SEDUNYA

SEDUNYA
TENGERAN 13 : NOTHING SPECIAL


__ADS_3

Kami bertiga masuk ke dalam rumah setelah kurang lebih sekitar satu jam kami mengeksplorasi kemampuan ku dan Dema.


Dema mendorongku menuju ruang tengah, Vi berjalan di depan. "Kalau kalian mau mandi silahkan, kalian bisa memakai satu-satunya kamar mandi yang ada di rumah ini," kata Vi. Dia membuka pintu kamar di kanan ruangan, lalu masuk ke dalamnya.


"Kamu bisa mandi sendiri Med?" Dema tiba-tiba terkekeh.


"Bisa-bisanya kamu meremehkan ku. Walaupun aku duduk di atas sini, aku masih bisa mandi." Aku mendengus kesal mendengar Dema.


Dema bertanya, "Tapi kalau kursi rodanya basah bagaimana? Kalau listriknya konslet malah yang ada nanti kamu kesetrum Med."


Vi keluar dari kamar—menjelaskan, "Tidak perlu khawatir akan hal itu Amed. Teknologi di Pulau Singgede sudah dipastikan semuanya anti air, walau kamu pakai berenang juga tidak apa-apa. Pokoknya, semua teknologi yang berasal dari sana tidak perlu diragukan lagi kualitasnya." Vi mengambil handuk di dalam lemari yang berdiri di sisi kiri ruangan, lalu Vi berjalan ke ruang tengah—menuju kamar mandi yang ada di bangunan paling belakang di rumah ini.


Dema duduk di bawah lantai, tepat di samping ku, "Kamu ikut belanja tidak?" ajaknya. Aku menoleh langsung. "Siapa yang mau pergi belanja?" tanyaku.


Dema kembali menjawab, "Vi tentu saja. Setelah mandi, biasanya dia akan pergi berbelanja di tengah pulau. Apakah kamu ikut?"


"Apa yang mau Vi beli memangnya?" tanyaku lagi.


Dema berkata, "Vi biasanya belanja suku cadang untuk berjaga-jaga saat dia ingin membuat alat atau memperbaiki barangnya yang rusak."


"Baik aku ikut kal—"


"Aku tidak akan pergi kemana-mana untuk hari ini. Aku akan fokus menambahkan fitur pertahanan ke kursi roda Amed saja," sela Vi. "Dan suku cadang yang diperlukan juga tidak terlalu banyak. Aku juga sudah menyetok nya dari sebulan yang lalu," tambahnya.


Vi langsung masuk ke kamarnya. Dema langsung pergi ke atas tempat tidur nya—merebahkan punggung nya setelah tahu jika Vi tidak akan pergi. Aku ikut ke tempat tidur. Aku berusaha pindah pelan-pelan, dari kursi roda ke atas tempat tidur. Kepala Dema muncul dari balik tempat tidurnya, menawarkan bantuan kepadaku. Aku menggeleng. "Aku bisa sendiri Dem, terimakasih sudah mau menawarkan bantuan," ungkap ku.


Vi kembali keluar, membawa kotak yang katanya berisikan peralatan untuk membantunya memodifikasi kursi rodaku.


Dia meminta izin padaku jika dirinya akan mulai memodifikasi. "Iya silahkan Vi. Mohon bantuannya, berikan yang menurut mu terbaik," kataku. Vi mengangguk—meraih kursi rodaku dan kemudian merubah kursi rodaku kembali ke bentuk piringan putih.


Vi mengambil seutas kabel dari dalam kotak"Aku akan menancapkan ini kesini." Suara desing pelan keluar dari kursi rodaku setelah kabel dipasang. Benda itu lalu mengeluarkan cahaya biru—melingkar memutari piringannya.


Vi lalu duduk—menyilangkan kakinya di bawah lantai dengan santainya, sambil memegang piringan kursi rodaku yang mulai dipasangi kabel oleh Vi.


"Apa yang akan kamu lakukan pada kursi itu Vi?" tanya Dema yang mengintip dari balik tempat tidurnya.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya lebih dari sekedar kursi roda untuk Amed, melainkan sebuah senjata." Vi mulai mengeluarkan peralatannya, bukan obeng atau alat perkakas lainnya, melainkan hanya beberapa bola dengan warna-warna yang berbeda. "Aku akan memodifikasi kursi roda ini agar dapat menjaga Amed dari segala bahaya. Aku memberinya beberapa perlengkapan baru, seperti pengemudi otomatis, senjata api, dan tameng pelindung..."


Dema kaget mendengarnya. "Kursi roda nya bisa dijadikan kendaraan perang kalau begitu jadinya," Dema protes, menganggap itu sedikit berlebihan.


"Terima saja Dem, kita hidup di dunia yang tidak sedikit orang yang akan segan membunuhmu untuk mendapat apa yang mereka mau," lontar Vi dengan nada sedikit meninggi.


Dema terkekeh sendiri, lupa jika dunia sudah berubah. "Aing jarang keluar rumah. Wajar jika lupa dengan keadaan dunia sekarang Vi." Dema menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu Dema mempersilahkan Vi untuk melanjutkan pekerjaan nya kembali tanpa ada gangguan atau protes dari dirinya lagi.


Tanpa menunggu, Vi langsung kembali melanjutkan modifikasi nya.


Aku dan Dema menonton dari atas tempat tidur. Vi sangat serius dalam mengerjakannya. Berulangkali dia menekan tombol dan lalu terus memasukkan bola dengan warna berbeda.


"Andai kita bisa langsung mencobanya sekarang Med. Karena aku tidak sabar melihat, apakah semua sampel yang aku masukkan bisa diterima oleh program kursi ini," keluh Vi lantaran tidak bisa mencoba kursi modifikasi nya malam ini.


"Bisa saja jika ada orang jahat yang nanti malam tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam rumah ini Vi. Kamu bisa langsung mencobanya ke mereka," celetuk Dema. Vi langsung memarahi Dema—mengingatkan untuk tidak asal berbicara tentang hal buruk.


"Jangan membicarakan hal buruk dengan orang lain. Atau hal itu bisa jadi nyata, dan aku tidak mau saat malam nanti, di saat waktu untukku tidur, tiba-tiba ada perampok masuk ke dalam."


"Tapi kan biar kamu bisa nge uji coba kursinya," celetuk Dema. Vi langsung menampar lengan Dema, wajahnya sudah merah padam. "Iya iya maaf maaf, sakit tahu." Dema mengaduh, menyesal karena menguji kesabaran Vi.


"Makanya gausah dibahas lagi, udah cukup! Bikin ga mood aja." Vi mendengus kesal, lalu berdiri—membereskan perlengkapan nya, langsung masuk ke dalam kamarnya. Pintu dibantingnya, terdengar juga suara kunci dimainkan. Vi juga mengunci pintu kamarnya karena kesal.


"Udah tidur kamu Dema?" Sudah tidak ada jawaban ternyata. Aku langsung ikut memejamkan mata—tidur lebih awal untuk malam ini.


...***...


"Amed..." Seseorang berbisik pelan sambil menggoyang tangannku, membuat ku bangun. Suasana diluar masih malam, dan lampu rumah sudah padam sepenuhnya. Hanya cahaya dari rembulan sebagai penerangan satu-satunya.


"Ada ap—" Dema menutup mulut ku, melarangku berbicara keras-keras.


"Are you sure this is the house?" Terdengar suara seorang pria dari depan rumah berbicara memakai bahasa Pulau Ampatraja. "This is definitely his house. Look, there are two windows in front of his house, the same as described in this note, boss," seseorang lainnya membalas bicara.


"Dimana Vi sekarang?" Aku ikut berbisik. Di saat yang sama Vi keluar dari ruang dalam rumah. Dia melemparkan secarik kain, Dema menerimanya. Kain itu dibentangkan Dema, dan ternyata sangat lebar, sampai bisa digunakan untuk menutupi seluruh badan dua orang sekaligus.


"Untuk apa kain ini?" tanya ku. Vi tidak menjawab, dia langsung menyuruh kami menyelimuti tubuh kami dengan kain itu. "Jangan biarkan orang-orang itu melihat kalian disini," tuturnya. Vi dan Dema langsung membantuku untuk pindah ke atas kursi roda.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara pintu didorong paksa dari luar. "The door is locked from inside the boss," ucap salah satu dari orang di luar yang mencoba masuk. "Of course the door is locked, you forgot what time it is?" balas orang yang lainnya dengan nada bicara meninggi.


Peluh bercucuran memenuhi wajah Vi, hal buruk seperti baru saja menimpanya. "Dema, bawa Amed lari lewat pintu belakang sekarang!" perintahnya.


"Lalu bagaimana dengan—"


"Pikirkan diri kalian dan cepat pergi!" tegas Vi. Dia memberitahu jika dirinya akan menahan orang-orang yang ada di depan rumah ini sendirian.


Dema menuruti kemauan Vi, berlari ke pintu belakang rumah. "Aku tidak yakin harus meninggalkan Vi Dem. Dia butuh bantuan kita!" tegasku.


Dema tidak menghiraukan, langsung mendorong pintu belakang rumah.


"Hi kids, where are you going? why so hurry?" Seseorang berbadan cungkring, sedang menopang sebuah karung di pundaknya—berdiri di depan kami. Dia berpakaian serba hitam dari ujung kepala hingga kakinya. "Why are you silent now? do I look very scary to you?" Dema mematung, seperti seekor kancil yang melihat seekor singa sedang berdiri di depannya.


"I think I've seen you before?" seseorang berpakaian hitam itu kembali bicara.


"how many people do you bring with you?" Dema berbicara dengan bahasa Pulau Ampatraja.


"Why do you ask? You are very scared, aren't you?" Orang itu berbicara dengan nada mengejek Dema. Wajah orang itu tidak terlalu jelas dalam gelap. Dema kembali berbicara dengan orang itu, seakan mereka saling mengenal.


Dema menarik kursiku sedikit mundur kebelakang. Wajah Dema sudah berbeda, mulai merah padam—nafasnya tidak beraturan. "Berdoa yang terbaik saja Med! Aing tidak tahu apakah bisa mengalahkan nya," celetuknya. Badanku terasa langsung lemas mendengar ucapan Dema.


"Tetaplah yakin jika kamu bisa Dema!" tegasku.


Dema menoleh sebentar ke arahku—meringis. Lalu tatapannya langsung berubah menjadi seperti sebuah tatapan kebencian—melihat ke arah orang di depan kami. Dema mulai mengatur nafasnya.


Orang itu meletakkan karung yang ditopang nya. "When will it start? My hands itch." Orang itu tidak ada habisnya berbicara dengan nada mengejek.


Di saat orang itu hendak mengeluarkan kata-kata lagi, Dema sudah lebih dulu melompat ke depan dengan tinju yang mengarah ke kepala orang berpakaian hitam itu.


"Eiits. You can't catch me." Orang itu cekatan menghindari pukulannya.


Dema melepaskan pukulan terus-menerus, tapi tetap saja bisa dihindari oleh orang itu dengan mudah. Dema menggeram kesal, karena tinjunya yang sejak tadi tidak ada yang dapat melukai orang itu. "Once again. After that, it's my turn," kata orang itu.


Aku melihat ke kursi rodaku. Baru ingat jika sekarang sudah ada fitur baru yang Vi tambahkan ke kursi rodaku ini. Ada empat tombol dengan warna berbeda, dan satu tombol paling besar berada di tengah dengan warna merah, entah apa maksudnya.

__ADS_1


Tidak menunggu lama, aku langsung menekan salah satunya, yang warna hijau. Dan, BUUUUUSSSSH. Seketika sebuah roket keluar dari kaki kanan kursi rodaku.


Dema lebih dulu melompat menjauh dari orang itu sebelum roketku mengenai nya. Orang itu tidak sempat menghindari roketku. "Oh no." DUAAAARR!! Roketku meledak tepat mengenai tubuh orang itu. Seketika sekitarku penuh kepulan debu yang berterbangan.


__ADS_2