SEDUNYA

SEDUNYA
TENGERAN 4 : DIA YANG MEMULAI


__ADS_3

Sarapan sudah selesai, kini kami semua sudah lengkap naik ke dalam mobil.


Ayah menutup pintu mobil. "Jangan lupa sabuk pengamannya," kata Ayah. Kak Reza masih diluar mobil, menunggu sampai mobil sempurna keluar rumah.


Kak Reza menutup pintu pagar. Ikut naik ke dalam mobil. Duduk di kursi tengah—tepat di sebelahku, sedang mengenakan sabuk pengaman.


Perlahan Ayah mulai menginjak gas dan membuat mobil melaju. "Sesuai aplikasi ya bu," gurau Ayah ke arah Mama yang duduk di sampingnya. Mama membalas tertawa kecil sambil memukul pelan lengan kiri Ayah.


"Perlengkapan nya udah masuk mobil semua kan?" tanya Mama. Ayah membenarkan arah kaca spion diatasnya. "Semua sudah Ayah masukin tadi. Baju lab sama lembaran data-data nya," Ayah menjawab santai sambil tetap mengemudikan mobil.


Ayah membawa mobil sedikit kencang, karena jalanan yang sedang sepi. Hanya beberapa kendaraan yang terlihat.


"Hari ini sepi banget ya guys." Ayah menyenderkan kepala di atas setir sambil menunggu lampu lalulintas kembali hijau.


Mama menoleh ke arah belakang. "Coba kalian cek berita di internet. Siapa tau kita ketinggalan berita." Jari Kak Reza cekatan membuka 'Browser' untuk melihat berita terkini tentang kota.


"Pemerintah memberi himbauan untuk masyarakat tetap tinggal di rumah selama seminggu ke depan. Karena kasus virus yang kembali naik." Kak reza membaca lantang berita yang ada di website.


"Kita tetap berangkat aja ya." Ayah melihat kaca spion kiri, lalu membanting setir belok ke kiri. "Nanti disana juga kita tetap patuhi protokol yang diwajibkan pemerintah," tutur Ayah sambil melihat aku dan Kak Reza dari kaca spion di atasnya.


...***...


Kami akhirnya sampai di laboratorium tempat kerja Ayah setelah setengah jam menyusuri jalanan kota. Ini kali pertama aku kesini, dan lumayan jauh ternyata jarak rumah dengan laboratorium. Perjalanan tadi membuat ku mengantuk saking bosannya.


Mama menarik nafas dalam. "Udara nya segar banget lho." Aku ikut menarik nafas panjang merasakan udara segar di luar laboratorium.


"Kalian tau?" sahut Ayah dari arah belakang mobil, "Kami para ilmuwan dan relawan yang bekerja disini benar-benar menjaga kesterilan udara di sekitar laboratorium. Dengan tujuan untuk membuat para pekerja disini setidaknya jika tidak bisa merasakan udara segar di dalam sana, mereka bisa langsung merasakan nya ketika berada di luar sini." Ayah menutup pintu bagasi. Ayah berjalan kembali dari belakang mobil. "Ayo anak-anak, ke arah sini!" Ayah menyuruh kami mengikuti jalannya.


Ayah sudah berganti pakaian sekarang. Yang tadinya hanya memakai kaos lengan pendek, sekarang sudah berganti kemeja putih ditambah jas lab untuk luarnya.


Kak Reza mempercepat langkahnya untuk menjejeri ku. "Lo pernah kesini sebelumnya?" Kak Reza memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Aku menggeleng. "Baru pertama kali ini Ayah ngajak kita kan. Masa Ayah ngajak aku tapi Kakak nggak?" tanyaku heran dengan pertanyaan Kak Reza.


"Iya juga sih." Kak Reza meringis sambil menyisir rambutnya dengan jemari.


Kami tertinggal sedikit di belakang dari Ayah dan Mama yang sudah hampir dekat dengan pintu masuk laboratorium. Aku dan Kak Reza mempercepat langkah kami berdua.


"Permisi. Maaf aku menyela." Seseorang itu memotong jalanku, membuat kaki kanan ku terselip ke kaki kiri, hingga aku terjatuh. Aku mengaduh pelan. Kak Reza membantu ku berdiri—menepuk celana belakang ku yang kotor. Ayah dan Mama sudah masuk lebih dulu, tidak memperhatikan kami yang masih tertinggal di luar. "Masih bisa jalan kan lo?" Kak Reza memastikan kaki ku baik baik saja setelah jatuh tadi. Aku mengangguk sambil menahan nyeri di kaki kanan ku.


Kak Reza mendorong pintu masuk yang terbuat dari kaca. Bangunan paling depan laboratorium hanya lorong panjang yang ujungnya entah mengarah kemana. Dindingnya dihiasi dengan pigora yang di dalamnya terdapat surat perizinan pendirian laboratorium, dan sisanya hanya poster ajakan untuk mencuci tangan dan menjaga protokol kesehatan yang selalu dihimbau oleh pemerintah pusat.


Kak Reza bertanya pada satpam yang sedang berdiri menerima tamu, "Permisi pak. Apakah bapak melihat orang yang...." Kak Reza belum sempat menyelesaikan bicara nya. Satpam itu sudah lebih dulu meminta kami berdua mengikuti nya.


Kami berjalan mengikuti satpam yang menuntun kami menuju suatu ruangan. Kami bisa melihat keramaian yang ada di ruangan itu karena pintunya juga terbuat dari kaca. Seperti sebuah ruang tunggu. Satpam itu lalu membukakan pintu—mempersilahkan kami berdua masuk. Mama terlihat dari kejauhan duduk di salah satu kursi di tengah ruangan.


Kami menghampiri Mama yang duduk sambil bermain ponsel. "Mama lagi nunggu apa? Dimana Ayah Ma?" Kak Reza menanyai Mama.


"Kalian darimana aja?" tanya Mama tanpa menghiraukan pertanyaan Kak Reza. "Aku tadi ditabrak orang waktu jalan di luar Ma." Aku duduk menyebelahi Mama. Mama memperhatikan ku, memastikan kondisi ku baik-baik saja.


Kami bertiga duduk di kursi tunggu yang disediakan untuk para tamu atau kerabat para pekerja Lab. Karena suatu protokol yang mengharuskan para tamu dan kerabat untuk menunggu sedikit lebih lama dengan tujuan memberikan tubuh mereka waktu menyesuaikan diri dengan suhu ruangan, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak di inginkan waktu berada di Ruangan Uji Coba. Mama menjelaskan singkat alasannya harus menunggu ditempat ini sekarang.


Dua orang satpam berbadan besar tiba menghampiri kami—menyuruh untuk mengikuti mereka. "Sebelah sini ibu." Mereka berbeda dengan satpam yang aku dan Kak Reza temui sewaktu di depan. Dua satpam ini memiliki perawakan lebih besar. Mereka mengenakan setelan berwarna putih, entah pakaian apa yang dua orang itu kenakan, bahannya terlihat lentur dan terlihat pas dengan ukuran tubuh mereka berdua. Dan mereka juga mengenakan sabuk yang di bagian kanannya mereka isi dengan sebuah pisau mirip belati, karena ukurannya yang lebih besar dari pisau pada umumnya.

__ADS_1


Kami tiba di ruangan yang awalnya aku kira adalah ruangan Uji Coba. Aku belum bisa memastikan ruangan apa ini.


Salah satu satpam mengeluarkan kartu identitas nya—menempelkannya pada mesin scanner yang ada di bagian kanan pintu, untuk akses masuk ke dalam ruangan.


Pintu baja ruangan itu terbuka. Di dalam tertata banyak peralatan para ilmuwan yang biasa aku lihat di dalam film. Mereka berjalan ke arah sebuah kotak yang berdiri di salah satu sisi ruangan, mengambil sebuah pakaian putih, yang ternyata sama seperti yang mereka kenakan saat ini. Aku menerima pakaian itu.


"Apa guna pakaian ini sobat?" Kak Reza bertanya.


"Jangan banyak bicara nak," sahut salah satunya.


"Tentu aku tidak akan memakai nya. Jika kalian tidak menjelaskan alasan mengapa kami harus memakainya?" Kak Reza yang keras kepala masih tidak mau menurut.


"Dasar bocah cerewet." Salah satu satpam mengambil belati yang ada di pinggangnya—berjalan ke arah rekannya lalu menyabetkan belati itu ke lengan temannya. Mama berteriak—menutup matanya karena takut. Tapi lihat, tangan satpam satunya sama sekali tidak terluka, bahkan goresan sekalipun tidak terlihat.


Kak Reza langsung terkagum melihat kehebatan pakaian putih ini. Kak Reza berlari ke ruang ganti tanpa berpikir dua kali.


"Roman... tidak baik bermain pisau di depan anak-anak," tegas satpam satunya.


"Aku terpaksa melakukannya Rimin." Satpam satunya memasukkan belatinya kembali ke dalam kantung. "Aku tidak suka basa-basi menghadapi anak itu," Pak Roman menggerutu.


"Maaf atas sikap yang tidak sopan dari saudara saya barusan." Pak Rimin membungkuk ke arah kami.


Mama memegang bahu Pak Rimin menyuruh nya kembali tegak—memberitahu kalau hal barusan bisa diterima Mama, hanya saja Mama kaget karena itu terjadi secara tiba-tiba. Siapa pula yang menyangka salah satu satpam itu akan menyabet temannya menggunakan belati.


Kak Reza semakin percaya diri berjalan kembali dari ruang ganti. "Keren kan Med?" tanyanya—memamerkan pakaian yang menurutnya keren saat dirinya kenakan. Aku balas mengangguk,mengiyakannya.


Aku dan Mama beriringan menuju ruang ganti masing-masing. Kak Reza menunggu di luar ditemani dua satpam berbadan besar itu sambil berpose seperti model—bangga dengan pakaian yang dikenakannya sekarang.


Kedua satpam itu kembali memimpin jalan. Mereka menempelkan kartu identitas mereka dan lalu pintu baja kembali terbuka otomatis. Kami dibawa mereka berjalan menyusuri lorong Lab yang mengarah turun, lebih rendah dari lantai sebelumnya.


Terdengar keramaian di depan kami, yang semakin dekat semakin jelas terdengar.


Ayah muncul dari balik tembok. "Akhirnya tamu spesial ku sudah datang." Ayah menarik tangan Mama mengajaknya masuk. "Ayo anak-anak masuk!" seru Ayah.


Ayah membawa kami masuk ke dalam suatu ruangan yang sudah ramai dengan orang penting dan juga orang berkedudukan tinggi di kota ini.


"Aku nanti aku muncul di ruangan satunya." Ayah menunjuk ke arah kaca besar yang ada di depan kami. "Kalian disini saja, kalian akan aman karena kaca ini yang akan melindungi kalian." Ayah mengetuk-ngetuk kaca di depan kami.


Ayah memegang pundak ku dan Kak Reza. "Kalian tetap bersama apapun yang terjadi di depan nanti," tegas ayah.


Ayah meninggalkan kami di ruangan yang terdapat kaca besar di salah satu sisinya. Kaca itu seperti jadi pembatas antara dua ruangan. Kami seperti berada di ruangan yang dilindungi, sedangkan ruangan yang ada di baliknya bisa aku pastikan dengan jelas kalau itu adalah ruangan Uji Coba laboratorium.


Ayah kembali muncul di depan kami—sudah di ruangan yang berbeda. Ayah bergerak mendekati kaca sambil memegang sebuah pengeras suara.


"Terimakasih untuk para Bapak dan Ibu yang menyempatkan hadir di acara ini. Bisa saya pastikan kehadiran para hadirin tidak akan percuma, karena hadirin sekalian akan menyaksikan secara langsung pembukaan era baru dunia ini. Yang dimana nantinya kita tidak hanya sekadar bisa pergi keluar kota atau negeri, melainkan kita bisa pergi ke dunia yang Bapak Ibu sekalian belum pernah bayangkan. Pergi ke dunia dengan orang orang tersayang yang telah lama pergi contohnya.


"Saya dibantu para relawan dan teman-teman saya berhasil membuat sebuah mesin paling canggih di abad ini. Sebut saja The Spectrum. Spectrum adalah mesin portal yang akan membawa kalian ke dunia baru yang lebih besar, lebih indah, dan tentu saja... lebih sempurna." Ayah memberi isyarat kepada tiap-tiap rekannya untuk memakai perlengkapan pelindung Lab mereka.


"Izinkan saya untuk mempersembahkan." Ayah menekan tombol di dekatnya. "The... Spectrum."


FUUSSSH!!

__ADS_1


Angin bertiup kencang. Portal berhasil menyala sempurna, mengeluarkan cahaya berwarna biru seperti warna langit yang sangat indah.


Ayah tersenyum ke arah rekan-rekannya. Mereka balas tersenyum. Ayah berjalan ke pojok ruangan—mengambil sebuah benda berbentuk gelang. "Hei... itu seperti barang yang aku simpan di lemari." Kak Reza memperhatikan jelas benda yang Ayah pegang.


Ayah membuang benda itu ke arah portal. Portal langsung berubah warna sepersekian detik saat benda itu masuk ke dalamnya.


"Apa yang Ayah lakukan?" Kak Reza menggebrak kaca di depannya—kesal dengan Ayah yang masih fokus memperhatikan portal nya. Ruangan ramai tepuk tangan melihat Ayah. Hal barusan seperti pertunjukan keren bagi semua orang, tapi bukan hal menyenangkan bagi Kak Reza.


"Menjauh nak." Pak Roman menarik Kak Reza menjauh dari kaca. "Lepaskan tanganmu itu," Kak Reza mendengus kesal.


"Aku disini juga akan menunjukkan bahwa tidak hanya benda mati yang dapat melintasi portal itu. Aku akan menunjukkan kepada Bapak Ibu sekalian, jika mahluk hidup juga bisa melakukan nya."


Ayah melambaikan tangan—memberi perintah. "Bawa kemari simpanse-nya!" Salah satu rekan setimnya muncul sambil menggandeng seekor simpanse muda. Wajah semua orang sekarang terlihat semakin antusias memperhatikan ke depan.


"Aku telah menanamkan alat pelacak di dalam tubuh simpanse ini. Jadi, saat simpanse ini masuk ke dalam. Kita akan lihat bahwa alat ku bisa membawa mahluk hidup ini ke dunia baru dengan aman," terang Ayah.


Simpanse kecil itu mendekati Ayah. Ayah ganti menggandeng simpanse itu—membawanya mendekat ke arah portal. Ayah menunduk—memberi simpanse itu sebuah pisang. Lihatlah, simpanse itu menerima pisang yang Ayah beri.


Tapi kemudian, simpanse malah melempar Ayah dengan pisang yang dibawanya. Tidak ada yang menyangka simpanse itu akan memberontak kabur.


Ayah langsung menyuruh seluruh rekannya menutup semua akses untuk keluar. Simpanse itu berlarian mengelilingi ruangan, mencari jalan keluar yang sudah Ayah dan rekannya tutup.


Ayah yang sedikit kesal, membawa simpanse itu dengan kasar. Memeluk erat tubuh kecil simpanse itu. Simpanse itu meronta ketakutan, tapi Ayah tidak akan membiarkan kesalahannya tadi terjadi lagi.


Ayah mendekati portal sambil memeluk erat simpanse itu. Ayah langsung melempar begitu saja simpanse itu ke dalam portal. Portal langsung merespon—berubah warna, tapi tidak seperti sebelumnya. Portal itu berganti warna berulang kali, dari merah, hijau, ungu, jingga dan kembali menjadi biru.


Ayah menyeka peluh di dahi. "Maaf atas kesalahan teknis barusan. Itu sangat di luar perencanaan. Tidak ada dari kami yang menyangka nya." Ayah tertawa licik.


"Lihat itu!" Salah satu pria menunjuk ke arah portal.


Portal itu menyambar kan petir berulang kali. Angin bertiup kencang, lebih kencang dari sebelumnya. Ekspresi antusias semua orang sudah berubah menjadi wajah cemas.


Ayah heran—melihat ke arah portal yang tidak setenang tadi. Ayah melihat ke arah rekan-rekannya, bertanya seakan rekannya tahu apa yang sedang terjadi. Ayah sekarang menyuruh rekannya untuk mematikan portalnya.


Mereka bergantian menekan tombol untuk mematikannya, tapi portal tidak kunjung mati. Ayah geram—menyuruh rekannya menyingkir. Ayah yang kesal, asal menekan tombol.


Portal sudah berhasil dimatikan dengan sedikit tenaga yang dikeluarkan setiap orang di ruang Uji Coba. Setelah hampir 15 menit seluruh ruangan dibuat cemas dengan portal buatan Ayah yang menggila. Kini semua orang di ruang menarik nafas lega.


"Saya mewakili seluruh rekan kerja saya memohon maaf atas kesalahan teknis yang terjadi sejauh ini, benar-benar di luar rencana kami." Ayah membungkuk ke arah para tamu.


"Saya terpaksa mengakhiri acara uji kami. Maaf atas ketidaknyamanan yang tidak sengaja tercipta sejauh acara ini berjalan. Saya dan para rekan izin mengundurkan diri dari tempat. Selamat—"


DUAAARRR!!!


Ledakan meluap dari arah portal menembus kaca pelindung tebal di depanku. Badanku terlempar—membentur tembok beton tebal di belakangku. Kaca berhamburan di lantai ruangan. Aku meringkuk berusaha berdiri.


DEBUUUMM!!


Ledakan kedua menyusul, tidak memberi ku cela untuk bangkit. Membanting tubuh ku untuk kedua kalinya. Aku sudah tidak kuat. Rasanya sangat sakit sekali punggung ku.


Aku mengaduh. Bergerak malah makin menambah sakitnya. Tubuhku terkapar lemas, sudah tidak kuat untuk bangkit lagi. Mungkin ini akhir hidupku. Aku memejamkan mata, menarik nafas dalam-dalam. Aku tidak berharap apa-apa setelah ini.

__ADS_1


__ADS_2