
Suasana di tenda kuning sangat ramai, dipenuhi oleh keluarga korban. Aku tidak melihat korban jiwa sejauh ini, hanya korban luka-luka yang terus berdatangan ditandu oleh para relawan. Apa yang baru saya terjadi disini? Dan siapa yang tega melakukan hal sejahat itu kepada mereka yang tidak bersalah?
Pikiran ku berhenti mengeluarkan pertanyaan saat melihat Ayah sedang duduk memegang tangan Mama yang terbaring di atas ranjang tenda darurat.
"Ayah... Maaf kami berdua terlambat, dan tidak–" Ayah berdiri—memeluk erat kami dan membuat Kak Reza berhenti bicara.
"Melihat kalian baik-baik saja sudah lebih dari cukup untuk saat ini nak." Ayah tersenyum sambil mengusap air matanya yang jatuh. "Maafkan ayah, belum bisa ngejaga adik kalian," Ayah mengeluh dengan suara yang terisak. "Di detik-detik ledakan itu terjadi. Tubuh ayah terdorong oleh semua orang yang berlarian melawan arah, tidak memberi kesempatan ayah untuk lewat," jelasnya, "Dan ketika semuanya berhenti, ayah menyadari kalau mama mu sudah pingsan, dan Miko...." Ayah menangis tidak kuat untuk lanjut menjelaskan.
"Ayah duduk dulu, tenangin diri ayah." Kak Reza mengelus punggung ayah, berusaha menenangkan sambil menyuruh Ayah duduk di kursi sebelah ranjang mama.
Sangat sulit berada di posisi ayah sekarang. Menjadi korban dan saksi di waktu bersamaan. Harus menyaksikan Miko yang entah dia kenapa dan dimana sekarang ini.
Ayah tertunduk sejenak, dan kemudian kepalanya terangkat. "Semuanya terjadi dengan cepat." Ayah meremas jari.
"Ini semua bukan salah nya Ayah." Mama sudah siuman, dan sempat mengomentari pernyataan Ayah.
"Ini salah Mama, gak bisa ngejaga Miko." Mama berusaha mengangkat badannya untuk duduk. Kami bertiga serentak menahan dan menyuruh mama untuk tetap terbaring.
Mama tersenyum, memberitahu jika dirinya kuat untuk hanya sekadar duduk di atas ranjang. Ayah mengiyakan kemauan mama dan membantu nya duduk di atas ranjang tidur.
Mama menghela nafas dalam-dalam. "Mama berada di barisan paling depan dekat tempat duduk para juri. Mama ingin berada paling depan untuk menyemangati Miko...," mama mengehela nafas lagi, "Ledakan itu terjadi tepat beberapa detik setelah musik tarinya dimainkan. Ledakan besar terjadi di belakang panggung, dan kemudian cahaya yang sangat terang lewat dari belakang panggung, naik ke atas panggung, dan di waktu yang sama, Miko sudah tidak terlihat di panggung lagi. Selanjutnya mama tidak ingat kenapa bisa pingsan."
"Cahaya itu. Pasti itu alasan Miko menghilang, hanya perlu mencari tahu, apa cahaya yang lewat di depan Mama," usul Ayah.
"Tapi gimana Ayah?" Seketika Ayah kembali patah semangat. Mama sudah tahu apa yang membuat Miko hilang, tapi Mama tidak tahu bagaimana mencari tahu nya.
"Mama khawatir dengan Miko sekarang, entah apa yang membawanya. Pasti ada maksud dan alasan tertentu." Nafas Mama seketika jadi kencang. Ayah langsung menyuruh Mama mengatur nafas, membantu Mama untuk kembali berbaring menenangkan diri sejenak.
Salah seorang perawat yang melihat datang, ikut membantu Mama. Berlari ke arah lain membawa obat dan sebotol air minum. "Terimakasih ya Buk." Ayah menerima obat dan botol minumnya.
"Bapak atau mas nya kalau butuh makanan bisa ke kantin, disana kami menyediakan beberapa makanan untuk keluarga penjenguk." Ayah mengangguk membalas perawat yang ramah itu.
...***...
Kami kembali ke rumah pukul 6 malam, setelah keadaan sudah sedikit mulai membaik dan Mama memilih melanjutkan istirahat di rumah.
Aku dan Kak Reza meng-handle semua tugas yang seharusnya dikerjakan Ayah, karena aku bilang jika Ayah lebih baik menemani Mama istirahat di kamar untuk sekarang, dan Ayah mengiyakan tanpa berpikir panjang.
Semua tas dan barang lainnya kami letakkan di dekat sofa ruang tamu. Kami menutup pintu depan rumah. Aku lebih dulu naik untuk membersihkan diri persiapan makan malam. Kak Reza langsung berbaring di atas sofa panjang depan TV di ruang keluarga. Aku menyalakan semua lampu. Masuk ke kamar Kak Reza untuk menyalakan lampu kamarnya.
Kamar Kak Reza selalu berantakan seperti terakhir kali aku masuk, seminggu yang lalu. Meja belajar yang dipenuhi novel dan buku biografi, tempat tidur nya sekalipun hampir kanan kirinya ada tumpukan buku.
Lemari bajunya terbuka, entah sejak kapan. Lebih baik aku tutup, aku sedikit tidak suka melihat lemari baju terbuka, mengingatkan ku dengan kejadian di film-film horor yang kebanyakan hantunya keluar lewat lemari baju.
__ADS_1
Sudah saatnya mandi dan ganti baju, aku buru-buru menuju kamar ku untuk segera mandi. Baru beberapa langkah dari pintu kamar Kak Reza, aku mendengar decit pintu lemari di kamarnya terbuka.
Aku kembali untuk memastikan hal yang baru saja aku dengar.
Dan ternyata benar, pintu nya kembali terbuka.
Aku berusaha tidak berfikir hal yang negatif, yang membuat diriku semakin ketakutan. Tetapi semakin dipaksa untuk tidak berfikir, malah membuat otakku semakin memikirkan hal-hal itu.
Aku meraih daun pintu lemari, sebuah bunyi desing pelan keluar dari arah dalam tumpukan baju Kak Reza.
Aku penasaran dan berusaha memindahkan satu-persatu baju. Membuat suaranya semakin jelas kudengar.
Sebuah buku berwarna hitam dengan sampul bergambar yang terlihat seperti lingkaran membentuk pintu atau lebih tepatnya portal. Buku apa ini? Apa yang ada di dalam....
Kak Reza mendorong keras pintu lemari membuat ku melompat sebelum sempurna membuka buku yang aku temukan. "Lancang lo!" Kak Reza menarik buku yang ku bawa dan menaruhnya di atas lemari bajunya.
Kak Reza menarikku keluar. "Maaf kak, tadi Amed ga sengaja—" Belum selesai bicaraku, pintu kamar sudah dibanting dan tertutup rapat sempurna. Entah kenapa dia terlihat berbeda, sedikit menakutkan.
Aku berjalan masuk ke kamar ku memilih baju dan bersiap mandi sebelum hari semakin larut.
Aku menyelesaikan mandi setelah hampir 10 menit aku duduk di dalam tanpa melakukan apa-apa, hanya memikirkan Miko yang sekarang entah sedang dimana.
Aku kembali ke kamar setelah mandi. Merebahkan diri di atas tempat tidur. Rumah ini benar-benar sepi dan gelap. Tidak adanya Miko seperti tidak ada kebahagiaan di rumah ini. Kegelapan semua orang semakin terlihat jelas sekarang.
...***...
"Anak anak kalian di atas?" Ayah berteriak dari lantai sati.
Aku tidak menjawab. Melangkah menuju tangga untuk turun langsung menemui Ayah.
"Wah anak ayah yang paling keren turun paling pertama nih." Ayah tersenyum lebar melihat ku menuruni anak tangga.
Ayah merangkul ku. "Dimana Kak Reza nak?" tanya Ayah. "Amed gak lihat yah. Amed baru keluar kamar hari ini," jelasku.
"Yaudah ayah cek sendiri kalau gitu." Ayah menaiki tangga. Dari kamarnya tidak terdengar suara atau kegaduhan sama sekali, bisa jadi Kak Reza sedang tertidur.
Mama terlihat sibuk sekali di dapur. Aku memutuskan membantu Mama menyiapkan piring untuk makan malam. Mama membawa panci ke dekat meja—menuangkan sayur capcay ke atas piring.
Ayah menuruni tangga sambil merangkul Kak Reza yang jalan setengah sadar sedang mengusap matanya. "Anak ayah yang satu lagi ternyata tidur dari tadi. Kasian habis nugas sampai ketiduran," ejek ayah.
Ayah menarik kursi—mempersilahkan Mama duduk terlebih dahulu. "Romantis banget yah. Ada sesuatu ya hari ini?" tanya Mama yang penasaran dengan sikap romantis Ayah barusan.
"Ayah kan selalu romantis Ma." Ayah tersenyum ke arah Mama. Mama balas tersenyum dengan wajahnya yang memerah malu.
__ADS_1
Mama membalas dengan menuangkan teh ke cangkir ayah, lalu menyuapi Ayah dengan sesendok nasi. "Lho cuma disuapin nasi? Gak ada lauk nya?" tanya Ayah menggoda Mama. Mama balas tertawa kecil.
Sudah lama suasana seperti ini hilang dari keluarga ku. Karena kesibukan kedua orang tuaku yang membuat mereka hampir tidak bisa bercengkrama se-hangat malam ini.
Aku menyuap nasi dengan sayur capcay buatan mama. "Besok... kalian semua ikut ayah ke laboratorium," tegur ayah. Ayah mengelap mulutnya dengan tisu. "Ayah akan menunjukkan hasil kerja Ayah selama ini ke kalian dan juga ke depan publik."
"Tuh kan... romantis nya ayah cuma sebagai pemanis aja tadi itu," tutur Mama sambil mengejek. Ayah mencubit lengan Mama. "Tadi beneran dari hati yang paling dalem ku sayang...." Wajah mama malah semakin merah. Mama langsung berdiri—menyaut semua piring dan membawanya untuk dicuci.
"Mama kalian selalu gitu." Ayah tertawa melihat Mama yang kabur tersipu sambil membawa piring kotor.
Ayah berdiri hendak menyusul Mama. "Mama kalian gampang banget baper kalau sama Ayah," Ayah menyombongkan dirinya. Aku hanya tersenyum mendengarnya.
Ayah berjalan keluar dari arah dapur sambil menggandeng tangan mama "Oke anak-anak sekarang waktunya kalian istirahat ya." Kak Reza balas melakukan hormat. "Oke yah siap."
Aku dan Kak Reza beriringan naik tangga ke lantai dua dan kami masuk ke kamar masing-masing.
Aku akan menyiapkan setelan baju favorit ku untuk pergi ke laboratorium besok. Baju yang tidak santai, tapi juga yang tidak terlalu formal.
Aku memilih kaos putih yang memiliki kerah, dan juga celana panjang warna hitam yang biasanya aku pakai saat ada acara keluarga. Aku menumpuk setelan ku di meja. Semua sudah siap, aku sudah bisa istirahat untuk sekarang. Aku meraih guling dan juga bantal, aku menarik selimut langsung tertidur.
Esoknya.
Mama mengelus rambut ku yang lusuh. "Ayo bangun, sayang nya mama." Aku langsung membuka mata.
"Langsung mandi ya, mama tunggu di bawah buat sarapan bareng." Punggung mama sudah lebih dulu menghilang dibalik bingkai pintu kamar.
Aku meraih baju dan handuk. Berjalan sedikit lunglai ke arah kamar mandi. Mulai menggosok gigi, lalu mengambil sabun batang dan shampo.
Aku meraih handuk. Memakai celana menuju kamar. Aku memakai parfum sebelum memakai baju.
Aku berjalan keluar kamar. Menengok ke arah kamar Kak Reza. Kamarnya sudah kosong, semua orang berarti sedang menunggu aku yang datang terakhir.
Kak Reza bermain ponsel di meja makan. Ayah sedang membaca koran di sofa panjang depan TV. Dan Mama terlihat sedang menyiapkan sarapan yang sedikit lagi siap.
Aku menghampiri mama yang mondar-mandir. "Amed bantu Ma?" tanyaku. Mama tidak berkata-kata, langsung memberikan tumpukan piring. Aku menerima tumpukan piring nya, lalu ku tata satu persatu di atas meja.
"Wah sudah siap semua ternyata." Papa melipat korannya setelah melihat aku dan Mama sibuk menyiapkan piring dan gelas untuk sarapan pagi.
Aku duduk di sebelah Kak Reza. Mama bersebelahan dengan ayah. Meja makan ini sudah berumur satu tahun. Semenjak kejadian hilang nya Miko, ayah memutuskan mengganti meja makan serta mengurangi tempat duduknya menjadi hanya untuk empat orang saja. Ayah ingin memastikan keluarga nya lebih baik setelah kejadian itu.
Mama menuangkan sayur dan nasi ke tiap piring. "Aku sedikit aja Ma." Kak Reza meletakkan telfonnya di atas meja. "Tumben kak makanmu sedikit?" tanya Ayah yang penasaran dengan porsi Kak Reza. "Gak apa-apa Yah. Cuma diet." Aku langsung tersedak, air minum ku sampai keluar lewat hidung. Aku dan ayah tertawa mendengar penjelasan Kak Reza.
"Huuts, kalau di atas meja harus sopan," tutur Mama menoleh ke arahku dan ayah yang tertawa terpingkal.
__ADS_1
"Apa salahnya coba?" Kak Reza terlihat kesal karena diejek.
Mama meraih piring ku dan menyendok nasinya. "Sini mama suapin kamu Med, gapake ngobrol. Kelamaan." Mama menyuapi aku yang masih menahan sakit perut karena tertawa.