
"Naah. tinggal beberapa belokan lagi kita sampai Med." Kami berdua sudah berjalan kurang lebih sekitar lima belas menit.
Aku tidak menyangka akan aman selama perjalanan, aku kira akan ada beberapa hewan yang menggangu perjalanan kami, nyatanya semuanya aman. "Hewan-hewan di pulau ini di kumpulkan di suatu tempat kata Vi. Maka dari itu, sejak tadi tidak ada hewan liar yang terlihat lalu-lalang," jelas Dema. Aku ber-oh—mengangguk mengerti.
Aku melihat ke sekeliling. Mungkin ada bagusnya jika hewan-hewan itu dibiarkan ada saja, suasana hutan bisa jadi tidak se sepi ini, malah terlihat seperti taman kota bagiku, jika tidak ada hewan seekor pun.
Dema berhenti mendorongku. Aku melihat ke depan. Ada sebuah rumah kecil berdiri di depan kami berdua. "Ini rumahnya Dem?" tanyaku bingung.
"Iya ini rumahnya." Dema lanjut mendorongku—mendekat ke rumah kecil itu.
Sebuah rumah sederhana, dengan dua jendela di depannya, tidak terlihat istimewa sama sekali. "Kamu belum tahu ada apa di dalamnya Med," potong Dema.
Dema menyuruhku menunggu di depan rumah. Dia masuk ke dalam rumah itu, memanggil-manggil nama Vi. Punggung Dema sudah menghilang di balik dinding rumah, tapi teriakan panggilan nya masih terdengar dari depan.
"Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di depan sini?" Seseorang dari belakang menempelkan sebuah pisau ke leherku. Aku mendongakkan kepalaku—memberitahunya jika aku sedang mencari seseorang bernama Vi.
Seseorang di belakangku bertanya lagi, "Bagaimana kamu tahu nama..." Dema berjalan pelan—keluar dari rumah itu, membuat orang dibelakang ku berhenti bicara.
Pisau berhenti menempel di leherku, seseorang di belakangku berjalan ke depan menemui Dema. "Pasti ada sesuatu. Apa maksud dari kedatangan mu Dema?" tanya seseorang berjubah hitam itu.
Dema memberitahu, "Kami memerlukan bantuan mu Vi. Lebih tepatnya, kami memerlukan kecerdasan seorang Vi saat ini." Dema terkekeh sebentar. Seseorang itu memukul lengan Dema, menyuruhnya masuk dulu untuk berbicara di dalam rumah. Dema mengangguk, mendorong kursi rodaku—ikut masuk ke dalam rumah orang yang ber-jubah tadi.
Orang itu menyuruh kami menunggu sebentar di ruang depan, sementara dirinya masuk ke dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, berada di sisi kanan setelah pintu masuk.
Tidak memakan waktu lama, Seorang remaja perempuan berambut pendek dengan warna rambut hijau keluar dari dalam ruangan itu—sekarang berdiri tepat di depan pintu—melihat ke arah kami.
Tangannya sibuk mengikat rambut, dia bertanya kepada Dema, "Jadi apa yang kamu perlukan Dem, hingga menuntun mu menemui ku lagi?"
"Sebelum aing memberitahu mu, perkenalkan. Di depan aing ini adalah Amed, diaaa.... Kita ini apa Med?" Dema terkekeh—bertanya padaku.
"Kita saudara. Perkenalkan aku Amed saudara Dema." Aku mengulurkan tanganku ke arahnya. Dia tidak balik menjabat, hanya mengangguk. "Pantas saja wajah kalian tidak bisa aku bedakan." Dia lalu berjalan ke belakang kami, mendekati sebuah lemari—mengambil sebuah toples kecil, dan membukanya. Dia menawarkan sebuah permen ke Dema dan aku, kami menerimanya. Dia mengambil kursi dan lalu duduk di dekat kami.
Dema memegang pundakku—memberitahu ku, "Perkenalkan Med, ini adalah Vi yang tadi aing ceritakan selama perjalanan kesini." Vi mengangguk mendengarkan, lalu menyaut, "Apa saja yang kamu katakan tentang ku Dem?" Vi mengangkat alisnya sambil mulutnya masih mengunyah permen.
"Tidak banyak, hanya beberapa kalimat pembuka sebuah perkenalan. Aku punya teman yang pandai namanya Vi, lalu blablabla dan seterusnya." Dema meringis.
"Baiklah, langsung ke intinya Dem. Kamu kesini membutuhkan apa? Apa yang bisa aku lakukan?"
Dema menjawab singkat, "Kami butuh portal untuk kembali ke pulau asal Amed, saudaraku." Vi langsung berdiri tidak menjawab. Pergi ke ruangan dalam.
Dema bertanya padaku, "Vi kemana? Kenapa tidak menjawab?"
"Entah. Dia baru saja pergi, masuk ke dalam ruangan Dem," jelasku.
Setelah aku dan Dema berdiam di luar sekitar lima menit, Vi kembali muncul—menyuruh aku dan Dema untuk mengikutinya sekarang juga. Dema langsung mendorong kursi rodaku.
Kami berhenti, dan dihadapan kami terdapat sebuah tangga menurun. "Setahuku teknologi kursi roda ini bisa menyesuaikan dengan berbagai keadaan. Coba aku periksa." Vi menunduk di belakang ku, menekan sebuah tombol dan tiba-tiba sebuah angin berhembus, dan lalu roda kursi rodaku berubah menjadi lonjong dengan gerigi di keseluruhan nya.
Kami akhirnya kembali melanjutkan berjalan menuruni tangga menuju sebuah lorong dengan minim pencahayaan. Kami berjalan sekitar lima meter, lalu sampai di sebuah ruangan.
Vi mendorong pintu dan kami mengikutinya masuk ke dalam ruangan itu. "Aku memiliki sebuah portal Dema. Tapi portal ku hanya bisa digunakan ke satu tujuan." Vi mendekati sebuah benda yang tertutupi sebuah kain. Vi menyebak kain penutup nya, lalu terlihat sebuah benda berbentuk bulat, sama seperti portal yang dibuat oleh Ayah tapi setengah ukuran lebih kecil dari milik Ayah.
"Kemana arah tujuan portal ini?" tanya Dema ingin tahu.
Vi menjawab lugas, "Ke Pulau Tanpanama." Vi menyalakan saklar yang membuat ruangan menjadi terang. Lampu-lampu menyala, di ikuti suara desing mesin komputer di ruangan itu yang juga ikut menyala.
Dema kembali bertanya, "Kenapa kamu membuat portal menuju Pulau Tanpanama? Bukankah semua orang tahu jika pulau itu penuh dengan bahaya?"
Vi setuju dengan apa yang Dema katakan, tapi Vi harus melakukan itu karena ada sebuah komponen penting yang hanya ada di pulau itu yang nantinya akan membuat portal buatannya ini bisa digunakan untuk pergi kemanapun, tidak sekedar pulau saja yang bisa didatangi, tapi dunia lain juga akan mudah untuk didatangi jika Vi memiliki komponen satu itu.
"Baik, mari kita masuk dan mendapatkannya sekarang juga." Dema melangkah dengan percaya diri.
Tangan Vi lebih dulu menahan badan Dema—membuatnya berhenti. "Kita perlu kesiapan Dema. Banyak rintangan di pulau itu, kamu juga tahu itu."
__ADS_1
"Apa kita masih memiliki waktu Med?" Dema bertanya padaku.
Aku menjawab lirih, "Sebenarnya waktu kita sudah berjalan terus dan semakin sedikit."
"Lihat, kamu bisa mendengarnya sendiri Vi. Waktu kita tidak banyak."
Vi menggeleng—menjelaskan, "Sedikit apapun waktunya, kita gunakan semaksimal mungkin untuk mempersiapkan diri. Aku tidak pernah mengenal kata terlambat. Semua memiliki jalannya masing-masing, jika memang suatu hal adalah milik kita, maka akan jadi milik kita. Jadi.....lebih sabarlah sedikit Dema, mari mempersiapkan diri terlebih dahulu." Vi memegang pundak Dema lalu pergi untuk mematikan saklar—membuat seluruh listrik di ruangan kembali mati.
Kami bertiga naik kembali ke atas. Vi berjalan lebih dulu, di depan kami. "Mungkin bisa kita mulai esok hari di lapangan belakang rumahku. Kita akan memaksimalkan semua kemampuan yang aku, dan kalian berdua miliki. Bagaimana?" tanya Vi sambil berjalan terus menuju ruang tengah.
"Tidak ada yang bisa menolak. Kamu yang memimpin jalannya Vi," Dema menjawab pendek. Vi terkekeh mendengarnya.
...***...
Aku dan Dema menunggu di ruang tengah sejak setengah jam yang lalu.
"Tadi Vi bilangnya mau masak apa Med?"
Aku balas menjawabnya, "Memasak sup daging. Entah dia bilang akan menggunakan daging apa, aku kurang—"
"Aku hanya memasak sup daging ayam. Tidak ada yang berbeda dan spesial..." Vi menyodorkan semangkuk sup ke kami berdua. "Atau malah kalian ingin aku memasak makanan lain?" Nada bicara Vi sedikit meninggi. Dema langsung berseru "Tidak".
Kami bertiga duduk di lantai teras rumah Vi, menikmati sup buatan Vi sore ini. Dan tinggal menunggu beberapa menit, matahari sudah akan tenggelam dan berganti dengan rembulan.
Vi meletakkan mangkuk nya di depan kaki, menjelaskan rencana persiapan awal.
Kami berdua selalu mengangguk di setiap jeda penjelasannya. Hampir setengah jam Vi menjelaskan, kami hanya mengangguk. "Sip. Jelaskan kembali apa yang tadi sampaikan kalau kalian memang sudah mengerti."
Aku dan Dema serentak menjelaskan jika yang pertama kali akan kita lakukan adalah latihan diri. Mengeksplorasi kompetensi dalam diri lebih jauh.
Vi mengangguk senang. "Aku kira kalian hanya mengangguk saja, tapi sama sekali tidak mengerti. Ternyata anggukan itu benar-benar kalian lakukan karena kalian memang mengerti," puji Vi melihat kami berdua.
Kami menyelesaikan makan. Vi berdiri membawa masuk mangkuknya dan juga milik kami untuk dicuci di dalam.
"Waaah memang, perempuan sekarang selalu peka akan segala hal. Padahal jelas kan Med, aing belum selesai bicara, tapi seakan Vi sudah tau segalanya." Dema terkekeh—berjalan lalu merebahkan dirinya di lantai ruang tengah.
Tidak menunggu lama, Vi akhirnya kembali. Dia kembali dengan membawa sebuah kotak persegi panjang. Vi meletakkannya di lantai, dia menginjaknya dan simsalabim, kotak itu sudah berubah menjadi sebuah tempat tidur bertingkat.
"Waah teknologi Pulau Jengkarta. Dari mana kamu mendapatkan nya Vi? Bukannya Jengkarta tidak menjual teknologinya ke luar pulau?"
Vi membalas pertanyaan Dema, "Aku memiliki orang dalam. Para kurir kepercayaan ku sudah menyebar ke setiap pulau. Membantu ku mendapatkan segalanya."
Vi menyuruh kami untuk segera istirahat, karena besok semuanya akan dimulai. Kami harus memiliki banyak tenaga, agar segala prosesnya berjalan lancar.
Dema dan aku mengiyakan, kami langsung pergi ke masing-masing tempat tidur. Dema di ranjang atas dan aku di bawahnya.
"Tidur yang nyenyak Med. Besok kita akan berlatih untuk bisa mencapai titik maksimal kita berdua," tutur Dema sambil menutupi wajahnya dengan bantal.
Aku membalas, "Iya Dema. Aku harap kita berdua menemukan titik maksimal kita masing-masing dan dapat berjuang lebih untuk membantu Vi mendapatkan komponen yang ia perlukan, agar kita bisa kembali ke—" Belum selesai aku berbicara, Dema sudah mendengkur lebih dulu.
Baiklah, besok merupakan kesempatan emas bagiku untuk mencari kompetensi diriku. Aku tidak mau tertinggal kesempatan esok hari. Aku juga harus segera tidur.
Esoknya. Setelah tidur sekitar lima jam, aku berdiam diri di atas tempat tidur beberapa menit. Dema masih mendengkur keras di atas tempat tidurnya.
Setelah itu, aku bangkit dan naik ke kursi rodaku. Kemudian aku memutar roda—bergerak ke teras rumah.
Masih baru berada di depan pintu, angin sejuk sudah menerpa seluruh badanku, mengingatkan ku dengan suasana di Kota Malang.
"Eh Amed. Bangunmu lebih cepat ternyata dari kembaranmu." Vi berjalan keluar dari ruangan dalam. Aku balas tersenyum. Aku masih tidak tahu apa yang akan pertama kali kita lakukan nanti. Dema juga masih belum bangun, waktu semakin berjalan dan seharusnya lebih cepat lebih baik, jika gagal akan masih ada sisa waktu yang banyak untuk mengoreksi kekurangan demi kekurangan.
"Nanti kita akan fokus ke kalian berdua terlebih dulu Med. Mencari tahu apa kekuatan yang kalian miliki, dan selanjutnya bisa mengikuti apa yang akan terjadi kedepannya," Jelas Vi.
"AAHH." Dema tiba-tiba menguap. "Eh, halo semuanya, kalian bangun pagi sekali." Dema sudah bangkit—duduk di tempat tidurnya. Vi menyuruh Dema segera bersiap. Dema mengiyakan dan langsung turun kebawah.
__ADS_1
Dema mendorong ku, dan dituntun oleh Vi pergi ke lapangan yang ada di belakang rumahnya.
Vi memberitahu, "Kemarin aku tidur sedikit terlambat demi menyiapkan beberapa keperluan untuk pagi ini." Di pinggir lapangan, terlihat ada sebuah kotak besi setinggi dua kaki.
"Tidak udah bertanya dulu Dem. Aku tidak perlu menjelaskan isinya, kotak itu sendiri yang akan menunjukkannya." Vi berjalan mendekati kotak besi itu, kami berada dua jengkal dari Vi.
Vi berkata, "Dema bantu aku menarik sisi satunya. Hitungan ketiga tarik ya. Satu....dua....tiga, tarik." DEBUUSHH. DENG...DENG DREDUK...BUM. Tiba-tiba sekitar kami menjadi gelap. "Tunggu sebentar!" Vi menyuruh kami menunggu di tempat kami berada.
DUG DUG DUG. Vi memukul sesuatu, lalu NGUUUUNG!! Seketika sekeliling kami menjadi terang. Kotak itu berubah menjadi sebuah ruangan seperti laboratorium dengan skala yang lebih kecil. Dema berlari kesana-kemari, berputar ke seluruh sisi ruangan. "Dema hentikan. Aku tidak mau kamu merusak barang-barang ku!" Vi berseru—menegur Dema.
"Baik Vi maafkan aku." Dema bersungut-sungut berjalan ke sebelahku. Aku mengejeknya, tertawa pelan. Dema balas meninju lenganku. Aku mengaduh, balas meninju tapi Dema lebih dulu menghindar. "Awas saja nanti." Aku mendengus kesal. Vi kembali menjelaskan apa saja yang akan dilakukan.
"Baik dimulai dari kamu saja Amed!" Vi menunjuk ku menjadi yang pertama. Dema langsung membawaku ke tengah ruangan sebelum aku sempat berpendapat. "Ayo semangat saudara." Dema menepuk-nepuk pundak ku.
Vi menyuruhku langsung mencoba apapun yang mau aku coba. Aku berpikir sejenak. Mencari referensi dari semua tokoh superhero yang pernah aku tonton.
Berlari cepat tidak mungkin menjadi kelebihan ku. Terbang juga mustahil. Aku berpikir, kira-kira kekuatan apa yang bisa dimiliki oleh orang lumpuh yang hanya duduk di atas kursi roda.
Astaga. Aku langsung teringat dengan salah satu superhero yang juga sama duduk di atas kursi roda. Dia memiliki kekuatan bisa mengendalikan pikiran orang lain. Baik, aku akan mencobanya ke Dema. Aku akan membaca pikiran anak itu.
Aku menatap lamat-lamat ke arah Dema, mencoba memfokuskan diri. "Apa yang kamu lakukan? Ada yang salah denganku Med?" Dema meraba-raba wajahnya.
"Hei Dema, jangan berisik! Amed sedang mencobanya." Dema terkekeh, bilang kepada Vi jika dirinya lupa jika kita bertiga sedang melakukan eksplorasi kekuatan.
Dema dan Vi kembali memperhatikan ku yang masih fokus dengan mataku yang melotot ke arah Dema.
Ah, susah sekali. Sudah lima belas menit mataku melotot ke arah Dema. Tidak terjadi apa-apa, malah mataku yang mengering hingga perih.
"Makanya..minimal kedip Med, biar gak kering matanya." Dema menepuk pundak ku memberi semangat padaku untuk mencoba sekali lagi. Aku mengangguk, aku tidak akan menyerah setelah sekali gagal.
Aku akan mencobanya sekali lagi. Lebih fokus. Aku kembali melihat Dema dengan tatapan mata melotot, tidak berkedip.
"Beritahu aing. Sebenarnya apa yang kamu lakukan sejak tadi? Melotot ke arah aing. Setidaknya beritahu."
"Aaaaahhh. Astaga, itu tidak mudah. Kamu saja Dema. Selagi aku memikirkan untuk mencoba melakukan hal lain, ada baiknya waktu kosong itu kamu gunakan untuk mencoba." Aku memutar roda kursi rodaku, bergerak ke arah Vi.
Vi berkata pelan, "Tidak apa-apa Amed. Tidak ada yang langsung sukses saat pertama kali mencoba, bahkan seekor burung pun harus belajar beberapa jam untuk bisa terbang ke angkasa lepas." Aku langsung merasa termotivasi oleh Vi. Kalimat nya membuat ku ingin mencoba sekali lagi setelah ini.
"Okeeeee. Semuanya, liat aing. Aing aslinya sudah tahu apa kekuatan yang aing punya. Tapi aing mikir-mikir buat nunjukin ke kalian." Dema mengepalkan tangannya, lalu PLUP! Kedua tangannya membesar.
Dema berkata, "Dan ini gak hanya berlaku ke tangan aing saja. Kaki aing juga bisa." PLUP! Kaki Dema tiba-tiba ikut membesar. "Bisa nambah sakit kalau buat mukulin kepala orang." Dema terkekeh—tangan dan kakinya kembali mengecil ke ukuran normal.
Astaga tubuh Dema bisa melakukan hak menakjubkan seperti itu. Bagaimana dia melakukan nya, sedangkan aku tidak tahu sama sekali apa yang bisa aku lakukan.
"Baik Amed sekarang giliranmu lagi untuk mencoba." Vi mendorong kursi rodaku ke tengah-tengah ruangan.
Aku cemas. "Bagaimana kalau aku hanya membuang waktu untuk mencoba. Padahal aku benar-benar tidak memiliki kekuatan?" Entah kenapa aku bisa se pesimis ini.
Dema mendekat—menyemangati. "Masih ada banyak kesempatan. Kalau aing bisa, apalagi kamu Med!" tegas Dema.
Baiklah, aku akan mencoba hal lain. Mungkin aku akan mencoba mengeluarkan teknik telekinesis seperti karakter superhero di filmku, hanya memerlukan otak yang fokus saja, seharusnya aku bisa. Aku melihat ke sekitar. Mencari sebuah benda yang akan aku gunakan untuk uji teknik ku.
"Coba denga ini." Vi seperti mengerti apa yang aku butuhkan, dia meletakkan sebuah kaleng di depanku. Aku berterimakasih padanya karena mau membantu. "Sama-sama Med, kamu pasti bisa. Cobalah!"
Aku berusaha lebih fokus, menatap kaleng itu lamat-lamat. Berusaha membuatnya berpindah tempat se senti saja sudah cukup.
Ayo, bergerak lah tuan kaleng! Aku menggeram. Wajahku seketika ber-urat.
Huft...aku menyerah untuk sekarang. Kepalaku malah pusing.
Dema berjalan ke arahku. "Tidak apa Med, besok kita coba lagi. Mungkin untuk sekarang kamu bisa istirahat saja," tutur Dema. Aku mengangguk. Aku terlihat mengecewakan, hanya membuang waktu tidak membuahkan hasil.
"Untuk berjaga-jaga. Aku akan memasangkan beberapa perlengkapan ke kursi rodamu Med. Aku tau kursi rodamu dari Pulau Singgede kan? Aku sangat mengerti ciri khas mereka, mudah saja bagiku untuk memodifikasi nya," kata Vi.
__ADS_1
Dema teriak riang. "Waaaah. Itu akan menjadi sangat keren! Bukan begitu Med?" Aku tersenyum mengangguk, ikut senang mendengar nya. Aku rela melakukan atau memberikan apa saja, selama itu bisa membuat ku berguna, dan tidak hanya menjadi sebuah daging di atas kursi roda saja.