Sehabis Hujan

Sehabis Hujan
SH - Bab 21


__ADS_3

Raina tidak ingin mengatakannya kepada Kim, seharusnya apa yang ia sampaikan adalah sebuah penolakan. Namun, ketika mendengar sang bos sedang sakit, rasanya sangat tidak baik-baik saja.


"Raina?" tanya Kim.


Dia sangat penasaran dengan apa yang akan disampaikan oleh Raina.


"Iya, hm. Begini bos, aku setuju untuk berteman denganmu. Bukan menjadi kekasih tetapi teman!" jelas Raina.


Ia mengatakan semua karena terpaksa, sebab Kim sedang tidak enak badan dan akan segalanya rumit.


Raina hanya seorang karyawan dan tidak akan mempersulit bosnya.


"Oke, hanya itu yang ingin kau katakan?" tanya Kim sekali lagi, rasanya masih ada yang mengganjal di hatinya.


Rasa cinta ini, begitu sulit untuk pergi, membuatnya tidak terkendali.


"Iya, maaf ya bos karena memanggilku kemarin untuk kalian tidak penting. Aku tidak mau kau berfikir yang aneh-aneh karena sedang sakit, aku tetap menjadi karyawanmu dan kau adalah bosku. Kau tidak perlu mengatakan banyak hal mengenai cinta dan kesetiaan, semua itu masih jauh di ujung pandanganku."


Raina memilih jalan tengah ada tidak akan menyakiti orang yang selama ini menjadi atasannya.


Apalagi ada gadis lain yang sangat menginginkan Kim, dia akan mendapatkan masalah.


Sedangkan bagi seorang Kim, rasanya sangat senang ketika Raina membuka kesempatan yang cukup lebar untuk dirinya mendekati gadis pujaannya.


"Ya, aku paham. Setelah ini, kau akan pulang atau tetap ada di sini?"


Kontak mata antara satu dengan lainnya, begitu menyejukkan jiwa, saat bersama dengannya Raina, rasanya bahagia tidak terkira.


Keduanya meneruskan pembicaraan, perlahan tapi pasti, keduanya sudah menemukan kecocokan dalam berbicara satu sama lain, jadi mudah untuk berteman.


"Haha, apakah ibumu sangat lucu? zaman sekarang, seorang ibu pasti lebih humoris dari zaman dahulu, aku paham ini," ujar si bos ganteng.


"Iya, ibuku memang limited edition, di dunia ini tidak ada lagi. Kadang ibuku lebih kekanak-kanakan daripada aku sendiri."


"Benarkah? Hm, aku rasa kau tidak seperti itu. Kau sangat dewasa."


"Tidak, aku sama humorisnya dengan ibuku. Oh ya pak, apa bapak masih merasa sakit?"


"Tidak sama sekali."


"Oke, jika kau merasa sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit."


"Tidak perlu seperti itu, aku adalah warga biasa, biasa saja menanggapinya."


"Nanti kalau parah bagaimana?"


"Semoga saja terhindar dari semua itu.

__ADS_1


Dua jam berlalu, mereka sang baik dalam berinteraksi, namun saat keluar dari Kafe itu, Kim melihat seorang karyawan menjemput Raina.


"Ayus?" ucap Raina.


Sang bos juga heran dengan kehadiran tanpa diundang sang Ayus.


"Ya, aku datang untuk menjemputmu. Kau mau kan?"


"Raina akan pulang denganku, kau pergilah!"


Saat Raina menatap sang bos karena tidak mengira akan mendapatkan perlakuan seperti ini.


Dia tahu jika pria yang ada di hadapannya sangat senang membuat onar, alhasil sangat mudah untuk memicu pertengkaran diantara keduanya.


"Pak, kau adalah bosku ketika dalam ruang pekerjaan, berbeda dengan sekarang, kau harus memikirkannya juga."


Ayus dengan berani mengatakan itu semua kepada bosnya, meski tidak berada di tempat kerja, harusnya menghormati bos.


"Hentikan Ayus."


Sang gadis merasa keributan ini karenanya, jadi mau tidak mau Raina yang akan menyelesaikannya.


"Ayus, aku akan pulang naik taksi, pak Kim. Kau pergilah."


"Tapi Raina?" ucap Kim yang merasa bahwa ini adalah kesempatan yang bagus untuk mendapatkan simpati dari seorang Raina yang selam ini menempati hati yang sangat dalam miliknya.


Setelah adanya Raina di dalam kehidupannya, rasanya sangat tidak mungkin untuk bertemu gadis lain, rasanya sudah sangat cocok.


"Apa aku harus berjuang sekeras itu? Aku dan dia tidak sepadan, aku akan menang dalam duel memperebutkan cinta Raina."


Tatapan mata Ayus dan Kim, begitu bergejolak, Raina terjebak diantara api yang membakar itu.


"Yus, kau pulanglah," pinta Raina yang masih berada di belakang tubuh kekar sang bos.


Dia mencoba untuk lepas, tapi tidak bisa. Ayus turun dari mobil dan ingin menarik tangan Raina, tapi ditepis oleh Kim.


"Apa yang ingin kau lakukan, ini adalah milikku. Dia temanku dan milikku, kau jangan pernah merasa bahwa hidup ini sangatlah sulit sehingga sangat kesulitan mendapatkan gadis selain Raina?"


Sang bos mulai berceramah, rasanya sangat aneh. Namun, Ayus memahami jika sang bos ingin menjadikan dirinya rival.


Terlihat jelas auranya.


Dua orang yang kini terlihat saling membenci, membuat sang gadis harus angkat tangan.


"Aku tidak memilih kalian berdua dan silahkan untuk berdebat!"


Akhirnya Raina kabur dari semua permasalahan yang membuatnya pusing.

__ADS_1


Ayus dan Kim, mencoba untuk mengejar Gadis itu tetapi sudah berada di dalam taksi.


Untung saja taksi begitu mendukung sehingga langsung mendapatkannya.


"Ini semua karena kesalahanmu! jika kau tidak bertemu dengan Raina, pasti aku yang akan mendapatkannya!" ucap Ayus.


Dia tidak terima jika sang bos akan menjadi saingannya saat ini, so pasti dia akan menang, namun begitu sulit untuk dilakukan.


Ayus memilih untuk pergi dari sana karena ingin mengejar taksi Raina.


Kim sendiri membiarkan dua orang itu pergi dari hadapannya lalu ia merenungkan nasib yang cukup buruk ini.


"Hm, Tuhan, aku tidak ingin yang lain! Raina harus menjadi milikku dan tidak akan menjadi milik orang lain."


Doanya begitu tepat dan tidak basa-basi, ya perjalanan menuju tempat parkir dan langsung masuk ke dalam mobilnya.


Ia tidak mau terlalu lama berada di situ karena urusannya sudah selesai dengan Raina.


Meski begitu, menjadi orang yang tidak baik-baik, selamanya hanya angan.


Nyatanya Kim begitu kecewa dan tidak mau pulang ke rumah, dia ingin minum saja.


Namun, ada satu hal yang mencegahnya yaitu suara hatinya.


"Kim, jika kau masih menjadi pria yang tidak tahu aturan sebelumnya, kau pasti akan mendapatkan hal yang lebih buruk lagi selain ditinggalkan gebetanmu."


Suara hati yang sangat indah, dia tidak akan melakukan apa-apa lagi selain berjuang untuk mendapatkan gadis yang selama ini ia cintai serta gadang-gadang menjadi calon istrinya.


Ia menghela nafas dan memilih untuk pulang ke rumah, daripada balik lagi ke tempat yang membuatnya tidak bisa terkendali, lebih baik pulang ke rumah dan membuat mie ramen.


.


.


.


Di dalam taksi Raina ...


"Kenapa dua orang itu? mereka menjadikanku obyek untuk barang rebutan."


Sang gadis kesal, sopir taksi mendengar penumpang bicara sendiri sehingga harus menanyakannya.


"Kenapa nona?"


"Aku sedang pusing pak."


"Kenapa?"

__ADS_1


"Dua orang sedang membicarakan hal yang tidak penting dan membuatku dalam masalah. Aku sangat kesal!"


*****


__ADS_2