SEDUNYA

SEDUNYA
TENGERAN 10 : JERNIHNYA SUATU KEBOHONGAN


__ADS_3

"Kakak... apa kakak tidak mau bergabung untuk makan malam bersama?" Aku terbangun—membuka mataku perlahan. Anak kecil tadi sudah duduk di hadapanku sambil menyilangkan kakinya—menyangga dagunya dengan tangan.


Aku masih penasaran dengannya. "Apakah kamu benar-benar adikku, yang bernama Miko?" tanyaku penasaran.


Dia menepuk jidat—memberitahu, "Tentu aku Miko Kak Amed. Adik paling lucu yang Kak Amed dan Kak Reza pernah miliki." Dia tersenyum ke arahku.


"Daripada ngobrol terus, mending sekarang Kak Amed ikut Miko." Dia menarik tanganku, menyuruhku bangkit dari tempat tidur. Dia mengajakku berjalan menuju ruang makan. Aku menggeleng menjelaskan jika aku sudah berbeda, tidak semudah dulu untuk berdiri dan berjalan.


Dia menggaruk kepalanya, meminta maaf karena melupakan hal itu. "Kak Amed, Miko mau pergi sebentar, kakak tunggu disini dulu!" Belum sampai beberapa detik, WUUUSH!! Miko sudah sempurna pergi begitu cepatnya.


Lalu BUUSH! Dia sudah kembali lagi—duduk di atas tempat tidurku. "Maaf, Miko membuat kakak menunggu sedikit lebih lama." Miko terkekeh.


"Miko tadi pergi untuk mencari bala bantuan, untuk membantu Kakak agar bisa ikut makan malam bersama." Miko berjalan ke pinggir pintu kamar, mengintip ke arah luar untuk memastikan orang-orang yang dipanggil nya sudah datang.


Miko melambai-lambaikan tangannya, memberitahu mereka untuk datang ke kamar yang seharusnya tidak perlu Miko lakukan karena tentu saja para pelayan sudah tahu mereka harus pergi kemana.


Para pelayan datang dan membantu ku naik ke atas kursi roda. "Sudah cukup sampai sini saja semuanya. Aku yang akan mendorong kakakku," ucap Miko. Dia pergi ke belakang ku—mulai mendorong ku menyusuri lorong. Terlihat di belakang kami, para pelayan sudah pergi—keluar dari kamar setelah selesai membantu ku.


Semua orang yang ada di kerajaan, hampir semuanya memakai jubah berwarna putih, kecuali Talon yang memakai mantel berwarna putih dan Miko yang hanya memakai rompi sebagai atasan dan celana training olahraga sebagai bawahannya.


"Kenapa semua orang dalam kerajaan ini memakai jubah putih, tapi kamu dan Talon tidak mengenakan nya?" Aku bertanya padanya, ingin tahu banyak hal.


"Bagiku jubah itu hanya akan memperlambat gerakan ku kak. Pakaian ku yang sekarang lebih ringan dan tidak menyulitkan ku dalam bergerak dan berlari. Kalau Talon, aku tidak tahu mengapa dia tidak mau mengenakan jubah seperti kebanyakan orang."

__ADS_1


Aku mengangguk sebentar lalu lanjut bertanya, "Mengapa harus memakai jubah? Dan kenapa semua selalu dibawakan dengan warna putih?" Aku mendongak ke atas melihat wajah Miko. "Kalau masalah itu. Kakak langsung tanya Ayah aja, Miko tidak tahu masalah seperti itu. Hanya Ayah yang memerintah, yang mengerti." Aku mengangguk lagi—kembali melihat ke arah depan.


Kami berdua sudah sampai. Di depanku sudah ada pintu setinggi manusia dewasa. Miko mengetuknya, tidak selang lama pintu itu langsung dibuka dari dalam oleh salah satu pelayan yang terlihat sudah berdiri di tempatnya sejak lama. Kami masuk dan pintu sudah kembali ditutup.


Ada sebuah meja panjang yang berada di tengah-tengah ruangan. Semua bangku sudah di isi oleh semua orang, Miko memberitahu jika tidak semua bangku sudah terisi, ada dua lagi di dekat Raja.


Raja sudah melihat kedatangan kami sejak kami dari pintu. Dia datang menghampiri, berganti dengan Miko untuk mendorong ku.


"Kamu nanti akan terbiasa dengan semua ini Amed. Percaya sama Ayah." Aku mengangguk seakan-akan aku percaya. Padahal aku masih belum bisa menaruh kepercayaan pada Raja ini. Aku masih tidak tahu kebenarannya, apakah dia benar Ayah atau hanya ingin memanfaatkan dengan mengaku-ngaku sebagai Ayah. Sampai waktunya tiba.


Aku sudah duduk bersebelahan dengan Miko. Raja kembali ke tempat duduknya setelah membantuku pindah ke tempat duduk.


Raja kembali berdiri—mengangkat gelas—mengetuknya, TING TING TING TING. Semua orang kini fokus ke arah Raja. "Baik semuanya, malam ini adalah makan malam yang paling istimewa bagiku, karena bisa kalian lihat sekarang kedua anakku, kedua keturunan darahku sudah bergabung duduk di antara kita untuk ikut makan malam bersama. Amed dan Miko, anak-anakku yang paling hebat." Raja tersenyum melihat sekilas ke arahku.


Para pelayan mengambilkanku beberapa lauk dan nasi, menuangkan air di cangkir minumku. Makanan di dunia ini tidak terlihat berbeda dari dunia asalku, hanya saja aku masih belum terbiasa dengan air minum yang berwarna biru pekat, sepekat air laut yang dalam.


Miko terlihat lahap, tidak ada bedanya dari saat dia masih kecil. Dia melihatku melihatnya—tersenyum sambil menyodorkan paha ayam. "Makan kak! kapan lagi bisa makan enak sepuasnya?" Aku menerimanya. Miko melanjutkan makannya.


Semua orang sudah selesai dengan makanan mereka, begitupun aku dan Miko. Aku dibantu para pelayan untuk kembali ke atas kursi rodaku. Raja lebih dulu meraih pegangan kursi rodaku, memberitahu para pelayan jika Raja yang akan mendorong ku sampai ke kamar. Raja juga menyuruh Miko untuk langsung pergi lebih dulu ke kamarnya untuk istirahat. Salah satu pelayan sigap berlari ke arah pintu—membukakannya untuk kami.


"Pelan-pelan Miko, jangan—" BUUUUSSSHHHH!!! Miko sudah lebih dulu berlari kencang dan menghilang. Raja terkekeh—menggelengkan kepalanya, heran melihat Miko yang masih kekanak-kanakan di umurnya yang mulai remaja. "Adik mu itu masih saja terlihat lucu seperti saat di umurnya yang ke-10 tahun dulu." Aku melihat heran ke arahnya. Dia tahu Miko saat umur 10 tahun?


Aku tidak berhenti mendongak sepanjang berjalan di lorong—melihat nya. Raja balik melihatku dan bertanya, "Kenapa Amed? Ada yang salah dengan wajah Ayah?" Aku menggeleng tegas, tentu tidak ada yang salah dengannya, hanya ku saja yang penasaran dengannya.

__ADS_1


Kami berdua sudah sampai di kamarku. Raja membantu ku turun dari kursi roda, menuju tempat tidurku. "Tadi kenapa Amed melihat Ayah seperti itu di sepanjang jalan? Amed masih belum bisa menerima kalau Ayah mu ini seorang raja sekarang?" Dia lalu tersenyum lembut padaku.


Aku memberitahu, "Aku hanya masih tidak yakin jika kamu adalah Ayah yang aku cari-cari selama ini, seorang ilmuwan hebat yang pantang menyerah. Bagaimana bisa melenceng jauh menjadi seorang raja." Dia tertawa mendengarnya, langsung menjelaskan awal dari segalanya saat dia masuk ke dalam dunia ini.


"Asal kamu tahu nak. Pulau yang menjadi tempat kita istirahat dan makan di atasnya sekarang ini dulu tidak se-indah dan se-megah sekarang. Aku dengan bantuan beberapa orang bertangan dingin yang datang, karena kasihan melihat keadaan pulau ini langsung memutuskan untuk bekerjasama dan berkomitmen membangun pulau satu ini. Tetapi para penduduk disini hanya melihat Ayahmu, dan tidak memperhatikan orang-orang bertangan dingin lainnya yang ikut membantu. Hingga akhirnya, masyarakat menjadikan Ayah sebagai pemimpin mereka dengan harapan dapat memakmurkan kehidupan mereka di kemudian hari." Aku hanya diam memperhatikan nya bercerita.


"Baik yah, Amed sekarang mengerti. Tapi apa yang Ayah maksud dengan tangan dingin? Apakah mereka mahluk dengan tangan berbentuk es?" Ayah tertawa mendengarnya, memberitahu ku jika tangan dingin hanya sebagai istilah bagi orang yang dapat melaksanakan sekaligus menunaikan segala kewajiban dan tanggung jawabnya. Aku ber-oh sambil mengangguk mengerti.


Aku lanjut menanyakan hal yang muncul seketika, "Lalu kemana perginya para tangan dingin lainnya, Ayah? Aku tidak melihat mereka sejak datang kesini."


"Mereka memutuskan mencari pulau sendiri dan membangunnya dengan tangan mereka sendiri. Jika kamu mendatangi tiap pulau nak, bisa Ayah pastikan jika beberapa dari mereka sudah menjadi pemimpin yang hebat disana." Aku kembali mengangguk, hanya mendengarkan Ayah dengan penjelasannya.


Derap kaki terdengar, semakin dekat dan jelas suaranya. Talon muncul dari balik pintu diikuti oleh dua pelayan. "Keadaan gawat Raja. Ada penyusup yang menembus sisi Barat Pulau Singgede!" seru Talon. Mendengar hal itu, Ayah menyuruhku menjaga diri, langsung bangkit—balik badan dan berlari keluar kamarku diikuti Talon dan para pelayan.


Aku duduk di atas tempat tidur, dalam gelap dan sepinya kamar. Suara derap kaki mereka kian jauh dan semakin samar-samar, dan kemudian menghilang.


Tidak lama terlihat kepala muncul dari balik tembok.


Talon, mengapa dia disini? "Apa yang kamu lakukan disini? Bukannya ada situasi genting? Mengapa kamu tidak mengikuti Ayah dan pelayan lainnya?"


"Berhenti bertanya nak. Segera naik ke atas kursi ini, aku akan membawa mu ke tempat aman sesegera mungkin." Aku hanya diam menurut dinaikkan ke atas kursi rodaku.


Talon mendorongku menyusuri lorong ke arah kanan, yang jelas berlawanan dengan arah Ayah dan pelayan lainnya pergi. "Kita pergi ke arah mana?"

__ADS_1


Talon tidak menjawab, hanya mendorongku terus menyusuri lorong.


__ADS_2