dan Kak Reza menerima piring, kami duduk bersebrangan—Aku duduk di sebelah Mama.
"Ayah belum pulang Ma?" Aku membuka obrolan makan malam.
"Ayah masih sibuk dengan proyeknya." Mama menjelaskan sambil menghela nafas. Aku tahu perasaan Mama yang sering ditinggal Ayah karena kesibukannya.
"Proyek nya masih sama Ma?" tanya Kak Reza. Mama mengangguk pelan sambil tangannya mengambil lauk.
"Ayah masih menggarap projek nya yang sama dari dulu sayang," jelas Mama. Kami serentak mengangguk mengerti mendengar penjelasan Mama. Sudah sekitar dua setengah tahun projek ini dibuat dan dijalankan oleh ayah dan teman-teman ilmuwan nya.
"Ayah ga bilang kapan selesai nya Ma?" tanyaku sambil menyendok nasi goreng spesial buatan Mama.
"Belum bilang sama sekali, tapi kemarin Ayah bilang kalau ada sesuatu yang sangat istimewa Minggu ini," ungkap Mama, "tapi Ayah sama sekali gak ngasih penjelasan lebih," timpalnya.
"Mungkin Ayah mau ngasih tunjuk hasil kerja nya selama berbulan-bulan Ma," cetus Kak Reza. Mama hanya mengangkat bahu, lalu lanjut menyendok nasi.
Piring piring sudah tertata rapi dengan gelas dan sendok makan yang baru aku cuci. Aku berjalan dari ruang dapur, menghampiri Mama yang sedang duduk di atas sofa. "Mama mau nungguin Ayah sampe pulang?" Mama menoleh lantas mengangguk ke arahku sambil tersenyum. "Amed langsung nyusul Kak Reza aja nak. Langsung istirahat, udah malem kan sekarang." Mama mengusap-usap kepalaku sambil menyeka rambut yang mengenai mataku.
"Mama nunggunya sama tiduran... jangan dipaksa, daripada Mama sakit," ujarku ku. Mama mengangguk sekali lagi, meyakinkan. Aku takut jika Mama sakit seperti seminggu yang lalu karena kurang istirahat, akibatnya semua pekerjaan rumah berantakan karena semua tidak terbiasa mengerjakan tugasnya.
Lampu di lantai dua sudah mulai redup, hanya beberapa yang menyala. Kak Reza sudah tidur dengan posisi tengkurap dalam keadaan guling dan bantal yang sudah ada di bawah lantai, tanda kalau sudah tertidur pulas.
Aku masuk kamar—menarik selimut, lampu kamar sudah aku matikan tak bersisa. Semakin gelap maka akan nyaman dan tenang bagiku, juga menyehatkan kata dokter.
...***...
Minggu pagi, tanggal 18 Desember di tahun 2016. Tujuh hari setelah mimpi yang menegangkan itu, kami sekeluarga bersiap berangkat menemani Miko lomba. Seharusnya semua perlengkapan sudah masuk ke dalam tas yang akan dibawa. List yang Ayah berikan kemarin malam sudah ter-ceklist semua.
"Sudah semuanya anak-anak?" Ayah naik ke lantai 2—memastikan Aku dan Kak Reza benar-benar membawa semua yang diperlukan.
"Sudah semua seharusnya Yah," jelas Kak Reza—menutup resleting tas, satu persatu. Aku membawa salah satu tas menuruni tangga, dan menatanya di ruang tamu.
Aku kembali dari arah ruang tamu. "Kak Amed...." Miko berlari dari arah ruang tamu dan memeluk ku dengan muka yang sudah diberi make up oleh Mama sedemikian rupa.
"Yah...Miko," keluh Mama melihat make up wajah Miko yang separuhnya menempel di bajuku. Semua orang kini melihat ke arah Miko, menertawakan wajah Miko yang sekarang belepotan. "Kasihan Kakak nak, bajunya kotor sekarang," Mama menjelaskan—menarik Miko menjauh.
"Gapapa Ma. Amed juga belum mandi." Aku meringis.
__ADS_1
"Waduh, jam segini belum mandi? Sana buruan mandi nak, habis ini kita harus berangkat," tegur Ayah.
Ayah mondar-mandir memasukkan semua perlengkapan yang akan dibawa ke dalam mobil. Aku buru-buru naik dan mandi.
Aku kembali ke lantai 1 untuk membantu persiapan. Memakai kaos rumah dan celana training adalah setelan paling aku suka saat aku menjadi pesuruh keluarga, contohnya sekarang. "Kok lo make baju gituan Med?" Kak Reza menggerutu melihat ku memakai baju santai.
"Udah udah gapapa. Lagian artis nya bukan kita, tapi adik kalian, Miko," sahut Mama sambil berjalan keluar kamar—baru selesai me-remake up Miko. Kak Reza melupakan soal penampilan ku dan melanjutkan membantu Ayah.
"Udah selesai semua nya kan Yah?" Kak Reza menepuk-nepuk tangannya walaupun tidak kotor. "Sudah semua sih." Ayah menyeka keringat yang keluar dari pelipisnya.
Ayah masuk ke mobil 'Jeep' putih dan duduk di kursi supir. Aku dan Kak Reza sudah hampir sempurna duduk di kursi penumpang tengah, "Kalian berdua bawa mobil ayah yang Orange ya!" seru Ayah—kepalanya menoleh ke belakang. "Ada beberapa barang yang Ayah taruh di sana, karena gak muat di satu mobil."
Kami turun dari mobil Jeep ayah. Kak Reza kembali masuk ke dalam rumah mengambil kunci mobil satunya.
Ayah suka dengan mobil mobil yang memiliki tubuh besar, tapi juga suka mobil klasik. Dulu Ayah sempat hampir jadi pengoleksi mobil, tapi untungnya Mama bisa membuat Ayah berpikir dua kali, dan membuat Ayah hanya sekedar mengagumi tapi tidak memiliki.
Kak Reza kembali dari dalam rumah. "Lebih enak naik ini daripada Jeep Ayah."
"Ini kan Kakak yang minta. Terus Ayah nurutin kemauan Kakak." Kak Reza meringis, menyisir rambut menggunakan jemari.
Aku merebahkan punggung di kursi, mobil Ayah yang satu ini menjadi favorit ku karena kursinya yang empuk hampir seperti sofa yang ada di rumah.
"Lo enak tinggal duduk Med, gw nyetirnya agak susah. Ga terbiasa megang mobil ini gw," ujar Kak Reza. Mobil berjalan mundur, mulai keluar dari garasi.
"Turun Med!" Kak Reza menarik tuas transmisi yang tarikannya lebih berat sedikit daripada mobil Jeep Ayah.
"Pagarnya ga ditutup kah? Dibiarin aja gitu?" Kak Reza membuka 'central lock' mobil. Aku membuka pintu turun. Buru-buru menarik gerbang agar tidak tertinggal.
Aku kembali naik—Kak Reza menurunkan tuas transmisi dan membuat mobil mulai berjalan mengikuti mobil Jeep Ayah dari kejauhan.
"Udah 2 bulanan kira-kira, gw ga bawa mobil." Aku mengangguk-ngangguk mendengar Kak Reza. Radio dengan Kak Reza, sama sama bisa mengisi suasana yang sepi.
Masih pukul 9 pagi, mobil dan motor pribadi sudah memenuhi jalanan. Lampu lalulintas bergantian menyala, memberi kesempatan setiap kendaraan untuk berjalan. Terlihat ada beberapa orang buru-buru karena takut terlambat datang ke kantor, dan ada juga yang santai duduk menikmati kopi di warung.
Kami berdua sudah semakin dekat dengan tujuan. Terlihat banyak pedagang kaki lima di sepanjang jalan, seperti bazar di depan rumah dulu. Terlihat banyak anak-anak seumuran Miko yang sudah berdandan megah dan lucu, sedang membeli cemilan bersama kedua orangtuanya.
"Siap-siap turun Med." Kak Reza sudah membuka lock pintu.
" Tapi Mama sama Ayah ga kelihatan Kak," ujarku—melihat ke kaca jendela mobil.
Aku turun lebih dulu, ke arah bagasi mobil. Membuka pintu dan menurunkan 3 tas berisi makanan dan ....
"Kak... tas yang isinya baju Miko kok gak ada?" Wajahku memucat seketika, peluh langsung bercucuran di pelipis.
Kak Reza berlari dari arah depan setelah mendengarku. "Aduh... kok bisa sih, sebentar gw telfon Ayah." Kak Reza menggigit bibir ikut cemas.
"Halo Nak." Suara ayah terdengar lantang dari telfon, karena sekitar yang ramai. "Yah, tas yang isinya baju-baju ketinggalan di rumah. Ini aku mau—"
__ADS_1
"Cepet ambil sekarang!" Kak Reza terkejut—menjauhkan telinganya. Ayah membentak keras lewat telfon.
"Oke oke yah." Kak Reza langsung menutup ponselnya, tidak berkata apapun dan langsung menuju pintu supir.
Aku langsung masuk ke mobil dan memakai sabuk pengaman, tidak ingin menambah pikiran lagi. Wajah Kak Reza terlihat pucat sejak bentakan ayah tadi.
Mobil yang kami naiki sudah melaju di jalanan yang ramai. Kak Reza sangat fokus menatap ke arah jalanan. Mobil yang dikendarai melaju tanpa henti, menerobos setiap cela yang ada di depannya.
CIITT!
Badan kami berdua terhentak ke depan, sampai kepalaku hampir membentur dashboard mobil. Terlihat dari kaca, mobil-mobil berjejeran. Macet yang sangat panjang ada di depan mata kami.
"Waduh kenapa harus macet!" Kak Reza menggebrak setir, wajahnya kini merah padam. "Sabar kak, tenangin diri." Aku memegang pundaknya, berusaha membuatnya setenang mungkin agar bisa berfikir jernih jika terjadi apa-apa.
WIUWIUWIU!!!!
Sirine mobil ambulans membelah kepadatan yang ada di jalan. Dari jalan di arah yang berlawanan, lewat empat sampai tiga mobil ambulans. Juga di ikuti 5 mobil pemadam kebakaran.
"Med kok feeling gw gak enak." Kak Reza membuka jendela, melihat mobil ambulans lalu lalang. "Coba lo telfon Ayah sama Mama, sekarang."
Aku membuka ponsel, mencari nomer telfon mereka berdua di ponselku. Langsung ketemu nomer Ayah, aku buru-buru menelfon.
Aku menggigit bibir, mendengar nada dering yang tidak kunjung diangkat.
Sudah dua kali nada dering tidak diangkat. Aku langsung mencari nomer selanjutnya yang harus aku hubungi. Mama seharusnya mengangkat, tidak mungkin tidak.
Aku ulangi sampai tiga kali nada dering. Mama dan Ayah tidak bisa dihubungi.
Aku mengusap wajahku, mencoba berfikir.
"Puter balik lagi aja Kak, kita cari tau langsung ada apa disana!"
"Kita gabisa kemana-mana sekarang," Kak Reza mengeluh dengan keadaan.
"Cuma bisa nungguin semuanya selesai Med." Kepalanya menunduk menempel kemudi. Jelas benar yang Kak Reza bilang, kami sedang dalam kendaraan, dan jelas tidak bisa se-fleksibel seperti saat kami berdua berjalan kaki.
...***...
Mobil yang kami bawa sudah melaju di jalanan yang padat. Macetnya sudah berkurang, tidak sepadat setengah jam yang lalu. Mobil sudah bisa melaju, walau tidak terlalu kencang. Kak Reza tidak berhenti menekan bel mobil, menyuruh mobil di depan untuk sesegera mungkin mempercepat jalannya. Kami berjalan beberapa meter, lalu kami bertemu akses untuk putar arah.
Kami sudah berbalik arah, kembali menuju tempat lomba. Kak Reza tidak memberi cela untuk tenang sebentar. Dia menginjak pedal gas sangat dalam, membuat mobil melaju kencang memecah sepi jalan.
Untungnya perjalanan yang kami tempuh tidak jauh, hanya perlu beberapa menit untuk sampai lagi ke tempat lomba Miko.
Kak Reza mengurangi kecepatan mobil nya. Mobil ambulans terparkir rapi di halaman tempat lomba, ada juga yang baru datang dan memarkirkan mobil ambulans yang mereka kendarai. Kami memasuki parkiran mobil, memarkirkan mobil lantas buru-buru untuk turun.
Aku menghentikan lari salah seorang petugas medis. "Permisi bu, tempat evakuasi korban dimana ya?"
__ADS_1
"Mas nya jalan ke arah Barat aja, nanti ada tenda kuning yang berdiri. Mereka, para korban kami kumpulkan disana." Petugas itu langsung kembali berlari ke arah luar—menuju tempat mobil-mobil ambulans diparkir.