
Aku membuka mataku perlahan—melihat tangan kiri ku yang ter-infus. Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah ledakan kedua tadi. Kepala ku terasa sakit saat aku berusaha mengingat kejadian tadi.
Terdengar suara kran air menyala dari dalam kamar mandi. Tidak lama air dimatikan, keluar seseorang memakai jas putih.
"Kau siapa?" tanyaku penasaran.
"Oh kamu sudah bangun nak. Aku tadi meminjam kamar mandi mu sebentar, karena dokter satu ini sudah tidak kuat untuk menahannya lagi." Dia meringis—perlahan mendekat.
Dia mengambil kotak putih di atas meja tepat di sebelah kananku. "Aku mendapat tugas untuk memeriksa keadaan mu setelah beberapa jam kamu masuk ke kesini. Untuk memastikan kamu semakin membaik, bukan malah sebaliknya."
Dokter itu meraih kursi—duduk di sebelahku. Membuka dan mengeluarkan alat tensi darah. Dia meminta izin memakaikannya di lengan kananku. Aku balas mengangguk. Mulai memompa alat tensimeter.
"Apakah dokter mendengar atau mungkin melihat Mama dan Kakak ku yang bernama—"
"Ah... Kakak mu baik-baik saja," balas dokter itu sebelum aku menyelesaikan pertanyaan. "Dan Mama mu sekarang sedang di rawat tepat di kamar sebelah sini." Menunjuk ke arah tembok belakang ku. Aku meng-oh sambil mengangguk mengerti.
"Setelah dari sini, aku langsung akan menuju kamar Mamamu. Mengecek perkembangan nya." Dokter itu melepas tensimeter dari lenganku. Merapikan nya dan diletakkan di atas meja.
"Apakah kamu masih merasa nyeri di badanmu? Atau ada rasa tidak enak di bagian lain?" Aku menggeleng. Setelah bangun tadi, aku bersyukur tidak merasakan sakit sama sekali. Dokter itu mengingatkan untuk memperbanyak istirahat dan blablabla, sangat panjang aturan yang dijelaskan. Aku hanya mengangguk sepanjang dia menjelaskan.
"Dan kalau kamu tidak bisa melakukan sesuatu tapi memerlukan sesuatu, tekan tombol ini saja." Meraih tombol emergency di atasku. "Tapi kamu tidak terlihat seperti anak lemah. Aku yakin kamu bisa melakukan semuanya sendiri bukan?" Dia tersenyum, meraih alat tensi dan memasukkannya ke dalam kotak.
Dokter itu berdiri, hendak balik kanan. "Astaga aku lupa. Izinkan aku mengenal kan diri. Namaku Azazel nak, tapi semua dokter dan perawat memanggil ku Dokter azel. Jika ada apa-apa atau kamu butuh dokter yang bisa diandalkan, panggil aku." Dia terkekeh kecil, mengulurkan tangannya.
Aku menjabat tangan dokter muda itu. "Namaku Amed Dok. Hanya Amed."
Kami berbincang tiga sampai empat kalimat dan setelah itu Dokter Azel balik kanan dan pergi keluar kamar. Punggungnya sempurna hilang di balik pintu.
Aku melirik jam dinding. Sudah pukul delapan malam. Apakah aku bisa tidur sekarang? Aku mencoba memejamkan mata dan menghadap kanan.
Setelah beberapa menit, aku kembali bangun. Aku meraih remote TV di meja—menyalakannya. Aku mengganti ke saluran berita.
"Para petugas kepolisian melaporkan, ada sekitar 35 korban luka-luka sejauh ini. Dan masih belum ditemukan adanya korban jiwa di lokasi kejadian ledakan." Pembawa berita berbicara lugas di depan kamera.
Layar TV berpindah menyiarkan seorang wartawan dari acara berita tersebut tengah berada di TKP, dan berdiri di sampingnya seseorang yang mengaku sebagai salah satu saksi yang menyaksikan ledakan laboratorium dari dekat. Banyak kesaksian yang disampaikannya, ada beberapa yang menurut ku dilebih lebihkan.
"Ledakan itu tidak hanya terjadi sekali, asal kau tahu. Itu terjadi dua kali. Dentuman pertama disertai kilatan dan cahaya berwarna biru. Lalu untuk yang kedua dan terakhir kalinya, terlihat berwarna ungu, dan aku akui itu adalah ledakan yang lebih besar dari sebelumnya." Tangannya memberi visualisasi ledakannya yang membesar.
Aku mematikan TV. Selera menonton ku menghilang melihat orang tadi bicara. Aku memejamkan mata, memilih tidur.
...***...
"Apa yang kamu lakukan Amed?" tanya keheranan Dokter Azel.
Aku terbangun. Langsung membuka mata, memaksakan untuk sadar. Aku melihat sekeliling.
Aku sendiri kaget jika menyaksikan ini. Bagaimana bisa aku yang semalam tidur di atas ranjang rumah sakit, sekarang berada di tengah lapangan yang di kelilingi gedung rumah sakit?
Para perawat berhamburan keluar dari gedung, ada yang membawa ranjang dan kantung infus—berlari ke arahku. Aku terduduk—tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jika ditanya, jujur saja keadaan ku sekarang lebih dari baik.
__ADS_1
Dokter Azel mengusap peluh di dahinya, berjalan pelan ke arahku berdiri.
"Aku bantu ya nak!" seru salah seorang perawat yang buru-buru mengangkat ku kembali ke atas ranjang.
Aku sudah sempurna berbaring, infus akan kembali dipasang. Aku menarik tangan ku. "Tidak, tidak perlu infus. Aku tidak mau."
"Baiklah Amed. Tapi kamu kembali dulu ke kamar bersama mereka." Dokter Azel memegang pundak ku. Aku mengangguk. Waktunya aku kembali ke kamar ku.
Melintas di lorong rumah sakit. Semua orang tidak berhenti menatap ke arahku. Ada beberapa yang menanyakan keadaan ku. Dokter Azel hanya dan akan terus membalas dengan mengacungkan jempol nya.
Aku tiba di kamar. Kak Reza yang duduk langsung berdiri—merapat padaku.
"Maaf dok, saya baru saja datang. Saya awalnya di luar rumah sakit, lalu mendapat telepon dari pihak rumah sakit kalau adik saya sudah bangun. Saya kira hanya bangun di atas tempat tidur. Ternyata malah begini." Kak Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Aku mencubit tanganku dan aku merasakan sakit. Ini bukan mimpi. Aku merebahkan punggungku di ranjang. Berfikir positif dan tidak berlebihan, menganggap hanya sekedar Sleepwalking yang umum terjadi kepada seseorang jika terlalu kelelahan.
"Tolong sekali ya. Dijaga adiknya, Amed ini anak yang spesial saya rasa." Dokter Azel tertawa kecil melirik ke arahku.
Kak Reza konsultasi masalah kondisi Mama kepada Dokter Azel. Dokter membalas setiap pertanyaan. Lalu mulai izin pergi setelah selesai tiga kalimat penjelasan.
Punggung Dokter Azel menghilang di balik pintu. "Gw udah mesenin taksi buat lo pulang ke rumah." Kak Reza duduk di kursi sambil bermain ponselnya.
"Aku pulang sekarang?"
"Gw rasa lo udah mendingan. Lo aja tadi udah bisa jalan kata para perawat," jelasnya datar.
Kak Reza beranjak berdiri, berjalan ke sebelah ranjang tidurku, meraih tas di lantai. "Gw bawain lo baju ganti Med."
Aku memakai pakaian rumah—mengangkat tas, berjalan keluar kamar. Salah seorang perawat berlari ke arahku. "Tunggu... kamu mau kemana lagi?" tanya perawat itu dengan nafas tersengal.
"Aku sudah lebih baik dari kemarin. Dan Kak Reza menyuruhku pulang." Aku menggenggam erat tas berisi pakaian.
Perawat itu menahan ku. Menyuruh ku meminta kesetujuan dari Dokter Azel yang bertugas dan bertanggung jawab atas ku. Aku dituntun oleh perawat itu menuju ruangan pribadi Dokter Azel. Tidak jauh, hanya sekitar lima meter dari kamarku.
Kami tiba di depan pintu ruangannya. Perawat itu mendorong pintu ruangan itu. "Dok, lihat siapa yang memutuskan pulang!" Dokter Azel memutar badan, mengaduh melihat ku yang sekarang berdiri membawa tas yang berukuran lumayan besar.
"Mau kemana lagi sekarang kamu?"
Aku menjelaskan singkat alasannya. Dan memberitahu kalau keadaan ku sudah lebih baik, semua akan baik-baik saja.
"Sesingkat itu pertemuan kita Med?" Dokter Azel terkekeh memikirkan hal lain. Memutar badannya menghadap kembali ke meja, meraih bolpoin dan menulis kan sesuatu di atas kertas. "Kamu sudah boleh pulang kok. Dan bawa ini ke apotek terdekat. Ini obat jika nantinya kamu merasa sakit lagi." Aku menerima kertas itu. Balik badan meninggalkan ruang pribadinya. Berjalan menyusuri lorong rumah sakit. Aku membuka pintu keluar rumah sakit. Sebuah mobil taksi sudah terparkir—menunggu kedatangan ku.
Pintu kiri mobil dibuka dari dalam mobil. "Silahkan mas." Tas aku letakkan di lantai mobil. Aku menghempaskan punggung ku di kursi. Supir mulai menyesuaikan arah tujuan di ponselnya. "Sesuai aplikasi nya mas." Pedal gas diinjak, mobil mulai melaju di atas jalanan Surabaya.
Mobil melaju tanpa hambatan pagi ini, hanya beberapa angkutan umum dan satu-dua kendaraan pribadi. Pendingin mobil membuat kantuk menyerang. Perjalanan masih sekitar belasan menit. Aku menguap lebar.
Badanku langsung terhentak dan terbangun. Aku tidak sengaja tertidur....
Tunggu, Bagaimana bisa aku sudah berada di kamarku? Aku baru saja memejamkan mata beberapa detik dan lihat, sekarang aku sudah berada di kamar, di atas tempat tidur ku. Aku meraih ponsel, menyalakan nya—melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tiga sore.
__ADS_1
Aku mengusap wajah ku yang berpeluh. Aku tidak menyangka hidup ku akan semakin aneh dan sulit untuk diterima oleh logika. Apa aku tidur terlalu lama di mobil taksi tadi? Sampai supirnya harus membawa ku ke kamar? Tapi lagi-lagi, itu mustahil terjadi.
Atau malah selama ini adalah mimpi?
Aku beranjak dari tempat tidur. Berjalan keluar kamar—menuruni anak tangga, menuju lantai satu. Tidak ada siapa-siapa ternyata di bawah.
Aku memperhatikan sekeliling. Teringat sesuatu. Aku harus melihat kalender, memastikan apakah ini hari yang sama, atau malah kejadian kemarin kemarin sekedar mimpi.
Hanya beberapa aku baru berjalan. "Assalamualaikum." Tiba-tiba terdengar suara yang amat ku kenal.
"Mama udah pulang?" aku menanyai Mama yang sedang melepas sepatu nya di depan pintu.
"Dijawab dulu salamnya atuh," tegur Mama. Aku langsung membalas salam Mama.
Kak Reza berjalan dari belakang Mama, membawa tas keperluan. Aku berlari ke arahnya, membantu dengan membawa salah satu tas itu.
Mama muncul di balik pintu. "Mau dibantu?" Kami berdua balas menggeleng. Kak Reza memberi tahu Mama untuk segera istirahat daripada mengkhawatirkan kami berdua.
Mama duduk di atas sofa depan TV. Mama menyalakan TV langsung mencari siaran berita. Terus mengganti siaran, tapi tidak ketemu siaran yang membahas kabar tentang kejadian di laboratorium kemarin. Hampir semua hanya membahas kabar tentang anak salah satu artis ternama yang sudah bisa memanggil Papa dan Mamanya.
Mama menghela nafas. "Kalian tidak mendengar kabar dari Ayah? Atau tentang Ayah? Dimana? Dan apakah dia baik-baik saja?"
Aku dan Kak Reza menggeleng. Kemarin saat di rumah sakit, mereka yang ada di siaran berita hanya menjelaskan bahwa tidak adanya korban jiwa dalam kejadian itu, tapi tidak menguak, apakah ada yang aneh atau apalah. Mereka tidak sangat terlihat tidak profesional.
"Kenapa kamu Med?" Mama dari tadi memperhatikan aku yang kesal dan menggerutu. "Gak apa-apa Ma." Aku buru-buru naik ke lantai dua. Aku mengambil pakaian dan langsung mandi.
Aku masuk ke dalam kamar mandi, menggantung kan baju di balik pintu. Berdiri melihat ke arah cermin di atas wastafel.
Aku akan mencobanya. Ini mungkin akan berhasil.Aku menarik nafas, memejamkan mata sejenak. Dan langsung aku buka kembali.
Dan... benar sekali, kejadian itu terjadi lagi. Aku sekarang sudah berdiri di kamar.
Aku melihat ke arah jam dinding. Sudah pukul tujuh, dan cahaya matahari pagi sudah menerobos masuk dari kaca jendela.
Aku terduduk di atas kasur, terkekeh heran. Apa yang terjadi denganku?
Kejadian ini sangat persis dengan yang terjadi pada karakter favorit ku di sebuah series yang sedang terkenal tahun ini.
Aku teringat sesuatu. Berlari ke kamar Kak Reza. "Kakak—" Kamar Kak Reza kosong. Aku langsung turun ke lantai satu, ingin menanyakan sesuatu tentang malam kemarin kepada Mama.
"Eh anak Mama sudah bangun." Mama lebih dulu menyapa. "Kemarin Amed ada apa nak, kok selama makan malam diem terus?"
"Kemarin itu bukan Amed Ma," tegasku. "Lho kok bisa itu bukan kamu?" Mama tertawa mendengar penjelasan ku.
"Iya Mama.... kemarin itu Amed—"
"Assalamualaikum Mama." Kak Reza muncul dari arah luar. Masuk rumah, menyalami Mama.
Kak Reza berjalan ke arahku. "Lo kemarin kenapa Med?" Kak Reza menatapku dengan tatapan yang aneh, bagai pemburu melihat mangsanya.
__ADS_1
"Aku?" Diriku sekarang malah mematung tidak bisa berkata di depan Kak Reza. "Aku kemarin itu cuma—"
"Adek mu mungkin kemarin kecapekan Reza," Mama bantu menjelaskan. Kak Reza mengangguk, langsung buru-buru pergi—naik ke kamar. Aku bernafas lega. Aku lupa bagian masalah penjelasan, bagaimana bisa aku menjelaskan sesuatu jika aku sendiri bahkan tidak tahu alasannya.