
Dema meringkuk, dan berusaha berdiri. Dia berjalan ke arahku. "Terimakasih Med. Jika bukan karena—" Orang berpakaian hitam itu memukul punggung Dema dari belakang, aku tidak melihat orang itu bangkit.
Dema terjatuh—merangkak pelan di tanah, mencoba kembali bangkit untuk balas memukul. Tapi belum sempat berdiri, orang itu sudah lebih dulu menginjak kepala Dema, membuat Dema kembali tersungkur ke tanah.
Aku langsung memilih tombol di kursi rodaku, telunjukku sudah hampir menekan salah satunya. "Eiits. Nu uh, you can't touch it kid!" Dua orang dengan pakaian hitam lainnya ternyata sudah menyusul, dan salah satunya menahan tanganku yang hendak menekan tombol di kursi rodaku. Aku langsung ditarik dan dijatuhkan olehnya ke tanah.
Orang itu langsung menendang kursi rodaku menjauh. "I hate that thing. I almost died because of that thing," kata orang yang aku tembak dengan rudal—dia mendengus, kesal padaku.
"Luckily we came on time. You are too weak to face two boys, Iko." Mereka berjumlah tiga orang. Dengan postur badan yang berbeda-beda. Yang bertemu kami di awal adalah seseorang berbadan kurus, lalu yang mendorong ku adalah seseorang berbadan kekar yang penuh otot, dan orang yang terakhir itu memiliki ukuran badan paling besar dan gendut.
Mereka semua memakai setelan hitam. Ketiganya memakai jubah berwarna hitam yang panjang menjuntai ke bawah hingga menutupi kaki mereka. Dan ketiganya memiliki topeng putih berwajah kucing yang mereka pakai di balik kepala mereka saat ini.
Orang berbadan gendut mendekati Dema—menjambak rambutnya. "Haven't we fought him before?" Sambil menunjuk wajah Dema.
"Hei hentikan. Jangan lakukan itu!" teriakku kepada orang itu.
"Listen to him Oki. They are still children, don't be rude!" Orang berbadan kekar berbicara, dan lalu kepala Dema diletakkan kembali ke tanah.
Dema merangkak pelan ke arahku. Aku juga mencoba mendekat ke arahnya. "Dimana Vi sekarang?" tanya Dema—berbisik. Aku menggeleng, memberitahu jika aku tidak tahu.
"Katanya Vi ingin menghalau orang-orang ini. Tapi mengapa mereka malah datang serentak, dan menyerbu kita seperti ini?" tanya heran Dema sambil mendesah menahan sakit di perutnya.
Semua orang tiba-tiba diam—tidak bersuara, keadaan sekitar sekarang mendadak jadi sunyi. Suara patahan ranting dan daun kering terdengar jelas, langkah kaki seseorang terdengar mendekat dari arah samping rumah, kian jelas dan dekat suaranya.
Dari kegelapan muncul lagi seseorang, dengan pakaian yang berbeda dari yang lainnya. Mengenakan jubah putih, orang itu hadir dengan Vi yang digotong di pundak nya. "Sorry, this old man came late. Because this girl—"
"AARRGGGH!!!" Dema pergi berdiri—berlari ke arah orang itu, sangat marah melihat Vi yang lemas, digotong oleh orang yang tidak dikenalnya.
Tangannya siap meninju orang itu. Tetapi sebelum pukulan Dema berhasil mengenainya, orang itu sudah lebih dulu berpindah—mendekat ke rekan-rekannya, membuat tinju Dema tidak mengenai apa-apa dan malah membuatnya jatuh tersungkur ke tanah.
Gerombolan orang berjubah hitam langsung tertawa melihat Dema tergocek dan jatuh. "You think you can beat us twice?" kata orang berbadan kurus. Mereka tertawa kencang, kecuali si jubah putih.
Dema tidak menyerah, dia kembali berdiri—menggeram keras. Kali ini dia memastikan tidak akan meleset. "AAARRGGHH!! Dasar baji—"
"BUUG... DUG BUUGGG!!" Orang berjubah putih langsung memukul keras Dema di bagian perutnya. Membuat Dema terdorong mundur, dan langsung tergeletak tidak kuat menahan sakit.
Aku menelan ludah, kaget melihat hal barusan. "Astaga. Apa yang kamu lakukan padanya?" Aku buru-buru merangkak mendekati Dema yang sudah terkapar lemas terkena pukulan orang berjubah putih. Aku merangkul Dema, aku mendengar nya mendesah menahan sakit di perutnya.
"Dema, sudahi saja! Kamu tidak akan kuat melawan mereka sendirian. Aku tidak mau melihatmu habis di tangan mereka." Aku menggenggam tangan Dema yang penuh goresan dan bercak luka.
"Aaaww. Look at them, so adorable." Salah satu dari mereka tertawa mengejek. Aku tidak menghiraukan obrolan orang-orang itu, hanya mementingkan bagaimana dan apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Belum selesai aku memikirkan cara untuk menang. Tiba-tiba badanku dan Dema mengeluarkan cahaya terang. Empat orang itu sangat kaget melihatnya. Yang satu ingin mendekat, dan yang lain melarangnya.
Aku memeluk Dema lebih erat. Aku langsung memejamkan mata, berharap cahaya ini membawa sebuah mukjizat kepada ku untuk suatu kemenangan.
__ADS_1
Lalu. "BUUUUMMM!!"
Aku mendengar nya dengan jelas. Sebuah ledakan kencang yang meluap di tempat ku dan Dema berbaring.
Setelah aku rasa sudah aman, aku mencoba membuka mata—ingin memastikan apa yang sedang terjadi di sekitar ku.
Aku melihat wajah orang-orang berpakaian hitam itu berubah menjadi pucat pasi. Mata mereka melotot—menatap heran ke arahku.
"Hei siapa kamu?" Teriak orang berbadan gendut. Alisku terangkat, sejak kapan aku bisa mengerti apa yang orang itu katakan? Apakah karena—
"Ini aing. Apa kalian tidak mengenali aing? Orang yang akan mengalahkan kalian semua untuk kedua kalinya." Mulutku tiba-tiba berbicara sendiri, dan mengeluarkan suara dan nada khas bicara Dema. Aku memegang mulutku. "Apa yang terjadi Med? Ini tidak seperti dulu, saat kita ada di satu tubuh. Ini berbeda, tentu sangat jauh berbeda," ujar Dema.
Aku memberitahu Dema, "Entahlah Dem. Barusan juga aku bisa mengerti apa yang orang gendut itu katakan. Tidak seperti sebelumnya."
Aku memperhatikan diriku sekarang. "Amed, kamu sekarang sudah bisa berdiri!" kata Dema dengan riang sambil tertawa bangga.
"Iya Dema. Bagaimana bisa ini terjadi?" Aku terharu—tidak berhenti memperhatikan kedua kakiku yang sekarang bisa menopang diriku hingga bisa berdiri tanpa harus menggunakan kursi roda.
Aku mendadak teringat sesuatu. "Tunggu dulu Dem. Bagaimana kamu bisa tahu aku sekarang sedang berdiri?"
"Yaa bisa laaaah. Kan aing bisa..." Dema tiba-tiba berhenti bicara.
"Bisa apa kamu sekarang?" tanyaku bingung.
Dema langsung berteriak riang, memberitahu jika dirinya sudah bisa melihat seperti dulu kala. "Waaah. Bagaimana bisa? Aku sudah bisa berdiri, dan sekarang...kamu tidak lagi buta Dema!" Rasa senang dan bahagia yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
Aku terlalu senang, hingga melupakan empat orang yang tadi berdiri di depan kami, yang sekarang ketiganya sudah melingkar—mengelilingi kami dengan sebuah kapak berada di tangan mereka bertiga.
Tidak perlu menunggu, ketiga orang dengan pakaian hitam itu langsung melompat—menyerbu kami secara bersamaan dari kiri, kanan dan belakang.
Tangan kananku terangkat dengan sendirinya—menarik orang yang berada di sisi kanan, melempar nya ke arah belakang.
Orang yang ada dibelakang ku tidak mengira aku akan melakukan nya, dan belum sempat dia menghindar, temannya sudah lebih dulu menimpah dirinya. Mereka berdua langsung berjatuhan di belakang.
Dan saat jarak pukulan orang disebelah kiriku tinggal se-senti dari wajahku, badanku langsung reflek menunduk—menghindari pukulannya, lalu balas meninju dagunya yang langsung membuatnya terpental ke udara dan lalu terjatuh ke tanah.
Orang tua berjubah putih itu tertawa, heran dengan teman-temannya yang dengan mudahnya dapat lumpuhkan oleh seorang anak kecil.
Kakiku secara tiba-tiba berjalan sendiri ke arah orang tua itu. "Apa kamu yang sekarang menggerakkan kaki ke arah orang itu Dema?" Aku tidak menggerakkan kaki ku, tapi dengan sendirinya dia bergerak.
Dema menyaut, "Iya itu aing. Sudah aing bilang, ini berbeda dari sebelumnya Amed." Diriku sudah berdiri satu meter di depan kakek tua itu—saling berhadapan.
"Kamu akan langsung menantangnya Dema?"
"Kita tunggu saja Med. Biar kakek itu yang memulainya." Dema sabaran, kami berdiri menunggu ketidakpastian.
__ADS_1
Kakek itu membuka tudungnya. Dan langsung terlihat dengan jelas wajah tuanya yang sudah penuh dengan keriput, dan rambut panjangnya yang penuh dengan uban.
"Masalah pertarungan aku serahkan padamu Dema! Aku tidak hebat jika masalah pukul memukul," kataku. Dema menyuruhku untuk santai.
Aku bisa jika untuk membantu berpikir mencari celah atau menyusun strategi bertarung, itu lebih aku sukai karena hanya mengandalkan kekuatan otak, bukan otot.
"Mari lumpuhkan aku, atau habisi saja kakek ini bila bisa nak!" Kakek itu tersenyum, memasang ekspresi tenang. Dia bahkan tidak terlihat sedang memasang kuda-kuda.
Dema kesal melihat Kakek itu seperti meremehkannya. "Baiklah kalau dia menyuruh aing memulai." Dema membuka telapak tangannya, melakukan kuda-kuda seperti yang dilakukan dalam beladiri silat.
"HIAAKH!!" Dema mulai menjual pukulan pertama.
DUUG! Pukulan itu langsung dicengkeram dengan mudahnya oleh kakek tua. Dema mencoba mendorong tinjunya, tapi kakek itu menahannya dengan sangat kuat. "Apa-apaan ini. Bisa-bisanya dia menahan pukulanku." Dema bersungut-sungut.
Tanganku yang mengepal tiba-tiba mengeluarkan cahaya, dari redup dan kelamaan semakin terang. "HIIAAHH!" DEBUUUMM!
Kakek itu terdorong jauh kedepan. Dedaunan langsung berterbangan karena ledakan barusan. Membuat sekitarku penuh kepulan debu yang berterbangan.
Cahaya ditanganku yang tadinya terang sekarang meredup hingga akhirnya tanganku kembali tidak bercahaya. Apakah kekuatan ku keluar hanya jika bersatu dengan Dema saja?
"Kita tetap seperti ini saja Med, seterusnya. Kita lebih kuat saat bersatu!" suruh Dema. Aku setuju dengannya, memang benar jika kita berdua lebih kuat baru-baru ini, saat kita berdua kembali menyatu dalam satu tubuh.
Suara tawa kencang terdengar dari balik kepulan debu. Kakek tua itu keluar—berjalan gontai. "Pukulan yang sangat hebat nak. Diriku hampir lupa jika pukulan hebat itu masih ada dan akan tetap diwariskan oleh mereka yang merupakan keturunan murni kerajaan." Kakek tua itu menyibak kotoran yang menempel di jubahnya, dan kembali melihatku. Kakinya langsung mengambil ancang-ancang. Dan, BUUSHH! BUUSSSHH! BUUUUSSSHH! Gerakannya sangat cepat, berpindah-pindah dari kiri lalu ke kanan, lalu bergerak ke kiri lagi.
Aku menoleh ke segala arah, mataku tidak bisa mengikuti kecepatan gerak nya.
Kesiur angin terasa berbeda di atas kepalaku. Sial, aku telat menyadari tangannya yang sudah berada beberapa senti di atas kepalaku.
Belum selesai otakku memikirkan hal itu. Badanku lebih dulu mundur satu langkah sebelum hampir pukulannya mengenaiku lewat atas kepala.
Pukulannya menghasilkan angin kencang ke sekitarnya. Badanku langsung terhempas ke belakang. "Kelamaan mikirnya Med! Kita bisa mati kalau tidak cepat mengambil keputusan barusan," cakap Dema. Aku meminta maaf karenanya.
Aku menghela nafas lega. Kakek itu masih tertahan—membungkuk mencoba melepaskan tangannya yang menancap ke tanah karena meleset dan tidak berhasil memukulku.
Kaki kanan ku terangkat di udara. Aku melompat, mengarahkan salah satu kakiku ke arah wajahnya.
Astaga, dia langsung menghindarinya dengan cepat. Apakah tenaga kakek tua itu tidak ada habisnya? Jujur saja, aku sudah mulai kelelahan.
Kakek itu berhenti, berdiri tegak. "Lumayan hebat juga kecepatan bertarungmu, aku kagum dengannya. Tapi tetap saja—" Aku langsung menendang perutnya tepat sebelum dia selesai berpidato.
Badannya hanya terdorong mundur beberapa langkah. Dia memegangi perutnya yang baru aku tendang. "Benar kataku. Kamu bukan anak biasa." Dia terkekeh.
Hanya selat beberapa menit. Dia dengan tiba-tiba terduduk di atas tanah sambil menutupi mulutnya. "Astaga, apa yang baru saja terjadi? Bukankah itu hanya tendangan—" Mulutnya memuntahkan banyak darah. Teman-temannya berjalan menghampirinya. Yang satu menangis karena tidak tega, dan yang lainnya menguatkan Kakek itu untuk berjuang.
"Apa yang baru saja kamu lakukan terhadap Kakek kami, HAH?" Bentak pria berbadan kurus dengan suara cempreng.
__ADS_1
Dema memberitahu jika dia hanya memberinya tendangan biasa, dan benar-benar tidak tahu hal diluar itu.
"A–anak i–itu menguasai ten–tendangan legendaris yang hanya dimiliki oleh para ke–keturunan kerajaan," jelas kakek itu patah-patah. Ketiga orang berpakaian hitam langsung menatapku, lalu kembali fokus ke kakek tua yang mulai sekarat.