
Muncul sebuah suara tawa jahat—terbahak dengan begitu keras. "Demi para dewa, saya tidak menyangka akan begitu mudah untuk mengelabuhi anda," kata suara itu sambil tertawa licik.
"Si–siapa kamu?" Aku mencari—menoleh ke segala arah, tetap tidak kutemukan asalnya.
Suara itu berbicara lagi, "Apakah anda benar-benar tidak menyadarinya? Lihatlah kemari, dan perhatikan yang ada di depan anda sekarang baik-baik!" Demi mendengarnya, aku langsung melihat ke depan.
Keempat orang di depanku kini berdiri—menatapku dengan tatapan kosong. Dan secara tiba-tiba mereka semua langsung berubah menjadi kepulan asap berwarna ungu yang pekat dan sangat besar—bergerak berputar mengelilingiku.
Asap ungu itu langsung menutup langit-langit, membentuk kubah dan mengurungku di dalamnya. "Apa yang terjadi sekarang Med?" tanya Dema. Bagaimana aku menjawab pertanyaan nya, sedangkan diriku sendiri sekarang sedang mencerna apa yang sedang terjadi dengan sekitarku.
Luas kubah itu makin lama makin menyempit. "Kita coba untuk menembus nya saja!" usul Dema.
"Ide bagus. Ayoo sekarang!" Aku ancang-ancang, mundur dua langkah dan langsung berlari ke depan—hendak membebaskan diri dari asap ungu ini.
"BRUK!" Usahaku sia-sia, malah hanya rasa sakit yang kudapat. Asap itu ternyata tidak bisa ditembus, benar-benar seperti sebuah dinding kubah yang keras. "Aduh, sakit jidatku," keluh Dema. "Padahal jelas, itu hanya sebuah gas. Bagaimana bisa tekstur nya sekeras batu?"
Rasanya seperti mimpi yang aku alami ketika tidur. Langit langit kubah ini mulai bergerak turun. Dinding depan, belakang, dan atas mulai menyempit—menghimpit dan mengurangi ruang gerakku.
"Apa ini karma untuk kita karena tadi habis membunuh seorang Kakek-kakek Med?"
"Ada-ada saja kamu Dema. Hal seperti itu apa masih berlaku di dunia ini?" tanyaku ketus.
"Kan kita tidak tahu cara kerja dunia ini. Kita kan sekarang bagaikan seorang turis yang sed—"
Sebuah pedang langsung menembus perutku. "Saya memberikan kesempatan untuk anda merasakan rasa sakit menjelang kematian anda." Kakek itu menancap kan pedang di perutku. Tubuhku di dorong pelan ke belakang, dia mencabut pedangnya. Aku jatuh, dan di saat bersamaan asap ungu itu juga menghilang.
"Saya kira, anda akan menjadi satu-satunya lawan terkuat saya. Ternyata.... sama saja." Kakek itu mendengus meremehkan ku.
Tubuhku lemas, aku mulai pasrah dengan keadaan. Mungkin beberapa detik lagi aku akan berhalusinasi.
"Ini aku yang sudah tidak merasakan sakit. Atau memang rasa sakit barusan memang benar-benar sudah hilang Med?" Aku langsung membuka mata lagi. Meraba-raba daerah tusukan tadi. Demi apa? Luka tusukan itu tiba-tiba sudah tidak ada ditempat nya.
Aku langsung bangkit duduk, sekali lagi memastikan—meraba luka bekas tusukan pedang tadi.
Aku bahagia tak terhingga masih hidup. Aku kembali bangkit. Berteriak memanggilnya, "Hei kakek tua. Sepertinya kamu akan menghabiskan malam mu hanya untuk melawanku hari ini!"
Kakek tua itu menoleh—balik badan setelah mendengarku. Dia tidak menyangka aku masih hidup dan kembali berdiri. Dia berbicara dengan nada datar, "Bravo. Perkenalkan nama saya adalah Tok, Tetua di Pulau Ampatraja, manusia yang paling kuat. Tidak akan ada yang bisa mengalahkan Tok sejauh ini. Anda bisa, anda dapat."
"Dapat apa?" tanya Dema.
__ADS_1
Tanpa jawaban. Dia langsung berlari secepat kilat. "Seperti tadi lagi Dema." Aku mengeluh melihat kekuatan berlarinya lagi. Sama seperti menangkap seekor kancil saja.
"Santai Med. Tinggal begini." Dema menjulurkan kaki dan selesai. Kakek itu langsung tersandung dan tersungkur ke tanah.
"Gausah kaget Med, wajar faktor umur. Dimana-mana, anak muda selalu unggul." Dema terkekeh bangga, tapi tidak dengan Tok. Dirinya kembali berdiri, mendengus kesal—mengibas jubah putihnya dan bimsalabim, dia sudah menghilang.
Dema mengaduh, bagaimana cara mengalahkan Tok sekarang, jika untuk melihatnya saja tidak bisa. "Tidak harus melihatnya dengan menggunakan mata Dem. Rasakan keberadaan Tok, sama seperti saat dulu kamu merasakan setiap lawan mu saat pertandingan." Dema memejamkan matanya, langsung mengerahkan segala kemampuan lamanya, mencoba mencari dimana Tok sedang berada sekarang.
"Naaah. Ketemu juga akhirnya, dasar manusia tua, merepotkan saja." Aku berjalan menuju salah satu pohon yang daunnya lebat. Aku mengepalkan tangan.
DEBUUUMM! Dema meninju pohon itu hingga roboh. Tapi, di waktu bersamaan, terasa kesiur angin melewati atas kepalaku.
Aku bertanya—memastikan, "Apa dia baru saja berpindah Dema?"
"Iya benar. Dia langsung melompat, tepat sebelum pohon tadi jatuh."
...***...
"Heeekk Aahhh." Dema meregangkan punggung. "Capek sih kalau terus-terusan begini Med," keluh Dema. Sudah hampir satu jam aku dan Dema duduk dibawah salah satu pohon—menunggu Tok yang tak kunjung muncul sejak kejadian pohon tumbang tadi.
Aku memberi usulan, "Kita jenguk Vi saja Dema. Kita lihat apakah dia masih bernafas sejak tadi kita meninggalkannya," kataku.
Aku menggoyangkan tangannya. "Percuma saja anda membangunkannya. Saya sudah memberinya obat tidur, agar dirinya tidak memberontak saat saya bawa." Tok berjalan santai, kali ini dia sudah tidak lagi menghilang.
"Dasar Kakek tua brengsek! Apa alasan kau membawa Vi, HAH?" Bentak Dema yang mulai marah, tidak terima. Aku berdiri, memandangnya penuh amarah. Hanya menghitung detik, sebuah pertarungan hidup dan mati sebentar lagi akan meledak di hutan ini.
Kaki ku berlari membuat dedaunan bersemburat ke belakang. Tok juga berlari di depan, ke arahku. Kedua tangannya melakukan gerakan seperti sedang merapal mantra, dan seketika kedua tangannya berubah menjadi dua buah pedang menyerupai serpihan kaca yang besar dan tajam.
Dema tidak takut melihat Tok mengeluarkan senjata. "Bukankah dengan begitu dia berarti menganggap kita lebih kuat darinya Amed?" Ada benarnya apa yang Dema katakan.
Dema kembali bicara, "Segera kita sudahi pertarungan dengan orang tua itu. Kita harus membawa Vi ke rumah kesehatan Amed." Aku mengangguk setuju dengan Dema. "Segera habisi Tok, Dema!" tegasku menyemangati Dema.
Tinggal beberapa langkah darinya. Tok mengsejajarkan pedangnya dengan kepalaku. Tok langsung menyabetkan pedangnya. Dema langsung menghindar—meluncur di bawah tebasan tangannya.
Dema yang menyadari peluang untuk balik menyerang, langsung menarik jubah Tok dari belakang, membuat Tok terjungkal ke belakang dengan keras.
Aku langsung melompat ke atas Tok yang terbaring di tanah. Dema tidak sabaran, tangannya membabi-buta mengarah ke kepala Tok. Tapi tangan Tok cekatan menahan semua pukulan yang Dema berikan.
"Minggir! apa sih AHH!" Dema meronta, tidak terima Tok menghalangi tangannya. Dema tidak bodoh, dia langsung memegang kedua tangan Tok di kanan dan kiri—menahannya di tanah.
__ADS_1
Dema langsung membenturkan kepalanya ke hidung Tok berulang kali. DUG! DUG! DUG! DUG! Dema tanpa ampun sedikit pun terus menghantam Tok dengan kepalanya.
Di sela kesempatan, Tok mengaku. "Sudah, saya mengakui kekuatan anda. Tolong sudahi semua ini," Tok berbicara dengan wajah yang merah, bukan sedang marah, tapi kini wajahnya dipenuhi darah dari hidungnya yang menyebar ke seluruh wajahnya.
Dema mengangkat kepala—berhenti. "Kau bilang apa barusan?" Dema mengangkat alis.
"To...tolong hentikan semua ini. Saya mengakui keheb—" DUG! DUG! DUG! DUG! Dema lanjut memukul Tok. Demi melihatnya, aku langsung menahan tanganku. "Astaga Dema. Kerasukan apa kamu? Kamu ingin membuatnya mati, HAH?" Aku berteriak—tidak terima dengan Dema yang hampir membunuh seorang kakek-kakek.
Dema tertegun. Aku berdiri memberi ruang Tok untuk menenangkan dirinya sambil masih terbaring di atas tanah. Nafas Dema tidak beraturan. "Atur nafasmu Dema, tenangkan dirimu!" tegurku.
"A–apa yang aing lakukan Med? Tangan aing penuh darah." Dema seperti bukan dirinya tadi, aku tidak pernah melihat dirinya segila tadi.
"Tenang Dema! Semua akan membaik nantinya," kataku untuk menenangkan Dema. Aku melihat Tok sekilas—memastikan kakek tua itu masih bernafas.
Tok tiba-tiba terbatuk. Aku langsung mendekat—menghapirinya. Wajahnya sudah benar-benar hancur. Terbata-bata dia meminta maaf karena mencari masalah, dan lalu dia berterimakasih karena masih membiarkannya bernafas walaupun tidak lama.
"Saya baru mengetahui dan sadar beberapa detik barusan jika dalam raga ini." Tok menunjuk dadaku. "Terdapat dua manusia yang hebat dan sama-sama saling menguatkan." Tok sekilas tersenyum.
Tok meraih tanganku dan menggenggam tanganku, mulutnya komat-kamit berdoa sedang merapal mantra. Seketika sebuah cahaya muncul dari tangannya, lalu merambat pelan berjalan ke tanganku dan lalu memudar dan menghilang. Tok melepas genggamannya.
"Apa yang kamu lakukan barusan kepadaku Tok?" tanyaku.
"Saya telah memindahkan kekuatan saya kepada kalian berdua." Aku mengerutkan kening. "Kenapa? Kenapa kamu melakukannya? Setelah semua yang baru saja aku lakukan kepadamu, kamu rela memberikan kekuatan mu?" tanyaku heran.
Tok memberitahu jika dirinya hanya ingin dunianya dijaga oleh orang yang kuat.
Tok sudah mulai terlihat melemah. Dengan nafas yang tersengal, Tok berbicara lagi, "Satu pesan saya yang harus kalian ingat. Yaitu, tidak semua kebaikan itu selamanya bermanfaat. Kekuatan yang saya miliki memiliki efek samping. Untungnya saya bisa mengetahui efek sampingnya bagi kalian."
"Apa efeknya?" Dema menyolot tidak sabaran.
Tok mengambil nafas sebentar. "Kesatuan kalian ini memang membuat diri kalian lebih kuat. Tapi semakin lama kalian dalam satu tubuh, maka nantinya akan hadir satu lagi dan mematikan yang lainnya," jelas Tok singkat.
"Siapa yang akan hadir memangnya Tok?"
"Tok sudah tiada Dem," tuturku.
Tok langsung menghembuskan nafas terakhir nya setelah memberikan penjelasan singkat tentang kelahiran sosok baru.
Dema mencoba mengerti ucapan Tok. "Jadi kita tidak boleh terlalu lama jadi satu, begitu?" tanya Dema. Aku hanya balas mengangguk menanggapi nya.
__ADS_1