SEDUNYA

SEDUNYA
TENGERAN 7 : GELISAH TIDAK BERUJUNG


__ADS_3

Lima tahun kemudian...


DRIING....DRIING...DRIING


"Halo Kak?"


"Tiket pesawat nya udah gw kirim lewat telegram Med. Nanti kabarin kalau udah mau naik pesawat, sama kalau udah sampai di Surabaya jangan lupa telefon. Nanti biar supir gw yang jemput lo."


"Oke siap Kak Rez. Nanti aku kabarin terus." Kak Reza mematikan telfon dari Surabaya. Aku berganti membuka telegram—mengecek tiket yang sudah Kak Reza kirim.


Aku berangkat dari penginapan tepat pukul tujuh pagi di jam Kanada. Waktu perjalanan yang aku tempuh tidak terlalu lama, hanya sekitar lima belas menit dari penginapan, beruntungnya hari ini jalanan tidak ramai.


Bandara Vancouver hari ini tidak terlihat seramai pertama kali aku datang ke Kanada, mungkin karena aku berangkat bertepatan saat musim dingin disini, dan bisa jadi karena itu mereka menghindari penerbangan di Januari ini.


Aku melamun menatap ke arah layar besar yang menampilkan jadwal penerbangan hari ini. Aku mengingat waktu dulu pertama kali menjajakan kaki di negeri ini, sebagai seorang pelajar SMA.


Lima tahun yang lalu, tidak lama setelah wisuda kelulusan Kak Reza, aku dipilih untuk mengikuti program pertukaran pelajar sekolah ku. Aku bersama dua atau tiga pelajar dari sekolah lain di Surabaya diberangkatkan ke Kanada. Mama menyetujui nya asalkan aku belajar dengan sungguh-sungguh. Aku dan beberapa pelajar itu diberangkatkan dan menempuh pendidikan di Kanada beberapa bulan.


Lalu setelah aku kembali lagi ke Indonesia, aku kembali menerima undangan, kini datang dari salah satu universitas terkenal di Kanada. Undangan berisi beasiswa yang mereka tawarkan kepada ku.


Setelah mendapat undangan itu, aku langsung memberitahukan nya kepada Mama. Mama menolak mentah-mentah beasiswa yang aku sampaikan.


Kak Reza membantuku dengan bersedia untuk membantu segala keperluan biaya yang aku butuhkan. Demi mendengar nya, Mama akhirnya menyetujui, dan mengizinkan aku untuk melanjutkan pendidikan kuliahku di Kanada.


Aku melihat jam tangan sejenak. Sudah pukul sembilan di Kanada, perjalanan nanti akan memakan waktu yang lumayan lama.


"Med udah ada panggilan. Segera ke staff penerbangan, biar nanti kita gak ditinggal oleh mereka," Dema mengingatkan.


"Santai sebentar. Baru juga panggilan pertama Dem." Aku meluruskan kaki—meregangkan tangan ku.


"Mungkin jika pemerintah mengadakan acara pemberian penghargaan, aing yakin kamu bisa dengan mudah mendapatkan penghargaan sebagai orang yang suka mengulur waktu Med." Aku tertawa. Ada-ada saja, mana mungkin pemerintah mengadakan ajang seperti itu.


Sudah sepuluh menit menunggu, pemberitahuan penerbangan sudah kedua kalinya di kumandangkan. Aku beranjak menuju staff penerbangan. Menunjukkan tiket dan barang bawaan.


Staff mengecek isi koperku, dan tidak lama mengembalikannya, langsung mempersilahkan aku masuk. Aku mengangguk, berjalan masuk ke dalam pesawat. Aku mengecek tiket, mencari dimana aku akan duduk.


"Aing kira kita akan naik jet pribadi milik Kak Reza Med," Dema terdengar menyesal melihat aku memasuki pesawat komersial, bukan jet pribadi milik Kak Reza.


Kak Reza menjadi salah satu pengusaha sukses termuda tahun ini. Penghasilan nya tidak perlu ditanya lagi, setidaknya dia bisa terbang memutari dunia dalam semalam jika mau.


Di liburan musim panas, aku pernah diajak untuk menaiki jet pribadi miliknya. Aku ingat, saat itu pesawat yang ia beli baru keluar dari hanggar. Dan itu adalah pengalaman pertama ku terbang menggunakan pesawat jet ke luar Surabaya.


Para penumpang sudah sempurna duduk di kursinya masing-masing. "Permisi Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pramugari.


"Aku sedang mencari tempat dudukku, apa kamu bisa membantu?"


"Apa susahnya mencari tempat dudukmu sendiri Med? Aku yakin kamu sekarang hanya ingin modus, aing tau apa yang akan kamu lakukan setelah pramugari itu menuntun kita." Dema asal berkomentar. Tapi yang dia katakan ada benarnya.


Pramugari itu berhenti. Mempersilahkan aku untuk duduk. Pramugari itu balik badan hendak pergi. "Permisi, apakah aku boleh memiliki nomer telepon mu?"


Pramugari itu meminta maaf sambil menggeleng karena tidak bisa memberikan ku nomer pribadinya.


Dema terdengar tertawa puas melihat ku dipermalukan pramugari itu. "Ternyata kamu masih tidak bisa sekeren aing Med." Aku tidak menghiraukan perkataan Dema. Aku ingin istirahat saja, menikmati perjalananku ke Surabaya hari ini.


Aku membuka mata setelah sekitar setengah jam aku tertidur. Aku melihat ke sekeliling ku yang gelap.


"Dema...."


"Amed? Kamu bangun terlalu cepat. Hahaha."

__ADS_1


"Apa yang terjadi? Apa yang kamu lakukan?"


"Begitu Med rasa yang aing rasakan selama ini. Sesekali aing membuat mu sadar dalam keadaan seperti sekarang. Tapi tenang saja, semua nya aman." Dema terlihat sedang berjalan-jalan di kabin pesawat.


"Apa yang akan kau lakukan Dema?"


Dema menyapa pramugari yang ditemui. "Aing hanya ingin mencari makan di cafetaria Med. Kamu terlalu khawatir aing melakukan apa? Selama ini aing kan tidak pernah mengacau." Dema berjalan sambil mengelus perut.


DRUG!


"HEI! Perhatikan jalanmu." Seorang pria menabrak Dema. Dema mengangkat alis, heran dengan pria yang menabraknya.


Dema melanjutkan jalannya, tidak menghiraukan pria barusan. "Terserah kamu saja. Aku tidak ada urusan denganmu," katanya.


Pria itu memegang pundak Dema. Dema menoleh ke belakang. "Urusan kita belum selesai, dan kau mau kabur begitu saja. Kau tidak tahu sedang berurusan dengan siapa sobat!" Pria itu langsung memukul wajah Dema keras.


Dema terjatuh ke lantai kabin.


Dema meringkuk sambil tertawa puas, bagai serigala yang dihampiri seekor domba. Dema kembali bangkit perlahan.


Dema mengelap darah di bibir. "Pukulan mu lumayan hebat. Aing mengaku kalah sobat, aing meminta maaf. Terima permintaan maaf ku." Dema mengulurkan tangannya.


"Ternyata kau tidak setangguh penampilan mu kawan." Pria itu menjabat tangan Dema, tertawa meremehkan.


KRAAAK!


"AAAHH!" Sudah kuduga itu akan terjadi.


"WUUHUUUU! Sudah lama sekali aing tidak mematahkan tangan seseorang." Dema tertawa senang, melompat lompat kegirangan.


Dema adalah Dema. Saat aku menjalani kuliah di Kanada, Dema mengaku jika dia bosan dengan kegiatan ku yang hanya belajar, belajar dan belajar Dema ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat nya tidak bosan.


Sejak detik itu. Dema mulai datang ke klub tinju, dan kadang mencari kesenangan dengan menjadi kaki tangan seorang yang berkuasa di daerahnya. Dan semakin hari, Dema mulai pandai bertarung, dan hampir semua lawan yang bertemu dengannya pasti kalah.


Para pramugari mulai berdatangan mendekat, ingin tahu dengan kegaduhan yang terjadi. "Dema kita harus pergi, SEKARANG!" Aku memaksa Dema untuk segera menghilang dari tempat kejadian, atau semuanya akan tambah berantakan.


"Baik, baik. Aing tahu harus apa, dan aing juga gak mau menemani bocah cengeng ini." Dema tertawa kecil langsung berlari—tidak menghiraukan pria itu—pergi ke arah cafetaria. Para pramugari terlihat langsung mengerubungi pria yang terduduk memegangi tangannya yang patah.


Aku langsung memejamkan mata. Aku takut semua semakin berantakan karena hal tadi. Aku dan Dema bersepakat untuk menyerahkan kendali tubuh padanya hingga pesawat sampai di Surabaya.


"Baiklah, Med. Aing tidak akan mengacau, aing akan menjaga kita." Dema mulai mengambil beberapa makanan.


***


Aku membuka mata ku. Pertama kali yang aku lihat adalah langit-langit kamarku. "Selama apa kamu mengendalikan tubuh ku Dema?"


"Selama yang bisa aing lakukan untuk tidak menganggu istirahat mu Med."


Aku beranjak berdiri. Berjalan keluar kamar—turun ke lantai satu. Mama sudah terlihat sibuk menyiapkan makanan.


Mama yang melihat ku turun dari lantai atas, langsung meninggalkan semua kesibukan nya demi memelukku. "Astaga sayang nya Mama sudah bangun. Waktu kamu pulang tadi siang, kamu kelihatan capek banget, sampai panggilan Mama ga kamu respon."


Aku asal mencari alasan, yang benar dan tidak terlihat ganjil.


Mama menganggukkan kepala. Mengatakan jika tadi hanya bergurau, Mama sudah pasti mengerti kapan anak-anak nya sedang lelah dan tidak. Orang tua lebih mengerti anaknya lebih dari siapapun kata Mama.


Aku duduk di kursi, disusul Kak Reza. Mama menuangkan air ke gelas kami berdua. Menaruh nasi di piring kami berdua. Aku, Kak Reza dan Mama makan malam bersama tanpa Ayah dan Miko. Sudah beberapa tahun kejadian itu datang, tapi rasanya mereka pergi baru-baru ini.


"Mama....Reza mau bilang sesuatu." Seketika suasana makan malam berubah begitu saja. Kak Reza berbicara dengan nada yang serius.

__ADS_1


Mama menghentikan makannya, melihat sekilas ke arah Kak Reza, lalu kembali melanjutkan makannya.


"Reza mau membukanya kembali, menyuruh mereka melakukan hal yang sama seperti yang mereka pernah lakukan lima tahun lalu Ma," Kak Reza menjelaskan tanpa kejelasan.


Mama langsung kembali melihat ke Kak Reza. "APAKAH SULIT MELUPAKAN HAL ITU REZA?!" Mama membentaknya.


Kak Reza tidak menjawab. "Apa yang ada di pikiran mu? Apakah kebahagiaan yang ada di hadapanmu sekarang ini masih kurang nak?"


Mama berdiri, mengatakan sudah tidak selera untuk melanjutkan makannya—berjalan ke arah dapur.


"Mama yang memaksaku melakukannya. Mama selalu memikirkan mereka berdua, Mama masih tidak bisa menerima kepergian mereka. Aku tahu itu Ma. Dan alasan terbesar aku mencapai semua nya hingga di posisi sekarang adalah.... Untuk mengembalikan mereka."


Siapa yang Kak Reza maksud?


Apakah Ayah dan Miko yang Kak Reza sebut 'Mereka'?


"Baiklah. Lakukan sesukamu, tapi jangan libatkan siapapun jika nantinya hal yang kamu lakukan gagal Reza. Bawa mereka kembali!" tuntut Mama.


Senyuman langsung terukir begitu saja di wajah Kak Reza. Dia beranjak berdiri, langsung berlari ke arah Mama, memeluk Mama—mengucap terimakasih karena sudah memberi Kak Reza izin.


Kak Reza langsung bergegas ke kamarnya setelah itu.


Aku mengikuti Mama ke dapur. "Apa yang akan Kak Reza lakukan Ma?"


Mama menjelaskan singkat jika Kak Reza akan membuka portal itu lagi demi membawa kembali Ayah dan Miko.


Kak Reza kembali turun. Dia sudah memakai setelan hitam rapi ditambah dengan dasi hitam yang membuat penampilannya benar-benar seperti pengusaha muda.


"Sudah malam Reza...mau kemana kamu nak?"


"Maaf Ma, sebentar saja. Reza harus cepat pergi, ada janji dengan teman Reza di laboratorium!" Kak Reza mencium pipi Mama, langsung berpamitan singkat. Aku hanya melihat Kak Reza menghilang begitu cepatnya tanpa berkomentar.


Mama menghela nafas. Mencuci semua piring dan gelas yang selesai kami pakai.


Mama menjelaskan kekhawatiran yang Mama alami selama aku menjalani studi kuliah ku di Kanada. Mama memberitahu, jika Kak Reza yang sekarang penuh ambisi, dan sangat mirip dengan Ayah tepat setelah kehilangan Miko.


"Seperti barusan contohnya... saat Mama mengizinkan, tanpa jeda beberapa jam, kakakmu itu langsung pergi," Mama menyesal karena telah memberi izin Kak Reza.


Jam masih menunjukkan pukul sembilan, dan hari ini masih termasuk hari liburan ku, jadi aku memutuskan untuk tidur sedikit lebih larut daripada biasanya. Aku hanya ingin menemani Mama agar tidak terlalu kesepian hingga terlalu mengkhawatirkan Kak Reza.


Aku duduk di ruang tamu, menonton film favorit Mama. Mama selalu mengulang menonton film ini, sekiranya sebulan Mama akan menonton nya tiga kali.


"Amed tahu?... adegan ini selalu jadi adegan yang membuat Mama menangis, walau Mama sudah tahu akan melihatnya." Filmnya sedang menunjukkan dua pasangan yang akan berpisah setelah sekian lama menjalin hubungan.


Aku melihat ke arah jam dinding. Tidak terasa sudah pukul sebelas malam. Sejak makan malam, Dema sama sekali tidak bersuara. Aneh.


"Med Kak Reza kemana?" baru saja aku memikirkannya, dia langsung hadir.


"Kamu kemana aja Dema? Tidak muncul sejak makan malam tadi."


"Aing istirahat atuh Med, masa kamu aja yang boleh istirahat." Aku melupakan satu hal, yaitu Dema juga manusia yang bisa lelah.


Mama menghela nafas, mematikan TV. Aku menoleh heran, kenapa Mama mematikan TV tepat saat adegan keren di filmnya baru akan dimulai.


"Kakakmu belum pulang juga sampai sekarang," Mama memberitahu singkat, "Bagaimana kalau dia kenapa-napa? Tolong kamu cek Med, naik mobil Mama." Aku mengangguk, langsung mengambil kunci.


Aku membuka pintu pagar selebar mobil. Aku membuka pintu mobil—langsung duduk di kursi supir.


Mama berseru, "Kamu gausah turun lagi, Mama yang tutup pagarnya Med!" Aku mengangguk, mengeluarkan mobil ke depan rumah.

__ADS_1


Mama melambai—mengucap hati-hati kepadaku. Aku menginjak pedal gas, mulai membawa mobil turun ke jalanan kota.


__ADS_2