
"Mana Jie Eun, mana!" ucap bos Kim.
Ayus tidak bisa mengatakan apapun karena jika dia berbohong, bos Kim akan semakin menangis dan membuat keadaan lebih genting dari sebelumnya.
"Bos, aku paham akan dirimu yang sakit hati! cobalah mengerti bahwa para wanita itu akan kembali pada kita, jika kita tidak terlalu mengharapkannya," ucap Ayus pada bos Kim.
"Jika dia masih mengharapkan kita dan justru terpaksa menikah dengan orang lain? kita harus benar-benar melupakannya?"
Bos Kim terlihat tidak meledak-ledak lagi, dia masih dalam kondisi yang cukup kondusif.
"Itu cara yang paling benar?" ucap bos Kim perlahan mau mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ayus.
"Iya bos, aku pernah mengalami apa yang bos alami sekarang, awalnya sangat sakit hati ini. Padahal, aku ingin segera melamarnya tetapi dia meninggalkanku demi pria lain. Sungguh hancurnya perasaanku waktu itu. Akan tetapi, semakin berjalannya waktu, aku menyadari, tidak semua apa yang kita miliki harus benar-benar menjadi milik kita. Ada beberapa hal yang harus kita relakan!"
Apa yang dikatakan oleh Ayus, coba dicerna oleh bos Kim.
Dia merasa, apa yang dikatakan oleh Ayus ada benarnya.
Bos Kim diam, dia meminta Ayus membuat es teh pakai melati asli.
"Bos, di sini tidak ada yang seperti itu?" cetus Ayus.
"Ada di kulkas, Fandi suka membawanya untukku, kau check saja. Kalau masih tidak ada, beli saja di pasar!"
Sang bos duduk membelakangi Ayus, pria itu sangat kesal.
"Kalau kau bukan bosnya Fandi dan gadis itu, sudah ku hih!" batin Ayus.
Dia melakukan apa yang dikatakan oleh bos Kim, Ayus keluar dari ruangan itu menuju dapur untuk mencari bunga melati di kulkas serta membuat teh.
__ADS_1
Di sana dia seperti orang yang linglung.
"Nasib buruk apa yang aku alami, aku harus memberikan cerita yang sangat menyedihkan seperti itu kepada bos Kim, meski kita sama-sama laki-laki tetapi perasaan sakit itu kan masih ada!"
Ayus baru saja membuka kulkasnya di sana banyak sekali bunga melati, membuatnya terkejut.
"Ya Tuhan, benar apa yang dikatakan oleh bos Kim! dua anak buahnya memang sangat pro!" ucap Ayus sambil mengambil beberapa biji bunga melati, dia meletakkan bunga melati itu dalam sebuah cangkir.
Lalu, melakukan layaknya seperti orang membuat teh.
Ayus maksudnya secara perlahan dan akhirnya jadi.
"Teh melati, dengan melati asli sudah siap."
Ayus merasa lega karena bisa menuruti apa yang diinginkan oleh bos Kim.
Setelah itu, dia berjalan menuju ruangan tempat bos Kim berada.
.
.
.
Di depan kamar bos Kim ...
Ayus membuka pintu ruangan itu, dia mendapati sang bos Kim duduk di atas ranjang.
Bos Kim seperti melamun.
__ADS_1
"Maaf bos, bolehkah aku masuk? tehnya sudah siap!"
"Masuk saja, aku tidak sibuk."
"Oke bos."
Perlahan Ayus mendekat kepada bos Kim dan duduk di sampingnya.
"Bos, teh yang kau mau."
"Ya, kau sudah paham kan apa yang aku inginkan! anak buahku mereka baik."
"Iya, pro sekali denganmu, ini minumlah!"
Bos Kim meraih secangkir teh itu lalu meminumnya dengan perlahan.
"Terima kasih, kau telah membuatku merasa lebih baik dari sebelumnya. Siapa namamu?"
"Ayus bos Kim."
"Sudah bekerja belum?"
"Sudah, menjadi seorang montir."
"Aku akan membayar 5 kali lipat dari gaji mu sebagai montir, jadilah asisten pribadiku!"
"Apa?"
*****
__ADS_1