
Mobil sudah ku parkir di tempat parkir mobil yang disediakan di daerah laboratorium. Laboratorium saat malam terlihat megah karena dikelilingi oleh cahaya yang dikeluarkan dari banyaknya lampu sorot yang ditata berjajar di tanah yang melingkar memutari gedung laboratorium.
Salah satu petugas jaga malam di laboratorium menghampiriku dan menanyakan alasan mengapa aku datang malam malam ke laboratorium. Aku menjelaskan maksud kedatanganku. Lalu petugas itu mengajakku, menyuruhku untuk menunggu dulu sejenak di pos tempat dirinya berjaga.
“Hei nak. Kau mencari apa malam malam begini?” tanya petugas penjaga satunya yang sedang duduk di kursi di dalam pos.
Petugas yang membawa ku menjelaskan, “Kata anak ini, dia sedang mencari kakaknya yang sudah sejak dua jam lalu pergi kesini.” Petugas satunya memberitahu jika dirinya tidak melihat ada yang datang sejak tadi sore.
“Kau tunggu disini nak bersama temanku, aku akan menanyakannya ke petugas jaga di sisi lainnya,” Aku berterimakasih padanya, lalu duduk di salah satu kursi di pos itu.
Dari dalam pos, aku bisa melihat hampir ke semua sudut yang ada di sekitar laboratorium hanya lewat layar monitor yang ada di atas meja dalam pos ini.
Sekitar hampir setengah jam menunggu, petugas tadi kembali lagi. “Nak, seluruh satuan petugas tidak ada yang melihat kakakmu datang kesini,” jelas petugas itu. Aku heran, lalu memikirkan kemana perginya Kak Reza? Dua jam itu tidak sebentar.
“Baik bapak-bapak sekalian, terimakasih atas bantuannya.”
“Tidak maafkan kami karena tidak bisa membantu mu mencarinya.” Petugas itu menepuk-nepuk punggungku, memberi tahu untuk jangan menyerah sebelum menemukan kakakku. Aku mengangguk dan berterimakasih sekali lagi lalu pergi ke parkiran mobil. Aku buka pintu mobil, langsung menghempaskan punggung ke kursi.
Aku mengambil kunci mobil dari saku bajuku, hendak memasukannya ke lubang kunci, tapi... DEERRR. Tiba-tiba jalanan bergetar kencang, membuat kunci mobil ku langsung terjatuh ke lantai dasar mobil.
Aku buru-buru mengambilnya, langsung keluar dari mobil. Aku berjalan ke arah pos jaga tadi, tapi para petugas sudah tidak ada ditempat. Aku masuk, melihat ke arah layar monitor. Para petugas itu terlihat sedang berlarian masuk ke dalam bangunan laboratorium, entah mereka semua akan menuju kemana.
DEEERR.
Getaran nya kembali terasa. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana?
“Amed...ada apa ini? Mengapa tanahnya bergetar seperti barusan?” Aku tidak menghiraukan pertanyaan Dema, aku sudah sibuk berlari mencari akses untuk masuk ke dalam bangunan. Aku berlari ke arah belakang bangunan, karena sudah jelas ada banyak petugas di jalur utama yang ada di pintu depan.
Sial, sekarang aku sudah masuk tapi tidak tahu harus kemana.
“Hei Med...BIPS.”
“Ada apa Dema?” Aku sudah kesal karena tidak tahu harus kemana, Dema malah mengganggu.
“Tidak. Siapa bilang aing hanya penggangu, lihat sampingmu Med!” Aku langsung menoleh ke sisi kanan, amarah ku langsung menyurut, bagai menemukan lentera dalam gelapnya dunia. Diriku baru saja menemukan denah laboratorium yang ditempel dengan perekat di dinding dekat pintu aku masuk tadi. Aku langsung menyobeknya dari dinding—membawa nya sebagai penunjuk arah ku menemukan ruangan yang akan ku tuju.
Aku membuka pintu yang tidak jauh dari tempatku masuk tadi, mulai berjalan kecil menyusuri lorong pertama. “Kamu mau kemana sekarang Med?” Langkahku mendadak berhenti, benar juga. Bagaimana aku akan kesana jika tidak tahu guncangan tadi dari mana.
“Hal hal yang seperti itu kemungkinan bisa terjadi dimana Med?” Aku berhenti sejenak, berfikir dan mengingat sesuatu. Aku sekarang ingat dan tahu harus melangkahkan kaki menuju ke ruangan mana.
__ADS_1
“Dema. Jika nanti terjadi sesuatu di luar dugaan, langsung saja ambil kendali tubuh. Aku mohon padamu.”
“Tentu saja Med, kamu tidak perlu memikirkannya, aku akan selalu menjaga kita.” Aku tenang masalah satu hal, sekarang saatnya memikirkan hal lain. Aku membuka denah, mencari jalan menuju ruang Uji Coba.
Akhirnya ketemu, sekitar lima meter lagi dari sini aku harus belok ke kanan, disana akan ada pintu dimana dulu dua satpam berbadan besar itu menuntunku, Kak Reza dan Mama kesana.
Dema bergumam, dia bilang jika firasatnya memperingatkan akan suatu hal buruk akan terjadi. “Berarti dengan begitu, momen yang paling kamu tunggu akan segera tiba Dem.” Aku terkekeh mengejeknya.
“Kamu masih sempatnya tertawa di saat saat seperti ini Med.” Dema terdengar kesal mendengarku mengejeknya barusan.
Langkah kakiku terhenti sebelum berbelok. “Kamu mendengarnya Dema?”
“Dengan jelas Med. Aing bahkan mengenali suara siapa itu.”
Aku mengintip dari balik dinding, terlihat Kak Reza dengan seseorang yang tidak ku kenal tengah berbicara dengan para petugas penjaga. “Tenang saja bapak-bapak. Komisi kalian sudah di atur. Benar begitu bukan Rez?”
Kak Reza tertawa mendengar penjelasan orang disebelahnya. “Tentu saja Roki. Kalian hanya perlu melakukan tugas dengan baik. Masalah kertas nominal itu sudah kami siapkan untuk masing-masing kalian.”
Petugas itu balas tertawa lega. Kak Reza dengan orang yang bernama Riko itu terlihat akrab.
“Mereka berjalan ke arah kemari Med.” Aku harus buru-buru sembunyi sebelum mereka lewat. Aku melihat ke sekitar, untung ada tong sampah yang muat dengan ukuran tubuhku. “Tidak Med, jangan—" Badanku sudah lebih dulu melompat masuk ke dalam tong sampah itu.
“Dua pemuda dengan uang yang bergelimpangan sobat. Bagaimana bisa?” Petugas itu tertawa heran.
“Entah lah, selama diberi uang aku tidak akan mempermasalahkan apapun.”
Suara langkah kaki mereka sudah menjauh dari tempat ku bersembunyi. Aku membuka penutup tong sampah—berusaha keluar dari tempat bau itu. Aku melihat sekelilingku, memastikan keadaan sudah aman.
Aku sudah berdiri di depan pintu ruang Uji Coba—mengintip ke dalam dari kaca kecil yang ada di pintu. Terlihat ramai sekali orang memakai jas laboratorium. Juga terlihat Kak Reza yang sedang memegang sebuah tablet, dan di sebelahnya adalah temannya yang bernama Roki. Aku tidak bisa mendengar percakapan antara mereka, mungkin karena ruangan itu kedap suara, sampai sampai seperti tidak ada kegiatan di dalam.
“Apakah kita akan terus berdiri di depan sini sampai para petugas itu kembali dan akhirnya menemukan kita yang sedang berdiri melihat ke dalam, seperti seorang anak kecil yang selalu ingin tahu?”
“Tentu tidak.” Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari akses masuk ke ruangan itu selain lewat pintu di depanku ini.
Disana...ada lubang ventilasi, seharusnya muat untuk dimasuki oleh tubuhku.
Aku membuka besi penutupnya, meringkuk masuk dalam. Aku merangkak sepanjang lorong ventilasi yang sempit. Berjalan terus dengan harapan jika ventilasi ini terhubung dengan ventilasi yang ada di dalam ruangan Uji Coba.
Semakin dalam berjalan, suhu nya semakin panas, semakin sulit buatku untuk bernafas. Apa yang sedang terjadi?
__ADS_1
Aku tidak menghiraukan, tetap melanjutkan jalanku.
Aku seperti semakin dekat dengan mereka. Aku bisa mendengar suara....dengung? Suaranya seperti tidak asing di telinga ku, aku mencoba mengingat suara apa sebenarnya yang aku dengar saat ini.
“Di depan Med, tinggal beberapa meter dari sini. Kita mencapai ujungnya.” Aku terus merangkak, tidak mengenal berhenti sebelum sampai ujung.
Ruangan Uji Coba hanya tinggal beberapa senti dariku, hanya dibatasi oleh besi penutup ventilasi di depanku. Aku akan segera mengetahuinya. Aku mengintip dari cela cela yang ada di besi penutup, memastikan keadaan sekitar aman buatku untuk keluar.
Semua aman, aku langsung mendorong besi di depanku. “Pelan-pelan Med!” Aku membalas “Iya.” Pelan.
Ada beberapa sisi di ruangan ini yang tidak terkena cahaya. Aku bisa memanfaatkannya untuk bersembunyi dari mereka, karena aku bukanlah tamu undangan, melainkan hanya sekadar tamu gelap yang tidak ada di daftar undangan.
ZIIING!... ZIIING!... ZIIING!
Langkahku sempurna terhenti. “Ada apa Med?”
“Itu...” Mataku tidak berkedip sama sekali melihatnya. “Itu portal yang pernah Ayah buka Dem.” Apa aku sedang bermimpi? Jalan yang selama ini aku cari, malah terbuka dengan sendirinya, menuntunku kepadanya. Tubuhku seperti bergerak dengan sendirinya, melangkah maju ke arah portal. “Hei Med. Apa yang kamu lakukan?” Dema bertanya heran melihatku terus berjalan mendekat ke arah portal
“AMED!!!”
Hanya hitungan beberapa detik sekitarku sudah terlebih dulu berubah menjadi gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa. Mataku seperti ditutupi oleh sesuatu. “Maaf, tapi aing harus melakukannya Med.” Dema baru saja bertukar tempat denganku? Di saat aku sedang sadar? Dema baru saja melakukan hal baru yang belum pernah dia lakukan selama ini.
“HEI MED!! Lo gak seharusnya ada disini!” Aku baru saja mengacaukan semuanya. Kak Reza sekarang mengetahui kehadiranku di Lab. Tanpa menunggu, Kak Reza langsung mengutus anak buahnya untuk menangkapku, tapi Dema dengan lincah melumpuhkan mereka satu persatu.
Dema menjalaskan mengapa aku ada disini malam ini. Kak Reza tidak mau mendengarkan, langsung berlari ke arah Dema. “Gw pengen mereka balik!” Kak Reza langsung meninju perut Dema. Dema meringis, langsung balik menjual serangan. Tapi Kak Reza sudah mengetahuinya, dia lebih dulu menangkisnya dan balas meninju Dema hingga terpukul mundur beberapa langkah.
“Darimana lo belajar beladiri? Setau gw, lo cuma bocah ingusan yang gak bisa apa-apa.”
“Besar juga mulutmu kak.” Dema balas mengejek—langsung berlari tanpa menunggu sepatah lagi dari Kak Reza. Dema memberi pukulan dengan lebih cepat, karena dia tahu jika lawannya berada di atasnya, Dema selalu menghormati lawannya dengan bertarung serius.
BUG!
Dema mengaduh pelan, memegang kepalanya. “Sesusah itu melumpuhkan seorang anak kecil Rez?” Seketika semuanya langsung berubah jadi gelap, tidak ada yang bisa aku lihat, dan aku tidak tahu apa yang barusan terjadi.
Aku tidak akan tinggal diam. Aku akan memaksa masuk ke dalam portal, untuk menemui Ayah dan Miko, membawa mereka pulang ke dunia ini. Aku langsung memejamkan mata ku. Sekarang aku bisa mendengar percakapan mereka semua, karena aku yang memegang kendali tubuh.
“Dia siapa Rez?” tanya Roki yang sedang melipat lengan bajunya. Kak Reza memberitahu jika aku adalah adiknya. Roki kaget mendengarnya, dan mengira jika selama ini Kak Reza adalah anak tunggal dari keluarga kami. Aku akan memanfaatkan momen ini, mereka yang lengah tidak akan mengira aku akan bangun lebih cepat.
Yak. Sekarang saatnya! Aku langsung berdiri dan berlari ke arah portal.
__ADS_1
“HEII! Bagaimana bisa? Hentikan dia sekarang!!” Para bawahan Kak Reza langsung berlari, berebut menangkapku. Tapi aku sudah tinggal beberapa langkah dari Portal. Dan...ZUUUUUM!!