
Saat ini, sang pria merasa memiliki seorang teman yang baik. Kadang JY begitu menyebalkan. Namun, saat ini sangat pengertian.
"Kau tidur saja dulu, aku akan menjaga rumahmu bersama penjaga," pinta JY yang selalu tahu diri dengan posisinya.
"Heleh, kau sok-sokan sekali."
"Iya, memang aku seperti itu."
Kim sangat berterima kasih dengan JY, jika orang lain ingin berteman gara-gara harta, justru JY sangat bangga direpotkan oleh Kim.
"Aku masuk dulu soalnya sangat mengantuk," pinta Kim.
"Oke."
.
.
.
Kamar Kim ...
Ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang, kemudian segera memejamkan mata, tetapi tidak semudah itu.
Bayangan tentang kemarahan sang ibu begitu tergiang jelas di bayangannya.
"Ibuku sangat aku sayangi, tetapi selalu menentang apa yang aku inginkan. Ini kesekian kalinya ibu menolak permintaanku."
Dia berpikir keras, apa bagusnya Jie Eun, membuat sang pria bertanya-tanya.
Selain menjadi anak dari konglomerat Korea, tidak ada yang Jie Eun bisa. Gadis itu sangat manja, Kim tidak menyukai seorang gadis manja yang berlebihan.
Meski gadis sangatlah imut saat manja, tapi belum pasti menyenangkan.
Hingga panggilan telepon dari Raina benar-benar mengejutkannya.
"Halo sayang? ada apa?" tanya Raina.
"Ha? bukannya kau yang melakukan panggilan telepon?" jawab Kim.
Sang gadis sepertinya tidak merasa melakukan panggilan telepon, sedangkan sang pria semakin resah dan gelisah.
Alhasil, Kim harus berbagi keresahan itu kepada sang calon istri.
"Sayang, aku sedang memiliki satu permasalahan," imbuh Kim dengan suara yang makin pelan.
"Apa permasalahan yang membuatmu resah itu, Kim?"
"Aku berharap ibuku senang dengan pilihanku. Lalu aku akan mengenalkan kau dengannya. Namun ibuku tidak pernah berubah sejak dulu. Aku harus bersama dengan Jie Eun dan Jie Eun saja. Bagaimana bisa aku menikahi gadis seperti itu? pilihan ibu sangat buruk."
"Oh, kau hanya perlu mengatakan ya kepada ibumu."
"Kenapa kau begitu menyedihkan? aku pasti akan membuat ibuku setuju dengan pilihanku."
"Kau jangan merasa seperti itu, jangan keras kepala. Kau dan ibumu adalah satu hal yang penting, kenapa bisa karena aku, kalian berdua bisa menjadi musuh."
"Apa kau menangis?"
"Tidak, aku sedang pilek saja."
"Mana bisa tiba-tiba pilek, kau adalah orang aneh. Saat menyuapimu, kau tidak pilek sama sekali. Katakan saja."
"Kau adalah orang yang aku pilih. Namun, sebuah kesempatan membuat orang sangat aneh."
"Aneh bagaimana?"
"Kesempatan untuk saling mencintai, untuk saling merasakan cinta dan kasih sayang. Namun, kita tidak bisa menjadi seperti itu karena satu hal."
"Hal yang begitu mudahnya untuk dihindari. Tapi kau tidak bisa menjadi satu hal yang sangat menyedihkan."
__ADS_1
"Aku tidak sedih karena kau sangat menyayangiku. Jadilah yang terbaik untuk kedua orang tuamu.Lepaskan aku saja."
Panggilan telepon langsung mati.
Kim merasa bersalah karena membuat sang gadis menjadi super sedih.
"Huft, aku harus bagaimana?"
Dia pura-pura untuk baik-baik saja, tetapi tidak bisa. Rasanya masih sangat menyedihkan.
Hingga satu hal ini, membuat orang lain berpikiran jika Kim tidak ada usaha sama sekali, dia akan berusaha mendapatkan restu dari seorang ayah. Jika ibu tidak bisa, mungkin ayah bisa.
Kim melakukan panggilan telepon kepada sang sang ayah.
"Ayah, apakah aku bisa berbicara denganmu," ucap sang anak.
"Bisa, ada apa?" jawab ayah.
"Aku tidak mendapatkan restu dari ibuku. Aku berharap dia bisa menerima apa yang sudah aku pilih."
Kim berharap dengan baik mengenai kasus ini, tidak ada yang bisa menyelamatkannya dari amukan sang ibu.
"Kau tenang saja, aku akan membuat ibumu setuju dengan pilihanmu."
Panggilan telepon usai, karena sang ayah sedang sibuk mengurus pekerjaan.
Kim memahaminya, setidaknya Kim masih bisa menemukan alternatif lain untuk mendapatkan restu.
Dia bisa tidur dengan nyenyak.
Pagi harinya ...
Pukul 06.00 ...
Kim sudah siap untuk pergi ke restoran karena merasa bahwa hidupnya menyenangkan.
Hari ini, pertama kalinya bertemu dengan Raina dengan status kekasih hati.
Sang pria segera keluar dari rumah dan berjalan menuju depan rumah, dimana mobilnya berada.
"Wah, mengapa kau begitu bahagia? ada apa?"
"Aku akan bertemu dengan cintaku yang sangat aku sayangi. Wah Raina oh Raina."
Sang pria menari-nari seperti gadis yang sedang kasmaran, padahal dia adalah seorang pria, hanya saja terlalu berlebihan dalam mengekspresikan sesuatu.
"Aku sangat bahagia JY. Apakah kau sudah paham?"
"Aku sudah paham. Kau tidak waras."
"Haha .. terserah apa katamu, aku gembira sekali."
JY membiarkan sang teman masuk ke dalam mobil dengan bersiul dan bernyanyi.
"Dasar teman aneh."
.
.
.
Di restoran milik Kim ...
Terjadi perkelahian antara Reina dan Ghina, sebenarnya bukan perkelahian, tetapi salah paham Ghina yang keterluan.
Baru juga absen, sang gadis sudah mendorong Raina.
"Heh, kenapa kau mendekatinya?" ucap Ghina yang tidak suka dengan Raina.
__ADS_1
Dorongan tangan Ghina sangat kuat, rasanya seperti tertubruk motor.
Raina juga menabrak pintu kaca, akses utama masuk ke dalam restoran.
Mereka dan Ayus masuk pagi, jadi harus buka pintu.
Ayus sudah mencoba menolong, tapi Ghina makin brutal.
"Aku tidak mendekatinya, tapi kami memang dekat. Kau tidak perlu ikut campur banyak hal. Diamlah sebelum pak Kim datang dan memarahimu karena mendorongku," jawab Ghina.
"Kau sudah keterlaluan Ghina, aku tahu jika kau tidak suka dengan Raina, tapi tidak seharusnya kau mengatakan semua ini."
Ayus tetap membela Raina.
Hingga mobil Kim sampai di depan restoran.
Dia melihat Raina dalam masalah, langsung saja Kim turun dari mobil dan mencegah Ghina berbuat lebih.
"Lepaskan kekasihku!" teriak Kim.
Ketiga orang yang itu menatap Kim yang berteriak, Ghina langsung mendekat ke arah Kim.
"Kim, aku adalah kekasihmu, dia adalah orang yang sangat tidak berguna, tolong kau jangan dekati dia," ucap sang gadis yang sangat penjilat.
"Kau bisa saja berbohong dengan mudahnya, tapi aku mengetahui apapun yang terjadi di hadapanku. Kau jangan coba-coba berbohong padaku."
Tatapan mata Kim membuat Ghina takut, sang pria segera pergi dari posisinya berdiri karena sangat risih dengan Ghina.
Kim lebih fokus kepada Raina, tapi sang gadis justru menarik lengan Ayus, dia tidak mau menatap sang kekasih.
"Kenapa kau seperti ini?"
"Memangnya aku kenapa?"
Dia masih saja acuh, Ayus memahami jika ada yang salah dengan sikap Raina.
"Kau tidak boleh seperti itu Raina, jadilah gadis yang baik. Selesaikan semuanya dengan baik. Jangan menggantung perasaan seorang laki-laki. Kau tidak paham rasanya sakit tapi tidak berdarah."
Ayus memilih untuk membuka restoran dan membiarkan sang gadis bersama Kim.
"Kita perlu bicara."
"Bicara tentang apa lagi? aku sudah lelah denganmu."
"Aku akan berjuang jika kau masih ragu."
Kim akan memberikan kepastian tentang hubungan mereka yang sedang dalam ujian. restu ibu yang belum diraih, bukan menjadi halangan bagi Kim.
Namun, Raina sepertinya tidak ingin menjadikan hubungannya dengan Kim, lebih bermasalah jika dipertahankan.
"Aku tidak mau menjadikanmu bagian dari hidupku."
"Ya, terserah apa yang kau katakan. Kau adalah hidupku, cintaku."
"Aku tidak percaya apapun."
Sang pria masih ingin bersama Raina, tetapi sang gadis selalu menolak.
Dengan sangat lembut, sang pria memeluk tubuh Raina.
"Aku begitu senang dengan kehadiranmu, kau jangan menjadi orang yang keras kepala. Aku tahu jika kau sangat mencintaiku. Aku sudah paham sekali."
Kim terus merayu sampai Raina takhluk, tapi nyatanya tidak semudah itu.
Di dalam restoran, terlihat Ayus yang tersenyum kecut. Dia merasa dicampakkan.
"Astaga, gara-gara Ghina, aku harus melihat semua pemandangan yang menyesakkan dada. Sejak dulu menjadi kekasih sampai menjadi mantan, kenapa Ghina sama sekali tidak berubah. Dia masih sama saja."
Ayus mencoba bersabar, dia lebih memilih untuk menata kursi dan membersihkan meja-meja restoran. Setelah itu memeriksa stok bahan makanan.
__ADS_1
*****