
Astaga... ini sangat mengerikan. Aku sudah masuk ke dalam portal, bentuknya melingkar dengan panjang yang hampir tidak bisa ku lihat ujungnya ada dimana. Aku tidak tahu harus berpegangan kemana, tidak ada yang bisa aku jadikan pegangan di dalam sini. Sampai kapan aku akan berada di posisi terjun bebas seperti sekarang. Ini sangat menakutkan, dan jika terlalu lama akan membosankan.
“Dema.. apakah kamu sudah sadar?” Tetap tidak ada jawaban. Sejak kejadian tadi di laboratorium, hingga sekarang, aku tidak mendengar suaranya.
Ya tuhan, sekarang apa lagi? Di depan sana terlihat jalur bercabang, ke arah kanan dan kiri. Lebih baik aku memilih arah kanan, karena hal baik selalu berasal dari sana. Aku mengatur tubuhku, membuatnya miring sedikit ke arah kanan.
JEDAAAR!! Suaranya menyerupai petir dengan sekala besar, menyambar sembarangan.
Ahh... apa yang terjadi? Tubuh ku tersendat di antara dua cabang ini. Padahal tadinya tubuhku sudah sempurna berada dicabang bagian kanan, tapi tiba-tiba seperti ada magnet dengan tarikan yang kuat, menarik dan memaksaku untuk masuk ke arah yang lainnya. Dari dua arah saling menarik, membuat tubuhku rasanya seperti akan putus. Aku tidak bisa melakukan apapun selain bertahan hingga semuanya selesai, atau aku akan mati dalam rasa sakit ini.
KRAAAK!!... ya tuhan... KRATAAK!! Aaaa... Sekujur badanku langsung lemas, sudah menyerah setelah merasakan rasa sakit yang luar biasa ini. Tubuhku di tarik kuat sampai hampir putus saja rasanya.
Tapi, tarikan yang aku rasakan tiba-tiba saja mulai melemah. Rasanya, salah satu dari cabang itu sudah tidak menarikku, tubuhku sudah melayang ringan tanpa beban dan sudah tidak ada tarikan kuat dari sisi lainnya. Penglihatanku kini sudah mulai buram, dari ujung mata, aku dapat melihat seseorang juga melayang masuk ke cabang yang satunya. Siapa orang itu? Apakah Kak Reza juga mengikutiku masuk ke dalam portal? Belum habis petanyaanku, jalur portal di cabang kanan kini menarikku masuk ke dalamnya. WUUUUUSSHH....
***
“Ya, aku menemukannya di tumpukan gunung sampah di daerah Selatan pak.” Aku membuka mata ku perlahan. Aduh, punggung ku rasanya sangat sakit. “Eh sebentar pak, anak itu sudah bangun.”
Seorang pria paruh baya, mengenakan rompi berwarna kuning dan topi koboy—berjalan ke arahku, memegang lenganku dan membantuku bangkit—menyandarkan ku pada sebuah balok semen. Dia memberiku sebotol air berwarna biru pekat. “Minumlah nak. Ini adalah air, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apapun. Kamu aman disini,” jelasnya setelah melihatku ragu-ragu menerimanya. Paman itu duduk di sebelahku, memperhatikan ku dari atas sampai bawah. “Apa yang terjadi, dan apa yang membawa mu kemari nak?”
“Aku masuk untuk mencari Ayah dan Saudara ku paman.” Aku menyobek roti dan memakannya terus, sampai habis. Paman itu kembali berdiri, mengeluarkan alat yang mirip kerang tadi, lalu berbicara cepat—menyuruh seseorang untuk segera datang kemari.
Dia kembali menghampiriku, bertanya “Apakah kamu sanggup berjalan?” Aku menatapnya lalu menggeleng. Aku merasakan jika ada yang salah dengan tubuh ku sekarang, rasanya berbeda dari sebelum aku ditarik oleh dua cabang itu. Paman itu tiba-tiba pergi menjauh, tidak tahu kemana.
Aku tidak tahu sudah berapa jam lamanya aku jatuh dan tidak sadar disini, atau malah sudah berapa hari aku datang dan tidak sadar selama itu. Sejauh mata memandang, hanya terlihat tumpukan gunung sampah, juga terlihat ada beberapa gubuk yang tampak beberapa orang sedang mengobrol satu dengan lainnya.
“Halo anak manis.” Seorang nenek dengan umur antara 60 tahun tiba-tiba muncul dan menyapaku. “Halo juga nek,” aku membalas sambil tersenyum menyapa nenek itu. Dia lalu melepas rompi dan topi petani yang dipakainya—duduk di sampingku. “Apa kita pernah bertemu nak, sebelumnya?” Nenek itu melihatku dengan matanya yang menyipit. Aku menjawab, “Aku baru sampai kesini nek. Aku barusaja pindah.”
__ADS_1
Tatapan nenek itu langsung berubah jadi tatapan sedih. “Kamu dibuang dari pulau yang mana nak? Kesalahan apa yang kamu perbuat hingga membuat mereka membuangmu ke dasar nak?” Nenek itu semakin penasaran dengan asalku, tapi aku tidak bisa menjawab dan jadinya aku hanya tersenyum di setiap pertanyaan yang nenek itu tanyakan.
“Dia berasal dari Pulau Singgede mbok.” Seseorang langsung memotong percakapan kami tiba-tiba, membuat nenek itu langsung berhenti bicara. Kami berdua serentak menolehnya. “Astaga, hal buruk apa yang sedang terjadi hingga membuat Tuan Talon turun ke Pulau Rongsok siang-siang begini?”
Seseorang bernama Talon itu membungkuk ke di hadapanku, bilang jika dirinya datang untuk menjemputku. “Anak ini membutuhkan bantuanku mbok. Jadi maaf sekali karena mengganggu keasikan mbok berbincang dengan anak ini tadi.” Pria dengan mantel berwarna putih itu memanggil beberapa pelayannya, menyuruh mereka untuk membantuku. Salah satu pelayan langsung mengeluarkan piringan putih seperti roda, menariknya dari dua sisi dan bimsalabim, sebuah kursi roda sudah ada di hadapanku.
Talon memberi perintah, “Bantu anak itu untuk naik!” Para pelayan langsung sigap menaikkan ku untuk duduk di atas kursi roda yang mereka buat. “Kami pergi dulu ya mbok. Sampai jumpa di kesempatan lainnya.” Talon tersenyum, lalu membawa ku pergi. Sebelum pelayan sempat mendorong, aku lebih dulu bertanya kemana aku akan mereka bawa. “Percaya lah denganku, kamu aman bersama kami nak.” Talon meraih kursi roda ku, menyuruh pelayannya menyingkir.
Talon memberitahu akan membawa ku bertemu dengan seseorang yang aku kenal, “Dia juga menanti waktu dimana kalian akan bertemu. Seharusnya dia tidak tinggal disini, tapi seseorang menutup jalan yang seharusnya bisa membawanya kembali pulang.” Sebuah pesawat berbentuk oval sedang terbang rendah, menunggu kedatangan Talon. Sebuah pesawat berbentuk oval, dengan warna putih dengan garis garis berwarna emas membuatnya terlihat elegan.
Aku dibawa masuk ke dalamnya. Ternyata pesawat ini lebih megah dari dalam, sangat terlihat mewah. Interior nya ditata dan disusun sangat rapi dan simetris, semua terlihat pas dan memanjakan mata. Aku berhenti di dorong, Talon pindah berdiri di depanku. “Selamat datang di dalam.... apa kita menyebutnya?... ah, selamat datang di Kencana.” Talon menjelaskan, seiring aku di dorong oleh pelayannya.
“Mungkin cukup sampai sini saja aku menjelaskannya padamu nak. Kamu juga lelah, aku tahu. Pelayanku akan membawamu ke kamar. Dan maaf tidak bisa menemani mu langsung ke kamar, karena aku harus memastikan kita terbang di jalur yang benar.” Talon langsung balik badan setelah menjelaskan lagi dua sampai tiga kalimat.
Aku di sudah dibawa ke kamar. Para pelayan membantu ku turun dari kursi roda. “Sebaiknya jangan terlalu mempercayai apa-apa yang Talon katakan nak!” Aku menoleh ke pelayan itu. “Talon tidak sebaik apa yang dia lakukan padamu hari ini. Entah apa yang direncanakan olehnya.” Aku bertanya mengapa dia memberitahu ku.
Apakah aku bisa mempercayai pelayan satu ini?
“Percaya atau tidak, itu terserahmu nak. Seorang ayah yang pernah kehilangan anaknya ini tidak akan berbohong.” Aku hanya diam tidak bisa berkata. Para pelayan kini sudah sempurna pergi, hanya aku sendirian di kamar.
“Dema, apakah kamu sudah bangun?”
Tidak ada jawaban lagi. Apa yang Roki lakukan kepada Dema, hingga membuatnya tidak kunjung sadarkan diri sejak tadi. Padahal aku sangat ingin membicarakan banyak hal dengannya.
***
“Nak. Apakah kau akan tidur sepanjang hari, dan dengan begitu saja melewatkan sambutan mereka?” Aku membuka mata terperjap-perjap. Aku sudah berada di kursi roda, dan sedang di dorong melewati sebuah jalan yang di sisi kanan dan kirinya dipenuhi lautan manusia.
__ADS_1
“Mereka semua mengenalku?” Aku tidak berhenti menoleh kanan dan kiri, melihat setiap orang menyoraki ku.
“Tentu saja mereka mengenalmu, kamu adalah tamu yang mereka tunggu nak.” Talon hanya menjelaskan singkat. Masih belum jelas kemana arah kursi rodaku ini di dorong, ke suatu hal yang baik atau malah sebaliknya.
Aku, Talon dan para pelayannya tiba di depan pintu besar sebuah dari kastil. Kastil yang memiliki ke eleganan yang sama dengan desain pesawat yang aku naiki tadi. Dengan tinggi yang kira-kira sekitar 800 meter, dengan warna putih yang dihiasi corak corak warna emas, membuat kastil ini terlihat megah dari depan.
Pintu kastil langsung dibuka dari dalam. “Raja sudah menunggu kedatangan Tuan Talon sejak lama tuan,” seseorang yang membuka pintu itu memberitahu. Talon hanya mengangguk, dia berjalan ke belakangku—mendorong kursi rodaku. Talon berbisik ke telingaku, “Ini akan jadi sangat menyenangkan nak. Percaya padaku.”
Kursi rodaku kembali berjalan maju. Kami kini berjalan di lorong kastil itu. Setiap sekitar lima sampai tujuh jengkal lorong, terdapat pintu menuju ruangan lain, dan dengan dinding yang dipasangi lilin.
Kursi rodaku berhenti bergerak. Kami tiba di sebuah pintu, dengan ukuran setinggi manusia dewasa. Pelayan Talon mendorong pintu itu. Terlihatlah seseorang yang sedang duduk di atas singgasananya yang berwarna putih cerah. Seseorang itu berdiri dari singgasananya—berjalan ke arahku sambil melebarkan tangannya hendak menyambutku. Dia adalah seorang pria tua yang mengenakan jubah putih dengan mahkota di atas kepalanya.
Pria tua itu kini sudah berdiri satu meter dariku. Dia membungkuk—mensejajarkan wajahnya denganku. “Apa yang terjadi padamu nak? Kenapa kamu duduk di atas kursi roda sekarang?”
“Apakah saya harus—” BRAAKKK!! Tiba-tiba terdengar suara pintu dibanting kencang dari belakangku.
WUUSH!....WUUUSH!..BUSH. Angin kencang datang dengan seseorang yang sedang berlarian di dalamnya, berhembus kencang berkeliling memutariku, membuat pria tua dan Talon menjauh dariku. Angin langsung berhenti, seorang anak berumur sekitar 15 tahun berdiri di hadapanku. “Kak Amed!.. astaga, bagaimana kakak bisa masuk ke sini? Dan... kakak kenapa?” tanya anak itu.
Tunggu... bagaimana anak ini mengenalku, sedangkan aku masih belum menyebutkan namaku sejak datang kesini. “Kakakmu sudah lama tidak melihat kita berdua Miko, beri kakakmu waktu untuk berfikir dan menerima ini semua secara pelan-pelan,” pria tua itu memberitahu. “Baik Ayah. Maafkan Miko ya kak.” Anak itu tersenyum padaku, lalu BUUSH!! Anak itu sudah hilang dengan begitu cepat.
Pria tua itu berjalan ke belakangku, mendorong kursi roda ku mendekat ke singgasananya. “Nanti saat waktunya tiba. Kamu akan duduk disana.” Dia menunjuk ke arah singgasana.
Aku menggeleng tegas. Aku datang dan masuk ke dunia ini bukan untuk menjadi seorang pangeran atau lebih. “Aku datang untuk mencari Ayah dan Miko, untuk membawa mereka pulang,” jelasku padanya. Wajah pria tua itu seketika berubah menjadi masam, dia menyuruh Talon, “Bawa anakku masuk ke kamarnya Talon! Dia butuh istirahat untuk memikirkannya.”
“Baik yang mulia.” Talon mendorongku—menyusuri lorong hingga sampai lah aku di kamar. Aku ia bantu pindah ke atas kasur. “Raja sangat lucu, bisa-bisanya dia akan menjadikanmu seorang raja jika berjalan saja masih menggantungkan orang lain.” Talon terkekeh—pergi dari kamar ku. Sepertinya apa yang pelayan itu katakan tentang Talon ada benarnya, dia tidak sebaik di awal. Aku harus lebih berhati-hati lagi.
Aku menghempaskan punggung ke tempat tidur. Ternyata aku bukan apa-apa dibanding dengan luasnya alam semesta ini, sekedar manusia yang hanya duduk di atas kursi roda. “Dema apa kamu masih belum sadar juga? Banyak yang ingin aku bicarakan bersamamu teman.” Aku menghela nafas, apa yang terjadi pada Dema dan diriku sekarang.
__ADS_1