Sehabis Hujan

Sehabis Hujan
SH - Bab 21


__ADS_3

Kim merasa dia harus lebih banyak berusaha, sudah terlalu lama dia merasakan cinta, tapi selalu kandas.


Kini Raina mencoba untuk memberi harapan padanya.


"JY, apa aku pantas bahagia?" tanya Kim dengan tegas, raut wajahnya sungguh tak terkontrol. Dia begitu terlihat gundah dan gelisah.


JY yang sedang duduk disampingnya, hanya bisa tersenyum, sebab hari ini adalah pertama kalinya ia datang. Sebelumnya, Kim tidak pernah seperti ini, Raina benar-benar telah memporak-porandakan hati sang bos.


"Pantas saja, Han Soo merupakan contoh kecil wanita tidak tahu diri, aku rasa cintamu itu tidak seperti itu," jawab JY dengan tegas, dia hanya ingin melihat Kim bahagia, bukan merenung dalam kegalauan.


"Haha, kau membawa mamanya lagi, dia kan orang baik yang terjebak dalam auramu J, dia bosen mungkin."


Sang sahabat menerka, hanya saja perkiraan itu tak selamanya benar.


JY protes.


"Tidak ada seperti itu, ayo kita pulang saja. Pertemukan aku dengan Raina, sepertinya dia cukup cantik."


JY sangat senang membuat sahabatnya dalam masalah, sehingga mengatakan itu semuanya dengan sangat mudah.


"Ya, nanti saja. Dia sangat cantik, bukan cukup cantik. Hm, jangan menghina cintaku."


Kim tidak terima jika cintanya mendapatkan hinaan, seharusnya Kim akan menjadi orang pertama yang memberikan pujian, tapi sahabatnya justru yang pertama kali memberikan hinaan. Dasar pria itu.


.


.


.


Satu jam berlalu ...


Pertemuan dua sahabat itu usai, JY berencana ingin menginap di rumah Kim. Namun Kim melarangnya.


"Kau selalu mendengkur, jangan tidur denganku," pita Kim.


"Aku janji tidak akan mendengkur."


JY pertama kalinya datang ke kota itu, jadi butuh sekali teman, dan di sana hanya ada KIm.


Sang teman memang sangat keterlaluan, kenapa tidak memberikan ruang untuknya bernafas.


Kalau menginap saja tidak boleh, kenapa JY harus menghibur Kim.


Itu yang ada di pikiran JY.


"Kau sangat curang, aku datang dari Korea. Kau bersamaku selalu, sejak dulu memang begitu. Namun, saat adanya Raina, semuanya menjadi tidak berguna sama sekali. Dasar kau!"


JY beranjak dari tempat itu dengan umpatan, Kim terlihat mengekor dirinya.


Sampai di tempat parkir, Kim memberikan kunci mobil kepada JY.


"Kau yang menyetir, tidur di sofa. Makanmu hanya sepiring roti dan sambal, cukup adil bukan?"


"Aku akan memakanmu saja!"


Dua orang yang memang sangat dekat, mencoba memberikan satu sama lain perhatian, seperti sebelumnya.


Namun, terkadang semuanya tidak semudah itu. Kini Raina sedang memenuhi isi kepala Kim, JY harus tersingkirkan.


"Haha ... masuk ke dalam mobil dan jangan banyak menggerutu."


"Ya ya."


JY mengikuti apa yang dikatakan oleh sang sahabat.

__ADS_1


Ia juga memiliki satu hal yang harus terselesaikan, mengerjai Kim.


"Lihat saja nanti, aku akan membuatmu dalam masalah."


Wajah imut JY, menampakkan senyum yang aneh, membuat Kim merinding saja.


"Kau kenapa?"


"Tidak terjadi apapun, kau diam saja."


Mesin mobil sudah menyala, JY segera tancap gas menuju rumah Kim.


Sepanjang perjalanan, JY berhasil membuat temannya itu berteriak-teriak karena kecepatan mobil terlalu tinggi, Kim sampai ingin menghabisi sahabatnya itu.


"Ini balasan karena kau suka jahil!"


"Dasar kau ya, awas!"


"Hahah."


Kim terus saja mengumpat, tetapi tidak dipedulikan oleh JY.


Justu JY lebih semangat mengerjainya.


.


.


.


Sesampainya di rumah Kim ...


Kim seperti copot jantungnya, sang teman sangat keterlaluan.


"Haha, rasakan itu Kim. Kau sangat senang membuatku kesal. Ini balasannya."


Panggilan telepon dari Raina, membuat Kim bersemangat. Dia mengambil ponsel itu, lalu seger keluar dari mobil.


"Halo Raina?" jawab Kim dengan nafas yang tidak beraturan.


"Kau kenapa bos?" tanya Raina di sambungan telepon, suara Raina terdengar sangat cemas.


"Aku dikerjai temanku, huft! rasanya sangat sesak."


JY memang tidak ada kerjaan, dia sangat senang membuat seorang Kim dalam masalah besar. Seharusnya Kim bisa membalas, tapi kenyataannya tidak seperti itu.


"Apa temanku dari Korea bos?"


"Iya, tumben kau telepon, ada apa?"


"Aku ingin berbicara denganmu, tentang kita."


Pembahasan yang sangat ditunggu-tunggu. Kim sangat deg-degan.


"Kita kenapa Raina?"


"Kita harus bertemu dan berbicara, bagaimana?"


"Oke. Dimana?"


"Kafe dekat tugu selamat datang, kau tahu kan. Kalau tidak salah ada di sekitar taman kota."


"Baik, aku akan on the way."


"Baik pak, aku akan menunggu."

__ADS_1


Panggilan telepon usai, ia merasa sangat senang dengan hubungan ini, tetapi nyatanya saat akan pergi, kunci mobil di sembunyikan oleh JY.


"Kau cari masalah lagi, dasar! awas kau ya!"


Mereka kejar-kejaran seperti anak kecil. Hingga sang teman memberikannya kunci itu dengan sukarela.


"Ini untukmu, kau jangan banyak acara, tetaplah bersama dengan Raina. Kau paham kan sobat?'


Tatapan mata JY tidak seperti biasanya, ini sangat menyenangkan.


"Ya, oke. Kau adalah sahabat yang sangat peduli padaku, terima kasih ya?"


"Ya, sama-sama."


Sang pria masuk ke dalam mobil, rasanya seperti di masukkan ke dalam sebuah terowongan penuh dengan bunga, sungguh menyenangkan.


Sang Kim naik mobilnya dan gaspol menuju tempat yang sudah disepakati. Rasanya tidak mungkin jika seorang Raina justru memintanya datang. Dia sangat ingin tahu perasaan sang gadis.


"Pasti dia akan menjadikan aku pangeran di dalam hatinya seperti dulu, Hahaha ... berkhayal bolehlah!"


Kim begitu senang dengan apa yang ada di dalam pikirannya, selalu positif dan memberikan semuanya dengan sangat mudah. Ini memang gayanya selama ini. Baik dan selalu menjadi inspirasi.


Perjalanan menuju tempat itu, hanya satu jam satu, tapi sangat lama karena dijadikan angan-angan olehnya, dia justru menikmati setiap khayalannya.


Hingga panggilan telepon dari Raina, membuatnya berhenti dari lamunannya.


"Kok lama pak?"


"Oh iya kah, macet Raina."


"Oke, kau hati-hati."


"Iya, aku akan berhati-hati."


Mendapatkan perhatian seperti ini sangatlah menjadi satu impian yang sangat Kim inginkan, kenapa hal ini tidak berlangsung lama? daripada memikirkan sesuatu yang tidak mungkin, lebih baik fokus dengan jalanan.


Sesampainya di Kafe ...


Kim memarkirkan mobil di depan Kafe, perlahan keluar dari mobil.


Kaca jendela Kafe yang sangat lebar, membuatnya sangat mudah untuk melihat penampakan Raina yang sedang gelisah menunggunya.


Langkahnya menjadi sok cool, dia tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Raina secara pribadi, sebab selama ini Raina tidak mau diajak pergi keluar. Ini adalah kesempatan yang sangat luar biasa.


Sang pria berdiri tepat di pintu kaca, dia ragu untuk masuk, tapi seorang pengunjung lain protes.


"Mau masuk tidak? Istriku menunggu lama."


"Maaf pak, baik."


Kim masuk akhirnya ke dalam Kafe dengan wajah yang sangat menyenangkan.


"Pak!" teriak seorang gadis yang selama ini membuat dada Kim bergemuruh, dia adalah Raina.


Kakinya seperti kaku untuk menuju si gadis, tapi dia memberanikan diri.


"Pak? kau sedang sakit?"


Raina terlihat cemas, entah apa yang ia rasakan saat ini.


"Ya, sedikit."


"Duduklah pak, aku akan memberikanmu minuman hangat."


"Jangan, aku ingin tahu apa yang ingin kau sampaikan."

__ADS_1


Sang pria tidak sabar untuk mendapatkan informasi selanjutnya dari Raina.


*****


__ADS_2