
"Heh, kau mau apa? jika ingin membuat aku malu, awas saja kau!" cetus sang gadis.
Dia paham tentang seorang Raina yang terkadang menangisi hubungannya.
Jadi sepertinya tidak terlalu pas jika dia bercanda.
"Lampu hijau, cepat jalan." jelas Raina yang langsung mendapatkan udara segar, tadi rasanya sangat sesak, namun kini bisa lega.
"Aku merasa nasib baru masih berada di pihakku, aku tak biasa membayangkan jika seorang Juna tahu perasaanku yang sesungguhnya. Raina akan mengejarku lagi, aku tak mau dia kecewa dengan kedua orang tuaku," batin seorang Raina dalam kegelapan yang entah akan menjadi apa di masa depan, akankah terang atau tetap gelap.
Sang sahabat melirik ke arah sang sahabat, dia tak menyangka jika seorang Juan yang urakan itu bisa membuat Raina galau tujuh turunan dan tujuh tanjakan.
"Sudahlah Na, dia itu kan masa lalumu, bagaimanapun memang sangat sulit untuk di lupakan. Mau bagaimana lagi. Kedua orang tuamu adalah fokus utama. Kau harus menjadi gadis yang kuat Na," jelas Fandi menguatkan.
"Aku masih cinta dia Fan, hiks. Bagaimana bisa lupa jika aku yang memutuskan terlebih dahulu, dia saja masih sangat menyayangiku. DIa dan Sonia tak suka sama sekali. Aku paham dia sangat marah padaku, bahkan aku pergi dengan segala kenangan, kontak sudah aku ganti dan ketika di datang ke resto atau rumah, aku tak mau menemuinya. Kurang apa aku menjauhinya, Fan!"
Sang gadis begitu sesak ketika teringat akan hal itu, perasaan yang semula tak bermasalah, justru membuat runyam karena muncul lagi.
"Fokus kepada masa depanmu, jangan menoleh ke arah belakang, masa lalu hanyalah keburukan dan kau pantas bahagia dengan segala kegelisahan yang kau alami selama ini. Kau bisa Na."
__ADS_1
Fandi adalah sahabat yang selalu mendukung apapun yang dilakukan olehnya. Ini adalah hal yang paling di sukai dari Raina.
Makanya dia dekat dengan Fandi, seorang pria yang akan selalu bersamanya meski sudah memiliki seorang kekasih yang menemani.
Bahkan kekasih Fandi juga ikut menyemangatinya.
...
Sesampainya di restoran ...
Mobil sang bos terparkir di depan resto, di sana sudah ada Ayus yang dengan bangga memberikan pelayanan montir khusus sambil menunggu buka toko.
"Temanku memang cerdas, bagaimana bisa terpikir konsep seperti ini, sangat mencengangkan!"
"Apa yang mencengangkan. Dia menjual makanan korea atau oli."
Raina kesal, dia turun dari mobil dan menghampiri sang pria tetapi Fandi langsung mencegah Raina.
"Kau tidak perlu mempermasalahkan dia, kita beruntung karena ada dia, semua pelanggan restoran semuanya militan jadi tak semudah itu untuk membuat mereka diam ketika antrian sudah banyak. Kita lewat pintu samping, pakai jaket dan kacamata ini, bos yang sudah siapkan.
__ADS_1
"Haha, kita seperti apa saja ya? masuk ke dalam resto seperti penjahat saja."
"Ini yang bisa kita lakukan kau paham tidak?"
"Iya paham!"
"Kalau kau paham harusnya pakai ini semuanya."
"Oke."
Setelah itu ...
Untung saja tak terjadi apapun, dua orang itu bisa masuk ke dalam lewat pintu samping.
Keduanya berjalan menuju ruangan khusus untuk absen sidik jari.
Setelah itu Raina masuk ke dalam ruangan sang bos yang ada di lantai dua, sedangkan Fandi tetap lurus ke depan, dia adalah bosnya di dapur.
*****
__ADS_1