
"Heh Raina? aku Kim, bukan Ayus!" ucap bos Kim.
Raina yang tersadar dari lamunannya langsung menutup wajahnya karena malu sekali.
Ayus, terlalu senang mendengar kekaguman dari seorang Raina, yang notabene adalah gadis manis yang sudah mengalihkan dunianya dan membuat hidupnya lebih baik.
Dia tidak mau mengecewakan Fandi ataupun bos, dia segera masuk ke dalam melalui pintu samping.
Ayus mulai bekerja kembali di dapur.
Kini sang bos duduk bersama dengan sang bos.
Namun, ada yang aneh dengan bos Kim.
Pria itu membawa sekuntum mawar merah.
"Rain, bisakah aku berbicara denganmu?"
"Ha? biasanya bos juga bicara denganku! ada apa ya?"
"Aku bukanlah biaya yang baik, selamat bekerja apa pasti sangat tertekan dengan aku yang banyak tingkah, tetapi selama satu minggu ini aku belajar tentang bagaimana menghargai cinta dan hubungan. Aku sudah memilih untuk move on."
"Yey! keren bos!"
"Aku belum selesai bicara tetapi kau memotongnya!"
"Oh maaf!"
Sang bos, lalu melanjutkan apa yang seharusnya dikatakan.
Dia begitu gugup tetapi Raina, justru bercanda.
"Aku serius Raina, aku menyukaimu, apakah kau mau menjadi kekasihku?"
Sang bos memberikan sekuntum mawar dan satu box coklat.
Entah dari mana dia membawa satu box coklat itu, padahal tadi belum ada.
__ADS_1
"Kau bisa menerimaku dengan mengambil bunga ini, jika tidak, kau boleh mengambil coklat ini!"
Sang gadis berpikir dengan keras karena dia tidak akan menolak atau menerima dengan segera.
"Beri aku waktu ya, satu minggu."
"Satu hari."
Sang bos terlihat sangat marah ketika sang karyawan justru meminta jangka waktu yang cukup panjang.
"Ya bos, kau jangan memecatku ketika aku memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan keinginanmu!"
"Haha, kau harus bersama aku lah!"
Sang bos benar-benar membuat Raina pusing.
"Aku tidak janji ya bos! aku masuk dulu karena jam istirahat sudah selesai," ucap Raina.
Sang bos menghentikan langkah Raina.
"Ada apa bos?"
"Bawa coklat dan bunga ini!"
"Tidak mau!"
"Oke, aku buang saja!"
"Buanglah bos!"
Saat dia ingin berangkat dari tempat duduknya tiba-tiba ada Anita keluar dari pintu depan.
"Nit? mau coklat tidak?" tanya bos Kim.
"Aku mau bos!" jawab Anita.
"Ini tangkap, sekalian bunganya!"
__ADS_1
"Yap!"
Sang bos membuang bunga dan kotak coklat kepada Anita, dengan sigap gadis itu menerimanya.
Sang bos dengan penuh kekecewaan pergi dari restorannya sendiri, dia ingin menenangkan diri karena baru saja sembuh justru mendapatkan sakit hati kembali.
"Memang apes," batinnya.
.
.
.
Di ruangan Raina ...
"Huft, kenapa di saat aku memiliki perasaan dengan Ayus, justru bos membuatku pusing!" gumam Raina sambil bermain dengan pulpennya.
Dia sangat pusing dengan pekerjaannya tetapi ditambah dengan kepusingan yang lain, sungguh berat cobaan yang menjadi asisten bos.
Saat rasa pusing masih melanda tiba-tiba saja ada suara ketukan pintu dari luar.
"Masuk!" pinta sang gadis.
KLEK!
Dari balik pintu, terlihat seorang Fandi.
"Syukurlah jika kau, aku mengira ada bos!"
Raut wajah Raina semakin pucat ketika harus memikirkan memilih atau menolak.
"Aku datang kemari karena ada laporan dari Ayus, Ghina sudah melakukan hal buruk padamu?" tanya Fandi.
"Iya, tapi kan sudah terbiasa seperti itu dari dulu, awal aku bekerja di sini dia juga tidak menyukai aku. Soal itu tidak perlu dibahas lagi."
*****
__ADS_1